Kosong

Kosong
Tambah Nih?


__ADS_3

Pakaian sebelumnya masih belum kotor, para pria kembali mengenakan pakaiannya yang sebelumnya. Sementara, pakaian yang basah mereka tumpuk di sudut ruangan. Mereka membiarkannya karena malas untuk mencucinya.


"Uhuk.. uhuk.. hadeh.. dari tadi batuk mulu. Gue agak gak enak badan nih. Lu pada sih malah maksa-maksa gue. Minggir, gue mau molor."


Wendy naik ke atas kasur, ia merebahkan tubuhnya dan lantas menyelimutinya dengan sebuah jaket tebal. Sebelum itu, ia meminum obat karena merasa tidak enak pada tenggorokannya.


Obat yang ia minum bukanlah obat yang seharusnya. Obat-obatan psikotropika yang dapat membuat tenggorokannya merasa hangat. Ia hanya memakan beberapa biji saja kemudian ia terlelap di atas kasurnya.


Sedangkan di kamar wanita:


Semuanya selesai membersihkan diri dan memakai pakaian yang sebelumnya juga. Pakaian basah sudah mereka cuci dan mereka menjemurnya di depan kosan.


"Desi, sandal tadi berapa harganya?" Yuna tengah merogoh isi dompetnya.


"12 ribu." Jawab Desi, ia memang sengaja memilih sandal yang murah karena takut Yuna tidak akan menggantinya.


Yuna pun memberi Desi uang 15 ribu, ia tidak punya uang dua ribuan dan ia bilang itu bonus karena telah membelikannya sandal.


Sekarang Yuna tengah mengobati kelingkingnya yang merah dan melepuh. Ia mengoleskan gel lidah buaya yang sudah sedia ia bawa sebagai produk kecantikannya. Gel multifungsi itu seketika membuat kelingkingnya terasa sejuk, namun rasa perihnya masih juga belum hilang.


Para wanita sudah siap sedia membawa bekal obat-obatan yang bisa saja suatu saat mereka perlukan. Yuna sendiri juga sudah membawa antiseptik, ia mengoleskannya pada luka di tangannya agar mencegah terjadinya infeksi.


Badannya terasa sakit, luka yang ia dapati juga baru terasa perih. Kakinya juga terasa pegal-pegal, Yuna pikir dirinya terlalu lama menggunakan sandal wedges itu.


Yuna pun meminta izin untuk merebahkan tubuhnya karena dirinya juga merasa sedikit pusing. Ia berbaring di atas kasur dan tak lama kemudian dirinya terlelap juga.


"Kak Sinta, di sini password wi-fi nya apa?" Tanya Sasa yang juga kehilangan jaringan ponselnya. Kos-kosan itu ternyata menyediakan wi-fi gratis juga.


"Sini biar ku isi, passwordnya agak ribet kalau harus diucapkan."


Sinta mengambil ponsel Sasa dan mengisi password wi-fi nya. Mereka pun menonton film di ponselnya Sasa sembari memakan camilan yang masih tersisa.


"Gue mau ke kamar cowok, ada yang mau ikut?"


Belum lama mereka menonton film, Wita bangkit dan hendak pergi ke atas. Dirinya sudah mulai akrab dengan penghuni sekamarnya karena Wita juga tahu bahwa dirinya akan membutuhkan mereka juga.


"Aku juga ingin melihat Brian. Sasa, kau mau ikut?" Tanya Sinta.

__ADS_1


"Mm.. tidak, aku di sini saja menemani Yuna."


Sinta dan Wita pun pergi ke lantai atas. Pintu kamar keempat pria itu tidak ditutup, lantas mereka masuk dan mendapati para pria yang kelihatannya tengah mengobrol.


"Si Wendy jam segini udah tidur aja." Ucap Wita melihat Wendy tengah terlelap. Ia pun duduk pada anak kasur yang berada di samping Wendy.


Kasur di tempat ini sebenarnya hanya cukup untuk 1 orang. Beserta anak kasur itu, jadi mereka muat ditiduri untuk 2 orang. Sekarang Wita tengah duduk bersama Gilang dan Brian.


Brian turun duduk di bawah menemani Sinta. Di sana juga sudah dilapisi oleh tikar lipat. Tidak ada makanan yang terlihat, para pria memang tidak membawa camilan banyak.


"Lagi pada ngapain?" Ucap Wita lalu ia merogoh-rogoh isi tas Wendy tanpa seizin pemiliknya.


"Biasa aja ngobrol. Eh btw tuh kamar yang di depan tadi bawa cewek masuk ke dalem. Emang boleh ya?" Tutur Gilang yang duduk di samping Wita.


"Palingan mereka lagi pada ngent*t," celetuk Wita dengan wajah biasa saja.


'Hmm.. Wita seakrab itu dengan mereka.' Sinta merasa sedikit iri, tapi ia tahu bahwa dirinya adalah seorang wanita yang juga harus menjaga bahasanya.


"Kalo mau ngobrol di luar aja, atau gak tutup pintunya." Peringat Brian. Ia tahu bahwa aturan tidak mengizinkan mereka membawa lawan jenis yang tidak sah ke dalam kamar.


"Aku mau bicara sebentar dengan Brian." Ajak Sinta untuk pergi ke luar.


"Lu pada mending gangguin aja yang ada di kamar itu." Titah Brian merujuk kamar yang sebelumnya mereka bicarakan.


"Haha.. iya juga ya Bro."


Sinta dan Brian pergi ke atas balkon. Sedangkan Anang dan Gilang, mereka menghampiri pintu kamar yang bersebrangan dengan kamar mereka. Wita tidak ikut, ia menemukan sesuatu yang ia inginkan dari tas Wendy dan mereka juga membiarkannya begitu saja.


"Dengerin dulu mereka lagi pada ngapain." Ucap Gilang dengan nada pelan.


Melihat situasi yang aman, mereka segera menempelkan telinganya pada pintu kamar itu. Tidak terdengar apa-apa kecuali suara musik saja. Lantas mereka mengetuk pintu.


"Tok.. tok.. tok.."


Tidak ada jawaban yang datang dari dalam. Beberapa kali mereka mencoba kembali untuk mengetuk pintunya.


"Tok.. tok.. tok.."

__ADS_1


Sekian menit tidak ada jawaban, akhirnya pintu dibuka juga. Seorang pria yang tubuhnya sedikit tinggi dari mereka membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa ya?" Tanya pria itu.


"Bang, mau tanya-tanya nih, boleh masuk sebentar gak?" Ucap Anang sambil mesem-mesem.


Pria itu terlihat datar dan bersikap biasa saja. Tak lama ia pun mempersilahkan Anang dan Gilang masuk, sementara wanita yang mereka lihat tadi masih terlihat ada di dalam dan sedang berhadapan dengan buku-buku pelajaran.


"Wah, lagi pada ngapain nih Bang? Ngerjain tugas?" Ucap Gilang lalu ikut duduk bersama.


"Iya, tugas kuliah." Jawab pria itu.


Anang memperhatikan si Wanita. Lalu ia berpikir, kenapa mereka belajar sambil mendengarkan musik yang keras? Anang yakin sebelumnya musik itu keras, tapi sekarang sudah mereka pelankan.


"Makan sore di sini yang murah sebelah mana ya Bang?" Tanya Gilang mencoba berlama-lama.


Sementara Gilang bertanya-tanya, Anang tak luput mencari-cari setiap kejanggalan yang ada di sana. Tentunya ia juga memperhatikan celana pria itu, barangkali ada sesuatu yang menonjol ataupun basah.


Sementara di atas balkon:


"Brian, ayo kita menginap di hotel untuk malam ini. Malam ini saja." Pinta Sinta tak mau tidur beramai-ramai.


Sebelumnya ia ingin menyewa hotel untuk menginap berpasangan. Namun, para pelajar itu menginginkan budget yang rendah dan lagi mereka belum mempunyai KTP untuk check in di hotel. Yuna juga tak mungkin mereka biarkan untuk tidur sendirian.


Untuk menginap di hotel pun kapasitas kamar hanya untuk 2 orang. Tentunya mereka juga harus menyewa banyak kamar. Menyewa kosan saja hanya mampu untuk 2 kamar, sedangkan harga hotel semalam lebih jauh berlipat-lipat dari harga kosan.


Bagi Sinta harga tidak masalah, ia juga sudah memiliki KTP dan sudah bisa menyewa hotel berbintang yang renggang akan terjadi penggerbekan. Liburan yang jauh dari orang tua ini tentunya belum pas jika tidak tidur dalam 1 kamar bersama orang yang ia cinta.


"Aku tidak mau Sinta." Brian menolaknya.


"Kalau begitu aku akan menyewa 1 kamar lagi di atas. Ya?" Sinta menunjukan wajah memelas.


"Jangan." Brian menolak lagi.


"Haa.. Brian.. kalau begitu kita sewa mobil lagi saja agar aku bisa tidur di dekatmu." Sinta masih terus merengek.


'Sinta itu kebelet apa emang pengen tidur bareng aja? Tapi dulu juga sempet tidur bareng tapi gak ngapa-ngapain.' Gumam Brian tapi ia tetap menolaknya.

__ADS_1


"Huuh! Lebih baik aku pulang saja! Untuk apa aku ke sini kalau tidak bisa menikmati waktu bersamamu!" Sinta terlihat marah, ia berdiri di belakang pagar untuk menjaga jarak dengan Brian.


'Hmm.. emang sih kalo kayak gini gak bisa bebas berduaan.' Gumam Brian memandangi Sinta yang tengah melihat ke bawah.


__ADS_2