Kosong

Kosong
Main PS


__ADS_3

Dalam game battle yang akan segera mereka mainkan, dua karakter diharuskan untuk saling bekerja sama. Sekarang, Brian tengah melihat-lihat karakter yang akan dipilihnya.


"Klik," satu karakter pria sudah dipilih oleh Brian.


"Ibu mau milih yang mana?" Tanya Brian ingin membantu Ibu yang masih belum mengerti fungsi tombol-tombol pada keypad stik nya.


"Ah.. Ibu mau yang cantik. Yang ini aja deh, kamu tadi mencet ini kan?"


"Klik," Ibu memencet tombol yang bukan seharusnya.


"Loh kok?"


"Klik, klik, klik ..."


Tampilan layar di televisi berubah-ubah. Berkali-kali Ibu memencet tombolnya secara acak dan game itu pun malah kembali menceritakan story battle nya yang cukup lama.


"Hahh, Ibuu.. bukan yang itu.. salah, kita malah harus mulai dari awal lagi." Brian menghela nafasnya.


"Ibu diam saja dulu ya, karakternya biar Brian yang pilih. Nanti Brian akan menunjukkan cara memainkannya." Lanjut Brian merasa geram karena opening game battle yang tidak bisa di skip itu harus ia tunggu dan ia juga harus memilih karakter lagi.


"Mmm.. ya sudah, tapi Ibu mau yang tadi." Ibu terlihat biasa saja dan merasa tidak bersalah. Brian pun langsung mengambil alih stik milik Ibu karena takut Ibu akan kembali mengeluarkan permainannya.


Selesai memilih kedua karakter, mereka sudah berada di titik awal. Brian diam dulu di tempat untuk mengetes fungsi-fungsi tombol pada keypad stik nya. Untuk meninju, menendang, melompat, dan lainnya, ia sudah mengerti dan langsung mengajarkannya kepada Ibu.


Karakter milik Brian:


Laki-laki berbadan tinggi dan terlihat sangat berotot. Memiliki rambut berwarna kuning, memakai atasan singlet (kaos tanpa lengan) yang terlihat ketat. Untuk bawahannya ia memakai celana jeans panjang dengan aksesoris rantai.


Karakter milik Ibu:


Wanita berambut cokelat dan panjang. Tubuhnya ideal (body goals). Memakai celana panjang ketat dan sport bra yang menutupi seluruh bagian gunung mantul. (Mantul, bukan mantap betul, tapi ya itu, mantul loncat-loncat. Awokawok).


"Ikutin Brian Bu."


Brian berjalan masuk ke dalam sebuah gedung yang menjulang tinggi. Keduanya sudah dibekali pistol dan senjata-senjata lain yang mereka simpan pada tas pinggangnya.


Ibu pun mengikuti kemana Brian berjalan. Ke kiri, berhenti, ke depan, dan ke belakang. Ia masih terlihat kesusahan dalam mengendalikan karakternya.


Meskipun banyak drama, tapi Ibu akhirnya berhasil masuk ke dalam gedung. Misi mereka di sana yaitu mengambil barang-barang berharga yang ada di dalam perusahaan. Dengan penampilan mereka yang seperti itu, tentunya orang yang sedang berada di sana langsung bergerak menyerang mereka.

__ADS_1


"Buk! Buk!"


"Ukh!"


"Hiyyahh!"


Dalam sekejap para penghuni di lantai bawah itu langsung K.O. Tidak heran kenapa ini terlihat begitu mudah, mereka sudah disetting sebagai karakter preman dan orang-orang itu hanyalah pekerja yang mengandalkan otak, bukan fisik.


Di sana mereka tidak menemukan apa-apa. Lalu mereka menaiki lift, menyusuri setiap lantai dan ruangan untuk menemukan benda yang dicarinya. Semakin jauh, mulai muncul lawan yang menggunakan senapan.


"Hah! Brian! Ibu takut!" Melihat seorang pria berjas yang membawa senapan, Ibu malah kocar-kacir dan membiarkan Brian bertarung sendirian.


"Ibu.. Ibu kan juga punya senjata." Ucap Brian tak habis pikir dengan ibunya. Ini hanyalah sebuah game, jadi kenapa ia harus takut?


Sedari awal, Ibu terus saja berjalan di belakang dan membiarkan Brian yang menyerang musuh lebih banyak. Meski begitu, mereka berhasil mengalahkannya dan mengambil senapan orang itu untuk dijadikan cadangan.


"Trasshh!"


Sebuah ruangan berlapis kaca diterobosnya. Entah sudah sampai di lantai berapa, tapi tiba-tiba bunyi alarm muncul menandakan telah terjadinya suatu kebakaran.


"Brian! Kebakaran! Gimana ini?!" Ibu berteriak panik. Sepertinya ia sudah mulai bisa menikmati game nya.


"Trassh!"


Brian memecahkan sebuah kotak kaca yang menempel di dinding. Di dalamnya tersimpan sebuah kapak merah lalu ia mengambilnya.


"Brian! Ayo! Ini kebakaran! Apinya sudah mulai membesar!" Ibu berteriak lagi.


"Hah?! Kebakaran? Dimana Bu?! Ayo kita keluar meminta bantuan!" Sinta terbangun mendengar teriakan Ibu, ia langsung panik mendengar adanya kebakaran.


"Sinta? Kamu sudah bangun?" Ibu mencoba untuk menoleh ke arah belakang, tapi tindakannya itu terhentikan oleh ucapan Brian.


"Ibu! Jangan berpaling! Nanti bisa-bisa Ibu mati!" Sengaja Brian tidak membiarkan Ibu untuk melihat Sinta. Ia ingat dengan ciuman yang sebelumnya ia daratkan tepat di bagian selangkanya Sinta. Pasti selangkanya itu sekarang sudah memiliki bekas yang cukup jelas.


"Mati? Kalian sedang apa? Di mana kebakarannya?" Sinta yang baru bangun itu merasa kebingungan.


"Sebentar Bu, Brian haus. Ibu tolong mainkan punya Brian juga."


"Hah? Mana bisa begitu Brian!"

__ADS_1


Brian pun meninggalkan Ibu, lalu ia berjalan sambil memberi isyarat, menyuruh Sinta melihat ke arah selangkanya.


"Sinta, kau mau sekalian minum? Aku akan mengambil jus di kulkas." Ucap Brian basa-basi, ia memberi kode agar Sinta mengikutinya.


"Um, yah, aku haus." Sinta yang sudah mengetahui ada suatu bekas di bagian selangkanya langsung ikut ke dapur bersama Brian.


"Ah, Sinta, aku minta maaf, aku tidak sengaja." Sampai di dapur, Brian langsung membicarakannya.


"Hmhh! Jelas-jelas kau sengaja!"


Lebam bekas cupangan itu tidak bisa dihindari. Butuh waktu berhari-hari agar bekas itu akhirnya hilang. Saat ini Sinta hanya mencoba menyembunyikannya di balik rambut pirangnya yang panjang. Tapi mana mungkin setiap saat ia harus melakukan hal itu.


"Mmm.. ya.. maaf, tapi sekarang bagaimana?" Brian takut bekas itu diketahui oleh seseorang apalagi oleh keluarganya Sinta.


"Sepertinya aku harus memakai concealler untuk menutupinya. Tapi, aku tidak punya benda yang seperti itu, kau harus membelikannya untukku Brian!"


"Mmm, kon si *** yah? Aku ingat baik-baik, sekarang juga aku akan membelinya." Brian sama sekali tidak tahu apa itu concealler, tapi ia akan berniat untuk membelinya sendiri.


"Kau tidak akan mengajakku? Memangnya kau tahu warna apa yang cocok dengan kulitku?"


"Tapi ponakanmu Sinta?"


"Hmm.. aku akan membangunkannya. Aku ingin ikut denganmu."


"Baiklah."


Setelah meminum jus, mereka pun kembali dan Sinta langsung membangunkan ponakannya.


"Kok lama banget sih? Kalian abis ngapain aja? Brian, ini punya kamu udah kalah loh." Ucap Ibu yang masih bermain game.


"Itu Bu, abis ngobrol dulu. Brian sekarang mau pergi ya Bu, beli CD. Soalnya Brian gak suka sama CD nya. Sinta juga katanya mau ikut."


(CD \= Compact Disk, alias piringan kaset yang dipake buat main game).


"Ohh.. ya udah. Ini gimana cara matiinnya? Ibu mau mandi, udah gerah." Ibu mengakhiri permainannya.


"Biar Brian yang beresin Bu." Brian mematikan dan mencopot perangkatnya. Lalu ia menyimpannya dengan rapi di bawah meja TV.


Brian dan Sinta pun keluar, mengantar ponakannya itu masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Sinta berpamitan dan mereka langsung berangkat menggunakan taksi.

__ADS_1


__ADS_2