
Kayu bakar yang dibawa oleh para peserta masih tersisa banyak, mereka hanya menggunakannya untuk 2 kali memasak saja. Para panitia sudah mengumpulkannya dan membentuknya menjadi sebuah kerucut di lahan bekas perkemahan.
Sekarang sudah tak ada lagi sekat berupa jaring. Pria, wanita, bebas bercampur satu sama lain. Namun tentu bukan dalam hal tanda kutip, tidak ada yang melakukan hal itu kecuali anak yang kurang ajar.
Di lahan luas ini, panitia sudah menyiapkan sound system berupa speaker sebagai pengeras suaranya. Di tangan pula, beberapa sudah siap sedia membawa minyak tanah, mereka menyiramkannya pada kayu yang dirakit setinggi kira-kira 3 meter itu.
Dan dinyalakanlah api unggun, begitu besar hingga membuat beberapa orang merasa takut. Untuk menikmatinya, para panitia mempersilahkan adik-adiknya menyumbangkan bakat suara. Karaoke bersama, yang ingin bernyanyi tinggal datangi panitia saja.
Mereka sangat ramah, namun terkadang bersikap tegas. Tapi orang pemberani tentu tidak merasa canggung untuk bernyanyi dan duet bersama panitia.
Acara bakar-bakaran sosis dan sejenisnya juga diadakan. Bagi para anak SMP rasanya ini bukan seperti MOPD, biasanya MOPD dilakukan dengan kegiatan-kegiatan melatih dan menantang seperti jerit malam.
Mendengarkan lagu, makan-makan, melihat api unggun yang berkobar, dari pukul 7 hingga pukul 10 malam mereka tidak merasa bosan.
Tapi panitia segera mengakhiri acara ini, masih ada hari esok yang harus dijalani oleh para adik-adiknya. Jika mereka kurang tidur, maka panitia juga yang akan disalahkan.
Semua bubar dan masuk ke kelas pengungsian. Wanita di lantai atas, sedangkan pria di lantai bawah. Mau ngantuk atau tidak panitia tak mau tahu, sampai di kelas mereka harus segera tidur. Sebelum itu panitia menyampaikan pesan sebelum tidur dan lampu pun ikut dimatikan.
Suasana malam ini terasa lebih dingin, 1 ruangan kelas diisi oleh 4-5 regu, mereka membentangkan tikarnya di lantai luas yang sudah dienyahkan bangku-bangkunya.
Sementara itu panitia tinggal di kelas yang masih berdampingan, dengan lampu yang tentunya masih dinyalakan.
"Git, ini passwordnya apa sih?" Ucap Aldi pelan, ia masih belum tidur.
"Kan udah gue masukkin, kenapa malah lu putusin?" Jawab Agit pelan juga.
"Ya gak sengaja, tadi gue malah nyambung ke yang lain."
Sebelumnya Agit sudah mendapatkan password Wi-Fi sekolah ini dari temannya yang merupakan penghuni kelas 11. Ia sudah mengisi passwordnya kepada ponsel yang lain tanpa menyebutkannya.
"Nih, jangan diputusin lagi. Ntar gak gue kasih." Agit selesai mengisi kembali kata sandinya.
"Ada yang tau gak password Wi-Fi nya apaan?" Seseorang dari tembok seberang bertanya. Agit yang tahu passwordnya itu hanya diam saja. Ia tak mau orang lain tahu dan membuat jaringan Wi-Fi nya menjadi lemot.
"Di hack aja lah, tinggal pilih. Lagian banyak sambungannya di sini." Seseorang menjawabnya.
Orang lain juga sibuk memegang ponsel, tapi mereka mungkin tidak tahu apa password Wi-Fi nya. Wi-Fi gratis di sekolah ini membuat para anak SMP itu merasa betah.
Sibuk dengan ponsel hingga membuat baterai ponselnya menjadi lemah. Hanya sebentar saja karena ponsel mereka memang sudah lowbat dari tadinya.
Ponselnya Brian masih menyisakan 42% daya baterainya, ia memiliki kapasitas baterai yang cukup besar. Walau tadinya juga tidak full, tapi ponsel mahal itu masih bisa bertahan lama.
Semua pun sepakat untuk menonton video youtube di ponselnya Brian. Satu per satu mulai memutuskan untuk tidur, Brian yang jarak pandangnya dekat dengan layar ponselnya itu masih tanggung ingin melihat beberapa video lagi.
Tapi lama-kelamaan ia malah tertidur dan lupa untuk mematikan akses Wi-Fi nya. Ponsel yang terhubung dengan Wi-Fi itu terus menyala dan menampilkan video-video selanjutnya yang memang sengaja diputar otomatis.
Brian tetap terlelap, ia sudah masuk ke alam dunia bawah sadar dan tak mampu lagi untuk bisa mendengarkan suara ponselnya sendiri.
__ADS_1
Satu jam, dua jam, Brian akhirnya bangun terperanjat mengingat sesuatu yang ia lupakan. Segera ia meraba-raba sesuatu yang ada di depannya.
Ponsel, hahh.. masih ada, untung saja tidak ada yang mengambilnya. Di lingkungan yang masih baru ini tentu ia harus sangat waspada. Orang-orang belum dapat dipercayai, yang sudah dikenal pun belum tentu tidak menyembunyikan niat yang jahat.
Tapi.. daya baterai yang tersisa tinggal 26%, ia harus segera mengisi daya baterainya. Ia sudah tahu di mana letak stekernya. Di dinding depan dan belakang di dekat ubin, satu lagi di samping pintu pada bagian tengah.
Brian menghiraukan semua steker itu dan langsung membuka pintu keluar. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Sebelumnya ia pernah mengalami kejadian ini, dan ini tidak pernah terlupakan dalam ingatannya.
Steker yang ada di dekat pintu tidak bisa ia pakai karena tak ada tempat untuk ia menyangga ponselnya. Ia juga tak berani memakai colokan yang ada di bawah, orang-orang sedang pada tidur dan mereka mungkin juga sedang memakainya.
Dilihat.. sekarang sudah berganti hari dan sekarang sudah pukul setengah 3 pagi. Brian tak akan tidur lagi, ia akan mengecas ponselnya di ruangan lain sembari tetap menjaganya.
Brian keluar perlahan karena memang pintunya tidak dikunci. Semua ruangan kecuali yang ditempati oleh para peserta terlihat masih terang. Panitia sedang berada di ruangan sebelah kanan, sebelah kiri semua ruangannya redup, berarti ruangan itu diisi oleh para peserta. Ia pun membungkuk melewati satu ruangan terang. Kemudian ia terus membungkuk menuju ruangan selanjutnya.
Sampai di depan pintu, sambil waspada melihat kiri kanan ia segera membuka pintunya.
"Klek," masuklah Brian ke dalam lalu mengambil sikap jongkok.
"Baa!" Ternyata ruangannya sama sekali tidak kosong. Ada 4 orang panitia pria dan wanita yang tengah mengecas juga. Yang lain sibuk di ruangan sebelah yang tadi Brian lewati.
Brian sama sekali tidak terkejut, ia memang sengaja datang ke sini.
"Ngapain kamu jam segini?" Tanya panitia masih pada melek.
"Ini Kak mau ngecas ponsel." Jawab Brian santai.
Brian berhasil mengisi daya ponselnya dan ponsel itu juga akan dijaga oleh panitia. Itu alasan Brian berani datang ke mari, ia tak perlu repot menjaga ponselnya sendiri. Tapi...
"Kebetulan udah mau jam 3, kamu datang ke sini mau jadi alarmnya ya?" Tanya panitia sebelum Brian pergi.
"Kamu sekarang keluar, bangunin teman-teman kamu. Ini sudah waktunya untuk solat tahajud." Titahnya.
"Oh, iya Kak." Brian berlalu membalikkan badan.
"Eh, eh, kamu sudah tau belum bagaimana cara membangunkannya?" Suara panitia itu menghentikan Brian.
"Mm.. belum." Brian pura-pura tidak tahu.
"Berkokok, atau tidak tirukan bunyi sirine yang kemarin. Pilih salah satu."
Itu dia, 2 pilihan, kemarin malam mereka dibangunkan oleh suara sirine toa yang terdengar begitu keras.
'Yang bener aja, masa gue harus ngelakuin itu lagi?' Brian hanya diam di tempat.
"Ini sebagai konsekuensi karena kamu bangun terlalu cepat. Kalau tidak nanti saya akan mencatat nama kamu dan menyerahkannya kepada kepala sekolah agar kamu tidak lolos MOPD ini." Ancaman dikeluarkan.
Bangun terlalu cepat? Begitu saja salah. Brian sudah tahu bahwa itu hanyalah sebuah ancaman. Sekarang ia meminta maaf dan keluar segera dengan alasan ingin berak.
__ADS_1
Dahulu:
Brian si anak SMP itu tahu bahwa Kakak Panitia selalu galak dan harus dituruti apa maunya. Yang ia tahu satu-satunya penguasa dalam acara ini adalah panitia, salah-salah nanti bisa dihukum lebih berat lagi.
Brian pun bersedia menerima perintah itu dan digiring untuk keluar dari ruangan. Pintu pertama dibuka, ini adalah ruangan yang ditempatinya. Lampu dinyalakan dan Brian dengan terpaksa berteriak.
"Wiuww.. wiuww.. wiuww.." Brian lebih memilih suara itu daripada suara ayam berkokok. Ia menggunakan kedua telapak tangannya yang besar untuk memfokuskan suara sembari menutup malu wajahnya.
"Lebih keras lagi!" gencat Panitia, padahal dalam hatinya mereka tengah cekikikan.
"Wiiuwww.. wiiuuuww.." kembali Brian berteriak secara keras. Satu per satu yang tengah tidur mulai terbangun, ia tak boleh berhenti sebelum semuanya ikut terbangun juga.
'Si Brian lagi ngapain sama panitia?' Gilang merasa heran melihat Brian di depan sana.
Sekarang Brian disuruh berkeliling di ruangan itu agar semua mudah dibangunkan. Ia menggoncangkan tubuh yang masih terkapar sambil berkata wiuw wiuw..
"Hah.. sudah Kak," ucap Brian merasa lelah. Ia sangat malu tapi untuk penghuni ruangan ini saja tak apa.
"Ehh, belum.. ke kelas selanjutnya! Kalau mau kamu boleh ambil satu orang di sini untuk diajak menemani."
Padahal Brian rela melakukan hal ini karena tak mau hukumannya menjadi lebih berat, tapi ternyata ini semua belum selesai pula.
Sontak Brian melihat wajah Gilang, tentu ia memilih Gilang yang sudah sangat kenal dekat dengannya.
"Hah? Gue?" Gilang yang baru bangun itu bingung mau diapakan.
Mau tak mau Gilang juga harus menurutinya. Kali ini panitia terlihat tegas, mereka hebat sekali dalam menyembunyikan isi hatinya. Kalaupun tertawa wajahnya selalu nampak kikuk terlihat seperti sedang merendahkan.
Ruangan-ruangan lain juga ikut dibangunkan dan diambil beberapa untuk menjadi alarmnya. Sekarang mereka sudah beramai-ramai dan ada di lantai atas tempat para wanita.
Semua pintu dibuka, lampu tidak dinyalakan bertujuan untuk menjaga privasi para wanita. Para pria alarm itu juga hanya diperbolehkan berteriak di luar ruangan. Yang berbunyi sirine harus berlarian, sedangkan yang berkokok harus menirukan gerakan ayam.
"Kukuruyukk!"
"Wiuw.. wiuw.."
"O, o, o, ooo ..."
"Ninu.. ninu..."
"Auuuuu..." ada suara serigala pula.
Pagi-pagi buta seperti ini di luar sudah bising dengan suara ribut. Para wanita terheran-heran dan langsung melihat keadaannya.
Rasanya lebih merdu suara sirine toa yang kemarin. Suara itu keras, namun tak langsung membangunkan semua orang. Padahal di tenda rasanya tidak nyaman, tapi memang, suara alarm pria itu sangat mengagetkan apalagi suaranya keras dan juga berat-berat.
Dulu Brian begitu tolol, mengendap-endap masuk ke ruangan yang ada panitianya itu. Ia tak mengira bahwa ada panitia juga di sana. Padahal, semua ruangan yang tidak digunakan pastinya sudah dikunci dengan rapat. Tapi ia tidak tahu akan hal itu.
__ADS_1
Kenangan yang tidak terlupakan, namun Brian tak mau mengulanginya lagi. Cukup satu kali saja, ia juga kasihan karena dirinyalah yang dulu menjadi penyebab utamanya.