
"Gimana caranya?"
Brian kesulitan mencari cara supaya Wendy bisa bertemu kembali dengan Yuna. Tapi Gilang si joki percintaan, sudah merencanakan suatu hal untuk mempertemukan mereka kembali.
Dalam sebuah rapat di sebuah warung yang sama sekali tidak tertutup, rencana langsung dibicarakan kepada kedua anggota.
"Bu, beli softexnya 3000."
"Ini asin teri berapaan ya?"
"Si Wendy harusnya... nanti gue..."
Tidak peduli ada orang yang sedang berbelanja, Gilang secara detail menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan yang muncul atas rencananya itu.
"Oke, aku akan mengirimkan pesan kepada Yuna." Brian mengetik sebuah pesan di ponselnya, ia menanyakan waktu senggang Yuna untuk mengajaknya bertemu.
Tak lama menongkrong di sana, mereka bertiga pulang ke rumahnya masing-masing. Brian duduk dengan kakinya yang menjuntai di atas balkon. Ia masih bersama dengan gawainya, banyak fitur-fitur menarik yang kini bisa ia mainkan.
"Wahh... ada ero game nih, coba ah..."
Dalam kesendiriannya, Brian memainkan sebuah game dewasa di ponselnya. Di tengah-tengah permainan, ia melihat mobil yang ditumpangi oleh Sinta baru saja datang. Sinta yang masih memakai sergam SMA yang aduhai sama sekali tidak menoleh dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Terpaan angin di balkon membuat Brian merasa nyaman. Bayangan dari pohon pohon rimbun menjaga layar ponselnya tetap terlihat cerah seperti berada di dalam ruangan. Ia lupa bahwa kemarin dirinya sudah berjanji untuk membantu pekerjaan ibunya, semua kebebasan ini membuat perhatian Brian tak bisa teralihkan.
'Ah gapapa deh, lagipula nanti aku juga bakalan kerja buat bantuin Ibu.'
Selesai bermain game, Brian merasa ada sedikit gejolak nafsu di dalam dirinya. Tapi Brian tahu bahwa col* itu tidak baik. Melihat langit yang sudah teduh, sore itu Brian berniat untuk berolahraga di luar.
"Bu, Brian mau lari sebentar." Mengelilingi sekitaran kompleks, Brian dengan kaos oblong dan celana pendeknya berlari secara santai.
Sebuah pemandangan pencuci mata, pria tampan dengan postur tubuh yang tinggi itu terlihat hot dengan tubuhnya yang sudah dibasahi oleh keringat.
"Hahh..."
__ADS_1
Di tepi jalan dekat sebuah lapangan, ia berselonjor mengistirahatkan kedua kakinya yang kelelahan. Lekuk betisnya yang berotot, mulus tanpa sehelai bulu yang terlihat. Ia selalu mencukur bulu-bulu nya termasuk bulu anu karena tidak mau terlihat tua.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri dirinya yang tengah beristirahat.
"Hey, anak sebelah sana ya? Mau ikutan futsal gak? Kita juga lagi butuh orang nih." Ajak seorang pria yang terlihat lebih tua darinya.
Brian melihat segerombolan remaja berseragam yang sama mulai berkumpul di lapangan. Brian tidak tahu siapa mereka, ia memang tidak pernah bergaul dengan orang sekitaran sini.
"Boleh," mencoba berbaur dengan mereka, Brian juga ingin menikmati waktu di luar ruangan secara lebih lama.
Brian memang jarang berolahraga dengan permainan seperti ini. Paling, ia hanya melatih otot fisiknya di rumah ataupun di tempat gym. Tapi permainannya tidak terlalu buruk, sepertinya ia sedikit kaku karena sedang berbaur dengan orang yang belum ia kenal.
Mereka tidak sedang mengadakan pertandingan, di sana mereka sedang melakukan latihan bersama, jadi Brian juga bisa ikut bermain.
"Ada nomor ponsel gak? Pelatih udah setuju kalau kau masuk ke tim kita."
"Oh, ada."
Hari itu begitu melelahkan, langit sudah mulai gelap dan Brian baru saja sampai rumah. Untung saja Brian membawa ponselnya, jadi ia bisa mengabari Ibu terlebih dahulu. Memang ribet dan merepotkan, tapi seorang Ibu pasti akan mengkhawatirkan anaknya.
Selesai mandi, tubuh Brian kembali segar. Setelah beberapa jam berolahraga, pikirannya menjadi jernih kembali. Brian sedang berbaring di ranjangnya dan masih terpaku pada gawainya.
Brian asyik bermain dengan ponsel barunya, menonton dan bermain game secara online lewat sambungan wi-fi di rumahnya. Setelah beberapa saat, sebuah panggilan dari Sinta masuk, dan ia ingat bahwa dirinya sudah mengabaikan pesan-pesan yang datang dari aplikasi chatnya.
"Brian, kau sedang apa? Aku lihat kau sedang aktif di ponselmu, apa kau tidak melihat pesan yang datang dariku?" Ucap Sinta dari dalam telepon.
"Ah, maaf Sinta, aku lupa. Aku juga baru pulang latihan futsal tadi sore." Brian rasa dirinya tidak perlu meminta maaf tentang hal ini, tapi dari nada bicaranya ia sudah tahu bahwa Sinta sedang marah kepadanya.
"Hmm... sejak kapan pacarku jadi anak futsal?" Sinta merasa heran.
"Sejak tadi sore." Ucap Brian Singkat.
"Ohh... jadi, bagaimana? Apa kau mau menerima ajakanku?"
__ADS_1
"Ajakan apa? Aku belum sempat membacanya, biar aku lihat." Brian mencoba melihat isi pesannya, tapi tiba-tiba Sinta berteriak dari dalam ponsel.
"Jangan matikan telponnya!" Teriak Sinta membuat Brian kembali menempelkan ponsenya ke dekat telinga.
"Jangan matikan telponnya, aku ingin tidur sambil mendengarkan suaramu," ucap Sinta dari balik telepon.
"Ah, baik Sinta, aku harus berbicara apa?"
"Coba desah 3 kali." Permintaan aneh Sinta membuat Brian ingin mematikan telponnya.
"Ah ah ah," ucap Brian tanpa nada.
"Iiih, bukan gitu! Gini nih, ahh... ahh... ahh..." suara manja Sinta akhirnya keluar.
Bulu kuduk Brian langsung berdiri, dan membuat si Wahyu juga hampir berdiri. Ucapan Sinta itu begitu mendalam dan terdengar merdu di telinga. Brian ingin mendengarkan suara itu lagi hingga terlelap.
"Sinta, ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur." Titah Brian sok iye.
"Kalau begitu nyanyikan aku ratusan buah lagu, jika aku sudah tidak bersuara itu berarti aku sudah tidur!" Ucap Sinta membuat Brian tak bisa menolak, daripada harus mendesah, lebih baik ia menyanyi walaupun yang Sinta minta bukan sebuah, tetapi ratusan buah lagu.
Suara indah namun tak beraturan sampai ke dalam ponsel milik Sinta. Terdengar sesekali suara tawa kecil milik Sinta dari dalam telpon. Tapi Brian menghiraukannya dan melanjutkan nyanyiannya. Ia menggunakan earphonnya dan melihat beberapa lirik lagu yang ia temukan pada search engine.
Meskipun Brian tak tahu betul intonasinya, tak ragu, setelah habis satu lagu ia langsung lanjut ke lagu yang berikutnya. Tenggorokkan sudah mulai kering dan Brian mengambil segelas air yang berada di dekat lampu tidurnya.
"Sinta, apa kau sudah tidur?" Ucap Brian dengan bisikkan, ia tak mau Sinta terbangun kembali dan menyuruhnya untuk bernyanyi.
Tak ada satu pun sahutan dari dalam ponsel, yang bisa Brian dengar hanyalah suara nafas Sinta. Waktu sudah menunjukkan pukul 10, Brian mematikan telponnya dan berbaring menarik selimutnya.
"Sinta, selamat tidur." Ucap Brian, padahal ia sudah mematikan telponnya. Brian pun tertidur lelap setelah lelah menyanyikan beberapa lagu untuk Sinta.
Di balik sebuah selimut yang menyelubungkan udara hangat di dalamnya, dalam tidurnya itu Brian bermimpi.
"Ayo, lebih cepat lagi... sayang..."
__ADS_1