Kosong

Kosong
Penjahat Dalaman


__ADS_3

Sinta terus saja melihat ke arah bawah. Brian pun ikut juga melihat ke bawah, namun ia tidak menemukan hal aneh maupun hal yang menarik perhatian. Entah tengah mengusut apa, tapi Brian curiga Sinta akan melakukan hal yang tidak-tidak.


'Sinta mau ngapain? Dia mau lompat apa?' Brian segera mendekati Sinta.


"Perasaan aku menjemurnya di sebelah sana." Ucap Sinta terlihat heran. Rupanya ia tengah memperhatikan tali jemuran.


"Brian, kita ke bawah dulu." Sinta segera pergi ke lantai bawah.


Brian mengikutinya dengan langkah yang santai. Sampai di depan kosan, Sinta terlihat sedang mengacak-ngacak jemuran miliknya. Lalu ia menyusuri setiap pakaian yang dijemur dari ujung ke ujung.


"Brian, bra ku tidak ada!" Ucap Sinta terlihat panik. Ia yakin sekali bahwa dirinya memang menjemurnya di depan sana.


Brian tidak ingin terlalu banyak ikut campur, ia pikir Sinta menjemurnya di tempat lain. Tapi Sinta mengelak, ia lalu menanyakannya kepada teman sekamarnya.


Wita juga sudah kembali ke lantai bawah, namun diantara mereka tidak ada yang tahu sama sekali. Terpaksa Sinta pun mencarinya di tempat jemuran lain walaupun ia tidak merasa menjemurnya selain di depan sana. Namun, dicari di tempat lain pun ia tidak menemukannya juga.


"Brian! Kau mengambilnya ya?!" Tuduh Sinta saat mereka sedang di atap.


"K-kenapa aku? Dari tadi kan aku bersamamu?" Brian merasa tidak mengambilnya.


Sinta hanya membawa 2 beha saja. Yang ia jemur dan yang sekarang ia pakai. Jika dalaman yang itu hilang, maka ia akan memakai apa saat yang ia pakai ini harus sudah dicuci?


Meski Brian tidak mengaku, tapi Sinta curiga bahwa para pria lah yang telah mengambil **********. Lantas Sinta segera pergi ke bawah untuk mengobrak-abrik isi kamar pria.


Terlihat masih ada Wendy yang sedang tidur di dalam sana. Anang dan Gilang mungkin masih berada di kamar seberang. Tanpa basa-basi, Sinta langsung mengganggu Wendy yang tengah mengistirahatkan badannya itu.


"Wendy! Kau mengambil dalamanku ya?!" Sinta menggoncang-goncangkan tubuh Wendy. Ia tidak peduli dengan suaranya yang terdengar lumayan keras.


Karena di sana hanya ada Wendy, ia yakin bahwa Wendy lah yang telah mengambil **********. Ia pikir Wendy tengah berpura-pura tidur saja.


"Sinta, jangan berisik, nanti bisa jadi masalah. Udah nanti kamu beli lagi aja." Brian mencoba untuk menenangkan Sinta.

__ADS_1


"Haa... aku hanya membawa 2 bra saja.. cepat kembalikan.." Rengek Sinta sambil berdiri.


"Uhuk.. uhuk.. ada apaan sih ganggu aja." Ucap Wendy dengan suara berat. Akhirnya ia terbangun juga.


"Itu, Sinta, katanya dalemannya ilang pas lagi dijemur." Jelas Brian.


"Ohh.. ngapain sih pake gituan segala? Uhuk.. uhuk.. kan lebih enak juga kalo gak pake."


"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau pasti sudah mengambil dalamanku!" Sinta tetap menuduh Wendy.


"Lah? Nggak, kalo gak percaya coba aja cari." Wendy juga tidak merasa mengambilnya.


Brian pun menggiring Sinta untuk keluar dari kamar itu. Ia takut penghuni kos lain akan curiga dan melaporkan mereka kepada Ibu Kos. Brian berjanji bahwa ia akan mengembalikan beha milik Sinta jika ia memang mendapati behanya di dalam kamar.


"Makasih Bang infonya, ntar kapan-kapan mampir lah ke kamar kita."


Anang dan Gilang terlihat sudah keluar dari dalam kamar seberang. Mereka lantas mendekati Sinta dan Brian yang masih berada di depan pintu.


"Bro, di sini katanya emang udah biasa buat dijadiin tempat-tempat mesum. Asal gak ketauan yang punya kos aja, lagian yang punya kos juga gak bakalan dateng mantauin kita." Ucap Gilang dengan suara pelan.


"Hah? Dia ngomong jujur gitu aja?" Brian merasa tidak percaya.


"Ya gue ancem dikit lah, haha.. ngakak juga tadi. Kalo buat tidur sama si Desi sih gue rela ngeluarin duit sendiri." Jawab Anang.


Semua pastinya ingin tidur berpasang-pasangan, namun Yuna terus saja menjadi kendala bagi mereka. Kamar kosong tinggal tersisa 2, tentunya Sinta tidak tinggal diam dan langsung mengambil 1 kamar tanpa persetujuan dari Brian.


Sinta lantas menyuruh Brian untuk mengambil kunci karena ia memesan kamar di lantai atas. Terpaksa Brian menuruti perintah pacarnya ini agar ia melupakan sejenak tentang behanya.


1 hari berlalu, belum diketahui siapa pencuri **********, tapi Sinta sedang tidak ingin memikirkannya. Yang ia pikirkan, bagaimana caranya agar Brian bisa tidur berduaan bersamanya.


Semalam saja, Sinta sudah menunggu tapi Brian enggan tidur di dalam sana. Ia malu dengan teman dan juga tetangga kamarnya. Dan Brian malah menyuruh Sasa untuk menemani Sinta tidur di kamar itu.

__ADS_1


Sinta merasa kesal, padahal kemarin malam ia melihat pasangan muda mudi yang bukan pasturi diam-diam tinggal dalam satu kamar. Mumpung sore ini para wanita sedang di bawah, Sinta segera menghampiri Brian yang tengah berada di dalam kamarnya.


"Brian! Cepat ikut aku!" Ucap Sinta dengan handuk yang ia gantung di lehernya.


Sepertinya Sinta baru selesai mandi, ia langsung menarik tangan Brian keluar dari kamar sana. Energinya cukup kuat, mampu menarik tubuh pria itu mengikutinya.


Langkah menunjukkan arah ke kamar kosong yang sudah ia sewa. Brian melirik ke sana ke mari, ia takut seseorang melihatnya dan akan melaporkannya.


"Kau menyebalkan!" Sinta segera membawa Brian masuk kemudian ia mengunci pintu kamarnya.


Usai mengunci pintu kamar, Sinta menyerang Brian yang masih berdiri bengong melihatnya. Brian terduduk pada anak kasur yang belum dimasukkan itu, dadanya merasakan sesuatu yang terasa sangat aneh, kenyal-kenyal lembut tidak seperti biasanya.


"Sinta, kamu gak pake daleman?" Tanya Brian ragu.


"Dalamanku sedang dijemur." Jawab Sinta. Ternyata benar ia tidak memakai dalaman.


Di depan Brian ia merengek, mengeluh karena sering digoda oleh pria di luar sana dan juga pria di kosan ini. Brian tidak terlalu tahu, ia sedang berusaha untuk tidak memperhatikan Sinta.


Karena sudah terlanjur di dalam kamar dan tidak ada yang melihat juga, Brian pun melakukan hal yang sudah diduga. Bermesraan agar Sinta mendapatkan pengalamannya pada liburan ini.


"Tok.. tok.. tok.."


Belum lama mereka melakukannya, tiba-tiba pintu kamar diketuk, membuat mereka terkejut dengan siapa yang ada di luar sana.


Tak lama suara Anang dan Gilang terdengar, mereka sontak merasa lega dan langsung membukakan pintu.


'Huuh! Menggangu saja!' Gumam Sinta masih duduk di atas kasur.


"Hayo.. lagi pada ngapain?" Anang dan Gilang basa-basi terlebih dahulu. Setelah itu mereka mengatakan tujuannya.


Saat ini Wendy masih berbaring di dalam kamar, suhu tubuhnya terasa panas dan batuknya sekarang sudah disertai pilek. Biasanya batuk mudah tertular, jadi mereka memutuskan untuk pisah kamar.

__ADS_1


Ada juga solusinya, kamar yang Sinta sewa sekarang tidak sia-sia. Wendy akan tidur sendirian dan mereka para pria akan tidur di kamar ini. Brian melarang Sinta untuk menyewa kamar lagi. Ia mengiming-iminginya dengan sesuatu yang sudah Sinta sepakati.


__ADS_2