
"Mas, aku gak mau jauh-jauh dari kamu"
*peluk* *peluk*
"Iya Sayang, aku ada disini kok."
'Hadehh males... jadi kayak ibu ibu aku nonton ginian.' Brian masih menunggu Sinta di atas sofa sambil menonton sinetron berbumbu cinta.
"Hey, kemarilah.." Brian selalu terpikirkan kamarnya yang seakan tengah melambai-lambai. Tidak ada tempat yang nyaman selain kamar miliknya sendiri.
Ponselnya sudah jatuh ke danau, ia sama sekali tidak bisa menghubungi Sinta. Brian yang sudah menunggu lama itu merasa ngantuk dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur di sofa.
"Loh? Kamu mau tidur?" Tanya Ibu, melihat Brian berbaring dan menutup matanya.
"Iya Bu, Brian ngantuk, males ke kamar." Ucap Brian kembali memejamkan mata.
"Ya udah nanti Ibu ambilin selimut." Ibu tak mau mengalihkan pandangannya dari sinetron bucin.
***
"Brian, bangun nak.. Brian.." Ibu mengguncang-guncangkan tubuh Brian yang sedang tertidur.
"Ini, ada nak Sinta datang." Lanjut Ibu.
Brian merasa dirinya itu baru tidur sebentar, ya emang sebentar sih. Ia bangun dan melihat ke arah Sinta yang saat itu tengah berdiri.
"Oh, Sinta, maaf aku ke air dulu." Brian pergi ke kamar mandi dan membasuh wajah suntuknya dengan air dingin.
Sekarang, tak tahu jam berapa tapi saat itu Brian masih merasa ngantuk dan ingin tidur di kamarnya. Tubuhnya seketika menggigil kedinginan setelah keluar dari kamar mandi.
"Brian, aku bawa kue ulang tahun buat kamu. Tapi gak ada lilinnya hehe..." ucap Sinta saat Brian datang.
"Gak papa, lagian aku gak suka makan lilin." Ucap Brian.
"Hehe.." Sinta cengar-cengir.
Di ruangan itu, mereka berdua hanya duduk dan tak berani bersuara. Kue yang Sinta bawa juga mereka kacangin di atas meja. Saat ini siaran sinetron bucin sedang tayang dan sedang fokus ditonton Ibu. Mereka tidak boleh berisik, lagipula mereka memang malu jika harus mengobrol ataupun bermesraan di depan Ibu.
"Ibu nontonnya di kamar aja deh." Ibu merasa tidak enak dan takut mengganggu mereka berdua. Lantas Ibu pergi melanjutkan acara sinetron itu di kamarnya.
__ADS_1
Setelah ibu pergi, Sinta segera ke dapur untuk mengambil pisau dan pisin. Saat ia kembali, ia melihat wajah Brian yang terlihat tidak memedulikannya.
'Apa Brian tidak senang ya?' Gumam Sinta mencoba duduk di samping Brian.
'Mungkin Sinta sebentar lagi pulang. Ini kan sudah pukul 9.' Brian sibuk mengkhawatirkan Sinta yang ingin membawa balon di pestanya.
"Brian, kau mau kue?" Ucap Sinta yang sudah mengambil sepotong kue. Tapi, tanpa menunggu jawaban Brian, saat itu Sinta langsung memakannya.
"Makan saja semuanya jika kau suka." Ucap Brian membiarkan kuenya diambil.
"Hahh?! Apa kau tidak suka ya? Kelihatannya kau tidak senang setelah aku menyiapkan semua ini." Sinta terkejut mendengar ucapan dingin Brian. Ia memasang raut wajah sedih sambil mengunyah kuenya.
"Ah.. tidak, bukan begitu Sinta. Aku suka, dan aku senang kok." Brian langsung mengukirkan senyum buatan di wajahnya.
'Tenang.. tenang.. kita tidak sedang di kamar, jadi kau harus bersikap biasa saja.' Gumam Brian kepada dirinya sendiri.
"Sinta, jangan merajuk seperti itu dong.." rayu Brian melihat Sinta yang saat itu mengubah posisi tubuhnya.
Seperti anak kecil yang sedang merajuk, Sinta tetap tidak peduli, ia hanya makan dan mengabaikan perkataan Brian dengan wajah kesal.
Tiba-tiba Sinta menoleh, merasakan tangan dingin Brian yang menyentuh pipinya. Ia melihat senyum tulus yang terukir di wajahnya Brian.
Sinta kembali menolehkan wajahnya. Ia mengambil lagi sepotong kue dan menghiraukan tangan Brian yang menempel di pipinya.
Tiba-tiba, Brian mendekat dan membuat Sinta terkejut. Sudah berapa lama Brian tidak melakukan ini? Selalunya Sinta yang memulai duluan seperti seorang fans yang mengidolakan artisnya. Brian memeluk Sinta dengan lembut. Tangannya yang berotot terasa keras dan berat, tak jauh berbeda dengan anak laki-laki seusia Sinta.
"Sinta, kau begitu hangat." Ucap Brian sambil terus mendekap Sinta.
"A-ah, sebentar." Sinta mencoba melepaskan pelukan Brian itu.
"Ada apa?" Brian keheranan. Apa mungkin Sinta tidak suka dipeluk? Tapi di TV juga biasanya para aktor/ris terlihat senang saat dipeluk.
"Aku mau membuka jaketku dulu. Tadi aku jatuh, untung kuenya tidak apa-apa." Ucap Sinta sambil membuka jaketnya.
Brian tak mengira, ternyata Sinta sampai segitunya untuk bisa merayakan hari ulang tahunnya. Jaket berwarna pink muda itu juga terlihat basah di bagian kupluknya. Sepertinya di luar sana sedang gerimis.
"Sinta, maaf ya, karena aku ulang tahun, kau jadi repot seperti ini." Brian merasa tidak enak.
'Dasar ulang tahun sialan!' Brian menyalahkan hari ulang tahunnya.
__ADS_1
"Tidak papa.. aku senang kok." Ucap Sinta sambil mendekat dan menyandarkan dirinya tepat di dada Brian.
"Peluk aku," pinta Sinta sambil meraih kedua tangan Brian. Lantas Brian memeluknya dengan enggan.
"Deg! Deg! Deg! Deg!"
'Haaa..apaan ini cok? Pengen gue pegang.'
Dari atas, Brian bisa melihat pemandangan indah yang ada didepannya. Dua buah susu rasa vanilla terlihat begitu menggiurkan untuk dinikmati olehnya. Saat itu Sinta memakai pakaian biru muda model brokat yang terlihat mewah dengan sulaman benang perak. Baju berlengan suai itu sengaja menampakkan sedikit bagian yang ada di depannya.
"Mmm? Brian, dari sini aku bisa mendengar detak jantungmu." Ucap Sinta menengadah sambil melihat Brian.
"Ahaha.. iya, itu jantungku sedang memompa darah." Brian beralasan dengan alasan yang sudah jelas.
"Apa kau sudah siap melakukannya denganku?" Sinta menempelkan tangannya di wajah Brian.
"A-ah, melakukan apa Sinta? Di sini berbahaya, nanti Ibu bisa lihat." Ucap Brian dengan suara yang pelan. Jantungnya semakin dag dig dug mendapat sentuhan lembut dan mendengar ajakan itu.
"Ya tentu saja itu, hadiah yang aku berikan." Ucap Sinta sambil terus memandangi Brian.
"Mm.. ah, aku sudah membuangnya." Brian asal ngomong.
"Hah? Kau sudah membuangnya? Kau jahat Brian, padahal aku sudah membelikannya untukmu." Sinta tak lagi memandang wajah Brian.
"O, ah, tidak tidak, aku hanya bercanda. Aku menyimpannya di kamarku kok." Brian panik.
"Kalau begitu aku ingin kau memakainya. Aku ingin melihat apakah yang ku belikan sudah cocok untukmu." Ucap Sinta.
"Ahahaha.. a-aku malu Sinta."
"Malu? apa kau tidak menginginkannya?" tanya Sinta.
"Menginginkan apa?" ucap Ibu.
Yo guys! Dukung aku ya biar aku tambah semangat ^-^ Jangan lupa share novel ini ke teman-teman kalian kalo kalian suka.
Atau kalian bisa bantu populerkan karya ini dengan cara like, komen, vote, and gift.
Thank You <3
__ADS_1