Kosong

Kosong
Bubar


__ADS_3

Satu gerakan menyeleweng yang Brian lakukan ternyata berpengaruh juga pada perubahan masa depannya. Lolos dari alarm, sekarang ia malah ditunjuk giliran maju ke depan.


Brian ditarik paksa dari sudut itu, ia enggan enyah dari tempatnya. Tapi sikapnya yang susah itu sudah membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Mau tak mau ia harus turut ikut seperti tanpa pemaksaan.


Ia sebenarnya malas, tapi jika tidak ke depan dirinya malah akan terlihat lebih memalukan. Bukan seorang gentle man, begitu pikirnya.


"Kamu punya bakat apa?" Tanya panitia.


"Saya gak punya bakat." Brian bersikap biasa saja.


"Krik.. krik.."


Semua terhening melihat Brian yang hanya diam. Orang-orang mulai mengusul, tari, nyanyi, dan lain sebagainya.


"Mm.. kamu coba berdiri di dekat pohon itu." Titah panitia dan Brian pun langsung menurutinya. Ia berjalan menuju pohon hias dengan tinggi sekitar 2 meteran.


"Kamu hibur pohon itu, soalnya dia lagi sedih. Coba kamu bikin pohon itu ketawa, kalau kamu berhasil nanti kamu boleh kembali duduk." Ucap panitia mengada-ngada.


Kali ini Brian disuruh untuk melawak. Bagaimana bisa Brian membuat sebuah pohon bisa tertawa? Hal konyol, panitia sendiri saja tidak mungkin bisa melakukannya.


Sorak-sorak mulai bermunculan lagi. Hahh.. tarik nafas panjang, Brian harus melakukan ini sebisa mungkin. Ia sudah dewasa, dirinya bukan anak kecil plin plan lagi yang susah untuk diatur. Sambil menatap pohon itu, Brian memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"Pohon, kamu pasti sedih ya sendirian terus? Apalagi kamu kedinginan gini gak pakai baju." Brian membayangkan dirinya sedang duduk di samping pot temboknya. Tapi bayangan itu malah memperlihatkan dirinya berlagak tulang lunak seperti Diva.


Arghh.. jangan lama-lama, cepat lakukan! Semua orang sudah menunggunya. Brian memantapkan hati mencoba bersikap profesionalis.


"Kamu kenapa? Kok kelihatannya sedih gitu?" Tanya Brian mulai berakting, ia mengeluarkan kata-kata secara spontan seperti sedang berhadapan dengan manusia.


Pohon tak mungkin bisa menjawabnya, lantas Brian berjalan menggantikan posisi pohon sebagai pembicara.

__ADS_1


"Aku ingin hidup bebas, kenapa aku disekat di dalam tembok bulat ini?" Ucap Brian dengan suara agak berbeda.


"Kakiku.. kakiku.. aaa! Tolong bantu aku, sudah bertahun-tahun aku terjepit di lubang ini." Brian menarik-narik batang pohon bagian bawah, tangan kirinya memegang mic agar suaranya terdengar jelas.


Orang-orang mulai tertawa melihat tingkah Brian yang seperti orang gila, tapi Brian tak peduli pokoknya ia harus segera menyelesaikan semua ini.


"Memangnya kau mau ke mana?" Tanya Brian berpindah posisi lagi.


"Aku ingin bertemu dengan pohon cantik di sebelah sana, tapi bagaimana bisa aku melakukannya? Aku juga malu dengan tubuh yang pendek ini, kenapa petugas selalu memotong daunku saat aku akan tumbuh tinggi? Dan lagi, dia selalu membuat badanku bau diliputi kotoran-kotoran babi."


Kembali terdengar gelagak tawa, nada Brian terkesan lucu dan ekspresinya juga terlihat menghayati. Ia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi ingin ketawa.


Di samping itu para wanita penasaran dengan pemuda tampan yang tengah berbicara dengan dirinya sendiri. Brian tidak terkesan memalukan, justru ia terlihat tenang seperti lupa dengan para penontonnya.


Tak lama obrolan selesai dan Brian sontak mendapatkan applause dari tangan para penonton. Panitia juga memujinya, ia direkomendasikan untuk masuk ke dalam ekskul teater.


Nasib baik, daripada menjadi alarm dan tidak mendapat hadiah, lebih bagus ia melakukan hal yang ini. Lagipula ia sudah tak malu lagi jika hanya sekali berlagak akting seperti tadi.


Acara di lapang itu berakhir hingga pukul 9. Masih belum selesai, semua disuruh untuk pindah tempat ke lahan tempat bekas perkemahan. Di sana sudah didirikan tenda peneduh beserta alas terpal sebagai tempat duduknya.


Guru-guru sudah berada di depan, para murid boleh duduk bebas di atas terpal. Mereka menyimak perkenalan, pengenalan, dan peraturan yang ada di sekolah ini.


"Di sini tidak ada guru yang bermain ponsel di dalam kelas! Kalau ada kalian kirim barang buktinya kepada Bapak dan Bapak akan segera menindaklanjutinya!" Ucap kepala sekolah membicarakan tentang tata tertib siswa dan guru di dalam kelas.


Usai semua guru selesai berbicara, sekarang giliran pengenalan ekskul. Kakak-kakak senior yang merupakan ketua anggota setiap ekskul datang bersama perlengkapan dan juga beberapa anggotanya.


Ada ekskul taekwondo, teater, kepolisian, desain komputer, dan masih banyak lagi. Termasuk futsal, semua orang sudah mendapat formulir kosong untuk pendaftaran dan Brian akan bergabung ke dalam ekskul futsal.


Memang tidak wajib, tapi ia ingin membagi waktu luangnya dengan kegiatan yang mungkin lebih berguna. Memilih dua ekskul pun tak apa, asal jadwal tidak bentrok dengan yang lainnya.

__ADS_1


Teater tidak diikutinya, hal itu sama sekali tidak ia minati. Dan lagi di masa depan nanti ekskul teater akan berkembang mengikuti lomba-lomba dan menang sebagai juara.


Bukan tak mau terkenal, tapi yang Brian lihat para pemain film itu cantik-cantik, ia masih memiliki syahwat yang lemah, sebisa mungkin dirinya harus bisa menjaga jarak dengan namanya para wanita.


Acara hampir selesai, kepala sekolah menyatakan bahwa mereka sudah resmi menjadi murid sekolah ini. Satu per satu nama disebutkan per jurusan. Pembagian kelas, harus disimak jelas dan juga diingat-ingat.


"Brayen Brenden.. kelas TKR B!"


Brian Brandon, itu yang dimaksud oleh pembicara. Ya, itu adalah Brian, ia tak masuk jurusan arsitektur melainkan pindah ke jurusan otomotif.


Jurusan arsitektur hanya memiliki peminat sebanyak 2 orang, itu pun sudah termasuk Brian. Hanya sekolah itu saja yang menyediakan jurusan arsitektur di daerah sini. Sekolah tidak mungkin mengajar untuk 2 orang, jadi Brian mengambil opsi lain dan masuk ke jurusan yang serupa dengan Gilang.


Menjadi lulusan otomotif untuk yang ke dua kali. Mulai terlihat jelas, gambaran masa depan semakin membuatnya merasa yakin. Bukan mimpi lagi, ia harus bersungguh-sungguh dan akan melakukan ini secara baik.


"Nama lu tuh Yan, kelas apaan tadi?" Tanya Gilang tak asing lagi dengan panggilan yang salah itu.


Brian sendiri tidak merasa heran, orang tuanya sengaja memberikan nama yang universal, berharap kelak anaknya bisa dikenal mudah oleh orang rakyat dunia.


"TKR B gue." Jawab Brian.


Di lingkungan lokal ini Brian merasa tak enak jika dipanggil seperti nama orang barat, jadi ia menyuruh semuanya untuk memanggilnya dengan sebutan Brian saja.


Sudah terdapat 7 meja di depan sana. Masing-masing jurusan mengantri untuk diukur panjang seragam dan nomor sepatunya. Sekolah akan menyediakan berbagai perlengkapannya secara sepihak. Itu agar para siswa dapat memenuhi standar peraturan cara berpakaian yang seharusnya.


Biasanya anak sekolah menengah banyak yang sengaja memakai pakaian ketat, hal itu tidak diperbolehkan di sekolah ini. Sepatu juga harus bermodel sama, wanita muslim maupun non-muslim semua wajib memakai jilbab.


Namun bukan jilbab segi empat yang bisa mereka lilitkan ke belakang, tetapi kerudung instan yang harus menutupi seluruh bagian depan dadanya.


Itulah aturannya, Brian tak menyesal mendaftar kembali di sekolah ini. Walau dulu ia memang sempat menyesalinya, tapi sekarang ia akan mencoba untuk mendedikasikannya.

__ADS_1


__ADS_2