Kosong

Kosong
Perpisahan


__ADS_3

Ujian dilaksanakan dengan basis komputer. Ujian kelulusan, sebentar lagi mereka akan pergi meninggalkan sekolah ini. Lulus atau tidak, mereka bocah nakal sama sekali tidak mengkhawatirkannya.


"Kerjakan sendiri-sendiri, jangan menyontek jawaban milik orang lain. Setiap orang berbeda-beda isi soalnya." Ucap pengawas ujian.


Jauh sebelum hari H, sekolah meminta para muridnya yang mempunyai PC, laptop, ataupun notebook untuk segera membawanya ke sekolah. Sekolah hendak meminjam perangkat tersebut untuk dapat melaksanakan UNBK tanpa menumpang ke sekolah lain.


Komputer milik sekolah sangat terbatas, ditambah milik siswa dan milik guru, semuanya masih belum cukup. Jaringan internet juga minim, jadi, kelas 9 ini dibagi menjadi 2 sesi.


Brian berada pada sesi pertama, satu kelas digabungkan dalam sebuah ruangan yang cukup sempit, yaitu ruangan kelas.


Agar tidak ribet dengan banyaknya kabel yang berbelit-belit, bangku diantukkan menuju dinding menyerupai huruf U. Meja mereka saling merapat, di tengah huruf U itu diselipkan lah huruf I, 2 baris lurus yang merapat dan saling berlawanan.


'Ini nomor 12 apa sih jawabannya?' Rutuk Gilang sambil terus mengklik tetikusnya (mouse) untuk melihat-lihat soal yang lain.


Sekarang adalah pelajaran Matematika, Gilang tidak bisa berpikir dan tidak bisa menyontek juga. Soal-soal sebelumnya ia jawab asal terlebih dahulu. Dirinya malah mengamati monitor milik orang lain berharap ada soal yang serupa dengan miliknya.


Saat 2 orang di sampingnya tengah sibuk menghitung, ia malah menggambar hal-hal yang tidak jelas. Mau ikut menghitung juga bagaimana? Ia tidak mengetahui rumus maupun cara menghitungnya.


Ujian ini begitu disepelekan tanpa adanya sebuah persiapan yang sangat matang. Tanpa adanya kunci jawaban, ia tetap percaya bahwa dirinya akan lulus begitu saja.


Pengawas berkeliling melihat para murid yang tengah mengerjakan soal-soalnya. Walau begitu, para murid masih bisa melirik layar monitor teman lain tanpa bergerak karena rapatnya bangku yang digunakan.


"Tangan kamu kenapa gemeteran?" Tanya Pak Pengawas pada salah seorang murid perempuan.


"Aku belum biasa pakai komputer Pak, takut rusak." Jawab murid yang ditanyai itu.

__ADS_1


"Bukannya sudah diadakan simulasi? Santai saja, kalau kamu tegang begitu bisa-bisa nanti jadi buyar jawabannya. Tapi jangan terlalu santai juga ya, ini diwaktu."


Memang wajar anak kelas 3 itu tidak bisa memakai komputer, ruang komputer saja dibiarkan berdebu dan selalu dikunci karena minimnya jaringan Wi-Fi. Wi-Fi hanya tersedia di ruang kepala sekolah, jaraknya lumayan jauh dengan lab komputer, jadi ia tidak dapat menjangkaunya.


Tidak ada upaya yang mereka lakukan, lagipula tidak ada pelajaran khusus yang berhubungan langsung dengan komputer. Karena itu komputer dianggurkan seperti aset yang tidak berharga.


Pengawas berkeliling kembali melihat monitor setiap peserta. Diantara mereka ada yang berani memohon untuk diberikan jawabannya.


Dan tidak disangka, pengawas itu membantu beberapa soal yang kelihatannya sulit. Padahal sebelumnya ia melarang anak muridnya untuk menyontek, tapi ini, ia berkeliling dan juga memberikan jawaban yang benar.


Asal jangan banyak omong ke kelas lain dan kepada pengawas lain pula. Begitu syarat dari pengawas.


Jelas, hal itu membuat para murid heboh dan langsung bertukar jawaban dengan murid yang ada di sekitarnya. Banyak soal yang sama namun urutannya berbeda. Gilang dan Anang masih bisa menyontek walaupun agak ribet juga.


Mungkin pengawas merasa kasihan karena nilai UN ini akan menentukan mereka lulus atau tidaknya. Tapi Brian tidak tertarik, ia tetap mengerjakannya seorang diri. Ia masih percaya dengan dirinya yang sudah belajar setiap saat. Ia tak tahu bagaimana masa depannya nanti, jadi ia melakukan semua ini untuk resiko jangka panjangnya.


UN berhasil mereka lalui, belum diketahui siapa yang akan lulus dan tidak lulus. Tapi sekolah bilang, diantara mereka ada yang tidak lulus dan akan tetap tinggal di dalam kelas. Entah itu bohong atau benar, tapi para murid rasa hal itu tidaklah mungkin.


Akhirnya mereka sudah sampai di hari kelulusan. Setelah bercekcok dengan pelajaran, yang sudah bosan pastinya akan merasa bebas. Ada juga yang sendu, dan ada yang tidak sabar ingin bertemu dengan sekolah baru.


Brian sudah duduk di bawah tenda. Kelas 9 ini sudah disediakan kursi yang dibariskan berdasarkan kelompok kelasnya masing-masing. Barisan depan adalah kelas 9A, seterusnya ke belakang sampai kelas 9H. Brian berada di kelas 9F, ia pikir dirinya termasuk urutan ke belakang adalah orang-orang bodoh yang terpilih.


Tentu kursi untuk para orang tua juga sudah disediakan. Mereka diundang untuk datang agak siangan. Tadi pagi Brian berangkat sendiri dengan menggunakan setelan rapi.


Di kursinya, Brian terus saja dimintai foto oleh para wanita. Dalam hatinya Brian merasa enggan, apalagi mereka memakai make up yang tebal sudah seperti siluman ratu ular saja. Brian sangat tidak menyukai wanita dengan dandanan seperti itu, tidak ada cantik-cantiknya. Sinta juga sampai saat ini masih tetap terlihat sangat natural.

__ADS_1


Ibu pun datang bersama Sinta, lalu mereka duduk di kursi khusus wali/orang tua. Tentu mereka menilik-nilik di mana keberadaan Brian, tapi mereka hanya bisa melihat wajah selain Brian.


Sebenarnya Brian tengah menjauh dari kebisingan. Ia yang tadinya duduk di tengah-tengah melihat si gadis kurcaci yang sepertinya menyuruh dirinya untuk datang menghampirinya. Brian pun keluar susah payah mencari celah pada barisan kursi yang ditata sempit itu.


Gadis kurcaci itu tidak sendirian, ia bersama dengan satu orang temannya. Bagaimana kondisinya saat ini? Apa dia sudah bisa mendengar dengan normal? Brian tidak tahu, rambutnya yang pendek dan lebat itu menutupi kedua daun telinganya.


Temannya lalu berbicara dan mengajak mereka untuk menjauhi pengeras suara. Gadis kurcaci itu tidak berbicara dengan lisannya, ia memakai bahasa tubuh sementara temannya menerjemahkannya untuk Brian.


Rupanya dirinya itu sengaja datang ke sini untuk menemui Brian. Temannya itu adalah anggota OSIS yang tengah membantu berjalannya kegiatan ini. Jadi ia juga meminta bantuan temannya itu untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.


Cukup mudah memang jika mencari seseorang di tempat yang sudah dikhususkan. Mereka tak lama berbincang, pesan terakhir, gadis itu berkata bahwa cincin yang ia berikan jangan sampai hilang.


Tidak masalah, Brian tidak akan melepasnya kecuali cincin itu sudah tidak muat pada jari tangannya. Ia menyukai model cincin yang polos itu, salah satu yang menambah pancaran aura ketampanannya.


Usai menyematkan samir (medali atau kalung wisuda), mereka tak lagi duduk dan mulai berpencar melakukan kegiatan yang ingin mereka lakukan. Acara masih berlangsung, Brian beserta kedua temannya hendak pergi ke lapang belakang. Gilang sudah membawa pacarnya dan Brian juga sudah menjemput Sinta.


Anang sendirian saja, Desi memang tidak bersekolah melanjutkan pendidikan sekolah dasarnya. Anang bilang ia bekerja, membantu bungkus-bungkus kue di pabrik yang ada dekat dengan rumahnya.


Anang salut kepada Desi, meskipun sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, tapi Desi tidak sekali memakai uangnya untuk hal-hal menambah gaya. Dirinya tetap sederhana, jika menghalalkannya Anang tak perlu banyak biaya. Tapi hati kecilnya tentu merasa ingin memberikan yang sempurna untuk bisa membahagiakannya.


Di lapang belakang itu mereka asyik berfoto-foto karena Sinta sudah siap sedia dengan kamera digitalnya. Walaupun pandangan tertuju ke arah mereka, tapi mereka tidak canggung ataupun malu. Hanya Sasa saja lah yang merasa tidak enak, ia bukanlah orang bertipe bobrok.


"Itu murid kelas 9F ya? Cantik bener njirr.. kok gue baru liat?"


Orang-orang terheran melihat Sinta yang ikut berseragam. Sudah montok, pirang, anggun, bagaimana bisa dirinya tidak menarik perhatian? Kulitnya juga seperti memancarkan cahaya yang jarang orang lain lihat.

__ADS_1


Dikira murid baru, mereka penasaran tapi langsung patah semangat melihat Sinta didampingi oleh Brian.


"Hah.. itu mungkin mamah mudanya." Pikir mereka melihat Brian lebih pendek dari Sinta.


__ADS_2