Kosong

Kosong
Paket Hemat


__ADS_3

"Sandalku hanyut.." ucap Yuna sendu saat ia naik ke atas perahu.


"Aduh.. bagaimana? Pak, Pak, tolong ambilin sandal temen saya." Sinta meminta bantuan kepada pemandu perahu.


"Mm.. sudah Kak, tidak usah. Nanti aku beli lagi saja pulangnya, mungkin di sana ada yang menjual." Yuna tidak ingin merepotkan terlalu jauh.


Sedari awal Yuna memakai sandal yang tinggi. Wedges, ia ingin terlihat tinggi dengan menggunakan wedges. Tapi, tetap saja meskipun ia memakai sandal itu, dirinya masih terlihat pendek. Dan sekarang, karena sandalnya berat, sandal itu hanyut di dalam aliran sungai.


Perasaannya amat sangat menciut. Malunya bukan main, dan lagi ia merasa sangat canggung karena perahu yang tengah ia tumpangi dihuni oleh Anang dan Brian.


Perahu pun melaju kembali membuat adrenalin mereka kembali terpacu. Semua kembali menikmati dan berteriak. Yuna mengulum bibir, meskipun takut dan ingin menjerit, ia hanya bisa menahan suaranya.


Pemandu mengingatkan bahwa di depan sudah ada dam lagi yang tingginya 3,5 meter. Semua segera mengencangkan pegangannya ke tali, dan mereka pun melewati dam yang cukup tinggi itu.


Rasanya seperti melayang, perahu mereka terhempas cepat dari ketinggian itu. Tapi tiba-tiba, setelah berhasil melewatinya perahu karet yang mereka tumpangi terbalik, membuat semua awak terjatuh ke dalam sungai. Yuna tidak sendirian lagi, sekarang beramai-ramai mereka terhanyut dan mengambang.


Bukan untuk bersenang-senang, bisa bahaya kalau mereka dibiarkan. Tentunya para pemandu tidak tinggal diam, mereka segera berjibaku menyelamatkan satu per satu dari penumpangnya.


"Aaa! Aku takut ada buaya!" Teriak Desi saat tubuhnya hanyut dalam aliran sungai. Ia tidak peduli akan bahaya lain selain buaya yang ia takutkan. Padahal, di sungai itu tidak ada buaya maupun binatang buas seperti yang ia pikirkan.


Sinta pun ikut panik mendengar hal itu. Namun, dengan segera dirinya dibawa ke tepian sungai.


Tapi, Yuna terbawa arus terlalu jauh, tubuhnya menabrak bebatuan, mau berpegangan pun ia tak sanggup menahan derasnya aliran sungai.


Mungkin berat badan dan kekuatan memang mempengaruhinya. Brian saja bisa bertahan bersama batu yang melawan arus sungai. Yang lainnya juga terlihat mudah untuk diselamatkan.


Yuna panik dan berteriak, rasanya sulit sekali berenang dengan arus dan pelampung yang seakan membuat tubuhnya menjadi ringan. Untungnya para pemandu yang sudah ahli itu dapat membantu Yuna.

__ADS_1


Perahu yang ditumpangi Gilang tidak mengalami kendala. Tak lama, mereka pun melanjutkan kembali perjalanan hingga akhirnya mereka sampai juga di titik akhir setelah melewati aliran air sepanjang 6 km.


Segera mereka mengganti pakaiannya, Yuna terlihat berjinjit-jinjit karena tidak memakai sandal. Jalanan berkerikil, jadi Sinta menyuruh Yuna untuk diam di tempat dan menunggu pinjaman sandal dari yang sudah selesai.


Sudah diputuskan bahwa Sasa akan menemani Yuna di sana, dan Gilang beserta yang lainnya akan pergi ke kamar mandi untuk sekedar mengganti pakaian agar tidak membuat Sasa dan Yuna menunggu lama.


"Di depan ada warung tuh, beli aja di sana pasti ada." Gilang menunjuk ke sebuah toko kelontong yang berada di samping kamar mandi.


"Mm.. biar aku saja yang membelinya." Ucap Desi, kebetulan dirinya sedang menstruasi. Karena ia lupa membawa pembalut ganti, jadi sekalian ia akan membelinya.


Masih dalam keadaan basah, Desi pergi sendiri ke toko itu. Meskipun Anang sempat menawarkan untuk mengantarnya, tetapi ia menolak karena malu. Lagipula toko kelontong itu juga berada dekat dengan kamar mandi umumnya.


Desi pun membeli sesuatu yang ia butuhkan kemudian ia menanyakan sandal kepada pemilik toko. Di sana ada sandal jepit yang harganya mulai dari 10 hingga 20 ribuan. Desi tak yakin Yuna akan suka dengan sandalnya, tapi ini untuk sementara saja jadi ia pun membelinya.


Setelah selesai berganti pakaian dan juga berhias bagi para wanita, mereka kembali ke tempat di mana Sasa dan Yuna berada.


"Yuna ini sandalnya." Desi memberikan sandal jepit yang sudah ia beli.


'Apa aku harus memakai sandal ini? Aku akan terlihat sangat pendek saat memakainya. Tapi kakiku sakit juga.' Yuna merasa enggan.


Ia membuka bungkus plastiknya. Sepasang sandal jepit berwarna biru polos ia pakai di kedua telapak kakinya. Sandalnya terlihat kebesaran dan lagi sangat tidak modis, padahal mereka berencana akan mengambil gambar.


"Yuna kakimu kenapa?" Tanya Sinta terlihat khawatir. Dari kaki Yuna yang lembab kedinginan itu, Sinta melihat kedua jari kelingkingnya melepuh dan berwarna kemerahan.


"Mmm.. tidak papa ini hanya lecet sedikit Kak." Ucap Yuna bersikap baik-baik saja. Padahal kakinya terasa panas dan perih, ia ingin segera pulang dan mengobatinya.


Karena Yuna memakai sandal wedges yang menutupi jari kakinya, alhasil kelingkingnya kena juga. Perjalanan lumayan jauh, saat sampai di sawah pun Yuna sudah merasa kakinya tidak nyaman.

__ADS_1


'Sejak kapan kaki Yuna seperti itu? Yuna pasti merasa kesakitan. Tapi mungkin sekarang dia sudah merasa baikan karena sudah memakai sandal.' Gumam Sinta yang pernah merasakan kakinya lecet juga.


"Tangan Yuna juga banyak yang luka, sepertinya waktu jatuh di sungai tadi." Ucap Sasa yang sudah lama bersama Yuna.


"Mm.. hehe.. aku baik-baik saja, lagipula tidak terasa sakit."


Sebelumnya Yuna sendiri juga tidak sadar karena memang luka itu tidak terasa sakit. Sasa lah yang sudah memberitahunya dan Yuna pun juga baru menyadarinya.


Setelah semuanya selesai berganti pakaian, mereka menuju ke sebuah tempat makan. Duduk dengan perasaan yang sudah hangat dan menyantap makanan yang hangat pula.


Begitu nikmat setelah bermain basah-basahan memanjakan perut dan lidah. Makanan sudah dibayar sebelumnya karena masih masuk ke dalam paket rafting.


"Gue gak makan ah, lagi gak enak tenggorokan." Wendy membiarkan makanannya dan lantas ia hanya merokok saja.


'Hmm.. Wendy bilang dia sedang tidak enak tenggorokan? Tapi kenapa dia merokok?' Yuna merasa heran.


"Nang, lu bawa eksimer tadi gak? Biar agak anget nih badan." Ucap Wita di tengah makan.


"Ya di kosan lah. Buat stok, elu jangan minta." Jawab Anang.


"Pelit amat sih, elu juga sering dibayarin sama si Wendy."


Tak lupa mereka mengambil gambar di saat makan. Setelah makan pun mereka per seorang mengambil pose-pose andalan.


Sebenarnya tempat itu juga menyediakan resort tersendiri yang juga dibuka untuk para pengambil spot dengan biaya tiket masuk sebesar 25 ribu per orang. Di dalamnya terdapat villa, taman, kolam renang, dan fasilitas lain yang berhubungan.


Tapi mereka memutuskan untuk mengambil spot di luar resort saja. Yang lainnya berpasangan, sedangkan Yuna, ia seperti fotografernya. Keempat pria itu menginginkan dirinya difoto bersama pasangan-pasangannya.

__ADS_1


Sesekali mereka berfoto bersama menggunakan timer. Tidak ada foto Yuna yang sedang berdiri. Ia akan kelihatan pendek jika diharuskan berdiri sejajar dengan mereka.


Setelah puas mengambil gambar, mereka kembali pulang dengan berjalan kaki. Sampai di kosan, para wanita mempersilahkan para pria untuk mandi terlebih dahulu.


__ADS_2