Kosong

Kosong
Egois


__ADS_3

"Oke ntar aja."


Begitu balasan pesan singkat dari Wendy. Brian pikir Wendy yang tengah patah hati itu memang harus ditemani, tapi ia juga ingat bahwa Wendy juga memiliki teman di kampungnya sendiri.


Karena Wendy tidak masuk ke sekolah, mereka bebas membahas bagaimana keputusannya. Brian yang sudah membuat keputusan sendiri dapat membuat Anang dan Gilang setuju seketika.


Wendy itu memang susah dinasehati, tapi ya.. jika Wendy senang dengan apa yang dijalaninya itu ya sudahlah, mereka menyerah dan akan membiarkannya.


"Pacar lu juga gue ajak Lang, soalnya si Yuna suka parno." Ucap Brian saat nongkrong di depan Lab. IPA.


"Haha.. iya iya, ntar gue jemput si Sasa ke kelasnya."


Pukul 10, mereka baru bisa pulang. Brian dan Anang duduk di atas tembok taman sambil menunggu kedatangan Gilang. Padahal sudah ada peringatan di sana bahwa tidak ada yang boleh duduk berdekatan dengan tanaman hias. Tapi positive thinking saja, mereka mungkin buta huruf dan tidak bisa membaca tulisannya.


"Kita duluan ya Sasa, nanti kamu sama si Yuna nyusul ke rumah aku." Ucap Gilang saat sudah berhasil membawa Sasa.


"Iya, kalau begitu aku akan pergi ke kelasnya." Jawab Sasa.


Sudah diputuskan bahwa mereka akan membicarakannya di rumah Gilang agar lebih privasi dan juga membuat Yuna tidak risih. Sasa sudah tahu jalan ke rumahnya Gilang, ia memang sering Gilang ajak ke rumahnya.


Rumahnya Gilang tidak dalam keadaan sepi, ada ibu dan juga adiknya. Gilang tidak memiliki banyak ruangan, tempat tamu dan tempat ibunya berada saat ini masih menyatu dalam satu ruangan.


Tapi, Gilang mempunyai kamar yang cukup luas, setelah Sasa dan Yuna datang, ia pun mengajak mereka untuk mengobrol di kamarnya dengan pintu yang terbuka. Ia bilang agar ibunya tidak merasa curiga.


'Padahal gue di rumah biasa-biasa aja keluar masukkin cewek ke kamar.'


Gumam Brian sedikit aneh. Tapi mungkin, gaya hidup mereka memang berbeda.


Di sana Yuna hanya diam saja, tidak seperti saat pada telpon, mungkin dia agak malu karena di sini memang banyak orang.

__ADS_1


"Kamu mau kan Yuna buat masrahin si Wendy?" Ucap Brian membuka pembicaraan. Yuna hanya menunduk saja. Ia menggelengkan kepalanya secara pelan.


"Kenapa?" Tanya Brian lagi.


"K-karena aku mencintainya." Ucap Yuna terpaksa. Sebenarnya ia malu mengatakan hal itu di depan banyak orang. Rasanya setelah ini ia ingin lari saja ke dalam hutan.


"Cinta itu gak harus memiliki, kau tau itu kan? Lagian si Wendy juga mana mungkin mau nikah sekarang. Masih ada waktu lah, bisa jadi ntar taun depan si Wendy udah putus sama si Wita." Ucap Brian sok-sok an kayak orang dewasa.


"Kalau sekarang aku tidak dekat dengan Wendy, mungkin nanti aku tidak akan bertemu dengannya lagi." Ucap Yuna lirih.


"Tapi kalo kamu deket sekarang, bisa-bisa si Wendy juga benci sama kamu." Gilang memperingatkan.


"Nah, emang kamu mau? Kita bukannya nentang hubungan kamu sama si Wendy, tapi kalo kondisinya udah kayak gini ya gimana? Kamu juga udah tau kan ceritanya?" Sambung Brian.


"Aku tetap ingin dekat dengan Wendy." Ucap Yuna lirih.


"Yuna, ini demi kebaikan kamu juga." Sasa yang duduk di sampingnya menasehati dengan perlahan.


"Kamu emang gak malu apa tiap waktu ngebebanin kita terus? Minta bantuin ini, bantuin itu. Sadar diri sedikit aja lah, si Wendy itu jelas-jelas udah punya pacar." Ucap Brian tanpa pikir panjang. Ia sudah merasa kesal karena memang selama ini dirinya lah yang palig merasa terbebani.


"T-tapi aku tetap ingin melanjutkannya.." Yuna terlihat mulai menangis.


'Lah? Apa omongan gue terlalu kasar ya?' Brian merasa heran, ia pikir yang tadi ia katakan itu masih berada dalam batas wajar.


"Brian! Kamu jangan kasar gitu sama Yuna, dia itu perempuan! Udah Yuna kamu jangan nangis.." Sasa membentak Brian, ia langsung mengusap punggung Yuna mencoba untuk menenangkannya.


"Hiks.. hiks.." Yuna hanya menangis sementara yang lainnya hanya terdiam.


"Alah siah Bro.. lu udah bisa bikin cewek nangis, kejam!" Bisik Gilang kepada Brian.

__ADS_1


"Jadi lu maunya apa Yuna? Kalo lu mau deket-deket sama si Wendy yaudah deketin aja sana, gak usah ngelibatin kita. Jadi udah kan masalah selesai?" Anang rupanya juga ikut merasa kesal.


Mendengar perkataan Anang, tangisan Yuna semakin menjadi-jadi. Dalam hatinya ia merasa bahwa keberadaannya di sini sangat tidak diinginkan oleh mereka. Yuna ingin pergi sejauh-jauhnya. Ia ingin melarikan diri dari rumah itu, tapi, ia sudah membulatkan tekad untuk bisa mendapatkan Wendy.


Jika hanya seorang diri saja pastinya akan terasa sulit, apalagi Wendy itu orangnya susah untuk didekati. Tanpa tali perantara yang menghubungkannya, Yuna tak yakin bahwa dirinya akan bisa melakukannya.


"A-aku mencintai Wendy.. hiks.. hiks.. k-kenapa kalian tidak mau mengerti.." ucap Yuna terbata-bata sambil terus menyeka air matanya yang tetap saja mengalir deras.


'Ngerti? Lu juga gak mau ngertiin kita, tapi lu kok seenaknya aja bilang gitu sama kita?' Brian merasa semakin jengkel.


'Si Yuna kenapa sampe segitunya? Padahal dia bukan siapa-siapanya si Wendy, tapi kok udah nangis aja?' Gilang merasa aneh.


"Udah lah, daripada kayak gini mending gak usah diperpanjang lagi. Kamu ya kamu, kita ya kita, sekarang masing-masing aja. Percuma juga dibicarain langsung kalo hasilnya juga tetep sama!" Ucap Brian membuat kesimpulan.


Memang benar, saat ini Yuna terlihat egois dan hanya mementingkan kemauannya sendiri. Tapi Yuna sama sekali tidak mau enyah. Brian malah merasa jijik melihat Yuna yang terlihat seperti anak kecil, ia terus saja menangis karena keinginannya belum juga terpenuhi.


"Eh Yan, jangan gitu dulu, si Yuna kayaknya emang bener suka sama si Wendy." Ucap Gilang secara perlahan.


"Iya, gue tau. Tapi gak usah sampe ngelibatin kita lah."


"Justru itu Yan, elu juga mau kan kalo si Wendy itu dapet cewek yang setia? Liat aja tuh si Yuna, dia sampe segitunya. Kasian, mending kita bantuin aja."


"Hahh.. gak tau gue, mau si Wendy sama siapa aja juga gue gak peduli."


"Yan, lu kok gitu sih? Si Wendy itu temen kita, emang sih gede juga resikonya. Tapi dari situ gede juga loh untungnya."


"Udah gue bilang. Gue gak mau ngambil resiko."


Yuna masih terus saja meneteskan air mata, tetapi ketiga lelaki itu sama sekali tidak merasa iba. Hanya Sasa saja yang bisa mengerti keadaannya.

__ADS_1


Rencana sudah dibuat, dan sebentar lagi liburan juga akan tiba, apakah mereka tetap akan menyelundupkan Yuna?


__ADS_2