
Masih dalam suasana penilaian akhir semester, dan tanggal kelahiran Brian kini sudah tersentuh kembali. Tepat di usianya yang ke 17, pukul 12 sepulang sekolah itu Brian langsung mengajak ibunya pergi ke sebuah dealer.
"Mentang-mentang kamu udah 17 tahun ya, langsung aja minta secepat itu. Padahal umur kamu baru naik satu tingkat hari ini loh. Atau.. ini yang kamu mau untuk kado di hari ulang tahunmu?" Ibu tengah duduk santai dengan ponselnya, ia menyunggingkan senyum sindir kepada anaknya sendiri.
Brian yang mendengar perkataan itu malah berdiri cengengesan, ia bahkan tak ingat kado, yang ia ingat hanyalah satu, dirinya baru boleh mengendarai motor saat usianya menginjak 17 tahun.
Bosan kemana-mana harus naik taksi, Brian baru merasa dewasa jika bisa mengendarai kendaraannya sendiri. Sebenarnya ia juga punya sebuah tujuan, ia ingin mengajak Sinta pergi jalan-jalan.
'Ehh, tapi gue kan belum punya KTP ya?' Ternyata benar, Brian terlalu terburu-buru.
"Kalo sekarang Ibu gak bisa, dipending dulu ya Sayang, Om Herul sebentar lagi mau ke sini, kebetulan dia mampir sunmori." Ibu menambah perkataannya.
'Wah, pas tuh, sekalian nyuruh Om aja ya yang ke sana, lagian gue gak bisa ngetes, kan belum punya SIM.'
Brian mengiyakan dengan perasaan senang di dadanya. Om Herul adalah orang yang paling tahu tentang motor, ia pasti sangat bisa diandalkan.
Mumpung masih siang, Brian izin keluar sebentar dengan membawa sejumlah berkas di tangannya. Ia pergi untuk membuat KTP agar bisa membeli motor atas nama dirinya sendiri. Dan untuk membuat KTP sehari jadi, dirinya harus siap merogoh kocek.
Sore hari, Brian melihat Herul sudah berada di rumahnya. Langsung saja ia membicarakan keinginannya kepada om nya itu, dan om nya pun setuju dengan senang hati.
Esoknya, 1 buah motor sport dan 1 buah motor matic diturunkan di halaman rumahnya Brian. Sebenarnya Brian hanya meminta satu, motor matic saja sudah cukup, yang penting spesifikasinya bagus dan bisa melaju kencang.
"Yaudah beli aja dua-duanya." Ucap Ibu saat di dealer tadi.
Padahal Brian sudah menolak, tapi Ibu tahu betul apa yang diinginkan oleh anaknya. Desakan dari om nya itu juga membuat Ibu semakin yakin. Sebagai seorang lelaki yang gagah dan tampan, pasti Brian menginginkan motor yang keren dan tampan juga.
'Yaudah deh mumpung gratis.' begitu batin Brian saat menerimanya.
Di jaman sebelumnya Brian memang sudah mengendarai motor sport, hal itu membuatnya terasa bernostalgia.
Herul membawa motor sport Brian ke luar gerbang. Ia menderukan mesin sambil menjelaskan detail motor itu kepada Brian, kemudian ia meminta izin untuk mencoba mengetesnya lagi keliling kompleks.
__ADS_1
"Ahaha, dasar om kamu, tiba-tiba nyamperin motor yang itu, padahal kan kamu yang mau beli." Ibu mengingat kejadian sewaktu di dealer tadi. Kemudian Ibu masuk ke dalam rumah karena haus.
Setelah Herul kembali, Brian meminta untuk bergantian karena ingin mencoba motornya sendiri. Saat itu pula Ibu baru keluar setelah meminum air dingin di dalam kulkas.
"Eh, Brian! Kamu mau ngapain?!" Ibu segera berlari karena melihat Brian sudah berada di atas motor.
Mesin masih menyala dan Brian langsung saja menarik gasnya. Melihat Brian yang sudah melaju, tentu Ibu panik karena yang ia tahu Brian itu belum mampu mengendarai motor.
"Brian! Her, itu anak saya tolong berhentiin, dia gak bisa naik motor!" Ibu yang sudah sampai di depan gerbang mengeplak-ngeplak bahu Si Herul dengan perasaan yang berdebar-debar.
Sontak Herul kaget dan langsung mencoba mengejar Brian. Brian yang tengah melaju itu agak gugup karena sudah lama tak berkendara, ia sedikit kaku dan motornya agak bergoyang karena terlalu berat.
Brian masih berkendara dengan kecepatan rendah, dengan segera dirinya sudah agak terbiasa. Dari arah belakang, samar-samar Brian mendengar suara kericuhan. Motor yang ia kendarai berknalpot bising, jadi ia tak terlalu jelas mendengarnya.
"Brian! Tarik rem kirinya perlahan Yan" Ucap Herul sambil berlarian mengejar Brian. Ia khawatir, apalagi yang tengah Brian naiki saat ini adalah motor ninja keluaran terbaru.
Brian melirik ke arah spion, dan melihat seseorang tengah berada di belakangnya. Ia pun menghentikan laju motornya dengan mulus, kakinya tak kewalahan saat menopang motor yang besar dan berat itu.
"Om kenapa ngikutin aku?" Tanya Brian dengan gelagat heran.
"Ya ampun Brian, kamu bikin Ibu khawatir aja. Kamu mau celaka? Kamu kan belum bisa naik motor, kenapa nekat bawa-bawa segala? Kalo kamu kenapa-napa gimana? Cepet kamu turun dari sana." Ternyata Ibu ikut mengejar juga.
'Hahh.. Untung motornya gak kenapa-napa.' batin Herul lega. Ia pikir Brian sudah bisa mengendarai motor, jadi ia langsung memberikan motornya begitu saja.
"Hah? Brian bisa kok Bu, bahkan Brian siap kok kalo disuruh bikin SIM hari ini juga." Ucap Brian tanpa berdosa. Padahal salahnya sendiri karena tak meyakinkan Ibu sebelumnya.
"Aduuh, jangan ngada-ngada kamu ya, udah turun, naik sepeda aja kamu gak bisa!"
Brian pun menurunkan standar dan Herul langsung sigap berjaga-jaga takut motor itu terjatuh. Melihat perilaku om nya, Brian merasa seperti orang yang bodoh. Ia pun menggaruk malu tengkuknya.
Ibu dan Brian berjalan menuju rumah, sedangkan Herul mengambil alih dan membawa motor sport hitam itu masuk ke halaman rumah.
__ADS_1
"Brian, Ibu tau kamu udah gak sabar. Untung aja tadi kamu gak kenapa-napa." Sementara Herul di luar, Ibu yang sudah duduk di sofa kembali berkata-kata.
"Brian udah bisa ngendarain motor Bu. Buktinya tadi? Brian tau kan cara ngendarain nya?" Brian tak mau kalah.
'Loh, iya ya? Kenapa Brian bisa tau?' batin Ibu.
"Emang kamu tau dari mana? Kamu kan belum pernah belajar." Ibu yakin pasti Brian tak akan belajar motor jika tidak dalam pengawasannya.
"Dari game Bu." Brian mengasal berharap Ibu percaya. Tapi Ibu malah menampakkan ekspresi lelah seakan malas menanggapi candaan anaknya.
Entah karena kebetulan, beruntung, atau apa, tapi memang benar kenyataanya tadi Ibu melihat Brian bisa melajukan motor dengan selamat. Ibu pun sedikit percaya namun belum yakin sepenuhnya, ia pun lantas mengajukan Brian beberapa pertanyaan.
"Setiap berkendara kamu harus berada di jalur mana?" Ibu menginterogasi Brian di hadapan sebuah meja.
"Kiri." Jawab Brian.
"Lampu kuning tandanya?"
"Hati-hati."
Banyak sekali yang Ibu tanyakan dan membuat Brian merasa tengah berada dalam suasana ujian. Herul yang baru masuk ke dalam setelah anteng dengan motor barunya Brian hanya bisa terperangah melihat keduanya yang terlihat sangat serius.
Pada akhirnya Ibu pun percaya bahwa anaknya memiliki kepandaian berkendara. Semua jawaban Brian tepat dan tak ada yang salah sedikitpun. Walaupun masih heran, tapi ia mencoba meyakini bahwa anaknya belajar melalui game.
***
Brian tak terburu-buru untuk pergi membuat SIM. Ia mencoba untuk membiasakan dirinya dahulu dengan motor miliknya sendiri. Tepat di hari rabu, Brian berangkat sendirian menuju POLRES.
"Dek, mau bikin SIM ya?" Seorang satpam mencegat Brian tatkala Brian memasuki area POLRES.
"Iya Pak." Jawab Brian.
__ADS_1
"Mau dibantuin gak?" Pak Satpam kembali bertanya dan membuat Brian yang baru disambut itu diam berpikir sejenak.