
Sebelum pergi ke kamarnya masing-masing, Sinta membereskan bekas makanan yang ada di meja. Begitupun Brian, Yuna juga ikut membantunya.
"Bro, masa mau tidur gitu aja sih? Ini masih jam 8, ngobrol-ngobrol dulu kek." Ucap Gilang saat semua selesai dibereskan.
'Hmm.. bener juga sih, gue gak boleh ngebiarin hari ini jadi hari yang singkat gitu aja.' Gumam Brian.
Esok, mereka akan bubar dari tempat itu dan pergi menjalankan aktifitasnya masing-masing. Sedangkan Wendy dan Yuna sampai saat ini belum terlihat ada peningkatan. Wendy juga terlihat sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Yuna di sana.
"Ya udah yok ke kamar gue, kapan lagi kita ngumpul bareng kayak gini." Brian dan Sinta berjalan memimpin.
Jika obrolan dilakukan di atas meja makan, itu rasanya tidak sopan. Sedangkan sofa yang berada di sana juga masih ada di kamar Brian. Lantas Brian mengajak mereka untuk mengobrol di kamarnya.
"E-eh?! A-aku juga harus ikut?" Yuna merasa tidak enak, di sana hanya dirinya lah yang menjomblo. Tapi ia tidak sendirian, Anang juga tidak mengajak pacarnya datang ke acara.
"Yuna, kamu sama aku aja." Ucap Anang langsung berdiri di samping Yuna.
"I-iya,"
Mereka semua berjalan berpasangan dan masuk ke kamar Brian. Kamar itu luas, jadi mereka bisa duduk dimana saja mereka mau. Brian dan Sinta duduk di tepi kasur, sedangkan Gilang dan Wendy, bersama pasangannya duduk pada 2 buah sofa panjang yang saling berhadapan.
"Sial, gue gak kebagian tempat. Yuna, kamu duduk di sini," Anang mempersilahkan Yuna untuk duduk di kursi satu orang, sedangkan dirinya duduk di lengan kursi yang tengah diduduki oleh Yuna.
'Lah kok ini malah kayak si Anang yang deket sama Yuna?' Gumam Brian yang melihatnya.
'Tapi gak papa sih, biar Wendy juga gak curiga. Si Anang sendiri kan juga udah punya pacar.'
Brian masih merasa belum terbiasa jika Yuna yang ia targetkan kepada Wendy harus berbaur dulu dengan yang lainnya. Tapi ia sadar bahwa rencana ini memang harus berjalan tanpa terlihat akar tujuannya.
Anang tidak membawa pacarnya ikut karena ia tidak mempunyai uang lebih. Dirinya harus berhemat karena ia juga ingin ikut dengan teman-temannya yang berencana untuk pergi liburan. Ia tahu jika dirinya tidak akan ikut, maka Gilang dan Wendy juga pasti tidak akan ikut. Ia tidak ingin hanya karena dirinya, acara itu akan gagal.
"Yan, tadinya gue bawa ini buat kita berempat." Wendy yang tidak akan pergi ke sekolah esok hari juga ikut membawa sebuah tas. Ia mengeluarkan dua botol minuman keras di dalam tasnya.
Para wanita terkejut, kecuali Wita, pacarnya Wendy sendiri. Ia sudah mengetahui barang bawaan Wendy sejak awal. Mereka berangkat bersama ke rumah Brian menggunakan motor.
__ADS_1
Brian yang merubah sikapnya menjadi seorang berandal tahu, bahwa minuman keras harus berhenti ia konsumsi. Tapi Wendy sudah repot-repot membelinya untuk ia persembahkan di acara bahagianya. (Padahal Brian b aja.)
"Wen, di sini ada cewek-cewek," Brian mencoba menolaknya dengan cara yang halus.
"Ya gak papa lah, lagian cuma amer doang." Ucap Wendy dengan santai.
"Itu apa?" Yuna merasa belum pernah melihat dua botol itu. Tapi ia curiga bahwa botol-botol itu berisi minuman keras.
"Itu anggur merah." Ucap Anang yang berada di sampingnya. Ia yang duduk di lengan sofa, terlihat seperti seorang body guard yang siap melayani dan menjawab semua pertanyaan Yuna.
"Oh, sirup?" Yuna merasa lega ketika mendengar bahwa isinya itu adalah minuman anggur.
"Mmm... ya... bisa dibilang begitu." Anang sulit untuk menjelaskan.
Sasa, pacarnya Gilang, juga tidak mengetahui jenis minuman apa itu sebenarnya. Sedangkan Sinta yang sudah kelas 2 SMA, tahu bahwa minuman itu adalah jenis minuman keras.
Anggur merah itu sendiri adalah minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi anggur. Di Australia yang memiliki cuaca dingin saat musim salju, alkohol biasa diminum untuk menghangatkan tubuh.
"Gak usah, gue udah bawa cup." Wendy sengaja membawa cup plastik karena tidak ingin ibunya Brian curgia.
Hanya ada 4 cup plastik yang Wendy bawa. Dari awal ia sudah memperkirakan siapa saja yang akan meminumnya. Wendy sendiri, Anang, Gilang, dan Brian. Tapi karena para wanita sudah berada di sana, ia tak mungkin untuk tidak menawarkannya.
Semua menuangkan sesuka hati amer itu ke dalam cup plastiknya. Biasanya, jika mereka membelinya secara patungan, minuman keras itu selalu ditakar dahulu dengan plastik aqua agar terbagi sama.
"Brian, apa ini aman?" Sinta merasa ragu karena belum pernah meminumnya.
Di Australia, hanya orang-orang yang berusia lebih dari 18 tahun lah yang diperbolehkan untuk mengkonsumsinya. Minuman itu pun hanya disajikan di tempat-tempat yang sudah memiliki izin.
"Jangan banyak-banyak saja," ucap Brian kepada Sinta.
"Yuna," Anang selesai menuangkan minuman itu dan mempersilahkan Yuna untuk meminumnya.
Karena Yuna tidak tahu bahwa minuman itu beralkohol, ia menerima dan mencoba meminumnya. Bau anggur terasa menyengat saat cup plastik itu didekatkan, ia meminumnya dan sontak ia menjauhkan kembali cup itu dari mulutnya.
__ADS_1
"Mmhh.. ini kemanisan, pahit, kenapa kalian tidak menambahkan air ke dalamnya?" Yuna mengernyit dan menelan paksa minuman itu. Tapi seketika terasa ada sesuatu yang aneh, tenggorokannya terasa sedikit hangat.
'Mmm.. mungkin karena sirup itu belum ditambahkan air.' Pikir Yuna, padahal minuman itu cair dan sama sekali tidak kental.
"Hmm?" Anang merasa heran. Ia mengambil cup plastik yang dipegang oleh Yuna dan meminumnya.
"Rasanya memang seperti ini, mau tambah es?" Ucap Anang.
"A-ah, tidak, ini sudah malam, aku tidak ingin meminum minuman dingin." Yuna orangnya sangat memperhatikan makanan dan minuman apa yang masuk ke dalam perutnya.
"Mau minum lagi?" Tanya Anang.
'Kenapa aku harus berbagi gelas dengannya? Bukankah ini adalah ciuman secara tidak langsung?'
'Ah, tidak-tidak, ciuman pertamaku tidak akan hilang hanya karena ini.' Gumam Yuna.
"T-tentu," karena ingin solid dan akrab, Yuna terpaksa menenggaknya kembali. Ia dan Anang meminum amer itu pada cup plastik yang sama.
Wendy juga terlihat sama, ia berbagi cup plastik dengan pacarnya, Wita. Sedangkan Gilang, ia hanya memberi Sasa seteguk minuman itu agar ia tidak merasa penasaran.
Gilang sangat menyayangi pacarnya ini. Meskipun Gilang adalah seorang berandal, tapi ia tidak mau mengajak pacarnya ke dalam jalan yang tidak benar.
Sasa adalah wanita sederhana yang Gilang temukan di sekolahnya. Pertama kali mereka berjumpa, itu saat Gilang dan teman-temannya sedang nongkrong di depan WC sekolah. Sasa itu lumayan cantik, dan juga terlihat tidak banyak tingkah.
Melihat wanita yang terlihat lumayan itu, Brian langsung mencoba mendekatinya. Tapi Sasa malah menjerit dan mendorong Brian menjauh dari tubuhnya. Gilang yang juga ikut terpanah dengan kehadiran Sasa, mencoba untuk menenangkan Sasa.
Dari keempat pria itu, hanya Brian lah yang selalu menggoda para wanita. Ia sangat percaya diri dengan wajah tampan dan penampilan yang dimilikinya. Tapi, Gilang yang berbeda sikap dengan Brian itu sontak membuat perselisihan.
Di tempat, Gilang memarahi Brian sampai-sampai menjotos Brian hingga ia terjatuh. Emosi Brian tersulut, tapi Gilang segera sadar dan meminta maaf. Lantas Brian memaafkannya karena tidak ingin membuat perkelahian di depan seorang wanita. Apalagi saat itu mereka tengah berada di area lingkungan sekolah.
Dari kejadian itu, Gilang dan Sasa menjadi semakin dekat. Sasa tidak peduli bahwa Gilang itu adalah temannya Brian. Yang ia rasa, ia selalu terlindungi saat dirinya berada di dekat Gilang.
Persahabatan antara Brian dan Gilang juga sama sekali tidak terkecoh dengan hadirnya sosok Sasa. Brian yang merasa tampan itu juga tidak peduli, ia bisa mencari wanita yang lebih cantik daripada Sasa.
__ADS_1