
"Cewek aneh, kenapa dia nangis mulu? Apa kantung air matanya bocor ya? Eh, tapi masa iya ada kasus kayak gitu."
Di ruang tamu Wendy tengah bersantai. Ia tak risau lagi dengan kakaknya, saat ini kakaknya tengah tertidur pulas, aman dan damai berlayar ke pulau impian.
Kejadian semalam baru ia renungkan. Ia heran, Yuna yang ditemuinya selalu saja menangis tanpa sebab, ia pikir Yuna memiliki sebuah kelainan.
Secangkir kopi diseruput nya sesekali selang-seling dengan hisapan rokok. Itulah kenikmatan yang hakiki tatkala bangkit di pagi hari.
Di tengah kenikmatan itu Wendy mengotak-atik keyboard ponsel untuk saling bertukar pesan dengan kekasihnya, Manda. Kemudian Wendy menggeser bar menuju story dan untuk pertama kalinya Wendy melihat story Yuna muncul di layar ponselnya.
Kontak Yuna sudah ia simpan semalam sebelum kejadian, lantas Wendy yang penasaran itu langsung mengintip apa yang diposting oleh Yuna.
Video perlahan berputar terjeda-jeda karena jaringan ponsel milik Wendy tidak begitu baik.
"Sekali putaran, setengah putaran.."
Wendy memaju mundurkan kepalanya seperti tengah mematuk. Ia bernyanyi berirama melihat ikon loading yang terus berputar. Dirinya begitu menikmati hari dengan rokok dan kopinya, suasana hatinya amat sangat baik saat ini.
"E-e-ehh ..." Wendy mengerem kepalanya ketika video terlihat berputar kembali.
Layar menunjukkan makanan mewah di atas meja. Tak hanya itu, Sandi yang tengah menyantap makanan juga ikut masuk ke dalam video, sepertinya mereka sedang berada di sebuah restoran.
"Orang kaya emang pantesnya sama yang kaya lagi." Ucap Wendy iri. Bukan karena Yuna yang tengah bersama Sandi, tapi ia iri dengan hidangannya. Setiap hari menu makannya hanya sayur dan tempe.
Dari postingan ini Wendy pun menyimpulkan bahwa Yuna sudah mempunyai pacar. Apa lagi kalau bukan pacar? Jelas-jelas Yuna juga menambahkan stiker hati pada postingannya.
Pesan yang dikirim itu ternyata memang benar hasil bajakan. Tak perlu ambil pusing, Wendy pun mengabaikannya begitu saja. Sekarang Yuna sudah bukan urusannya lagi, dirinya kembali bertukar pesan dengan Manda, sesekali ia cengengesan karena suasana hatinya teramat sangat senang.
Sementara itu, Sinta sudah mengetahui kebenarannya. Yuna bercerita bahwa Sandi adalah kakak tirinya, ia bahkan sampai mengirim bukti foto kartu keluarganya.
Ternyata dugaan negatif yang Sinta pikirkan memang tak benar. Namun, Yuna berkata bahwa dirinya tidak ingin berhubungan lagi dengan Wendy, ia tak mau mendengar suatu apapun yang berkaitan dengan Wendy.
__ADS_1
Padahal Sinta baru saja ingin bilang bahwa semalam kakaknya Wendy terkena musibah. Tapi mungkin hal itu sudah tak penting ia sampaikan.
Yuna sudah bertekad, tapi tetap ibunya masih khawatir anaknya akan terbuai oleh Wendy yang berkelakuan buruk. Walau hanya cinta monyet, tapi anak SMA nya ini perlu dididik dari sekarang.
"Ibu tau kamu itu udah gede Na, kamu pasti bisa pilih orang yang tepat. Memang sih di jalur ini kamu masih bisa main-main, tapi carilah pengalaman yang baik, Ibu gak mau kamu kebawa nakal sama anak itu."
Siraman pagi di meja makan, sebelum menyantap sarapan Ibu mewanti-wanti Yuna. Sandi yang juga berada di sana ikut menasehati adik yang satunya ini.
"Kamu harus dapetin cowok yang sayangnya lebih daripada Kakak, emang kamu bisa?" Ucap Sandi angkuh.
Yuna merasa sedikit malu membahas soal ini, ia baru kelas 1 SMA, dan perawakannya masih seperti bocah SD, dirinya sadar bahwa ia belum pantas cinta-cintaan.
Kamis itu Yuna berangkat ke sekolah diantar oleh ibunya. Ia membuka layar ponselnya dan terkejut ketika nama Wendy ikut mengantri di daftar penonton story miliknya.
Sebelumnya ia selalu tertutup kepada publik, saat membuat story pun ia selalu mengecualikan kontak Sinta dan yang lainnya. Tapi kali ini tidak, ia membagikan postingannya tanpa terkecuali. Ia tidak mengira jika Wendy sudah menyimpan balik kontak dirinya.
Rasa senang seketika muncul, namun Yuna tersadar dan bergeleng cepat menghentikan perasaan yang hampir meluap itu. Tentu tingkahnya membuat ibunya yang duduk di samping dan tengah menyetir berpaling sekejap.
"Ada apa Na?"
Yuna harus konsisten, ia tak boleh mengacaukan tekadnya yang sudah bulat. Wendy sudah mempunyai pacar, biarlah sekarang nomor yang sudah sekontak menjadi tantangan baginya untuk bisa hidup tanpa memedulikan apa yang Wendy lakukan.
***
Malam weekend ini Wendy mengajak Gilang dan Brian untuk nongkrong bersama doi. Sekalian mengenalkan pacar barunya, dan dari rencana, mereka akan pergi ke tempat karaokean.
"Sinta, kita beli minum di sini aja, ntar kamu bawa di tas kamu ya."
Pukul 7 malam itu Brian dan Sinta berhenti di depan sebuah minimarket untuk sekedar membeli pulsa. Brian ingat di tempat karaoke harga minuman begitu mahal, ia harus menghemat dompet pelajarnya.
"Loh kenapa? Bukannya di sana juga ada yang menjual?"
__ADS_1
"Di sana harganya selangit, tapi minumannya sama aja."
"Darimana kau tahu? Hah?"
Tapi ia tak sadar bahwa dirinya tengah bunuh diri. Ia memang pernah pergi ke tempat karaoke di kehidupan sebelumnya. Bukan untuk bernyanyi, melainkan mencari kepuasan dengan para pemandu lagu.
Tatapan tajam pun langsung keluar, Sinta merasa curiga, ia tahu betul bahwa Brian tidak suka bernyanyi, sekalipun bernyanyi pasti nadanya tidak pas dengan lagu.
"Itu, waktu reuni sama temen, mereka ngajak ke tempat karaoke di mall."
Brian berbohong dengan tenang seolah dirinya tak pernah melakukan hal buruk. Sinta pun mencoba percaya, karaoke room bukanlah tempat yang selalu dipandang negatif, apalagi room yang berada di mall, itu family friendly dan dibatasi jam operasinya.
Hanya satu botol minuman isotonik yang muat di dalam tas Sinta. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan sampai di area lokalisasi.
Tempat yang dipilih merupakan tempat karaoke non keluarga. Memang tidak baik, tapi Brian yakin tidak akan terjadi suatu hal buruk. Tempat ini adalah Wendy yang menentukan, lebih tepatnya pacarnya Wendy lah yang memilih.
Satu per satu yang lainnya pun muncul, Wendy datang bersama dengan seorang wanita yang tingginya kira-kira 170 cm, sedangkan Wendy 6 cm lebih tinggi darinya.
Semua penasaran, wanita montok dengan celana jeans dan kaos pendek itu memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya. Bulu matanya cetar namun tidak begitu lebay, sorot matanya indah, pasti saat maskernya dibuka pun ia nampak sangat cantik.
Tanpa berkenalan terlebih dahulu mereka segera menuju ke sebuah bangunan alakadarnya. 3 laki-laki dan 3 perempuan, tanpa ditemani oleh pemandu lagu.
Saat menyusuri lorong menuju ke ruang 18, suasana terasa mengerikan. Ada anak-anak yang masih bocah seperti mereka dan ada juga om tante dari yang sexy sampai yang gembrot.
Room yang mereka pesan adalah VIP menengah dengan harga 70 ribu. Di balik pintu tertempel sebuah kertas, Gilang yang kepo langsung mendongakkan kepala dan membacanya.
"Lang.. Baru kali ini nih gue masuk ke sini, jangan kemana-mana, ntar gue salah tindakan malu lagi." Diah merengek pelan sambil memegang pergelangan kiri Gilang. Ia sangat asing kala melihat alat yang ada di ruangan itu.
Karena Gilang tak punya pasangan, terpaksa ia mengajak Diah daripada harus menjomblo. Dirinya tak tahu harus mengajak siapa lagi, ia memang tidak pernah berhubungan lebih dengan wanita setelah dirinya diputuskan oleh Sasa.
Mau mengajak Sasa mana mungkin, tempat ini pasti dipandang neraka olehnya dan lagi komunikasi antara dirinya dengan Sasa kian merenggang.
__ADS_1
"Tindakan asusila ... Iya lu tenang aja, gue gak akan kemana-mana." Ucap Gilang sambil terus menyelesaikan bacaannya.
Setelah selesai ia pun berbalik hendak menuju sofa tapi ...