
Hari ke-2 ulangan, jadwal menunjukkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA. Brian benci dengan keduanya, pelajaran yang rumit dan berbelit-belit, pastinya lembar soal juga akan terlihat tebal.
Karena memang sulit, ia juga harus belajar lebih keras. Hari-harinya ia rutuki sebagai seorang kutu buku. Terlihat ada jadwal latihan futsal lagi, ia harus belajar ekstra meskipun latihan futsal hanya menyita waktu beberapa jam.
Brian masuk ke dalam ruang ulangan, tapi, beberapa murid perempuan terlihat tengah berdiri melihat identitas yang tertempel di atas bangkunya. Dengan segera mereka bubar dari sana, Brian merasa heran dengan apa yang sedang mereka lakukan.
Setelah tertegun beberapa saat di depan pintu, Brian pun duduk di bangkunya kemudian mengeluarkan buku pelajarannya. Tak lama Anang datang dan langsung duduk di samping Brian.
"Sok rajin amat sih Bro, jijik tau gue ngeliatnya." Ucap Anang saat ia duduk.
"Ya jangan diliatin, sono, balik ke bangku lu." Ucap Brian sewot.
"Hahh.. lu sekarang gak mau ngembat cewek lagi apa? Mumpung ada kesempatan nih, ulangan nanti kita kagak bakal sebangku sama cewek lagi."
"Gak, lu udah dapet kunci jawabannya lagi?"
"Cuma satu sih, lu mau?"
"Nggak gue cuma nanya doang."
"Helehh.."
Perempuan yang sebangku dengan Brian terlihat sudah datang, tapi ia duduk berkumpul di kursi lain bersama dengan teman-temannya.
Usai pelajaran pertama selesai, Brian tidak pergi kemana-mana. Ia membuka buku IPA nya dan mulai menelaah isi-isinya. Perempuan yang ada di sampingnya juga begitu, padahal kemarin ia langsung tancap gas pergi ke kantin bersama teman-temannya.
"Mm.. Kak Brayen ya?" Ucap wanita yang sebangku dengan Brian. Ia bingung bagaimana cara membaca nama asli Brian.
"Hm? Bukan," Brian menoleh singkat.
"Oh Kak Brian, Kak boleh minta nomor ponselnya?" Pinta dia tanpa ragu.
'Cewek buaya? Hmm.. jadi nostalgia pas awal-awal masuk sekolah.'
Brian ingat saat dimana ia banyak dimintai nomor oleh wanita-wanita polos dari kelasnya dan dari kelas lain. Tapi sekarang kejadian itu sudah jarang lagi terjadi, mereka sudah tak heran dan mungkin sudah tidak penasaran dengan Brian.
"Ya udah, nih." Brian mencatat nomornya karena tidak mau banyak bicara.
Tidak masalah jika hanya bertukar nomor, asalkan jangan sampai bertukar hati. Brian hanya ingin mencoba untuk mencintai Sinta seorang saja.
Dan hari-hari ulangan itu pun berhasil ia lewati murni dengan bantuan otaknya sendiri. Brian tidak begitu ingat berapa nilai pasti yang akan didapatkan oleh teman-temannya, tapi ia yakin beberapa mapel mereka akan mendapatkan nilai yang tinggi.
__ADS_1
Kunci jawaban itu memang benar dan cocok, tapi sengaja mereka mengarsir beberapa pilihan yang salah agar jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Meski begitu, Brian yakin teman-temannya akan disuruh untuk mengerjakan perbaikan jawaban. Mereka yang bodoh itu memang tidak pernah terhindar dari yang namanya remedial.
Menunggu nilai raport diisi, para murid dibebaskan untuk berkeliaran di sekolah. Meskipun tidak ada pelajaran, tetapi mereka diwajibkan hadir karena ada beberapa orang yang memang harus mengerjakan remedial.
Wendy datang ke sekolah, ia memakai seragam yang sama dengan murid yang lainnya. Sengaja ia datang untuk membayar hutangnya kepada Yuna. Ia juga sudah bilang kepada Brian sebelumnya.
"Nih Yan duitnya. Gue gak tau berapa, tapi kasih aja semuanya." Wendy menyerahkan uang 200 ribu. Ia rasa nilainya lebih dari cukup untuk membayar hutangnya.
Dalam pesan, Brian sudah mewanti-wanti Wendy agar tidak berhadapan langsung dengan Yuna, dan Wendy pun tidak masalah, ia juga hanya berniat untuk memberikan uangnya saja.
"Lu udah cukur botak? Sini gue liat." Gilang hendak membuka topi Wendy, tetapi Wendy segera menepiskan tangannya.
"Jangan diliat Bang, pelecehan." Ucap Wendy takut.
"Nih gue liatin, tapi sekilas aja ya." Wendy membuka topinya dan...
Memang sudah dicukur, dan dicukur dengan gaya undercut. Alias tipis di bagian bawahnya, sedangkan yang atas masih begitu tebal. Satu hal yang nyentrik, Wendy juga mewarnai sedikit rambutnya. Hitam dan kekuning-kuningan, dua warna itu menyatu acak di atas rambutnya.
"Wihh.. udah jadi bule sekarang lu Bro?" Anang iri melihatnya, ia ingin rambutnya ikut diwarnai juga.
"Wo iya." Wendy memakai kembali topinya dengan bangga.
"Ijo aja, kayak murid kelas 8 itu tuh." Gilang teringat pada razia rambut yang diadakan sebelumnya.
Tapi ketiganya tidak ikut dirazia, mereka menghilang sejenak dari kelas karena tak ingin rambut gondrong kesayangannya dicukur pendek. Sesekali mereka memakai topi, tetapi sering juga mereka memperlihatkan rambutnya secara terang-terangan.
"Gue pengennya warna merah sih, tapi pantes gak ya sama muka gue?" Renung Anang.
"Kalo gak pantes paling jadi kayak gembel. Haha.." Gilang teringat kepada Wita, tapi ia tak berani menyebutkannya.
"Kita mau ke markas sekarang gak? Gue yang traktir, udah gue bawa nih minumannya." Ucap Wendy mengajak mereka.
"Gas! Lu kenapa gak dateng sih ke rumah gue? Padahal gue udah diem di rumah nungguin lu." Anang merasa kesal.
"Sibuk, ada urusan."
"Alah.. emang lu bawa apaan?"
"Ada lah, ntar gue tunjukkin kalo udah nyampe."
"Ya udah yuk cabut sekarang, ntar juga kalo ada remed pasti ada yang ngasih tau."
__ADS_1
Mereka pun memanjat dinding pembatas karena memang sekolah tidak mengizinkan para siswanya untuk pulang begitu saja. Tapi sebelum itu mereka ngopi terlebih dahulu di warung biasanya.
Akhirnya mereka pun berangkat menggunakan motor milik Wendy. Ia memarkirkan motornya di warung itu juga. Akan terlalu mencolok jika mereka berangkat dari warung tempat parkir biasa yang ada di depan sekolah.
"Woy itu topinya jangan di ke belakangin cok! Nyolok! Kena mata gue!" Gerutu Anang yang duduk di belakang Wendy.
"Ntar kalo dihadepin ke depan topi gue terbang." Ucap Wendy.
"Ya buka aja lah, ribet amat sih."
"Malu gue."
Dan Wendy pun memutar topinya agar tidak mengganggu ketenangan Anang. Dalam perjalanan Brian merasa malu, tapi berbeda dengan teman-temannya. Justru mereka merasa bangga karena bisa berbonceng berdempetan.
"Wushh!"
Motor melaju cepat, dan akhirnya sesuai dengan perkataan, angin kencang meniup topi Wendy ke belakang dan Wendy pun segera menghentikan laju motornya.
"Noh kan, gue bilang juga apa?" Sindir Anang.
"Ambil gih," titah Wendy.
"Ya elah."
Dengan terpaksa, salah satu diantara mereka harus turun dan membawa topinya Wendy yang dengan santainya berdiam diri di tengah jalan. Wendy pun melanjutkan perjalanan tanpa memakai topinya meski ia merasa sedikit malu.
Sekarang mereka sudah sampai dan Wendy segera membuka isi tasnya. Satu botol vodka beserta beberapa minuman kaleng bersoda. Begitu berbinar-binar membuat bocah sialan itu penasaran bagaimana rasanya.
"Anjayy.. mantep nih. Lu dapet dari mana Bro?" Ucap Anang terkagum-kagum, ia tak sabar ingin mencicipinya.
"Rahasia, udah yok langsung aja, gue pengen liat kalian kalo lagi gila. Hahaha.."
Wendy pun meracik vodka itu bersama minuman kalengnya. Meski rasanya agak gimana, tetapi mereka tetap meneguknya. Minuman itu berhasil membuat mereka oleng seketika.
Rasa hangover memang menyakitkan, namun bagi mereka itu sangat terasa menyenangkan. Semua kata-kata kotor mereka lontarkan, unek-unek apa saja yang ada dalam benaknya tak ragu untuk mereka ucapkan.
Hari itu mereka lewati dengan perasaan tak karuan. Di sisi lain Brian teringat kepada ibunya yang tengah menunggu di dalam rumah, ia berjanji akan segera membersihkan dirinya agar tidak ketahuan oleh ibunya itu.
Wuuu! Jangan dicontoh ya guys! Ambil sisi positif nya aja. Hehe, walaupun sama sekali gak keliatan.
Oh ya, jangan lupa dukung aku terus biar aku tambah semangat! Like, comment, vote, and gift. Kritik dan saran aku tampung dengan senang hati.
__ADS_1