Kosong

Kosong
Sendiri Sepi


__ADS_3

"Gerah banget ya malem ini. Kayaknya di luar mau ujan gede."


Kaos distro hitam yang tadi sore dipakai sekarang Brian lepas. Ia berpose sok keren di depan cermin membanggakan wajah tampan dan juga perutnya yang berpola seperti roti sobek. Lumayan, tapi ototnya kurang besar karena ia tidak terlalu fokus untuk latihan.


"Huh! Laki-laki paling tampan sedunia." Ia bergaya angkuh di depan cerminnya.


"Eh, mmm... apa Ibu gak kesepian ya di bawah mulu? Mending gue ke bawah sebentar ah, abis itu balik lagi."


Asyik sendirian di kamar, Brian jadi teringat kepada ibunya. Ia merasa tidak enak karena selalunya ia hanya diam di kamar tanpa menghiraukan Ibu yang tidak memiliki teman. Brian pun pergi ke bawah dengan dada telanjang.


"Ibu biasanya di sini. Mungkin di kamar ya?" Brian mencari-cari Ibunya di ruangan bawah yang tidak memiliki sekat itu. Mulai dari dapur, tempat khusus untuk tamu, dan tempat khusus keluarga sekaligus menonton tv.


"Klek," saat Brian masih berada di sana, Ibu membukakan pintu kamarnya.


"Brian? Kamu lagi ngapain?" Ibu terlihat memakai setelan minim, tanktop hijau army beserta celana pendek yang masih satu set. Ia heran, tidak biasanya anaknya itu turun malam-malam kecuali untuk mengambil minuman.


"Nggak Bu, Brian cuma mau ngobrol aja sama Ibu."


"Tumben, apa jangan-jangan... kamu ada maunya ya? Mmm... yaudah ayok, kita ke kolam. Ibu gerah nih." Ibu berjalan di depan.


"Nggak lah Bu, ini real, tanpa rekayasa maupun penyelundupan." Ucap Brian membuat Ibu memberhentikan langkahnya.


"Hah? Kamu udah mulai belajar Bahasa Inggris?" Di tengah pintu, Ibu menolehkan wajahnya ke arah Brian.


"Mmm... ya... Brian harus bersiap-siap untuk tinggal bersama Ayah nanti." Ucap Brian, padahal ia belajar bahasa inggrisnya itu sewaktu di masa depan.


"Bagus Sayang, Ibu aja gak kepikiran, soalnya kan masih 3 tahun lagi kamu di sini. Apa kamu pengen cepet-cepet pindah?" Ibu melanjutkan langkahnya memasuki pintu.


"Nggak Bu, Brian mau ke sana kalo udah tamat SMA."


Memasuki ruangan cantik berhiaskan beberapa pot bunga. Tempat itu adalah tempat dimanq mesin cuci berada. Sisi depan ruangan itu berdinding kaca dan dari sana mereka bisa melihat kolamnya.


Pintu kaca pun digeser dan mereka tengah berada di ruang terbuka. Satu kolam yang cukup luas, dengan sekat dinding yang tinggi dan berpola unik. Di bawah cahaya remang-remang, Ibu duduk di tepian dan mencelupkan kakinya ke dalam kolam.

__ADS_1


"Aahh.. dingin.. kamu mau berenang?"


"Nggak Bu, Brian males kalo harus mandi lagi." Brian pun melepas celana jeansnya dan ikut duduk di samping Ibu.


"Bu, maaf ya kalo Brian suka diem terus di kamar. Brian biasanya ngebiarin Ibu kesepian. Kalo tadi Brian gak ke bawah Ibu pasti sendirian aja di kolam." Brian merasa ibunya terlihat seperti seorang wanita sebatang kara yang tinggal di sebuah rumah besar.


Sekilas, ia teringat kepada ajakan ayahnya dulu. Mungkin, jika ia setuju untuk ikut pindah, Ibu tidak akan menyendiri seperti seorang janda begini.


"Gak papa, Ibu tau kok, katanya anak remaja emang suka menyendiri. Kalo kamu nyamannya kayak gitu ya gak papa."


"Tapi nanti kalo ada hantu yang narik kaki Ibu dari kolam gimana? Brian harusnya jagain Ibu terus. Brian pengen bikin hari-hari Ibu bahagia berkat adanya Brian." Mengucapkan kata-kata itu, Brian merasa cukup malu untuk memandang langsung wajah ibunya. Ia hanya menatap dinding yang berada jauh di depan dengan kakinya yang terasa dingin.


"Ah, kamu, mau coba nakut-nakutin Ibu ya? Ini juga Ibu lagi bahagia kok sama kamu."


Brian tersenyum menatap Ibu. Mama muda beranak satu itu terlihat masih segar. Dengan postur tubuhnya yang langsing, ia memiliki buah dada yang mirip persis ukurannya dengan milik Sinta.


"Brian, dari dulu kamu selalu saja pakai kalung dan gelang itu. Apa gak disita sama pihak sekolah?"


Brian memakai aksesoris metalik berwarna hitam di leher, tangan, dan kakinya.


"Dilepas dong, kalo ketauan nanti bisa-bisa kamu dihukum loh."


"Tenang aja Bu, lagian kalungnya kan ketutupin sama baju. Kalo ada yang mau sita pasti buru-buru Brian lepas kok." Brian masih merasa nyaman menggunakan aksesoris itu. Baginya, semua itu menambah efek auranya semakin terpancar.


*Tring!


Terdengar jelas bunyi notifikasi di malam yang hening itu.


"Ponsel siapa itu? Punya kamu?"


"Nggak Bu, Brian gak bawa ponsel."


"Oh, berarti punya Ibu. Sebentar, sebentar, Ibu ambil dulu, itu pasti dari Ayah." Ibu segera mengangkat kakinya dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suara gemuruh datang dari atas langit. Butiran besar air hujan mulai turun dengan derasnya.


"Hujan Bu, ayo masuk." Brian segera mengambil celana jeansnya dan berlari ke dalam ruangan.


"Hahh.. padahal masih gerah, harusnya Ibu nyemplung aja tadi."


"Nanti masuk angin loh Bu. Ya udah, Brian ke kamar ya Bu, mau istirahat. Brian juga lupa belum tutup jendelanya."


"Iya." Ibu terlihat fokus kepada ponselnya. Brian pun menutup pintu kaca dan meninggalkan Ibu di ruangan itu.


"Eh, Brian! Ayah kamu!"


"Ayah kenapa Bu?" Brian memberhentikan langkahnya.


"Ayah kamu mau pulang bulan depan! Hahh.. padahal Ibu sempet kecewa karena Ayah kamu belum juga ngabarin Ibu. Semoga akhir tahun ini Ayah pulang lagi ya!" Ibu terlihat sangat senang.


'Mmm yah, udah tau sih. Tapi Syukurlah."


"Iya Bu, Brian gak sabar pengen ketemu Ayah." Brian tersenyum melihat wajah bahagia ibunya.


Brian pun berlalu menuju kamarnya. Di tengah hujan yang deras disertai angin kencang, ia berusaha meraih jendela kamarnya. Lampu kamar Sinta juga terlihat masih menyala.


"Haha, aneh ya bisa sama gini. Mungkin jodoh kali ya? Ahh.. nggak, nggak, bisa aja Sinta itu milik orang lain." Brian merasa unik, dengan desain bangunan kamarnya yang sangat mirip dengan Sinta. Tapi dirinya tersadar akan sesuatu yang belum pasti.


Habis dari kamar mandi, ia pun berbaring di atas kasur. Masih pukul setengah 8, ia membuka aplikasi chatnya namun tidak menemukan pesan apa-apa.


"Udah dikira, Sinta pasti sibuk."


Pesan yang dikirim oleh Brian sore tadi, masih belum juga Sinta balas. Rasanya ia menyesal telah mengirimkan pesan itu kepada Sinta. Tapi pesan itu sudah terlanjur terkirim dan tidak bisa ditarik kembali.


Merasa bosan, Brian pun melihat beberapa story yang muncul dari kontak ponselnya. Berisi foto-foto wanita cantik, tapi sesuatu tiba-tiba mengejutkan Brian.


"Risa?! Ngapain dia posting yang kayak beginian?" Brian mencoba untuk membalas story itu tetapi tidak jadi.

__ADS_1


"Ah, yaudah lah, lagian dia bukan siapa-siapanya gue." Usai melihat habis semua story milik orang lain, Brian pun tertidur lelap di hari yang masih awal itu.


__ADS_2