
Sinta tak mau membungkus makanannya, ia ingin menunggu kedua sahabatnya yang mungkin tak pergi lama. Mereka sudah menyimpan baju di rumah Sinta, dan pasti mereka akan pulang ke rumah Sinta.
Rendra sudah coba menyuruh Sinta untuk menghubungi 2 wanita itu terlebih dahulu, barangkali mereka lama. Tapi keduanya mendadak tak aktif di layar ponsel seakan memang sengaja dan berencana.
Rendra pun membuka layar ponselnya untuk mengabari Brian, tapi pesan masuk dari Brian sudah datang 20 menit yang lalu.
"Aku sudah ada di mall, kalian sudah pulang?" Ucap Brian pada pesannya. Rendra tak menyangka Brian akan sengaja menyusul ke sini, ia pun segera memberitahu di mana saat ini ia berada.
Sinta dan Rendra tengah duduk di meja restoran. Sungguh pemandangan yang sangat indah di depan mata. Rendra menatap Sinta dengan hati yang sejuk, tapi dirinya masih dibuat bertanya-tanya, apa hal buruk yang akan menimpa wanita cantik yang ada di hadapannya ini?
Mana mungkin Sinta akan mengalami hal buruk, sedangkan Rendra di sini masih menemaninya. Ah, mungkin saja hal buruk itu adalah hal sepele seperti menginjak kotoran di lantai bukan? Brian juga tidak memberitahukannya.
"R-Rendra, a-aku ingin bicara denganmu." Tiba-tiba Sinta bertingkah aneh, ia yang duduk di hadapan Rendra langsung pindah posisi di samping Rendra.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Brian sudah sampai di posisi dan melihat saat-saat Sinta mendekati Rendra. Ia melihat Sinta menempel kepada Rendra, mungkinkah Sinta sudah jatuh cinta kepada Rendra? Selama ini Rendra tak pernah memberi kabar positif tentang hubunganya dengan Sinta. Brian tetap memantau dengan jarak yang agak jauh.
"Bicara apa Sinta?" Rendra jadi deg-degan karena Sinta yang mulai duluan.
"Silahkan." Pelayan datang meletakkan pesanan Sinta di atas meja.
"Makan dulu Sinta, tadi kau lapar." Rendra yang berdebar itu langsung melepaskan Sinta yang tadi mencengkeram erat lengannya. Ia berusaha untuk menetralkan perasaannya yang tiba-tiba menjadi tak karuan.
"Mm.. Kau tetap di sini, jangan kemana-mana." Ucap Sinta lalu mulai menyantap hidangannya.
Rendra segera mengirim pesan kepada Brian di saat Sinta tengah lengah. Ia membaca pesan yang masuk sebelumnya, rupanya Brian sudah berada di posisi dan tengah memantau mereka.
"Aku ingin menembak Sinta sekarang, aku tak yakin tapi sepertinya dia sengaja menyingkirkan Hermy dan Molla." Rendra mengklik tombol kirim, ia merasa percaya diri, apalagi saat tahu dirinya sedang ditonton oleh Brian.
__ADS_1
"Lakukan saja." Balas Brian membuat Rendra tersenyum sinis.
'Setelah Sinta selesai makan saja, aku tidak ingin mengganggunya.'
Rendra tersenyum tenang memandang Sinta yang sedang makan. Sinta makan dengan sangat lahap, pasti tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya, porsi makanannya pun juga sangat kecil.
"Sin-"
"Akh..akh.."
Baru saja Rendra hendak berbicara saat Sinta menelan suapan terakhirnya, tiba-tiba Sinta seperti tengah tercekat, ia memegang lehernya kuat dengan mata yang membelalak. Rendra tentu langsung panik, makanan Sinta sudah habis, mungkinkah ini karena makanan?
Brian yang melihat hal itu langsung berlari keluar dari tempat persembunyiannya. Sebelum ia mencapai Sinta, 3 bilah pisau sudah menancap di punggung Sinta. Sinta tetap tak bisa bersuara, namun Rendra langsung berteriak tatkala menyadari suara tusukan itu.
__ADS_1
"Sintaaa!" Rendra menatap nanar 3 buah bilah pisau itu, lalu melihat Sinta yang menyedihkan. Ia langsung melihat ke belakang, mencari siapa pelakunya. Semua orang yang berlalu-lalang langsung menjerit melihat Sinta kala mendengar teriakan Rendra.