
Jum'at itu, sekolah dibubarkan sekitar pukul 11 siang. Sedangkan Brian dan dua orang yang lainnya masih menunggu kedatangan Wendy di warung belakang sekolah.
"Si Yuna kayaknya udah bisa nyatu sama kita deh." Brian mulai membicarakan soal Yuna. 1 malam itu ternyata telah membuat sikap Yuna menjadi sedikit berubah. Ia terlihat lebih berani untuk melakukan pembicaraan kepada yang lainnya.
"Emang kayak gimana sih si Yuna?" Anang merasa penasaran.
Terkadang memang mereka selalu pergi ke kelas meski hanya beberapa jam dan tidak memperhatikan pelajaran. Tapi mereka tidak terlalu peduli dengan orang sekitar. Di kelas 3 ini, ada beberapa wajah baru siswa dari kelas lain yang dipindahkan ke kelas mereka, termasuk Yuna.
"Drrttt! Drrrttt!"
Belum sempat Brian menjawab pertanyaan Anang, dirinya teralihkan oleh getaran panjang yang datang dari ponselnya. Sebuah panggilan suara dari Sinta masuk.
"Brian, jangan pulang lama-lama. Pukul 1 siang nanti kau harus datang ke rumahku."
"Tut.. tut.." telpon dimatikan.
"Loh? Padahal gue belum ngomong apa-apa." Brian melihat panggilan berakhir di layar ponselnya.
"Siapa emang? Si Wendy?" Tanya Gilang.
"Sinta."
"Pantesan lu udah berhenti ngembat cewek lain. Ternyata pacar lu yang sekarang tipe BMW." Anang pikir Brian dan Sinta baru saja berpacaran. Ia tidak tahu sejak kapan mereka menjalin hubungan.
(BMW\= Bohay Montok Waww!) Yahahaha.
"Haha.. yaa.. gitu lah, kalian iri kan?" Brian mengangkat kedua alisnya dengan wajah angkuh.
"Gue biasa aja."
Sebuah suara membuat mereka teralihkan. Itu adalah suaranya Wendy, sudah sesiang ini tapi Wendy baru saja datang.
"Lu kemana aja sih? Kita udah wasiran nih duduk-duduk di sini." Ucap Anang kesal.
"Gue sih kadang duduk kadang jongkok." Ucap Brian datar.
"Biasa, abis bisnis sama si Wita." Ucap Wendy lalu duduk.
"Wahh, Bro! Bisnis apaan? Ceritain coba." Tanya Gilang.
"Ahh.. kalian gak bakal ngerti."
"Trus? Motor lu kemana? Lu ke sini naik apa?" Anang merasa tidak mendengar suara motornya Wendy.
__ADS_1
"Gue ke sini sama si Wita. Tapi motor gue dia bawa lagi. Ntar gue minta ongkos aja sama lu." Wendy tersenyum menatap ke arah Brian.
"Iya, iya." Dengan santainya Brian langsung memberikan uang yang ia ambil di sakunya.
"Eh Wen, Wen, tadi si Anang di diseret sama si Yuna ke dalem WC sekolah, si Anang dituduh udah hamilin dia gara-gara dia gak inget kalo bajunya itu cuma ketumpahan anggur merah. Haha.." Ucap Gilang menertawakan Anang.
"Hahaha.. serius? Tu cw konyol banget ya." Wendy ikut tertawa dan Anang terlihat hanya diam saja.
"Drrttt! Drrttt!"
Sesaat, ponsel Brian kembali bergetar. Ia mengambil ponsel di sakunya dan melihat sebuah panggilan datang dari Yuna. Dengan ragu, Brian mencoba untuk mengangkatnya.
"Hallo, Brian."
"Ya?"
"Brian, apa kau sedang bersama Anang dan yang lainnya?"
"Ya, di sini ada aku, Anang, Gilang, dan Wendy." Brian sengaja menyebutkan nama mereka untuk mengingatkan bahwa Wendy juga berada di sana.
"Siapa tuh?" Anang yang mendengar Brian menyebutkan daftar hadir merasa penasaran.
"Yuna." Ucap Brian.
Setelah panggilan itu berakhir, Brian menyuruh Gilang untuk menjemput Yuna karena Yuna tidak tahu arah jalan menuju warung itu.
"Yuna." Sapa Gilang setelah sampai. Yuna terlihat masih berdiri di dekat sebuah pohon besar.
"H-hai, tadi aku juga melihat Wendy ke arah sana." Ucap Yuna gugup.
Saat sedang bersama dengan Mitha, ia melihat Wendy bersama pacarnya. Mereka berhenti tepat di samping Yuna. Tetapi sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Yuna.
"Oh? Memang kau sedang apa di sini?" Tanya Gilang.
"Mmm.. aku harus berbicara dengan mereka juga." Ucap Yuna ingin segera dipertemukan dengan yang lainnya.
Yuna terpaksa harus berbicara langsung dengan mereka. Sebenarnya ia malu, ia takut di sana juga banyak laki-laki lain selain mereka. Tapi jika ia membicarakannya melalui telpon, ia khawatir seseorang juga akan mendengarnya.
"Hmm.. ya sudah, ayok."
Mereka pun pergi dan Yuna berjalan di belakang Gilang. Langsung saja mereka menerobos ke sebuah gang sempit di titik itu juga. Dengan jalan yang berbelit-belit melalui pemukiman warga, mereka pun akhirnya sampai di depan pagar warung tempat nongkrong biasa.
Sebuah warung tertutup, dengan bangku panjang di depannya dan disertai atap teduh di atasnya. Memang, warung itu terlihat sangat pas jika dijadikan tempat nongkrong, apalagi untuk anak sekolah yang sering bolos itu. Mereka juga merasa nyaman karena tidak ada seorang pun yang pernah melaporkan mereka. Dan di sana pun tidak ada orang-orang yang menongkrong lagi selain mereka.
__ADS_1
"Yuna, kenapa? Kau ingin meminta ganti rugi soal bajumu itu?" Tanya Brian sesaat Yuna menghampiri masuk ke area warung. Mereka terlihat duduk santai menikmati rokok dan kopinya.
"Tidak, aku akan mencoba mencucinya lagi." Melalui search engine, Yuna juga mendapatkan tips untuk menghilangkan noda itu.
"Lalu? Coba kau duduk dulu." Brian mempersilahkan Yuna untuk duduk karena Yuna terlihat masih berdiri saja.
"Ya,"
Yuna duduk di sudut bangku panjang itu. Sepertinya ia malu jika harus duduk berhimpitan bersama mereka. Tapi jarak yang renggang itu akan membuat obrolan terasa tidak nyaman. Jadi Brian dan yang lainnya mendekat menghampiri Yuna.
"J-jangan di situ!"
Anang dan Wendy berjongkok di hadapan Yuna. Itu membuat Yuna malu dan merasa sedang dilecehkan, ia memiringkan kakinya ke samping karena memakai rok seragam pendek tepat selutut.
"Cerita saja Yuna, mereka tidak akan salah fokus." Ucap Brian tapi merasa tidak yakin.
"Y-ya."
Cerita pun dimulai dan Yuna mengulurkan tas jinjingnya ke depan lututnya. Ia bercerita dari mulai saat ia diintrogasi oleh guru sejarahnya hingga sampai dirinya memperingati mereka untuk tidak bolos sekolah lagi.
"Aku tidak ingin kalian dikeluarkan dari sekolah. Sebelumnya Mitha mengancam akan mengadukan ku ke pihak sekolah bahwa aku akan ikut terlibat dengan masalah kalian."
"Brian, sepertinya Mitha masih menginginkanmu. Tapi karena kau sudah menyakiti hatinya, ia jadi melampiaskan amarahnya sesuka hatinya."
"Hah? Mitha berbicara seperti itu?" Brian merasa tidak percaya. Sebelumnya Mitha yang ia kenal adalah Mitha yang baik, tegas, dan penuh dengan aturan.
"Ya, aku takut." Yuna berkata dengan wajah yang murung.
"Untung gue udah gak sekolah." Ucap Wendy.
"Ah santai aja dulu, mana bisa cuma guru sejarah ngelakuin hal itu. Emang dia kepsek?" Anang meremehkan jabatannya.
"Mmm ya.. kalau begitu aku pulang." Yuna rasa pembicaraan sudah selesai.
"Kau tau jalan pulangnya?" Tanya Gilang merasa tidak yakin.
"Mungkin,"
"Denganku saja, aku juga akan pulang." Brian mematikan puntung rokoknya lalu bangkit.
"Yan? Gue kan baru dateng." Ucap Wendy merasa tidak terima.
"Ahh.. udahlah gue dah pegel. Si Sinta juga nyuruh ke rumah."
__ADS_1
Yuna dan Brian pun pergi meninggalkan warung itu. Mereka berpisah di tepi jalan karena Yuna memilih untuk menaiki angkot.