
Wendy melakukan tindak kejahatan pembunuhan pada usianya yang 14 tahun. Karena kejadian itu terjadi saat Wendy masih di bawah umur, ia mendapat sepertiga pidana dari yang seharusnya.
Sandi sudah tahu hal ini, Wendy hanya dipenjara selama 5 tahun. Tapi kenapa wajah mereka semua terlihat panik dan tegang? Rupanya mereka salah paham, mereka pikir Wendy akan dihukum mati.
Dari awal hanya Sandi yang mengurus semua masalah ini. Yuna dan keluarganya sama sekali tak mau tahu dan ikut campur. Yuna syok ketika mendapat pesan protes bahwa Wendy dihukum mati dari Anang. Yuna hanya bisa pasrah dan curhat kepada ibunya sewaktu itu.
Brian melirik ke arah Anang dan Gilang dengan wajah yang kesal. Rupanya mereka mendapat informasi yang keliru, Anang dan Gilang memang tidak menghadiri acara sidang, mereka hanya membesuk dan saat itu Wendy bicara hukuman mati dan mengaku bahwa ia dan kakaknya telah menghilangkan nyawa seseorang.
Dipikir-pikir konyol sekali kelakuan mereka, mencemaskan hal yang sama sekali tidak perlu dicemaskan. Bahkan Anang sudah marah-marah kepada Yuna. Ia juga hampir sempat bertengkar dengan Gilang. Keduanya hanya terkekeh malu menggaruk tengkuknya tanpa ada rasa berdosa.
Semua pun menarik nafas lega saat perdana mengetahui hal yang sebenarnya. Meski hanya 5 tahun pidana, mereka masih ingin membebaskan Wendy dari hukumannya.
"Asal hanya Wendy saja, tidak dengan kakaknya."
Melihat Yuna yang sangat memohon, perlahan Sandi luluh. Tapi ia masih benci kepada Wendy, baginya hukuman 5 tahun itu masih belum sepadan dengan apa yang telah Wendy lakukan. Ia meminta agar Yuna membawa Wendy ke rumah saat sudah terbebas nanti. Yuna pun setuju, dan dengan segala cara mereka bersama 3 sekawan berusaha membebaskan Wendy dari penjara.
Semua sudah berusaha untuk membebaskan Wendy dari 5 tahun tahanannya, penangguhan juga ditawarkan namun Wendy tak ingin menerimanya. Ia merasa bersalah, dan sudah sepatunya ia mendapat hukuman di balik jeruji ini.
Keputusan Wendy sudah bulat, walau mungkin ini tak sepadan dan sama sekali tidak berarti, tapi ia ingin lebih membenahi dirinya di dalam sel tahanan penjara ini.
"Aku sama sekali gak tau kalau orang yang aku bunuh adalah keluargamu." Wendy tertunduk dengan segala penyesalannya. Ia perlahan mengerti, bahwa Yuna selama ini hanya berpura-pura dekat dengannya, sudah pasti hubungan ini dianggap bubar.
__ADS_1
"Bang Sandi udah maafin kamu kok, dia bahkan nyuruh kamu buat datang ke rumah kalau sudah bebas." Ucap Yuna dengan tersenyum.
Wendy mengangkat kepalanya menatap wanita yang dicintainya itu di balik kaca, ia tak mengerti, apa maksudnya sudah memaafkan tapi disuruh bertemu?
"M-maksudnya?" Tanya Wendy heran.
"Maksudnya apa? Kau kan pacarku, keluargaku harus lebih jauh mengenal sifatmu."
Mendengar perkataan Yuna, Wendy melongo tidak percaya. Bohong kah apa yang Yuna katakan? Mana mungkin sekeluarga memaafkan tindak kriminal Wendy yang bejad ini dan bahkan mereka merestui hubungan ini.
Tapi senyum mengembang Yuna nampak memberi arti bahwa yang dikatakannya ini adalah asli.
Jadi mereka masih pacaran? Yuna sama sekali tidak mengatakan kata perpisahan. Wendy dibuat bertanya-tanya.
***
Brian sudah tenang kembali ke Negeri Ginseng, memang sih kakaknya Wendy tidak terselamatkan, ia terlibat kasus penyelundupan narkoba dan dipidana mati untuk membuat efek jera. Sudah banyak tindakan kejahatan yang dilakukannya, membegal dan mencuri juga menjadi kesehariannya.
Sekarang Wendy tak punya siapa lagi, kakaknya yang selama ini memang selalu merepotkannya sudah pergi ke alam sana. Wendy tak yakin kakaknya bisa masuk surga, tapi siapa yang tahu juga ada alam lain di sana.
2 tahun sudah berlalu, kali ini Brian menjenguk Sinta yang sudah mulai bekerja. Walaupun sudah bekerja, Sinta masih melanjutkan pendidikannya untuk mencapai gelar S2. Brian juga sudah mendapat gelar S1, bahkan ia lebih dari sekedar itu.
__ADS_1
"Hallo selamat pagi, kembali kita bertemu di hari yang cerah ini bersama aku, Sinta Jelita, hahaha.. Hari ini cerah ya secerah..."
Brian mendengarkan suara dari radio. Nostalgia sekali di jaman modern ini ia mendengarkan radio. Tapi ia penasaran karena Sinta mengiriminya pesan untuk memutar channel 97.8 FM yang mana Sinta sedang siaran langsung di sana.
Salah satu pekerjaan paruh waktu Sinta adalah penyiar radio. Dan nama panjang Sinta bukan Sinta Jelita, ah itu mungkin hanya pemanis saja. Brian asyik mendengarkan suara khas manja Sinta dari radio di ponselnya.
Beberapa waktu telah berlalu, sampai Brian memesan taksi untuk menuju tempat penyiaran radio. Satu buah earphone nirkabel dicantelkan di telinga kiri masih mendengar hangat suara Sinta di perjalanan.
"Kau mendengarnya kan? Bagaimana? Apa aku terlihat sudah pantas?" Sinta memeluk Brian yang kini gaya rambutnya sudah kembali beda.
"Terdengar, Sinta, bukan terlihat." Brian mencubit gemas kedua pipi Sinta.
"Aww! Iya, iya, itu maksudku. Ada apa kau mengajakku ke dokter? Apa kau sakit?" Sinta melepas pelukan untuk sekedar menyingkirkan cubitan Brian di pipinya, kemudian ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Brian.
"Hm, hanya check up saja."
Keduanya langsung pergi ke rumah sakit. Brian yang baru datang kemarin itu mendadak mengajak pergi ke dokter. Biasanya mereka langsung jalan-jalan, tapi mungkin ya karena Brian sudah menempuh perjalanan jauh, jadi ia agak khawatir dengan kesehatannya.
"A-apa? Kenapa aku harus check up juga?"
Setelah gilirannya, Brian menyuruh Sinta untuk turut memeriksakan keadaannya. Namun Sinta malah terlihat panik, ia enggan dan terus saja menolak permintaan Brian.
__ADS_1