
Hari kamis di siang hari, Gilang tengah duduk di atas bangkunya dan ia sudah pindah ke kelasnya sendiri setelah menyadari bahwa dirinya tidak ada pada daftar kehadiran.
Ada untungnya juga ia masuk terlambat, dirinya langsung kebagian bangku paling belakang yang memang amat sangat ia inginkan.
Pak Guru kedengarannya sedang berkicau di depan kelas, Gilang tak memperhatikan dan malah bergumam sendirian.
'Masa TKR ada pelajaran Matematika sih? Gak nyambung banget!'
Matanya sudah terlihat suntuk, Matematika yang rumit ini berada pada urutan jam ke sembilan (pukul 2 siang). AC juga mati karena listrik sedang padam, sungguh perasaan yang tak karuan, Gilang melipat tangan dan lantas terkulai di atas meja.
"Woy!"
Belum lama tertidur pulas, tiba-tiba Gilang ditarik oleh Pak Guru. Ia yang masih linglung langsung diseret keluar kelas tanpa banyak bicara. Langkahnya cepat, sorot mata bapak itu terlihat sangat marah, Gilang terkejut hingga bingung mau bilang apa.
Sampailah mereka berdua di depan toilet sekolah, Pak Guru melepaskan cengkramannya seraya memerintah.
"Buka baju! Rukuk!" Titahnya.
Kali ini Gilang merasa tersentak, perkataan Pak Guru ngegasnya bukan main, ia terlihat amat sangat es mochi. Tanpa bertanya Gilang pun membuka bajunya dan ia membungkukkan badannya.
"Byurrr!!"
Satu ember air disiramkan ke tubuh Gilang. Rasa dingin itu pasti akan membuatnya segar. Pak Guru baik hati, ia tahu bahwa Gilang tengah mengantuk, ia begitu peka terhadap anak muridnya.
Baru kali pertama Gilang mendapat perlakuan seperti ini. Dikiranya guru di sini akan sama dengan guru yang ada di SMP nya. Mau Gilang berleha-leha atau apapun, di SMP ia tak pernah kena imbasnya.
"Sekarang diam kamu di sana!" Pak Guru menunjuk ke tempat yang terkena sinar cahaya.
Gilang disuruh untuk berjemur, Pak Guru langsung pergi meninggalkan Gilang dan Gilang sama sekali tidak berani untuk menolak perintah tadi. Semua sedang dalam proses belajar mengajar, jadi lingkungan juga terlihat sepi.
Dengan dada telanjang Gilang diam di tempat terik itu seperti seorang cupu. Ia tidak menyangka dengan apa yang barusan telah terjadi kepadanya.
__ADS_1
Tubuhnya sudah kering, Gilang bingung mau bagaimana, Pak Guru tidak memberi arahan yang selanjutnya. Haruskah ia ke kelas atau tetap tinggal di sini? Ia takut salah dan akan dimarahi lagi.
Dengan alasan tak tahu Gilang pun tetap diam hingga jam pelajaran ke 9 itu usai. Ia memastikan Pak Guru sudah keluar dan ia pun segera masuk ke kelas sembari mengenakan pakaiannya.
"Hahahaha!"
Seketika gelagak tawa seisi kelas langsung terdengar tepat saat Gilang masuk ke dalam. Walau baru beberapa hari kenal, mereka sudah akrab dengan Gilang tak terkecuali.
"Berisik babi!" Raut wajah Gilang terlihat kesal.
Seisi kelas tahu apa yang sudah sempat terjadi tadi. Entah mereka mengintip atau tahu sendiri dari Pak Guru, yang jelas mereka tahu.
***
Satu pekan kemudian, saat pembelajaran masih sedang dilakukan, 2 orang guru yang entah guru apa masuk ke dalam kelas. Keduanya pria dan salah satunya membawa gunting di tangannya.
Ternyata itu adalah guru piket yang akan mengadakan razia rambut. Kelas 10 masih banyak yang belum menuruti aturan sekolah dengan benar.
Sontak semuanya panik dan beberapa langsung lari menuju pintu. Namun pintu segera dijaga, para siswa itu tidak bisa lari kemana-mana.
Melihat wajah pasrah para siswa yang sedang dicukur guru piket malah tertawa. Para lelaki nakal itu merengek melupakan harga dirinya. Mahkotanya akan diambil, bagaimana bisa mereka diam? Namun hasil maha karya sudah tercipta di kepalanya. Rambut mereka sengaja dicukur asal-asalan secara tidak rata.
Pantas Brian sudah mencukur rambutnya sedari awal. Rambut pria di sekolah ini tak boleh lebih dari 3 cm. Daripada dicukur asal-asalan, lebih baik ia memotongnya sendiri sesuai 3 senti.
Ruangan itu penuh sendu dan penuh tawa, rambut juga berserakan dimana-mana. Guru piket juga jahil mengerok lurus rambut mereka di tengah jidat.
Walaupun ada yang berhasil kabur, mereka pasti akan kena juga. Setiap upacara bendera, semua siswa yang tidak sesuai kriteria pastinya akan dirapikan.
Rambut yang acak-acakan itu pastinya malu untuk dipertontonkan, masa sebelah kiri, kanan, depan, belakang, ada yang pendek dan panjang? Belum lagi garis lurus yang ada tepat di depan seperti avatar.
Beberapa ada yang masih bisa menutupinya dengan peci, tapi yang tidak bawa maka ia harus siap percaya diri.
__ADS_1
Esoknya 10 TKR pada gundul berubah menjadi biksu. Para wanita geli melihatnya dan bahkan ada yang sampai menertawakannya.
Walaupun botak mulus tanpa bulu, hari ini Gilang memberanikan diri untuk menemui pacarnya. Ia sudah rindu kepada Sasa dan sesuatu sangat mendorong isi hatinya.
Gilang merinding menatap dirinya di cermin, ternyata seperti ini rupanya jika ia berkepala botak. Untuk menutupinya Gilang mengenakan sebuah topi, ia malu dan takut dikira kanker.
Ponsel baru sudah ia terima. Ponsel android dengan layar yang cukup besar. Gilang merasa sangat senang, sekarang ia akan mudah untuk terhubung kembali dengan Sasa.
Sore hari mentari tidak begitu terik, Gilang mengendarai motornya menuju ke rumah Sasa. Sasa bersekolah di SMA yang cukup terkenal dengan pendidikannnya. Terkadang Gilang datang ke rumah Sasa, namun pernah juga ia datang tetapi Sasa nya sedang tidak ada.
Langsung Gilang bertukar nomor dengan pacarnya. Ia amat sangat bahagia, walaupun jarak agak merenggang, keduanya bisa berkomunikasi secara instan.
Pukul 6 saat langit sudah terlihat gelap, Gilang mengajak Sasa keluar untuk pergi jalan-jalan. Sasa diizinkan dan mereka pergi berboncengan.
Sangat hangat, Gilang merasakan kehangatan seorang insan yang tengah berada di belakangnya. Angin dari depan seakan enyah oleh hangatnya pelukan yang merambat dari belakang. Saat ini Sasa begitu merindukan keberadaannya Gilang.
Gilang mampir ke sebuah tempat makan, berpacaran terang-terangan seperti ini tak lantas membuat dirinya malu. Ia percaya diri karena perawakan tubuhnya juga sudah terlihat seperti orang dewasa.
Ada sesuatu yang begitu mengganjal, tapi Gilang tak bisa meluapkannya. Ia ingin mendekap Sasa namun rasanya ia tak bisa. Ia tak berani, meskipun Sasa terkadang memeluknya, tetapi ia enggan untuk membalas pelukannya. Lagipula Sasa hanya memeluk Gilang saat mereka berada di motor saja.
Gilang takut kalau Sasa merasa dilecehkan dan ia akan pergi meninggalkannya. Gilang sendiri sebenarnya bukanlah orang alim, kadang ia jahil mencolek-colek balon milik wanita. Tapi itu sudah lama sewaktu SMP, sekarang pikirannya mulai berubah, ia tahu apa yang semestinya ia lakukan.
Pulanglah Gilang mengantarkan gadis yang ia banggakan masuk ke dalam rumahnya dengan aman. Selepas itu Gilang berpamitan, cukup sampai di situ ia tidak melakukan apa-apa lagi.
"Kenapa Gilang tidak pernah memelukku? Apa dia tidak benar sayang padaku?" Rutuk Sasa di kamarnya, ia merasa sedikit kecewa.
Selama ini hanya ia saja lah yang terlihat selalu menempel-nempel kepada Gilang. Sedangkan Gilang, ia terlihat biasa saja. Sasa ragu, tapi ia tak tahu kebenarannya. Mungkinkah ia harus bertanya ataukah ia harus memintanya langsung?
Ia sungguh canggung dan malu jika harus begitu. Dirinya juga tak banyak terbuka saat berpacaran dengan Gilang. Tapi suatu hal positif masih ada dalam pikirannya.
Sasa hanya aneh saja, bagaimana bisa Gilang terlihat berbeda dari teman-temannya? Melihat teman Gilang yang lain.. mereka tak ragu untuk bersentuhan ataupun bermesraan dengan wanitanya.
__ADS_1
Gilang, ia baik, sopan, dan tidak pernah melakukan kesalahan di mata keluarganya Sasa. Seperti sosok pria sejati yang tidak berani untuk mengotori wanita.
Sasa kira munculnya sikap itu hanya datang pada saat pertama saja. Saat dirinya tengah dilecehkan oleh Brian dan Gilang berlagak membelanya. Sekali ia akan mencoba bertanya melalui ponsel pintarnya.