Kosong

Kosong
Bermalam


__ADS_3

Hujan deras turun di langit malam itu, angin berhembus kencang dan membuat suasana terasa dingin. Cipratan-cipratan air menitis masuk melalui jendela yang terbuka. Di bulan November itu hujan deras sering turun di malam hari.


Cuaca yang terasa dingin saat hujan sangat pas didampingi dengan anggur merah yang saat ini mereka nikmati. Brian segera menutup jendela kamarnya yang terbuka karena tak ingin kamarnya basah terkena cipratan hujan.


"Aahh.." Wita terlihat sangat menikmati anggur merah yang ia pegang.


"Bisa gak sih kalo abis minum gak bilang ahh?" Ucap Gilang pada sofa yang berhadapan dengannya.


"Hah?! Ngatur!" Wita merespons dengan wajah sinis. Padahal Gilang hanya berniat untuk bercanda.


'Dih, gak bisa diajak bercanda. Lagian gue juga gak niat ngomong sama lu.'


Gilang merasa jengkel, tapi dari luar ia terlihat sangat santai. Di samping Sasa, ia tak mau terlalu banyak minum karena tidak ingin kehilangan kesadarannya dan berbuat yang tidak-tidak.


Yuna yang tengah meminum anggur merah bersama Anang tiba-tiba menjatuhkan cup plastik yang dipegangnya dan membuat anggur merah itu tumpah ke pakaiannya.


"Loh? Aku rasa aku ngantuk, aku mau tidur sekarang." Yuna merasa heran, tiba-tiba saja pandangannya kabur, kepalanya pusing dan perutnya terasa panas.


Suatu gejolak aneh mulai muncul di dalam diri Yuna. Ia pikir, dirinya sedang sakit. Tubuhnya yang terasa lemas itu ingin segera dibaringkan di atas ranjang.


"Lu ngasih dia berapa gelas?" Tanya Wendy santai.


"Gak tau, gue rasa sih cuma abis satu gelas dia." Jawab Anang.


"Bawa aku ke kamar, cepat," tiba-tiba Yuna merengkuh pundak Anang dan berdiri dengan pegangan itu. Wajahnya begitu dekat dan tubuhnya terkulai lemas memeluk Anang.


Anang yang tiba-tiba mendapat rengkuhan itu, langsung terkejut. Tapi dirinya ingat tujuannya berada disini adalah untuk mendekatkan Wendy dengan Yuna. Dengan cepat, ia mengoperkan kesempatan ini kepada Wendy.


"Wen, lu yang bawa deh, gue takut kenapa-napa." Anang pura-pura sudah hampir hilang kesadaran. Padahal dirinya baru habis 2 gelas dan sama sekali belum merasakan apa-apa.


"Yaudah," Wendy yang masih sangat sadar itu langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku hanya ingin bersamamu!" Yuna menolak dan berkata dengan suara yang keras, sikapnya membuat semua mak comblang yang berada di sana menjadi terkejut.


'Aahh perutku terasa panas,'


"Cepatlah, aku sudah tak tahan." Ucap Yuna.

__ADS_1


Terpaksa Anang bangkit dari duduknya dan ia sendiri yang harus melakukannya. Ia membungkuk dan menopang tubuh Yuna untuk membantunya berjalan. Yuna sama sekali tidak melangkah, ia hanya menyeret-nyeret kakinya.


"Ah!" Anang terkejut.


Hampir saja Anang membuat Yuna terlepas dari topangannya. Anang yang jauh lebih tinggi dari Yuna merasa kesusahan jika harus membungkuk. Ia langsung membopong Yuna dan dengan cepat membawanya ke kamar.


'Kecil-kecil berat juga ni cewek.' Gumam Anang sambil berjalan.


Semua yang ada di sana juga bangkit mengikuti Anang. Dan tiba-tiba saja, saat Sinta bangkit, ia juga hampir merasakan hal yang sama. Kepalanya terasa sedikit pusing dan tubuhnya juga terasa hangat.


Padahal sebelumnya Brian memperingati Sinta agar tidak minum terlalu banyak, tapi ia yang sangat haus dengan alkohol secara tak sadar telah memberikan Sinta 2 gelas minuman.


"Brian aku tidak papa," ucap Sinta langsung berjalan.


Meskipun Sinta terlihat masih segar dan masih bisa berjalan sendiri, tetapi Brian khawatir dan segera menopang Sinta untuk berjaga-jaga.


Mereka berjalan jauh di barisan yang paling akhir. Di tengah jalan, tiba-tiba Sinta menghentikan langkahnya dan berpindah ke hadapan Brian.


"Aku tergila-gila padamu, kau itu begitu tampan." Sinta menatap sayu dan menyentuh lembut pipi Brian.


"Cup!" Sebuah kecupan basah ia arahkan ke bibir Brian.


"Sinta, jangan lakukan itu disini!" Brian segera menyadarkan Sinta dan untungnya Sinta masih sadar.


"Ah, ya!"


Mereka kembali berjalan menyusul rombongan yang ada di depan.


"Bukain pintunya Lang." Akhirnya Anang sampai di depan pintu kamar yang sebelumnya Brian tunjukkan.


Lampu dinyalakan, mereka masuk dan segera membaringkan Yuna di atas kasur yang sudah tersedia. Kamar itu sama luasnya dengan kamar Brian, hanya saja di sana tidak ada barang-barang milik pribadi.


"Brian, Yuna akan baik-baik saja kan?" Sinta yang masih sadar itu merasa khawatir akan terjadi suatu hal buruk kepada Yuna.


"Ya, itu mungkin efek karena dia baru pertama kali minum." Ucap Brian santai.


"Udah, kalian istirahat aja. Kamu juga besok sekolah kan?" Lanjut Brian.

__ADS_1


"Iya." Sinta mencoba untuk berbaring di atas kasur. Tapi tiba-tiba tindakannya terhentikan.


"Terus gue tidur dimana?!" Dengan nada bicara yang tidak sopan, Wita melirik kesal ke arah Sinta. Kasur itu lumayan lebar, tapi mana mungkin jika harus ditempati oleh 4 orang.


"Kamu di bawah aja, itu, ada kasur lantai." Ucap Wendy melirik ke arah kasur lantai berwarna hijau yang masih tergulung.


'Si Wita gak ada malunya apa?!'


Anang tidak habis pikir dengan Wendy. Jika dirinya menjadi Wendy, ia akan merasa malu memiliki pacar yang seperti Wita. Apalagi ia sedang berada di rumah orang lain.


'Si Yuna beneran cinta gak sih sama Wendy?' Gilang heran, kenapa Yuna tidak ingin dibopong oleh Wendy.


"Di bawahnya ada kasur angin kok, cuma harus diisi udara dulu." Brian menunjuk ke arah yang sama dengan tempat kasur lantai itu.


"Ah, biar aku yang tidur disana." Sinta sudah menganggap rumah Brian sebagai rumahnya sendiri. Ia harus memanjakan tamu di rumah ini, jadi ia mengalah dan mencoba untuk mengambil kasur angin itu. Tapi saat ia bangkit, rasa pusing itu semakin menyulut.


"Sinta, kau tidak papa? Sudah, kau disini saja." Brian merasa khawatir saat melihat Sinta yang bangkit itu hanya terdiam dan memegang kepalanya.


Brian membaringkan Sinta di atas kasur, sementara Yuna sudah terlihat lelap dengan pakaiannya yang memiliki noda merah karena terkena tumpahan red wine.


"Wen, Lang, gak papa kan?" Ucap Brian kepada Wendy dan Gilang sambil menyelimuti Sinta dan Yuna.


"Ya gak papa lah, emang apa bedanya? Yang penting mah tidur aja, iya kan Sa?" Gilang melirik ke arah Sasa, dan Sasa juga merasa tidak keberatan.


"Yaudah lah cepet mana kasurnya?" Wita berbicara dengan angkuhnya.


"Yan, ini gimana cara niupnya?" Wendy langsung mengambil sendiri kasur angin itu dan mencari-cari lubang anginnya.


"Oh, ini," Wendy menemukan lubangnya dan mencoba meniupnya dengan mulutnya.


"Eh Wen! Itu juga ada alat buat niupnya! Gak usah ditiup kayak begitu!" Brian terkejut melihat Wendy yang akan meniupnya sendiri.


'Wen, Wen, kasur segede gitu mau lu tiup.' Gumam Brian setelah mengambil pompanya.


Kasur angin itu sama lebarnya dengan kasur biasa dan cukup ditempati oleh 2 orang. Setelah semua selesai disiapkan, para wanita beristirahat dan para lelaki kembali ke kamarnya.


Yok dukung terus autor 😉 Like, comment, dan, dan, itulah 😂 Jumpa lagi next episode

__ADS_1


__ADS_2