Kosong

Kosong
Mataku Ternodai!


__ADS_3

"Hahaha! Itu si Sinta waktu pertama kali diliat sama Desi katanya dia itu turis, dia cerita sendiri sama gue." Anang tertawa menyebarkan terang-terangan ceritaan pacarnya.


"Anangg!" Pekik Desi saat tadi Anang berbicara. Ia menarik-narik tubuh Anang di depan mereka juga.


"Haha.. aku bukan turis Desi, aku memang penduduk sini. Hmm.. tapi aku pindahan sih." Ucap Sinta yang sudah biasa dikatai sepeti itu.


"Ehehe.." Desi hanya bisa tersenyum malu.


Di dalam mobil itu mereka terus mengobrol dan berisik. Semuanya merapat di bangku bagian belakang. Dengan terpaksa Brian juga mengajak Yuna mengobrol, ia tak mau membuat Wendy curiga karena selalu mendiamkannya.


"Pak, maaf nih pada berisik, Bapak gak bisa tidur ya?" Tanya Anang sambil melihat ke arah depan.


"Pak?" Sahutnya, tidak ada jawaban dari Pak Sopir.


"Udah tidur dia." Ucap Wendy melihat sedikit tubuh Pak Sopir yang sudah berbaring.


"Buset, kebo juga si Bapak."


"Hus, kamu gak sopan, nanti pak sopirnya denger gimana?" Desi memperingatkan pacarnya.


"Gapapa ayang.. aku liat tadi di telinganya ada yang coklat-coklat gitu, pasti dia gak denger." Anang malah semakin tidak sopan.


"Iih, malu lah jangan panggil ayang di sini." Desi mencubit geram tangan Anang.


"Uuu ayang mbeb.. iri kan iri? Gak bisa panggil ayang." Anang terlihat bangga merangkul tubuh Desi di depan yang lainnya.


"Lebay!" Brian merasa jijik.


Saat sudah puas nyengnyong-nyengnyong, mereka kembali ke bangkunya masing-masing. Sasa duduk mendekati Yuna yang tengah mengasingkan diri di ujung kursi. Ia berada tepat di samping Yuna dan langsung bersandar di bahunya Yuna.


"Ada apa Sasa?" Tanya Yuna heran.


"Aku boleh kan tidur di dekatmu?"

__ADS_1


"Tapi Gilang?"


"Kenapa? Udah cepetan kita tidur, besok pagi harus tancap gas!" Gilang tidak merasa keberatan.


Yuna merasa sedikit senang, sedari tadi dirinya hanya merasa dikucilkan dan ia tahu bahwa sewaktu diajak mengobrol tadi, Brian dan Anang hanyalah bersandiwara. Malam itu mereka terlelap di dalam mobil dengan 1 buah lampu senter yang menggantung.


Sekitar dini hari, Wendy terbangun dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia kemudian langsung melihat isi aplikasi chatnya. Hah? Tidak ada kartu sim yang terdeteksi? Oh iya, ia sempat mencopot kartunya tadi.


Ia lalu membuka casing ponselnya karena sebelumnya ia meletakannya di sana. Sinyalnya jelek, jadi ia pikir ia harus mencopot kartunya dan mengistirahatkannya. Tapi, saat ia membukanya, kartunya itu tidak berada di sana, lalu di mana?


Sebelumnya ia membuka kartu itu di bangku belakang, tempat mereka mengobrol tadi. Wendy pun segera menyalakan senter ponselnya karena senter yang digantung tidak menjangkau seluruh bagian mobil. Dengan ponselnya itu, Wendy pun mencari kartu miliknya secara teliti.


'Hehe.. pada tidur nih, sekalian gue fotoin aja ah.'


Saat Wendy melihat mereka yang tengah tertidur, rasa jahilnya mulai kambuh juga. Ia mengambil potret Anang dan Desi yang sedang tertidur berdempetan sambil berpelukan.


Brian lebih parah, tangannya ia masukkan ke dalam bajunya Sinta. Wendy sedikit melihat pemandangan menggairahkan namun ia sama sekali tidak tertarik. Ia hanya geleng-geleng kepala dan melanjutkan untuk mengambil fotonya Gilang.


'Haha.. pada jelek-jelek tuh muka! Eh, ni cewek gue fotoin juga apa ya?' Wendy berhasil mengambil foto mereka. Lalu, ia melihat ke arah Yuna.


'Daripada dikira yang aneh-aneh, mending gue fotoin tiga-tiganya aja.'


Wendy takut dirinya dikira sengaja mengoleksi fotonya Yuna. Ia pun mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu dari atas, ia mengambil foto Gilang, Sasa, dan Yuna yang tengah tertidur pulas.


Hampir ia lupa dengan tujuan utamanya. Ia harus mencari kartu provider nya di sini. Wendy menyorot setiap sudut dan celah, ia berjongkok melihat-lihat ke arah kolong bangku.


Sepasang kaki mungil nan putih bersih membuat mata Wendy perlahan mengusut dengan teliti karena merasa penasaran. Kaki milik Yuna, ia tetap saja memakai dress pendek dalam perjalanan seperti ini.


Penglihatan Wendy tak sengaja menyusup sedikit ke pangkal paha. Ia melihat pemandangan kain tipis, samar-samar namun ia yakin bahwa itu adalah CD.


'Ni cewek gak pake celana lagi apa?' Gumam Wendy lalu melanjutkan mencari kartunya.


Ia tidak menemukannya di sana. Lalu di mana? Besok mobil ini akan pulang, jika Wendy tidak menemukannya sekarang, mungkin ia tidak bisa mendapatkannya lagi.

__ADS_1


Wendy kembali ke bangkunya, ia berniat untuk meminta bantuan esok ketika mereka sudah bangun. Dirinya tidak tidur kembali, ia hanya memainkan ponselnya yang tidak tersambung dengan jaringan internet.


Sudah biasa ia begadang, kegiatannya di rumah kurang lebih sama seperti ini. Memainkan ponsel hingga berjam-jam entah apa yang tengah diaksesnya.


Terkadang ia juga begadang di luar bersama dengan teman-teman kampungnya. Bermain kartu, sesekali ditemani oleh minuman keras.


'Dari tadi gue gak ada kesempatan mulu buat deketin Wita. Mumpung sopirnya kayak kebo mending gue lancarin sekarang aja ah.'


Wita sudah menarik kata-katanya dahulu, dan Wendy kembali bersikap santai kepada Wita setelah diberi penjelasan yang tidak begitu lebar, kegiatan jatah-jatahan seperti ini juga kembali mereka lanjutkan.


Karena Wita sedang tidur, jadi Wendy hanya meremas dada dan membelai-belai tubuhnya saja.


'Emmh..' tiba-tiba Wita mengerang, ternyata genggaman tangan Wendy terlalu kasar.


Wita terbangun membuka matanya, Wendy langsung membelai wajah Wita yang masih linglung itu. Ia berdiri berjalan ke ujung kursi, membaringkan tubuh Wita di atas 3 kursi yang berhimpitan itu. Lalu Wendy menimpanya, kakinya saling berselisih menjuntai di ujung bangku.


Siapa yang tidak nafsu berada dekat dengan wanita? Apalagi mereka memang sudah sering melakukannya. Wendy begitu menikmatinya, mereka melakukannya dengan suara desis yang tidak terdengar begitu jelas.


Di posisi lain, ternyata Yuna juga masih dalam keadaan terjaga. Sedari tadi ia sudah menyadari seseorang datang karena remang-remang cahaya.


Bangku paling belakang yang ia duduki itu dapat mempersembahkan apa yang saat ini tengah mereka lakukan. Tempat ia duduk tak menyajikan bangku lagi untuk menutupi pemandangan yang ada di depan.


Cahaya senter yang tidak begitu terang menampakkan 2 pasang kaki pria dan wanita yang saling menunjukkan adegan ketidaksenonohan. Yang di bawah terlihat lemah, dan yang di atas terlihat kuat. Yuna membelalak tidak percaya, ia melihat langsung keburukan Wendy di depan matanya.


Pria itu memang menakutkan, apalagi melihat perawakan Wendy yang begitu terlihat kuat. Apa bisa ia melarikan diri jika sedang berada di dalam posisi itu?


Yuna tak bisa menatapnya lebih lama. Tiba-tiba hatinya terasa sakit, ia memejamkan kedua matanya secara paksa. Namun apa daya, otaknya tidak mau berhenti bekerja. Yang ada di depan juga masih terlihat sama.


Tak terasa buliran air mata menghiasi wajah cantiknya. Baginya yang mereka lakukan itu bukanlah suatu hal yang bisa dibilang wajar. Yang berarti, Wendy terlihat seperti orang jahat yang sedang melecehkan seseorang di depan matanya sendiri.


Malam itu pun berlalu, Yuna masih memejamkan matanya menunggu seseorang diantara mereka terbangun. Yuna sama sekali belum tidur kembali, ia hanya terpejam dengan pikiran dan otaknya yang masih begitu sadar.


Padahal, Wendy dan Wita tidak melakukan aksinya semalaman. Wita tertidur kembali, namun Wendy yang sudah terbiasa begadang itu hanya memandangi isi ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2