
Hari Sabtu.
Jam pelajaran pertama belum dimulai. Brian sedang sok rajin duduk-duduk di bangkunya sambil melihat-lihat buku mata pelajarannya. Di depan, Yuna sama sekali tidak memalingkan wajahnya, jangankan itu, bersuara pun ia tidak.
'Tumben apa perasaan gue aja? Padahal kemaren dia kayak banyak omong. Apa dia takut sama si Mitha ya? Ah, sementara gue gak usah keliatan sok akrab lagi deh.'
Brian yakin bahwa Yuna masih berteman baik dengannya dan masih ingin melanjutkan rencananya. Tapi mungkin, jika orang lain melihat Yuna berdekatan dengan anak nakal sepertinya, maka simpulan yang mudah diambil adalah Yuna akan dianggap sebagai anak nakal juga.
"Bro! Itu si Risa kenapa?!" Di depan pintu, Anang baru saja datang. Tanpa malu, ia langsung berbicara keras seolah sedang menyampaikan pengumuman.
"Ada apa emang?" Tanya Brian Santai.
"Tadi gue liat sekilas si Risa masuk ke ruang BK, sama cowok-cowok juga." Anang berjalan lalu duduk di samping Brian.
"Oh, mungkin gara-gara story nya yang semalem."
"Emang apaan? Mana gue mau liat." Anang pun mendekati Brian, dan Brian segera membuka kembali sebuah story yang berasal dari kontak Risa.
"Masih ada! Gue kira udah dihapus." Brian lalu menonton kembali videonya bersama Anang.
Dalam video yang diambil sore hari kiranya. Semua pelaku terlihat masih mengenakan seragam sekolah. Seragam batik khusus hari jum'at yang sangat khas mencirikan asal mana sekolah mereka.
Di sana, Risa menjadi satu-satunya wanita yang diselimuti oleh 4 orang pria. Para pria itu mencium dan menyosor tubuh Risa tanpa adanya perlawanan. Mulai dari buah dadanya, bahkan **** * nya juga yang bisa diraih mudah dari bawah rok pendeknya.
Risa terlihat begitu menikmati dan keenakan. Wajah cantiknya sangat menggugah gairah saat seseorang tengah menontonnya. Entah siapa yang mengambil rekaman videonya, tapi pastinya video itu sengaja mereka buat.
"Buset! Ini cewek lagi ngapain?! Lah, latah dia?! Gue gak nyangka kalo si Risa bisa-bisanya bikin video kayak gini." Anang terkejut melihatnya. Ngeri-ngeri sedap, tapi ia tidak mengira.
Jelas saja video itu akan dieksekusi. Anang tak habis pikir, kenapa Risa malah menjatuhkan harga dirinya sendiri di depan publik? Jika hanya bertujuan untuk kenikmatan, saran dari Anang mereka harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Mendengar obrolan mereka berdua, seisi kelas sontak langsung heboh. Mereka penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Beberapa orang mencoba untuk meminta Brian menunjukkan videonya. Tapi Brian tahu kalau ini bukanlah untuk tontonan publik.
Di depan ruang BK:
Siswa siswi ramai mengintip dari kejauhan karena mendengar desas-desus tentang kasus yang terjadi kepada Risa. Walau kontak Risa isinya bukan satu sekolahan, tapi ada beberapa orang yang mungkin mengambil video itu dan membuatnya semakin tersebar luas.
Menurut pengakuan, para pria memang sengaja melakukan itu karena perintah Risa. Sepulang sekolah, mereka mencari tempat sepi dan mengambil adegan itu karena kemauan Risa sendiri.
Sekarang, Risa diharuskan menghapus videonya itu dan ia tidak bisa mengelak dari hukum. Rencananya sudah dipastikan, Risa dan kawan laki-laki yang ikut dalam video itu, termasuk sang pemegang kamera, akan dikeluarkan dari sekolah ini.
Bukan apa, mereka melakukan hal yang tidak pantas dan telah mempermalukan nama sekolah karena terlihat jelas dari seragam batik yang mereka pakai. Tidak bisa dipertimbangkan lagi, sekolah tidak sudi menerima siswi seperti Risa karena sekolah itu bukan sekolah lomte. (Double N)
Meski bukan mereka orang pertama yang mengusulnya, tapi para siswa laki-laki itu juga bersalah. Mereka harus menanggung malu saat orang tua mereka datang ke sekolah ini.
Jam pelajaran pertama telah dimulai. Pelajaran matematika sedang berlangsung, membahas materi tentang kongruen dan kesebangunan pada sebuah bangun datar. Saat Yuna tengah fokus, tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sebuah suara yang kemarin sempat membentaknya.
"Permisi Bu" Guru sejarah yang kemarin berdiri di depan pintu.
"Saya meminta izin untuk membawa Yuna sebentar, ada masalah yang harus diselesaikan."
"Ohh, silahkan Pak. Yuna mana Yuna?" Ibu guru mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan Yuna.
Semua orang langsung tertuju menatap Yuna. Dan seketika Ibu Guru langsung menemukannya. Yuna tak ingin bangkit, namun bagaimana? Terpaksa Yuna berdiri dan keluar dari ruangan kelas.
"Ikut Bapak ke ruang BK." Ucap Pak Guru lalu ia berjalan.
'Degh!'
Yuna tidak berani bertanya. Ia hanya berjalan mengikuti Pak Guru. Meski belum tahu urusan apa yang melibatkan dirinya di sana, tapi Yuna langsung mengeluarkan keringat dingin. Untuk apa ia harus dibawa ke ruang BK?
__ADS_1
Sampai di sana, Yuna duduk bersama 1 orang guru BK, sedangkan guru sejarah yang tadi pergi ke luar entah ke mana. Terlihat masih ada Risa dan kawan-kawannya duduk jauh di kursi lain.
"Yuna, Ibu dengar, kamu itu suka berlebihan saat bergaul dengan laki-laki ya?"
Pembicaraan dimulai dan Yuna langsung terkejut. Mendengar desas-desus dari para siswa, mereka bilang guru BK itu adalah orang yang paling galak.
"Kamu suka nongkrong sama laki-laki di tempat-tempat sepi kan? Apa saja yang sudah kamu perbuat dengan mereka?"
'Apa Mitha yang mengatakannya? Fitnah apa yang sudah Ibu katakan? Aku sama sekali tidak seperti yang ibu pikirkan!'
Ingin sekali Yuna berkata seperti itu. Tapi ia tidak berani, ia hanya memejamkan matanya untuk menguatkan dirinya.
"Yuna, Ibu peringati satu kali ini. Jangan suka memberi jarak terlalu dekat dengan laki-laki. Apalagi sampai melampaui batas. Meskipun kamu merasa baik-baik saja, tapi kamu tidak tahu niat jahat seperti apa yang sedang mereka rencanakan untukmu. Kalau kamu sudah terjebak? Ibu yakin kamu akan menyesal."
Mendengar ucapan itu, simpang siur yang Yuna pikirkan. Kemarin malam memang ia sudah mengikuti kelakuan buruk para pria dengan meminum minuman keras. Tapi itu semua karena ia tidak tahu.
"Kalau kamu sampai melakukan hal itu lagi, Ibu bukan hanya akan memperingati kamu, tetapi Ibu juga akan memanggil orang tua kamu."
'Hah?!'
Tak akan pernah terbayangkan jika Yuna melihat kedua orang tuanya itu kecewa. Dengan wajah murung, ia memberanikan diri untuk membela.
"T-tapi aku tidak seperti itu Bu."
"Jika kamu memang tidak melakukannya, itu bagus. Di sini Ibu hanya memperingati sekaligus menasehati kamu saja. Ibu juga belum tahu kebenarannya, tapi Ibu sudah mendengar laporan dari beberapa orang."
'B-bagaimana dengan kejadian waktu di toilet sekolah itu? Apa Ibu tidak tahu?'
Yuna pikir, itu yang akan menjadi inti masalahnya. Tapi ternyata guru BK sama sekali tidak membahas itu. Soal cctv, mungkin memang tidak menyala dan hanya dipasang untuk menakut-nakuti para siswa saja. Seperti orang-orangan sawah yang berdiri mengusir burung.
__ADS_1
Selepas mendapat nasehat dan peringatan, Yuna pun diizinkan untuk kembali ke kelasnya. Ia merasa menjadi lebih baik, ia kira guru BK itu memang menyeramkan, tapi ternyata tidak. Darinya Yuna bisa berpikir untuk lebih hati-hati dalam bergaul.