Kosong

Kosong
Nambah Masa


__ADS_3

Sudah 3 hari Wendy mengalami demam disertai batuk, jadwal untuk pulang pun ditunda untuk sementara waktu. Semua sudah berusaha mengabari keluarganya, memberikan alasan yang beragam agar tidak mengkhawatirkan mereka.


Di kamarnya, Wendy tengah terbaring sambil meracau layaknya orang sakit. Tidak seperti kemarin, seharian ini dirinya terus saja tidur dengan tubuhnya yang menggigil. Wita sama sekali tidak peduli, ia bahkan sering mengambil uang milik Wendy tanpa singgah menemani Wendy.


"Uhuk.. uhuk.. ahh, ginjal gue sakit." Rintih Wendy sambil bersandar di atas kasur. Ia memegangi perut sebelah kirinya.


"Anying, lu jangan sembarangan ngomong goblok! Kalo beneran kena emangnya lu mau? Lebay amat sih pake sakit segala, kudu bayar kosan lagi kan jadinya." Ucap Gilang yang baru saja duduk di atas lantai.


Siang itu keempat pria tengah menyantap makanan yang sudah mereka beli di warung makan. Harganya hanya 5 ribu saja, para pria biasanya makan 2 kali setiap harinya. Tentunya mereka menjaga jarak dengan Wendy, kemarin juga Wendy pernah menyemburkan makanan yang dikunyahnya karena sedang batuk.


Mereka biasa membeli nasi TO (tempe oncom). Menunya hanya nasi, tempe, sambal, dan timun. Rasanya baru saja duduk lalu bangkit kembali, seketika makanan itu ludes tanpa banyaknya cincong.


"Semalem punya si Anang ngaceng haha.. kayaknya kebelet pengen nyolok si Desi." Ucap Gilang sambil menuangkan air pada sebuah galon.


"Ya kalo dibilang pengen ya pasti pengen lah. Secara, si Desi tuh montok yakan? Tapi ntaran aja lah, gue masih kagak berani. Oh iya, lu udah pada bikin nama buat si brother belum?" Tanya Anang, entah siapa yang ia maksud.


"Gue sempet bingung sih ngasih namanya kalo harus ada artinya juga. Si Brian tuh, yang pertama nyuruh bikin. Nama adik lu apa Yan?" Tanya Gilang setelah minum.


"Adik gue.. Wahyu Waluyo, waktu habis luyu, walau gitu.. tetep ngoyo.. hiahh.." Ucap Brian tertawa konyol.


"Ahh.. ahh.. ahh.." Anang mendes*h dengan nada yang sangat menjijikan.


"Kalo punya gue.. uhuk.. uhuk.. Pertiwi." Wendy hendak ikutan juga.


"Pertiwi? Lah itu kan nama cewek, mana bisa!" Gilang menolak nama itu.


"Uhuk.. uhuk.. gak papa lah kayak nama pelopor tanah air."


"Pertiwi.. pernah tidurin Wita! Bener kan?" Anang mencoba untuk menebaknya.


"Bukan goblok! Uhuk.. uhuk.. perjaka, tinggi, berwibawa. Uhuk.. Enak aja nidurin Si Wita." Wendy ngegas sambil terus memegangi perut sebelah kirinya.

__ADS_1


"Kalo Kebo Ireng.. kelamaan bobol ingusnya.. mmm.. apaan ya?" Gilang mentok kehabisan ide.


"Ada temennya nih, Jaka Sembung, jangan kaget, sekali masuk langsung kembung. Hahaha.. masih masuk satu server gak?" Brian tertawa sambil melihat layar ponselnya. Ia sudah memikirkan nama itu sebelumnya dan mencatatnya pada catatan ponsel.


"Hahaha.. anying, parah itu! Nih saran dari gue, Ali Pangestu, agak liar pas ngew* situ. Hahaha.."


Usai makan, mereka terus saja menyusun nama-nama yang pas. Gilang kata, adik miliknya bernama Panji, panjang dan berbiji. Anang bilang, adik miliknya adalah Benjamin, belasan jam dimainin.


Entah untuk adik yang mana padahal hanya Gilang saja yang mempunyai adik. Tapi gelak tawa begitu terdengar sampai ke kamar tetangga. Suara mereka berat, seketika pasti akan membuat orang yang mendengarnya langsung terkejut.


Saat sudah hening mengobrol santai sambil merokok, muncullah seseorang di depan pintu yang memang tidak ditutup itu. Yuna, ia datang seorang diri, ia terlihat terkejut saat mendapati 4 pria itu sedang kumpul bersama-sama.


"Ada apa Yuna?" Brian yang sebelumnya dengki kepada Yuna perlahan mulai melupakannya.


"Mm.. aku mau memberikan ini untuk Wendy."


Yuna memegang sebuah kantong kresek putih. Di dalamnya terlihat samar obat-obatan. Ia menunjukkannya sambil melihat ke arah Wendy, saat itu Wendy juga tengah merokok, Yuna tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya.


"Hah? Gapapa." Wendy melirik singkat.


'Kenapa emangnya? Ni cewek mau ngatur-ngatur gue?' Gumam Wendy melanjutkan hisapan rokoknya.


"Si Wita ke mana? Panggilin dia ke sini coba, si Wendy lagi meriang nih. Merindukan kasih sayang. Haha.." Titah Gilang tak bermaksud mengusir Yuna.


"Wita sedang menonton film, jadi ku pikir dia tidak ingin diganggu."


"Yaudah masuk sini, gak enak masa ngobrol di depan pintu."


Yuna pun masuk dan duduk di dekat pintu yang masih terbuka itu. Hanya ia perempuannya seorang, jadi ia pastinya mewaspadai para pria itu. Padahal, bagi mereka Yuna itu adalah anak kecil, mereka sama sekali tidak ingin berniat jahat kepadanya.


"Kamu beli ini di mana?" Brian melihat isi kantong kresek yang ditaruh Yuna.

__ADS_1


"Di apotik, aku sekalian beli obat untuk kelingkingku."


"Oh, belum sembuh juga?"


"Agak baikan, sekarang sudah tidak melepuh lagi. Tapi bekasnya menghitam."


Mereka tidak bisa melihatnya. Yuna memakai kaus kaki untuk menutupi bekas luka di kakinya. Memang, bekas luka itu terlihat jelas di kelingkingnya yang putih bersih, itu sangat mengganggu bagi Yuna. Tapi, bagi para pria, kaus kaki itu lah yang mengganggu, Yuna dinilai selalu ribet jadinya.


"Emang kamu tau si Wendy sakit apaan?" Gilang merasa tidak yakin. Yuna sama sekali tidak pernah melihat kondisi Wendy.


"Mm.. batuk? Wendy, kau demam juga tidak? Aku tidak tahu apa saja yang kau rasakan, jadi aku membeli obat yang lain juga."


"Dingin malahan." Jawab Wendy.


"Si Wendy tuh sakit ginjal, bukan demam atau batuk biasa." Tutur Anang mencoba bergurau. Ia penasaran dengan reaksi Yuna yang sikapnya selalu aneh.


"Hah?! Kenapa didiamkan saja? Ayo kita pergi ke dokter sekarang!" Yuna percaya karena sedari tadi Wendy terus saja memegangi perut bagian bawahnya.


"Ett dah, tenang, tenang. Tadi tu bercanda doang. Emang sih katanya perutnya sakit, tapi itu wajar kali soalnya si Wendy batuk mulu." Anang melihat Yuna yang sudah bangkit.


"Haahh.. aku pikir benar." Yuna menarik nafas lega disertai malu.


"Kalau begitu aku kembali lagi, nanti akan ku coba menyuruh Wita untuk datang ke sini."


Yuna pergi meninggalkan kresek obat itu. Wendy pun hendak istirahat kembali dan tiga orang yang lainnya pergi mengisolasikan Wendy.


Di bawah, Wita yang tadinya tengah asyik menonton film, sekarang tengah mengotak atik isi ponsel Wendy. Ia membawa ponsel Wendy tanpa sepengetahuan pemiliknya, tapi Wendy sudah tahu bahwa ponselnya sedang berada di tangan Wita.


"Lu pada mau nonton gak?" Ucap Wita sambil menunjukkan isi ponsel Wendy.


Pada layar itu, mereka melihat banyak video-video yang tidak layak tonton, yaitu porno. Wendy mengoleksi lumayan banyak video itu dalam ponselnya. Tentu mereka tidak ingin melihatnya, jadi hanya Wita saja yang menonton video itu seorang diri. Suara dihilangkan, mereka bisa tenang tanpa mengusik satu sama lain.

__ADS_1


Sinta sebenarnya memiliki koleksi video serupa juga. Tapi itu di akun sosial medianya. Banyak orang yang mengiriminya video dan foto-foto tidak jelas tanpa dimintai. Sinta tidak membalasnya, ia hanya memanfaatkan bahan-bahan itu sebagai edukasi **** nya agar ia bisa tampil lihai dan memuaskan saat bermain ranjang nanti.


__ADS_2