
Pagi hari semua peserta sudah dibariskan di lapang utama yang biasa dipakai untuk kegiatan upacara bendera. Semua sudah berbaris rapi, pria, wanita, bebas, mereka bisa berdiri di mana saja.
"Dung.. tak tak.. dung.. dung.."
Pengeras suara sudah berbunyi, mereka akan melakukan kegiatan senam di pagi ini. Semua sudah siap memakai kaos olahraganya yang semalam dipakai tidur.
"Satu, dua, satu, dua.."
Wahh.. bokong wanita nampak begitu jelas. Mereka memakai kaos olahraga SMP nya yang sudah terlihat sempit. Posisi yang pas, Brian berada di belakang barisan para wanita.
Angkat tangan, rentang tangan, sentuh tanah, semua gerakan begitu mengasyikkan. Berirama sambil memandang gumpalan daging dan duing-duing di bagian lompat.
Asupan di pagi hari, walaupun terhalang kain tapi mereka bisa membayangkannya melalui dalaman yang tercetak jelas.
Usai senam mereka duduk di tempat untuk beristirahat. Di depan sudah ada panitia bersama dengan beberapa kardus besar berisi banyak makanan.
Hari ini mereka tidak akan diberi sembako tapi mereka akan diberi sabu, sarapan bubur. Sudah dibagi rata dalam kantong plastik jadi setiap orang tinggal mengambil masing-masing satu.
Paketnya ada.. 1 bungkus bubur ayam, 1 bungkus bubur kacang hijau, 1 cup air mineral.
Panitia tidak ingin mereka mati sebelum dilepaskan ke habitat asli. Jadi mereka menyuguhkan makanan agar mereka dapat menambah energi.
Makannya bebas di mana saja, mau di tenda, di lapang itu sendiri, atau di WC sekalipun panitia tidak mempermasalahkannya. Yang penting mereka nyaman dan makanannya juga harus dihabiskan.
Sip, semua sudah sarapan sekarang tinggal ganti kostum saja. Karena mereka akan kotor-kotoran tentu mereka harus memakai pakaian pramuka, tidak lupa atribut lengkapnya.
Brian sudah merasa seperti tentara saja. Menggunakan topi pramuka, kacu, tambang, belati, dan sebagainya. Padahal ia tak mau ribet lagipula itu semua apa gunanya. Tapi ini semua Ibu yang memasukannya jadi sayang juga kalau tidak ia pakai.
Kembali lagi ke lapang atas kemudian berbaris rapi menurut regunya masing-masing. Wawa wiwi wuwu, semua menyimak orang yang berbicara di depan lapang.
"Wushh!"
Dikeluarkanlah mereka lewat gerbang depan. Para wanita dipersilahkan untuk keluar terlebih dahulu. Pria sudah biasa dikucilkan, mereka berkoar-koar tapi ujungnya hanya bisa pasrah menunggu giliran.
Berjalan sesuai intruksi mengikuti tanda-tanda yang ada di setiap jalan. Yang tadinya mereka berjalan di jalan raya, kini mereka beralih ke persawahan. Mereka mulai menemui pos-pos yang mana di sana terdapat para panitia.
__ADS_1
Diberilah mereka sebuah tugas yang harus diselesaikan dan diserahkan kepada pos yang selanjutnya.
"Berikan sikat ini kepada kakak anu. Hihihi.." Ucap Kakak Panitia sambil cekikikan.
Sikat, ia memberikan sebuah sikat cuci. Apa faedahnya? Apakah ada sebuah pesan tersembunyi di balik sikat itu? Ahh.. antarkan saja lah, lagipula ini gampang.
Lanjut ke pos 2
Kini mereka harus menuruni jurang yang tingginya 10 meter. Sudah ada seutas tali tambang dan juga beberapa orang yang sedang bergelantungan.
Bukan spiderman, mereka adalah para panitia yang akan membantu jika ada peserta yang kesusahan. Di bawahnya merupakan aliran sungai kecil, di sana juga ada panitia yang berjaga-jaga.
"Hap, hap, hap."
Mudah saja bagi para pria untuk menuruninya. Sikat sudah diberikan dengan selamat dan tanda misi sukses juga sudah diterima. Sebuah loreng di wajah, jangan sampai luntur karena itu akan menjadi bukti akhir.
Lalu mereka disuruh jalan bebek di atas aliran sungai yang dangkal. Sudah seperti bebek saja, mereka kompak berbaris rapi ke belakang.
Disuruh memakai sepatu yang kuat, ternyata ini yang akan mereka jalankan. Sepatu baru tentunya sayang jika dipakai begituan. Turun jurang, kotor-kotoran, rendam-rendaman, tapi mana mungkin kalau harus nyeker juga.
Banyak lagi yang mereka lalui, mereka juga sampai ke area lahan konstruksi. Ada mobil belco di sana dan panitia naik di atasnya. Mesin mati jadi aman-aman saja. Mereka juga sudah mendapatkan izin satu hari ini dari pemiliknya.
Tidak ada kegiatan ngulum permen satu untuk semua. Cicip-menyicip atau hal yang menggelikan juga tidak ada. Padahal mereka sudah menyiapkan mental untuk hal-hal yang begituan, panitia paling hanya memberikan tebak-tebakan saja.
Hingga akhirnya para peserta mulai bermunculan dari hutan dan berada di perkemahan mereka sendiri. Mereka disambut dan dihitung loreng wajahnya oleh para panitia.
Yang sudah selesai dipersilahkan untuk membersihkan diri. WC ada dimana-mana, tapi beberapa ada yang jarang digunakan dan jadi terlihat mengerikan.
Gilang berjalan ke WC depan yang nyaman dan umum dimasuki oleh para wanita. Ia hanya akan membasuh kaki dan wajah saja.
Ada beberapa yang berbeda dari WC yang sebelumnya ia temukan. Hmm.. gatal sekali, rasanya Gilang ingin menjadikan tempat ini sebagai media maha karyanya.
WC di SMP nya sangat berbeda jauh dari ini. Di sana pintunya terbuat dari kayu lapuk berlumut yang setengah bawahnya dilapisi oleh seng. Beberapa pintu ada yang jebol dan juga rusak. Sedangkan ini, pintunya putih bersih lengkap dengan selot beserta gagangnya.
Kadang, ada taik di kloset yang tengah mengambang dengan santainya. Bocah jorok mana yang membiarkan taiknya tanpa disiram? Bahkan ada yang menaruh taiknya di sembarang tempat, yaitu di lantai WC.
__ADS_1
Tentunya itu bukan taiknya Brian dan Gilang, mereka tidak pernah berak di dalam toilet sekolah.
Bukan mahakarya taik yang ingin Gilang buat, tapi coret-coretan dari cairan koreksi, spidol, maupun pulpen.
Di pintu WC harusnya terpasang tarif seperti ini:
-Col* Rp 2.000
-Modol Rp 3.000
-Berak Rp 6.000
-Beol Rp 3.000
-Ngopet Rp 5.000
-Nyabun Rp 3.000
-Ngelem Rp 1.000
-Dll.
Dinding juga harusnya ada tulisan:
Sodom*, nge*e, aku cinta kamu kelas 8A, yang baca pasti lagi berak, dan lainnya seperti curhatan-curhatan galau.
Sudah bersih, sekarang mereka disuruh masak untuk dirinya masing-masing. Semua sudah sedia beras, lauk atau bahan lain yang diperlukan mereka tinggal membelinya keluar asal jangan jauh-jauh.
Sorenya mereka disuruh untuk segera mengemasi tenda. Kenapa? Baru saja satu malam mereka tinggal. Apa mereka sudah akan pulang?
Bukan, mereka akan berpindah tempat, mengungsi dan tidur di ruangan kelas. Semalam banyak yang mengeluh ini itu karena tidur di dalam tenda.
Para panitia tidak merasakannya, mereka tidur nyaman di ruang hangat beralaskan kasur busa. Banyak penghuni tenda yang datang ke tempat panitia. Bahkan ada beberapa wanita yang tubuhnya ruam-ruam karena tidur di dalam tenda.
Tentu panitia khawatir dan membiarkan mereka mengungsi di dalam ruangan sambil mengobatinya. Sekarang mereka pun memutuskan untuk melanjutkannya di ruang kelas berharap agak mendingan.
__ADS_1
Ini yang membuat Brian merasa lega. Di ruang kelas lumayan luas dan tidak banyak serangga. Sinyal Wi-Fi juga stay on di atas sana, ia bebas mengakses internet tanpa takut habis kuota.
Ini adalah malam terakhir, 2 malam 3 hari mereka melaksanakan kegiatan MOPD. Singkat, besok mereka akan bebas namun belum tahu bagaiman acara yang selanjutnya.