
Yuna masih berani membawa ponsel ke sekolah. Ia sengaja karena tak sabar ingin memesankan tiketnya. Tetapi tidak dengan Brian, bisa jadi beban kalau ponselnya disita dan tidak dikembalikan lagi.
Karena belum sempat mengabari Sinta, sesampainya di rumah, Brian segera mengambil ponselnya dan mengiriminya pesan.
"Sinta, hari ini Yuna mengajak kita pergi ke bioskop. Yang lainnya juga akan ikut, termasuk Wendy." Pesan terkirim kepada Sinta pada pukul 13.44.
"Sinta mau gitu ya gue ajakin mendadak kayak gini?"
Brian melihat kontak Sinta yang sedang aktif, tetapi Sinta sama sekali tidak membalas, sepertinya ia sedang sibuk. Brian takut Sinta tidak akan ikut ke bioskop dan nantinya ia akan menggagalkan rencana sekeligus tidak memiliki pasangan.
"Sinta lagi ngapain sih? Sekolahnya lama bener."
Sudah pukul setengah 3 siang, Brian sama sekali belum membersihkan diri. Ia hanya mengganti pakaiannya dan berjaga-jaga di belakang jendela untuk menantikan kedatangan Sinta.
Tak berapa lama, mobil yang biasa mengantar jemput Sinta pun akhirnya datang. Tapi sebelum Brian memanggil Sinta yang baru saja turun, Sinta terlihat langsung berlari menuju rumah Brian. Segera Brian pun menuju ke lantai bawah.
"Hosh.. hosh.. Bu, Brian masih ada di rumah?" Terlihat Sinta sudah berada di dalam, berhadapan dengan Ibu yang tengah duduk di sofa tamu.
"Ada kok, kenapa Sinta, kok kamu sampe ngos-ngosan gitu? Eh, itu Brian nya." Mendengar suara hentakan kaki, Ibu melihat Brian yang sedang menuruni anak tangga.
"Hahh.. aku cape Bu." Ucap Sinta sambil melihat Brian.
"Bentar Ibu ambilin minum dulu. Kamu duduk di sini ya." Ibu tahu Sinta baru saja pulang sekolah. Ia segera bangkit dan menuju ke dapur.
Akhirnya Brian pun sampai di lantai bawah, duduk bersama Sinta yang masih memakai seragam SMA nya. Wajahnya berkeringat, seragamnya super ketat dan ia terlihat sedang merasakan hawa panas.
'Sinta, itu seragam kamu yang kekecilan apa badan kamu yang kegedean sih? Aku jadi khawatir ada yang ngembat kamu.'
Rasanya ingin sekali Brian membantu Sinta menghilangkan gerah body nya. Ia ingin membuka bajunya Sinta agar Sinta tidak kepanasan dan merasa sesak.
"Brian, kita mau berangkat jam berapa?" Tanya Sinta sambil terengah-engah. Di sekolah ia sudah membaca pesan dari Brian, namun ia tak sempat untuk membalasnya.
"Mm.. nanti setengah 6, kamu mau ikut kan?"
"Hahh.. aku pikir jam berapa, kalau begitu aku masih sempat untuk bersiap-siap."
"Syukurlah kalau kau mau ikut."
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu." Sinta bangkit dari duduknya. Ia sangat terburu-buru padahal masih beberapa jam lagi mereka akan berangkat.
"Sinta kamu mau ke mana? Ini minumnya?" Ibu baru selesai membawakan segelas sirup jeruk untuk Sinta.
"Makasih Bu. Glek.. glek.. glek.." Sinta menerimanya. Satu gelas sirup yang dingin itu langsung habis diminum olehnya yang sedang kehausan.
"Di sini dulu dong Sinta, kamu pasti capek kan? Mau makan?"
"Sinta malu Bu, hehe. Badan Sinta bau soalnya. Nanti Sinta ke sini lagi kalau udah mandi."
"Padahal gak bau apa-apa. Jangan langsung mandi ya Sinta, kamu masih keringetan itu."
"Iya Bu siap!" Sinta pun pergi, dan kedatangannya yang hanya sesaat itu membuat Brian melongo.
'Padahal dari tadi aku nungguin kamu loh Sinta.' Gumam Brian yang masih ingin berlama-lama dengan Sinta.
"Eh, Sinta sayang, itu gelasnya mau kamu bawa ke mana?" Ibu teringat bahwa Sinta masih memegang gelas bekas sirup tadi. Sedangkan Brian, ia sama sekali tidak sadar.
"Eh iya Bu, lupa. Hehe.." Dengan perasaan malu, Sinta yang hampir mendekati pintu itu akhirnya putar balik dan langsung menyimpan gelasnya di atas bak cuci piring.
'Duhh.. Sinta gemesin deh!' Gumam Ibu memandang Sinta seperti seorang anak kecil.
Sedangkan di sisi lain:
Tak sabar menantikan tibanya waktu berangkat, Yuna yang memiliki kepandaian dalam membuat kerajinan tangan sekarang tengah menyelesaikan tas selempang rajut buatannya.
Benang rayon berwarna pink muda digabungkan dengan warna coklat tua sangat terlihat manis dan cocok dipakai oleh Yuna. Ia ingin segera memakai tas barunya itu hari ini juga.
Sekarang sudah pukul 5, pukul setengah 6 nanti mereka sudah sepakat untuk langsung bertemu di dalam mall. Belum sampai pada waktunya, Yuna sudah berangkat sendirian. Sembari menunggu mobil sampai ke tempat tujuan, ia memainkan ponselnya dan sedang berbalas pesan dengan Sasa.
"Sasa, kau sudah berangkat?" Yuna yang sudah bertukar kontak itu mengiriminya pesan.
"Ya, sebentar lagi aku berangkat." Balas Sasa.
Yuna memastikan teman-temannya sudah sepakat untuk ikut. Ia juga mengirim pesan kepada Sinta.
"Kak Sinta, apa kalian sudah berangkat?"
__ADS_1
"Kita masih di perjalanan. Tenang saja Yuna, aku akan membantumu untuk mendapatkan dia!" Balas Sinta.
Yuna hanya tertawa kecil saat membacanya. Padahal Sinta yang masih berada dalam perjalanan itu sama sekali tidak menyukai genre film yang akan ditontonnya.
Sampai di dalam mall, Yuna menunggu seorang diri, ia duduk sambil mengamati setiap orang yang berlalu lalang. Sepertinya ia terlalu semangat dan datang yang paling awal.
"Oh! Wendy!" Yuna melihat Wendy sudah datang. Ia terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan yang lainnya.
"Hai, kau...?" Wendy mendekat dan agak enggan untuk berbicara.
"Aku Yuna, apa kau tidak datang bersama yang lainnya?"
'Oh, ya ampun. Apa dia sama sekali tidak mengingat namaku?'
Yuna merasa agak kecewa, tetapi ia berbicara kepada Wendy dengan sikap biasa saja.
"Oh, ya. Tidak, aku datang sendirian, yang lain mungkin sedang sibuk bersama pacarnya."
"Mmm.. memangnya Wita ke mana?"
"Ada, dia sedang sibuk dengan urusannya."
Mereka berdua duduk menunggu kedatangan yang lainnya. Dari rumah, Yuna sudah sangat merasa percaya diri. Ia memilih dress selutut agar terlihat lebih menawan. Yuna sangat jarang pergi ke luar memakai celana, tubuhnya yang pendek itu dirasa akan terlihat sangat pendek jika ia memakai celana.
Penampilannya sudah cantik, tetapi saat ini sepertinya Wendy sama sekali tidak meliriknya. Ia bahkan terlihat menjaga jarak saat sedang duduk bersamanya. Sesekali Yuna berpikir, apakah Wendy tidak menyukai wanita pendek?
Belasan menit berlalu tanpa adanya pembicaraan. Kali ini Yuna merasa canggung, ia tak berani membuka obrolan maupun sejenisnya. Demi menjalankan rencana yang matang, ia juga dibatasi agar tidak terlalu menunjukkan sikap ramahnya kepada Wendy.
"Yuna, kau sudah lama di sini?" Tiba-tiba Wendy bertanya dan langsung membuat Yuna terkejut.
"Kau kenapa?" Tanya Wendy ketika melihat Yuna tersentak.
"Ahaha, tidak, tidak, aku hanya sedang melamun saja. Mm.. yah, aku sudah lumayan lama di sini."
"Ohh.. kau juga sudah lama dekat dengan mereka?"
'Apa dia sudah merasakannya?!'
__ADS_1
Pertanyaan Wendy itu membuat Yuna khawatir bahwa Wendy sudah mengetahui dirinya sengaja sedang dijodoh-jodohkan. Jika saja itu benar, maka Yuna akan merasa sangat malu. Ia harus berlagak polos juga seperti orang yang tidak tahu apa-apa.