
"G-gak kenapa napa!"
Wajah Brian dan pemandu lagu itu kini saling bertatapan, sontak Brian langsung berbalik dan menunduk tegap berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Padahal percuma saja, ia tahu bahwa dirinya sudah tertangkap basah.
"Hmm? Yasudah.."
Wanita itu melenggang pergi melanjutkan langkahnya. Dengan posisi yang masih tegap Brian merasa tidak percaya, ia heran kenapa wanita itu terlihat tidak menghiraukannya? Tapi beberapa saat ia tersadar bahwa di masa yang terulang ini mereka belum saling mengenal.
"Hahhh..." Brian bernafas lega dan kembali bersikap normal.
"Yan lu kenapa?" Wendy merasa aneh melihat tingkah Brian.
"A-alergi tante-tante!" Jawab Brian asal.
Semua tidak mengerti dan masih menatap Brian sedari tadi. Namun tiba-tiba pandangan mereka teralihkan oleh suara Sinta yang baru saja kembali bersama Diah.
"Ayok!" Ucap Sinta mengajak pergi.
"Gimana? Banyak tisu kan?" Tanya Gilang langsung.
"La emang banyak, kenapa emang?" Jawab Diah, kebetulan ia dan Sinta mendapatkan toilet yang bersih.
"Tisunya kan ada dimana-mana!" Gilang tak ingin dielak.
Namun perkataan Gilang membuat semuanya semakin heran, pasalnya di setiap ruang toilet memang ada tisunya. Lalu memangnya kenapa?
"Yahh.. Cemen lu Bro, masa sama tisu aja takut?" Wendy menepuk pundak Gilang, ia berusaha untuk mengakhiri pembicaraan. Sesama lelaki, ia tahu apa yang dipikirkan Gilang.
"Bukan gitu, emang kalian gak liat banyak tisu bekas di lantai? Pasti itu bekas-" Akhirnya Gilang langsung to the point namun terpotong.
"Pu..lang." Diah menoyor kepala Gilang sebelum pembicaraan mengarah ke hal-hal negatif.
'Si Gilang mah pasti mikirnya yang aneh-aneh.' Batin Diah.
"Ya udah yuk pulang, si Brian juga kayaknya mabok Aqua." Ajak Wendy.
Terpaksa Gilang yang dipandang tolol itu ikut keluar, mereka berpisah dengan pasangannya masing-masing. Brian menaiki taksi, sedangkan Gilang dan Wendy pulang dengan motornya.
'Gak lagi, gak lagi, tempat orang gila emang!'
Gumam Gilang saat berkendara. Uangnya habis membayar sewa room berdua dan biaya parkir motor di sana seharga parkir pesawat jet.
"Lang, makan dulu yuk. Gue laper, dari tadi minum mulu gak ada makanannya." Ucap Diah saat di perjalanan.
__ADS_1
"Makan di rumah aja." Gilang sadar dompetnya kering.
"Eeeh, kalo gue masuk angin gimana? Ni perut isinya air doang."
"Emang gue peduli?"
"Ehh, elu kan yang ngajak gue, elu juga yang harus tanggung jawab. Kalo gue kenapa-napa ntar gue aduin sama orang tua gue loh." Ancam Diah.
"Gue yang bayar deh, itung-itung gantiin duit yang tadi." Lanjutnya malu-malu.
"Hm. Mau makan apa?" Tanya Gilang.
"Terserah lu."
Mendapat jawaban terserah kembali Gilang bergumam, 'Ni orang beneran cewek juga.'
Ia pikir orang tomboy seperti Diah tidak mempunyai sifat-sifat wanita. Tapi nyatanya Diah masihlah seorang wanita sejati. Tak lama Gilang pun segara berhenti di depan sebuah restoran cepat saji.
'Si Gilang kok ngajak gue ke sini? Gak nanya dulu gitu gue mau atau nggak?'
Diah yang baru saja turun menatap ke arah resto, ia tahu restoran ini hanya menyediakan ayam dan nasi. Karena sudah malam, ia tidak menginginkan makanan berat, tapi karena Gilang sudah masuk duluan, terpaksa ia ikut menyusul.
Diah pun duduk dan tak lama Gilang yang tengah memesan ikut duduk berhadapan dengannya. Dalam waktu yang singkat, pesanan pun diantar ke atas meja.
"Itu buat lu, gue lagi gak pengen." Gilang berbohong.
"Yah, lu mah gak asik, daripada gini mending tadi langsung balik aja."
Tadi menolak pulang karena ingin makan, tapi setelah diturutkan keinginannya malah meminta pulang.
'Pusing gue nanggepinnya.' batin Gilang kesal.
"Udah tuh makan." Titah Gilang.
"Lu mau gak?"
"Nggak."
"Tapi ini kan udah malem, gue gak makan nasi."
"Kenapa gak bilang dari tadi?"
"Ya elu maen pesen-pesen aja. Yaudah deh sekali ini gapapa."
__ADS_1
'Katanya terserah, tapi di kasih yang ada malah ngomel-ngomel.' gumam Gilang kembali.
Diah pun memakan makanan yang masih hangat itu. Begitu nikmat dicocol sambel, mana mungkin ada makhluk yang tidak ngiler ketika melihatnya.
"Lang, lu mau?" Tanya Diah namun Gilang terlihat sibuk memandang jalanan.
"Lang.." Panggil Diah lagi.
"Apa heuh? Lang lang, lang lang, lu kira gue bolang?"
"Hehe.. Nggak, gue gak enak aja makan sendirian."
"Udah cepet abisin."
Diah pun kembali menyantap makanannya tanpa banyak bicara. Setelah selesai ia hendak mengeluarkan uang, namun tindakannya terhentikan tatkala Gilang melenggang pergi ke tempat kasir.
"Lang kok elu yang bayar sih? Kan gue yang makan?" Diah mengejar Gilang yang sudah berada di luar.
"Udah gapapa, lu gue anterin pulang." Gilang menyalakan motornya.
Diah merasa tidak enak, tapi di sisi lain ia merasa senang karena Gilang sangat baik terhadapnya. Walau begitu, Diah sadar kalau Gilang itu hanya menganggapnya seorang teman.
***
Beberapa bulan lagi hari ulang tahun Sinta akan segera tiba, itulah alasannya Brian sedikit ngirit belakangan ini. Walau masih banyak waktu, tapi Brian ingin memberikan yang terbaik untuk Sinta di hari ulang tahunnya.
Semua berjalan semestinya dan keinginan Brian untuk memberi suatu hal yang spesial di hari ulang tahun pacarnya juga tercapai.
Tak lama setelah itu kelulusan pun tiba dan Brian sudah naik ke kelas 2. Sinta kala itu juga lulus dari SMA, Brian tentu sudah berbekal juga untuk hari ini, ia merangkai sendiri buket bunga dan buket berisikan 2 orang berpeci bahagia.
Brian begitu bersungguh-sungguh, ia merasa bersalah karena dulu Sinta adalah salah satu orang yang paling dibohongi olehnya. Karenanya Brian ingin membuat Sinta senang selagi kesempatan kedua ini muncul.
Sinta melanjutkan kuliahnya di pusat kota dengan pulang pergi menggunakan mobil pribadinya. Walaupun orang tuanya menyarankan untuk daftar di universitas ternama yang berada di kota lain, tapi ia tak mau jika harus pergi jauh dari pacarnya yang saat ini sudah terlihat sangat berubah.
Sementara itu, ujian semester 1 telah tiba, dan Gilang dipersulit karena belum membayar biaya ujian. Jangankan itu, bahkan biaya bangunan dan seragam yang sebelumnya juga masih tersendat pelunasannya. SPP di sekolah swasta ini juga cukup tinggi, jika ingin mengikuti ujian, SPP harus lunas dan biaya ujian juga harus dibayar.
Karena Gilang sudah menunggak SPP belakangan ini, biaya yang harus dikeluarkan jadi menumpuk. Tak heran selain terkenal dengan yayasan yang terbaik, sekolah ini juga terkenal dengan julukan yayasan serba bayar.
Gilang berpikir kedepannya, pasti akan lebih banyak biaya yang harus ia keluarkan. Sekolah ini banyak acara dan kegiatan, ia pikir lebih baik dirinya keluar saja dari sekolah ini. Menjadi lulusan SMK sampai kelas 2 tidak begitu buruk baginya, dan setidaknya ia punya beberapa pengalaman.
"Lu yakin? Emang abis ini lu mau ke mana?"
"Gak tau, palingan juga nyari kerja, tapi belum tau kerja di mana sih, ntar dipikir lagi."
__ADS_1
Gilang pamit kepada teman satu kelasnya, ia masih sekelas dengan teman-temannya yang dulu. Orang yang paling merasa kehilangan tentu adalah Diah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dan untuk mengucapkan ucapan perpisahan pun ia merasa gengsi.