
Keduanya berguling di ranjang bak pasangan yang romantis. Ada sedikit rasa becek-becek licin, ahhh.. Bukan di bagian bawah, tapi di telapak tangan yang saat ini tengah membekap Yuna.
Ingus kah? Mungkin Yuna sedang pilek. Ah bodo amat, Anang segera membenarkan posisinya, ia bangkit dan memangku Yuna dengan enteng seperti tengah membawa barang. Kemudian Anang duduk di lantai dengan posisi Yuna berada di hadapannya.
Yuna tidak bisa berkutik, ia sungguh dibuat telak oleh kekuatan seorang pria. Saat ini tubuhnya masih dilingkari oleh lengan Anang, bahkan ia dihimpit oleh kedua belah kaki Anang.
"Yuna, maaf sebelumnya..."
Perkataan Anang tergantung, ia menyadari sesuatu, cairan becek licin yang ia rasakan di telapaknya memanglah ingus, tapi ada cairan lain selain itu, lebih cair dan terus saja mengalir.
"Yuna maaf, apa aku terlalu kuat membekapmu? Atau.. Kamu mencium bau jengkol dari tanganku? Hmm.. Aku habis makan jengkol sih tadi."
"Eits, tapi kalau dilepaskan nanti kamu berteriak."
Anang mempererat bekapannya. Namun, sesaat kemudian Anang kembali menyadari sesuatu. Tubuh Yuna terisak-isak, padahal Anang tidak menutup jalan keluar masuknya udara.
Anang mengheningkan cipta selama beberapa saat, setelah diperhatikan, Yuna memang terisak dan seakan susah bernafas. Anang jadi khawatir, dilepasnya bekapannya itu kemudian ia memutar tubuh Yuna 180 derajat secara horizontal. Yuna sama sekali tidak berbicara, ia menangis dengan sorot mata ke bawah. Di wajahnya yang putih terdapat bekas merah yang mana ulah perbuatan Anang.
"Y-Yuna, maaf." Anang merasa sangat bersalah.
"Yuna tapi ada yang lebih penting dari bau jengkol itu. Kenapa kamu tega laporin Si Wendy ke penjara? Bukankah saat ini kalian masih pacaran? Wendy sendiri yang bilang kepadaku!"
Anang langsung kembali pada tujuan utamanya. Ia ingin tahu Yuna memiliki masalah apa sehingga tega menjebloskan Wendy dan membiarkannya begitu saja.
__ADS_1
Sebelumnya Anang sempat membesuk Wendy dan Wendy bilang ia dan Yuna sama sekali belum mengakhiri hubungan, selama ini keduanya baik-baik saja tanpa adanya suatu masalah. Bahkan saat awal diciduk, Wendy tidak tahu siapa yang melaporkannya.
Di sana Wendy juga mengakui kesalahannya kepada Anang, ia mengaku sebagian tuduhan yang mengarah kepadanya memanglah benar. Sungguh Anang tidak percaya, tapi Wendy bilang dirinya memang tidak sengaja.
Mungkin Yuna kecewa atau takut, sehingga ia membiarkan Wendy tanpa sepatah kata. Jelas Wendy merasa sangat berdosa, ia ingin meminta maaf kepada Yuna.
"Dia udah ngaku kalo dirinya emang salah, tapi dia juga gak sengaja ngelakuinnya!"
"Tolong Yuna, kalo misal kamu udah gak mau deket lagi sama Si Wendy, cukup putus aja. Gak usah ngirim Si Wendy ke akhirat, itu terlalu kejam! Selama ini, apa Si Wendy udah berbuat jahat sama kamu?"
Anang terus mendesak Yuna dengan perkataannya. Alih-alih menjawab, Yuna malah semakin kencang menangisnya.
"A-aku bingung!!"
Yuna menjambak kasar rambutnya sendiri, sebuah kertas yang sudah renyuk jatuh ke atas lantai. Anang kemudian mengambilnya, melihat potret Yuna dan Wendy sewaktu di mall.
"Yuna, kau masih mencintai Wendy kan? Kalau begitu ayo segera bebaskan dia, ini masih belum terlambat." Ucap Anang dengan nada memohon.
"Tidak bisa, aku terlanjur melakukannya. Hiks.. Hiks... Tapi, kenapa hatiku sakit? Aku tau, ini pasti rasa iba kepada sesama manusia." Yuna berbicara suatu hal yang sama sekali tidak Anang mengerti.
"Gak bisa gimana Yuna? Ayo, kita bebasin Si Wendy dari penjara! Kenapa kamu jadi gini? Aku pikir kamu tulus sama Si Wendy."
"Hiks.. Hiks.. Seharusnya kau tahu siapa yang menjadi korban, orang yang Wendy bunuh adalah saudara kakak ku sendiri."
__ADS_1
Perkataan Yuna membuat Anang sontak tercengang. Ingin sekali Anang tidak percaya, tapi keadaan Yuna jelas menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak bercanda.
Kilas balik.
Sebenarnya Sandi bukanlah kakak kandungnya Yuna, ia hanyalah bocah sebatang kara yang dipungut oleh ayahnya Yuna. Kejadian itu terjadi saat rumah yang Sandi tempati terbakar dan hanya menyisakan nyawa dirinya. Kedua orang tuanya meninggal, begitu juga adik perempuan nya.
Di sana ia tak bisa meminta bantuan sesiapa, rumah yang ditempati berada di dalam hutan. Yang ia punya hanya nomor telepon teman ayahnya, yang mana ia adalah ayahnya Yuna.
Singkat cerita ayahnya Yuna mengangkat Sandi menjadi anak. Saat itu ia masih berusia 13 tahun dan tak punya saudara dekat.
Hingga hari itu pun tiba, kala itu Sandi sudah berusia 21 tahun, sementara Yuna masih kelas 2 SMP. Sandi dan Yuna pergi mengunjungi rumah di dalam hutan. Rumah bekas kebakaran itu tengah dalam proses renovasi, mereka berkunjung saat para pekerjanya libur.
"Ena, kamu tunggu dulu di sini ya, abang mau jemput Wisnu dulu."
Sandi meninggalkan Yuna di dalam bangunan, ia berjalan keluar hutan untuk menjemput Wisnu di pinggir jalan. Wisnu adalah kerabat Sandi dari jauh, ia yang akan menempati rumah Sandi yang kini tengah direnovasi.
Sementara Sandi pergi, Yuna bermain dengan ponselnya. Sekian menit menunggu, Sandi belum juga kembali, Yuna menelpon Sandi namun Sandi sama sekali tidak menjawab. Yuna merasa takut karena ini kali pertama ia datang ke sini, ia pun menyusuri jalan setapak keluar hutan, mencoba untuk menyusul Sandi.
Di tengah hutan begini, Yuna menjadi parno, dirinya langsung menyalakan kamera dan berjalan sambil merekam suasana sekitar. Yuna sadar tidak bisa melihat makhluk halus, tapi ia percaya kamera bisa melihatnya.
Sampai Yuna berada di tepi jalan dan ia melihat sebuah motor mendekat ke arahnya. Orang yang berkendara itu adalah Sandi, tapi ia memakai motor siapa? Ia memakai motor yang bukan motor miliknya.
"Na cepet naik! Peluk abang erat-erat!"
__ADS_1
Sebelum Yuna hendak bertanya, Sandi menyuruh Yuna untuk segera naik. Wajahnya dipenuhi oleh kepanikan, dan Yuna dikejutkan oleh jemari Sandi yang sudah berlumur darah.
Yuna sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kini tengah terjadi. Samar-samar, Yuna melihat motor lain dari kejauhan, karena desakan dari kakaknya, Yuna segera naik ke atas motor.