
Hari Minggu Sinta mengajak Brian untuk pergi ke rumahnya. Ia bilang, di sana ia sibuk mengurus keponakannya dan tidak bisa pergi menemui Brian. Tapi Brian tidak mau, ia malu jika harus bertemu banyak orang. Sebelumnya Sinta berkata bahwa di rumahnya masih ada kerabatnya. Karena Sinta sudah merasa rindu, jadi ia meminta izin untuk membawa keponakannya itu bermain di rumah Brian.
"Sinta, itu kerabat kamu yang dari sini ya?" Tanya Ibu ketika sedang duduk bersama di kursi tamu.
"Iya Bu, di rumahku ramai banget, udah mau akhir tahun soalnya, jadi mereka pada dateng ke rumah."
Sudah dari hari jum'at kerabat Sinta menginap di rumahnya. Keponakannya itu laki-laki, meskipun ada Raffa di sana, tapi ia hanya ingin bermain dengan Sinta karena tertarik pada gawainya.
"Kakak, ponsel! Mau main game!" Selalu begitu permintaan keponakannya.
"Hahh.. padahal aku hanya iseng menunjukkannya, tapi sekarang ia malah ketagihan."
Hari sebelumnya, Sinta mencoba memainkan game di ponselnya. Ia menunjukkan permainannya kepada ponakannya. Tapi setelah itu, ponakannya ingin terus melihat Sinta memainkan game nya lagi.
"Game apa emang?" Tanya Brian.
"Kakak! Main game!"
"Mm.. itu, futsal." Ucap Sinta.
"Kamu suka futsal?" Brian tidak mengira.
"Nggak hehe, aku penasaran aja, soalnya kamu kan sekarang udah jadi pemain futsal. Jadi aku harus tau gimana pertandingannya."
Sinta memainkan game itu agar ia mengerti bagaimana laju permainan futsal. Ia sudah berniat untuk menonton permainan Brian dan ingin sekali ikut melihat latihan futsalnya.
'Hmm.. Sinta sampe segitunya. Tapi gue masih malu kalo Sinta ngeliat langsung.'
"Kakak! Main game!"
"Hahh... kemarin malam sangat kacau Sinta, tapi aku senang karena mereka terlihat ramah." Brian menghela nafasnya.
"Kakak! Main game..." Sedari tadi ponakannya Sinta berteriak dan hanya diabaikan. Sekarang, baru mereka acuh saat mata anak itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Ah iya, iya sebentar. Jangan nangis, ini Kakak mau main." Sinta mengeluarkan ponselnya dan langsung membuka aplikasi game nya. Keponakannya itu tidak bermain langsung, tapi ia hanya asyik menonton Sinta yang sedang memainkannya.
"Hahh... aku sudah bosan setiap waktu memainkan game ini terus." Sinta mengeluh dengan gawainya.
"Hey, kamu suruh Kak Brian yang mainin game nya ya. Soalnya Kakak udah gak bisa. Kamu suruh Kak Brian menangin game ini." Bisik Sinta kepada ponakannya.
"Hm! Kakak, menangin game ini!" Anak itu memberikan ponsel Sinta kepada Brian.
"Ah, iya." Brian pun mengambilnya dan memainkannya.
Lama bermain game, bahkan ada sampai 30 menit tetapi anak itu tetap melihat dengan mata segar dan tidak terlihat bosan sama sekali. Pantas saja Sinta mengeluh seperti tadi.
"Hahaha... Brian, kau juga harus merasakannya." Sinta menertawakan Brian, tetapi Brian tidak merasa bosan. Justru ia tertarik karena sedang ingin menggeluti dunia futsal. Walau hanya kacang.
__ADS_1
"Kakak, aku mau pipis." Di tengah permainan, ponakan Sinta beranjak mendekati Sinta.
"Brian, antar dia dong." Sinta sedang sangat malas.
"Iya akan ku antar, ayok."
Brian membawa anak laki-laki itu ke dalam toilet dan membiarkannya masuk sambil mengawasinya dari lawang pintu. Tapi anak itu malah berbalik, ia berkata tidak bisa naik.
"Oh? Kau mau pipis di kloset?" Brian pun membantu anak itu untuk buang air kecil ke dalam kloset. Ternyata anak itu sudah dibiasakan oleh orang tuanya.
"Wah, belalai kamu namanya siapa?" Ucap Brian saat melihat barang milik keponakannya Sinta itu.
"Hah?"
"Ah, tidak, tidak, lupakan saja."
'Kenapa juga aku harus menanyakan hal itu?'
Brian selalu penasaran dengan nama barang milik orang lain. Sama seperti dulu saat teman-temannya mengintrogasi barang miliknya. Karena mereka satu tongkrongan, jadi mereka memiliki bagian sifat yang sama.
Mereka pun kembali dan melihat Sinta yang sedang mengangut. Padahal masih pagi, tapi ia sudah terlihat ngantuk.
"Kakak, tadi Kak Brian bilang di toilet ada belalai, memang ada ya Kak?" Anak itu langsung bertanya kepada Sinta.
"Hah?" Sinta merasa keheranan.
"Belalai apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Sebenarnya Sinta mengerti, tetapi ia pura-pura tidak mengerti.
"Mmm..." Brian melihat-lihat ke sekitar dengan waspada. Tidak ada Ibu di sana, mungkin Ibu masih berada di dalam kamar.
"Belalai itu anu nya dia." Ucap Brian berbisik. Sontak hal itu langsung membuat Sinta merinding. Sekilas ia membayangkan barang milik Brian yang belum pernah ia lihat.
"Hii.. jangan berbuat cabul kepada ponakanku Brian!" Sinta bergurau memojokkan Brian.
"T-tidak, aku hanya bertanya siapa nama belalainya."
"Oh, dia sudah mau tidur." Sinta melihat ponakannya itu mengangut dan terlelap dengan bantalan paha Brian. Ia heran kenapa anak kecil cepat sekali tidurnya, tapi ia ingin membahas persoalan tadi untuk memancing-mancing Brian.
"Memang benda itu harus mempunyai nama ya? Kalau punyamu siapa namanya?" Lanjut Sinta.
"Mmm.. haha, sudahlah Sinta, jangan ngomongin dia, soalnya dia sensitif."
"Mmm.. haha..." Sinta menyeringai merasa semakin tertarik.
"Sinta lebih baik kau ambilkan kasur lantai di ruang sebelah. Kasihan dia jika harus tertidur di atas kursi." Brian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya, ya, baiklah." Sinta berlalu memasuki ruangan lain, ia kembali dengan membawa kasur lantai berbahan bulu.
__ADS_1
"Di sini?"
"Emm yah, dimana saja. Tapi bantalnya, biar aku ambil dulu di kamar."
"Tidak usah, kasur saja sudah cukup."
Brian pun bangkit dan mengangkat ponakan Sinta menuju ke kasur lantai yang dihamparkan di antara kursi tamu dan kursi keluarga.
"Rasanya seperti memiliki seorang anak ya. Apa kita sudah terlihat cocok?" Tanya Sinta sambil memandang ponakannya yang sedang tertidur itu.
"Ahh.. itu masih lama Sinta. Dan aku tidak yakin kalau nanti kita masih tetap bersama."
"Hmm.. Brian! Memangnya kau tidak ingin menikah denganku?!" Sinta memaknai ucapan Brian itu bahwa Brian tidak berniat menjalin hubungan serius dengannya.
"Menikah? Kalian mau menikah?" Tiba-tiba Ibu muncul di depan pintu kamarnya. Ia sudah mendengar teriakannya Sinta tadi.
"Ehehe.. nanti Bu." Ucap Sinta malu.
"Ohh.. Ibu dukung kalian kok. Tapi sekarang, kalian harus fokus dulu belajar biar bisa hidup sukses."
"Hehe.. Iya Bu. Ibu mau ke mana?" Sinta melihat Ibu sudah berganti pakaian yang bagus.
"Ibu mau ke pasar, sekarang kan hari minggu. Tadinya sih mau ngajak Brian buat bawain barang belanjaan. Tapi ya udah deh, kamu di rumah aja temenin Sinta."
"Kalo gitu Bu, aku mau nitip." Ucap Brian.
"Nitip apa?"
"Beli PS ya Bu, biar gak bosen kalo di rumah."
"Hmm.. iya. Ya udah Ibu berangkat." Ibu pun berlalu meninggalkan mereka.
'Hehe.. di rumah hanya ada aku dan Brian!' Sinta tengah berpikir jahat.
"Kalau Ibu sudah beli, nanti kita main PS satu lawan satu." Ucap Brian menantang Sinta.
"Mumpung anak kita sedang tidur, ayo kita bermesraan dulu." Sinta mengabaikan perkataan Brian tadi. Ia langsung mendekati Brian dengan satu serangan.
"S-sinta, jangan lakukan itu." Jantung Brian langsung dag dig dug, padahal ia baru berhasil menahan nafsunya selama beberapa hari, tapi Sinta sudah mau menggodanya lagi.
"Sinta, kita tidak boleh terlalu sering berdekatan seperti ini, aku takut kalau nanti akan terjadi hal yang tidak diinginkan." Brian berpikir sampai pada suatu benda ditancapkan ke dalam lubang.
"Hahhh.. tapi aku sangat rindu kepadamu," Sinta berbicara dengan nada memelas. Ia selalu merasa sangat nafsu saat dirinya tengah datang bulan.
"Ayolah, lagi pula aku sedang menstruasi, mana mungkin kau akan berani melakukan hal itu." Ucap Sinta memohon. Ia mengelus lebut pipi Brian sambil duduk berhadapan di atas pahanya.
"E-emmm.. ya," Brian pikir tidak apa. Ia juga merasa gejolak nafsunya semakin keluar. Selagi tidak ada orang di rumah, ia tidak ingin menghilangkan kesempatannya ini.
__ADS_1
Awokawok.. dilanjut next chapter buat adegan detailnya :v