Kosong

Kosong
Ngomongin Orang


__ADS_3

Pagi hari, Brian kembali dibangunkan dengan suara dering telponnya. Rasanya baru sebentar ia tidur, tapi malah sudah dibangunkan. Ah, apakah itu Wendy lagi? Mengganggu saja!


Brian pun meraih ponselnya yang ia simpan di dekat lampu tidurnya. Sedikit ia menoleh ke arah tirai jendela dan melihat remang-remang cahaya.


Oh ****! Sudah siang, tetapi Brian baru saja bangun. Sekarang sudah hampir pukul 7, dan siapa yang menelpon saat jam sibuk seperti ini?


"Yuna."


Telpon itu datangnya dari Yuna. Segera Brian mengangkatnya dengan mata yang sudah terbuka lebar.


"Brian! Bagaimana kalau Wendy membenciku?! Memang dia bicara apa saja kepadamu?" Yuna terdengar panik.


"Ah, aku juga tidak tahu." Jawab Brian santai.


"Lalu aku bagaimana?! Wendy pasti tidak ingin dekat denganku lagi. Aku harus bagaimana Brian? Aku malu.." Desak Yuna.


"Hahh Yuna, aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Wendy kepadamu. Tapi, ya.. mungkin aku akan coba menanyakannya langsung."


"Klek," pintu terbuka.


"Brian, kamu lagi ngapain? Ini udah siang loh, kamu liat ini udah mau jam berapa?" Ibu datang ke kamar Brian.


"Kamu lagi telponan sama siapa?" Tanya Ibu.


"Mm ini Bu, temen. Udah dulu ya Yuna, aku baru aja bangun mau siap-siap dulu." Ucap Brian pada telpon.


"Umh.. ya."


Telpon pun dimatikan.


"Bukannya sekolah kamu malah telpon-telponan. Sama siapa lagi? Yuna? Jangan-jangan kamu selingkuhin Sinta lagi ya Brian? Nanti kalo Sinta nangis lagi bagaimana?" Omel Ibu di depan pintu.


"Itu cuma temen Bu, Sinta juga udah tau."


"Hmpph! Yaudah cepet kamu siap-siap, udah kesiangan loh ini."


"Hari ini kan bebas Bu, lagian di sekolah udah gak belajar. Ibu jangan perlakuin aku kayak anak kecil deh."


Brian pun bangkit dan langsung menuju kamar mandinya. Ia sedikit malas datang siang karena biasanya para murid sudah berkumpul di sekolahan. Apalagi hari ini bebas, pasti mereka sedang berkeliaran di luar kelas.


Usai menghabiskan sarapannya, Brian pun berangkat. Di perjalanan ia merasa agak khawatir. Bukan hanya Yuna yang takut dibenci, ia takut kalau Wendy saat ini tengah membencinya juga.

__ADS_1


Sampai di sekolah ia tidak berjalan menuju kelas. Ia berjalan menyusuri lapang belakang sekolah dan menuju WC tempat ia biasa nongkrong sebelumnya.


'Pada kemana sih? Bikin pusing aja.'


Di sana Brian tidak menemukan kawan-kawannya. Lalu ia berjalan ke kantin, melihat sekilas ruangan kelasnya dari jendela. Dan di sana pun ia tidak menemukan teman-temannya.


Karena sudah mentok ke kantin, Brian pun membeli satu buah minuman gelas. Kedatangannya di sana malah membuat bibi kantin merasa emosi. Bukan apa, pagi-pagi gini masih sepi yang beli, Brian malah mengeluarkan uang 100 ribu untuk membeli minuman yang harganya hanya 1000 rupiah saja.


"Gak ada uang pas Bi, tadi udah aku kasih sama taksi langganan." Ucap Brian berterus terang.


"Ya mau gimana ya Dek, nanti ambil aja kembaliannya ke sini ya. Itu juga kalo ada, kalo gak ada nanti besok ke sini lagi aja Dek." Bibi kantin membuat kesepakatan.


"Hmm.. kalo gitu saya tukerin dulu uangnya ke pedagang lain." Ucap Brian.


"Pedagang di sini juga palingan sama, gak ada uang receh."


"Kalo gitu saya ke toko yang ada di luar dulu Bi buat nukerin uangnya."


"Nanti aja Dek."


Bibi kantin tidak mau menyerahkan uang 100 ribu Brian, ia takut Brian akan menghilang dan tidak membayarnya. Dan Brian juga tak ingin meninggalkan uangnya, ia takut tak sempat dan malas untuk mengambilnya.


Berdebat dengan bibi pedagang minuman itu, tiba-tiba perhatian Brian teralihkan. Matanya tertarik pada sebuah pemandangan indah yang tengah duduk di sudut bangku yang panjang.


'Ciptaan tuhan mana yang kau dusatakan?'


Seketika Brian terpesona melihatnya, rasanya ia tak ingin membiarkan wanita itu lepas. Namun ia sadar dan tersentak saat mendengar seseorang membukakan kunci pintu yang berada tepat di sampingnya.


Itu adalah ibu koperasi, ya, kantin itu menempel dekat dengan koperasi. Ada 2 kantin di sekolah itu, yang satu di dekat koperasi, dan yang satu ada di dekat lapang belakang.


"Bu, ada uang receh gak? Saya mau tukerin, 100 ribu." Brian yakin ibu itu memegang banyak uang receh, karena para murid juga suka menabung di koperasi.


"Belum ada, nanti siangan paling." Ucap Ibu koperasi.


Sayangnya harapan itu hilang sudah. Karena merasa tak nyaman tinggal disitu, Brian pun akhirnya beranjak pergi. Tapi awas, pedagang minuman itu akan terus ia tandai.


Wanita yang sedang duduk tadi juga masih ada di ujung sana. Brian merasa penasaran dan masih ingin berlama-lama. Tapi, di sana memang jarang ada laki-laki yang berkeliaran, Brian pun meninggalkannya, toh nanti ia akan menemukannya lagi.


Lanjut Brian mencari keberadaan teman-temannya. Ia berkeliling sendirian dan sampai di belakang perpustakaan, akhirnya ia menemukannya juga.


"Tumben siang Bro." Ucap Anang menyadari kedatangan Brian. Terlihat ada Wendy juga di sana, ia bisa bebas masuk karena pihak sekolah sedang tidak terlalu memperhatikan.

__ADS_1


"Hooh, dari tadi gue nyariin kalian eh ternyata ada di sini. Padahal sebelumnya juga gue lewat ke depan." Ucap Brian lalu ikut duduk bersama mereka.


"Bosen di WC mulu. Mending di sini enak, liat-liat sawah." Sahut Anang.


"Ada emak si Gilang ya?" Tanya Brian.


"Mana ada, emak gue gak pernah tuh ke sawah. Beras aja beli." Elak Gilang.


Halaman belakang perpustakaan itu memang menyajikan pemandangan sawah yang luas dan hijau. Ada sungai juga di bawah bentengnya, enak dipandang namun tidak ada tempat duduk yang disediakan.


"Yan, sorry ya soal yang semalem, gue udah nuduh lu yang nggak-nggak." Ucap Wendy terlihat masih sendu.


"Santai aja. Cuma lu ngeganggu gue lagi tidur."


"Ada apaan emang?" Anang dan Gilang kepo, Brian hanya diam karena takut Wendy tidak ingin menceritakannya.


"Itu, gue pikir si Brian lagi ngedeketin gue sama si Yuna. Tapi ternyata nggak." Wendy mengatakannya sendiri. Seketika keduanya langsung terkejut, namun berusaha untuk menyembunyikannya.


"Ahaha.. emangnya si Brian bapak lu? Maen ngejodoh-jodohin aja." Ucap Gilang tanpa pikir panjang.


"Bapak gue udah gak ada." Sahut Wendy datar.


"Eh, sorry sorry, keceplosan." Gilang merasa tidak enak.


"Gue heran aja sih, kenapa elu sampe se akrab gitu sama cewek yang tepos."


Cewek yang tepos..


Cewek yang tepos..


Wendy mengatakan pandangannya terhadap Yuna terang-terangan. Memang sih, kalau dilihat dari body Yuna itu tidak begitu menarik. Wendy tahu bahwa Brian itu hanya ingin memuaskan nafsu, jadi ia heran kenapa Brian mau-maunya dekat dengan Yuna.


"Ya kali aja ada manfaatnya. Haha.." ucap Brian seperti menindas.


"Serah lu dah..."


"Wen, kemaren gue nanya gimana cerita lu waktu beduaan sama si Yuna, lu kok malah jawab gak jelas? Cepetan cerita, gue pengen tau. Haha.." Pinta Anang masih berusaha menanyakannya.


"Ya gitu aja, gak ada yang aneh. Cuma si Yuna bilang kalo dia tu takut sama gue. Apaan coba? Orang gue gak ngapa-ngapain dia. Terus anehnya lagi abis itu dia mau gue anterin pulang ke rumahnya. Gimana menurut lu pada?"


"Dia udah pasrah kali Wen, cuma elu nya aja yang gak peka haha.."

__ADS_1


"Bukan tipe gue, lagian gue gak mau ngurusin cewek lain selain si Wita."


Terus terang saja keempat pria itu memang menyukai body yang montok. Kalau tidak montok, ya.. setidaknya yang enak buat dipegang-pegang. Jadi wajar saja pacar mereka itu memiliki buah-buahan yang lumayan juga.


__ADS_2