Kosong

Kosong
Saksen


__ADS_3

Ayahnya Sinta memang bukan keturunan asli penduduk Australia. Di sana, hampir sepenuhnya masyarakat didominasi dan memiliki kebudayaan berciri khas Eropa. Sinta sangat mewarisi gen terkait dari ayahnya. Itu sebabnya Sinta memiliki ciri fisik ras kaukasoid.


Anang dan Gilang tentunya sangat penasaran dengan Sinta si wanita bule. Jarang-jarang kan mereka melihat wanita bening seperti itu di Indonesia.


"Bro, itu beneran pacar lu? Dapet bule dari mana njirr?" Anang yang duduk berhadapan dengan Brian langsung mendekat dan berbisik.


"Tuh," Brian menoleh ke arah jendela menunjukkan rumah Sinta yang berada tepat di samping rumahnya.


Sinta yang duduk di kursi satu orang merasa malu, ia tahu bahwa dirinya sedang dibicarakan.


'Buset, kayak judul lagu aja!' gumam Anang mengingat lagu pacar 5 langkah.


"Sssst! Diem, lu kan udah punya cewek," bisik Gilang kepada Anang.


"Ah, kak, biar aku yang duduk di sana." Yuna menyadari bahwa dirinya salah posisi. Sinta adalah pacarnya Brian, jadi ia lebih pantas duduk di samping Brian.


"Padahal tidak apa-apa," ucap Sinta lalu bangkit dari duduknya.


"Yuna, kau tidak boleh duduk di situ, bertukarlah dengan Gilang, dia adalah ketua rapat." Ucap Brian.


Sebenarnya Brian mencoba untuk membuat Yuna semakin akrab dengan yang lainnya. Jika ia duduk sendirian, maka akan sangat sulit bagi dirinya yang pendiam.


"B-baik," meskipun alasannya konyol, Yuna tetap bertukar posisi dengan Gilang dan duduk di sebelah Anang.


Demi melancarkan acara tanpa rasa canggung, ragu, dan simpang siur, dengan bangga Brian memperkenalkan Sinta si wanita bule sebagai pacarnya.


Di atas dua buah sofa panjang dan satu buah sofa pendek yang ditata menyerupai leter U, sebuah rapat yang dipimpin oleh Bapak Gilang akan segera dimulai.


"Pak Brian, silahkan." Ucap Pak Gilang mempersilahkan Pak Brian yang membuka acara.


"Apaan sih kayak anak kecil aja main kayak gituan." Ucap Anang.


"Emang lu pernah ngeliat anak kecil yang ngadain rapat?"


"Nggak sih,"


"Sinta, sebelumnya kamu udah pernah bilang mau bantuin Yuna biar deket sama Wendy kan?" Brian langsung memulai pembicaraan dan melupakan rapat bodong itu.

__ADS_1


"Ya, aku akan membantunya." jawab Sinta.


"Jadi, Gilang minta aku buat ngadain pesta anniv hubungan kita. Biar Yuna sama Wendy bisa ketemu, soalnya Wendy kan udah dikeluarin dari sekolah. Jadi kita susah buat ngedeketinnya." Brian merasa keberatan dengan rencana yang diusulkan oleh bang joki. Tapi, jika ini demi sahabatnya, Wendy, ia harus melakukannya.


"Tapi kan... anniv kita masih lama." Sinta merasa heran.


Sinta memang sudah tahu kalau Wendy dikeluarkan dari sekolah, karena sebelumnya Brian sudah pernah bercerita penyebab ia babak belur waktu itu.


(Ke pacar cerita, giliran ke emak sendiri kagak. Emang pacar itu siapa nya lu sih? Yang idup bareng lu sejak kecil yak? Kok kayaknya lebih penting.) Kesel deh othor >:(


Brian tak tahu kapan tepatnya mereka resmi berpacaran. Yang ia ketahui saat itu jelas dirinya kelas 2 SMP dan Sinta kelas 1 SMA.


"Kita pura-pura aja, aku juga ngerasa gak enak sih. Tapi yang bakalan dateng cuma dikit kok, mungkin sekitar 7 orang, gak lebih dari 10."


Brian berniat mengundang Anang, Gilang dengan masing-masing pacarnya. Yuna sebagai tokoh utama wanita, Wendy sebagai tokoh utama pria, kalo pacarnya si Wendy mah kagak diundang, dan yang terakhir, Mitha. Agar Wendy tidak mengira kalau dirinya sedang dicomblangin.


"Boleh aja kok," ucap Sinta santai, padahal dalam hati ia ingin berkata 'mau!' dengan heboh.


Brian pikir Sinta akan menolak, karena Brian rasa mengadakan acara seperti itu adalah hal yang memalukan. Tapi yang Sinta rasakan justru sebaliknya, ia merasa senang mengadakan pesta anniv meskipun bukan pada waktunya.


"Pasang baliho bro! Biar keren," celetuk Anang.


"Boleh," ucap Sinta.


'Hah?! Kayak calon bupati aja pake gituan!'


"Gak usah, itu terlalu berlebihan, lagi pula yang datang cuma alakadarnya." Brian rasa itu sungguh tidak keren.


"Hmm... tapi kayaknya kalo siang aku gak bisa, Aku lagi sibuk belajar buat UAS. Kalo aja wali kelas aku gak galak." Meskipun hanya UAS, tapi wakel Sinta sangat menekankan anak muridnya untuk mengerjakan berbagai macam soal yang sudah dibagikan.


"Gak papa, kita emang bakal adain acaranya malam hari. Ntar si Brian bakalan minta kita buat nginep di rumahnya. Ya... alesannya sih simpel aja, karena si Brian pengen tidur bareng kamu. Jadi, kamu sama Brian juga dapet untung kan?" Gilang merancangnya sebisa mungkin agar Wendy tidak curiga.


'Untung apaan? Paling yang tidur bareng aku itu kalian.' gumam Brian.


"Yey! Aku setuju kalo kayak gitu!" Sinta tak tahan bersikap pendiam, ia merasa sangat senang dan langsung mengeluarkan sifat aslinya yang heboh.


Padahal, kedua orang tua dan adiknya adalah orang yang santai. Tapi anak yang satu ini sangat berbeda. Orang-orang di sana juga tidak heran, jika Sinta bersikap seperti itu maka itu bagus. Mereka ingin saling akrab satu sama lain. Tapi, Yuna sebagai pemeran utama tidak banyak omong meskipun sudah ditempatkan pada posisi yang strategis.

__ADS_1


Setelah membicarakan inti rencananya, mereka mengatur waktu kapan rencananya akan dilaksanakan. Tentu secepatnya, karena Yuna ingin cepat digaskeun.


Tidak perlu basa-basi lagi, mereka pun pulang diantarkan oleh sopir taksi. Sedangkan Sinta tetap tinggal di dalam kamar Brian. Raut wajahnya seketika berubah masam.


Brian mengabaikannya, ia ingin berbaring di atas kasur sambil memainkan gawainya. Tapi ia tak mau, karena bisa saja Sinta akan ikut tidur dan berbuat macam-macam.


"Sinta, aku mandi dulu ya," Brian berlalu ke kamar mandi tanpa mendengar jawaban dari Sinta.


Sekitar 5 menit, Brian selesai membersihkan dirinya. Segar, sekarang ia tinggal makan.


"Brian," Sinta yang duduk di atas kasur Brian memanggil dengan nada yang dingin.


"Iya," jawab Brian.


"Kau mengabaikan pesanku," masih dingin.


"Ah, aku belum sempat membalasnya,"


Dalam pesan, Sinta mengajak Brian untuk mencoba olahraga rafting. Di sana mereka juga akan menginap, dan lokasinya sudah ditentukan oleh Sinta sendiri. Brian tertarik, tapi jika hanya berdua agaknya itu seperti sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.


"Apa kita akan pergi berdua?" Tanya Brian.


"Hmm... aku lihat di tv sih yang naik banyakan."


Rafting sendiri juga setidaknya harus ada 4 orang dalam satu kelompok.


"Emang kamu belum pernah?"


"Belum, aku baru lihat di tv, sepertinya seru."


'Hmmm... Sinta keinginannya selalu saja mendadak seperti itu.' Brian merasa aneh.


"Ah! Bagaimana kalau kita ajak Yuna dan Wendy! Sekalian kita comblangin di sana. Ajak temen-temen kamu yang tadi juga, itu si... Gilang sama Anang kan?" Sinta terlihat sangat antusias.


Ide yang bagus, mereka akan tinggal beberapa hari di sana. Jika hal itu berhasil maka Wendy dan Yuna akan semakin dekat. Wendy selalu mudah diajak kemana-mana, dan Gilang, dia juga orang yang berada. Tapi Brian tidak yakin dengan Anang, keadaan ekonominya sedikit di bawah rata-rata.


"Ya, aku akan membicarakannya nanti pada mereka."

__ADS_1


__ADS_2