
'Kenapa mereka jadi seperti ini? Untung saja Gilang sudah melarangku untuk tidak meminumnya.'
Seblumnya Gilang sudah memberi tahu Sasa bahwa minuman itu adalah minuman keras, dan Sasa pun sudah menduga hal itu sedari awal.
Di saat ketiga wanita itu sudah tertidur, Sasa merasa cemas sendiri. Ia tidak menyangka bahwa efeknya akan langsung bekerja seperti ini. Ia heran, kenapa Gilang dan teman-temannya sering meminum minuman beralkohol.
Meski ia sudah tahu bahwa Gilang suka mabuk-mabukan, tapi ia tidak berani melarangnya. Lagipula ia percaya bahwa Gilang tidak akan melakukan hal buruk yang akan melampaui batas.
"Air..."
Beberapa lama setelah kamar terbebas dari adanya kaum pria, rintihan Yuna mulai terdengar. Sasa yang masih belum tidur itu langsung melihat dan mendengarkan racauan yang keluar dari mulut Yuna.
Yuna bilang, perutnya panas dan sakit, ia ingin segera meminum air. Sasa yang melihatnya merasa tidak tega jika hanya membiarkan Yuna. Ia ingin membawakannya air, tapi ia takut dikira tidak sopan karena bukan tuan rumah.
"Mereka sudah tidur belum ya?" Sasa keluar dari kamar dan hendak menuju kamar Brian.
"Tok.. tok.. tok.."
Sasa mengetuk pintu dan berharap mereka tidak mengalami hal yang sama seperti para wanita yang sedang tidur di kamar.
"Oh? Ada apa Sasa?" Brian membukakan pintu. Gilang yang mendengar pacarnya datang, langsung ikut menghampiri.
"Yuna, sepertinya dia mengigau. Aku kasihan melihatnya. Dia terus saja meminta air." Ucap Sasa khawatir.
"Oh, ya sudah biar aku ambilkan." Brian mengerti dan langsung pergi menuju lantai bawah.
"Sasa, kenapa kau belum tidur?" Tanya Gilang di depan pintu.
"Ah, aku hanya merasa cemas saja."
"A-a.. Gilang?!"
Tiba-tiba Sasa dikejutkan oleh pelukan yang datang dari arah depan. Gilang menempelkan kepalanya tepat di atas dua buah dada Sasa dan membuat Sasa merasa sedang dicabuli.
'Ahh.. empuk.' Gumam Gilang, ia memejamkan mata dan menikmati bantalan empuk itu.
"G-gilang, hentikan!" Sasa takut gilang sedang tidak sadar dan akan berbuat macam-macam kepadanya.
"Hmm?" Gilang melepas pelukannya.
"Jangan khawatir, aku tidak sedang mabuk kok. Lagipula meskipun aku mabuk berat, aku gak akan sedikitpun nyakitin kamu." Ucap Gilang dilanjutkan dengan mencubit pipi Sasa.
"Bacot! Mana mungkin lu bisa gitu, waktu itu juga lu malah keluar dari base camp terus cabut-cabutin rumput. Sinting lu? Hahaha..." terdengar sahutan dari dalam kamar Brian diikuti oleh suara tawa yang keras.
"Berisik!" Gilang merasa jengkel, dirinya sedang dipermalukan di depan wanitanya.
"Ini." Brian kembali dan membawakan segelas air putih.
__ADS_1
"Terimakasih, kalau begitu aku kembali." Sasa berlalu dan kembali menuju kamar.
Di kamar, Sasa mencoba membangunkan Yuna dan memberikannya segelas air putih. Air itu diteguknya tanpa tersisa satu tetespun. Kembali Sasa membantu Yuna untuk berbaring. Akhirnya ia bisa tidur dengan tenang tanpa ada rasa bersalah.
Sedangkan di kamar para pria, dua botol minuman itu sudah habis tak tersisa, lalu Wendy segera mengantongi botolnya agar tidak ketahuan oleh ibunya Brian.
Minuman itu sama sekali tidak membuat mereka merasakan apa-apa. Hanya dua botol, dan itu pun mereka bagi untuk beberapa orang termasuk Yuna dan Sinta.
"Harusnya gue bawa yang laen juga." Wendy merasa tidak puas. Ia hanya membawa 2 botol karena uang yang ia miliki pas. Tapi, 2 botol itu ternyata kurang untuk mereka berada di atas ambang kesadaran
"Alah, gak usah. Segini aja udah bagus lu yang bayarin." Ucap Brian si tuan rumah.
"Nobar pekob gay yok bro! Yang diri gak normal, dia kudu tidur di lantai." Usul Anang, mengetahui ponsel Brian sudah kembali menjadi android.
"Oke,"
Situs pekob kembali Brian buka. Dulu, mereka memang sering menonton bareng di ponselnya Brian. Tapi, karena Brian kehilangan ponsel androidnya dan menggantinya dengan yang bukan android, mereka tidak bisa menontonnya lagi. Situs pekob itu tidak mendukung ponsel kentang.
Agar mudah untuk melihat siapa yang sudah berdiri, mereka membuka celana luar dan dalam lalu menyisakan celana tengah. Itu mereka lakukan agar menjaga privasi barang miliknya.
Ketahuilah, mereka menggunakan 3 lapis celana. Diantaranya:
Yang paling luar, yaitu celana fashion.
Yang paling dalam, yaitu celana segi tiga.
Mereka menggunakan pengaman berlapis-lapis itu agar sahabatnya tetap aman dan tidak terbang.
Film pekob gay pun dimulai, dan mari kita mulai ceritanya.
Alkisah, ada seorang pria berbadan kekar dan memiliki pedang panjang. Namanya adalah Pendekar Phe, dia adalah seorang ahli pedang yang selalu menodongkan pedangnya ke setiap orang.
Sikapnya yang tak sopan dan kejam, membuat para penduduk takut dan pergi meninggalkan desa. Lama tak mendapat mangsa, membuat pedang panjangnya merasa sangat haus. Pendekar Phe pun keluar dari rumahnya dan hendak mencari mangsa di tempat yang sepi itu.
Di tengah jalan terlihat seseorang datang dan langsung bertanya kepada Pendekar Phe.
"Apa hajat tuan berkelana di sini sendirian? Apakah kita sama? Kebetulan aku sedang mencari seseorang." Ucap seorang pria berbadan kekar.
"Aku Pendekar Phe! Aku ingin seseorang yang bisa bertahan menghadapiku!"
Pendekar Phe langsung menyeret pria itu masuk ke dalam sebuah gubuk. Ia membuka dan memperlihatkan pedang keramatnya.
"Kau bilang kau itu Pendekar Phe? Aku memang benar-benar sedang mencarimu!"
__ADS_1
Ternyata orang yang ia cari adalah Pendekar Phe. Ia berniat menguji kemampuannya karena sangat tertarik dengan rumor-rumor yang telah beredar luas.
"Aku ingin menusukmu, tapi sebelumnya, bersihkan pedang tumpul ini dengan lidahmu." Pendekar Phe mengabaikan kata-kata pria itu dan langsung menodongkan pedang itu ke wajah sang pria.
"Ya!" Pria itu begitu bersemangat dan langsung patuh dengan perintahnya.
Dengan kasar, Pendekar Phe meraih kepala pria itu dan membuat ia berlutut di hadapannya. Pedang yang ditodongkan itu langsung saja ia jilat. Rasanya sedikit asin, pedang itu sudah berkarat dan lama tidak menikam seseorang.
"Ahhh.." Pendekar Phe yang melihat pedangnya sedang dijilati merasa senang dan menyeringai.
Setelah pedang itu bersih dijilati oleh sang pria, Pendekar Phe langsung menyuruh pria itu berbalik dan langsung saja ia menusuk-nusukkan pedang keramatnya.
Ia menusuk-nusuk pria itu dengan brutal. Menikam dan menikam, setelah ia puas ia pun menghunuskan pedangnya. Lubang bekas tusukan itu lekas ia jilati. Dan ternyata pria itu masih hidup meskipun telah ditusuk dengan brutalnya.
"Siapa nama kau?" Pendekar Phe merasa kagum melihat pria yang masih bertahan itu.
"Nama saya Cob tuan, tepatnya Pendekar Cob." Ucap pria itu langsung berdiri dan menunjukkan pedang miliknya. Ternyata ia adalah seorang pendekar pedang juga.
Tamat... dan pendekar PheCob pun hidup bahagia selamanya.
WARNING!
Saya tidak meminta maaf apabila cerita ini melenceng jauh. Hanya pembaca ber IQ tinggi lah yang dapat menafsirkannya.
Terimakasih.
"Dihh! Jijik anjir, masa badan berotot gitu sukanya sama sesama jenis." Ucap Anang merasa ingin muntah.
"Sekarang giliran orang itu yang nusuk." Ucap Wendy.
"Eh, lu Kenapa?" Brian melihat Gilang hanya terpaku seperti patung.
"Ng-nggak," Gilang menutup-nutupi barang miliknya.
"Wah, wah, wah, cepetan Bro, pelorotin aja dia kalo gak mau ngaku." Ucap Anang.
"Hah?! Jangan, jangan, yaudah iya, gue ngaku. Udah, gue tidur di lantai." Gilang tak ingin memperlihatkan barang miliknya. Dari kasur, ia langsung pindah ke bawah dan berbaring di atas karpet.
"Gak nyangka gue Lang, ternyata selama ini lu cuma ngejadiin Sasa sebagai tameng." Wendy menggelengkan kepalanya.
"Bukan! Kalian salah! Tadi gue cuma lagi ngebayangin Sasa!" Ucap Gilang jujur. Ia baru sadar dengan tindakan tak senonohnya kepada Sasa di depan pintu tadi.
"Ohh.. gitu Bro?" Ucap Brian sambil melihat ke arah Wendy dan Anang.
"Gue boleh tidur di sofa kan?" Tanya Gilang.
"Gak Bro, gue masih ngeri. 2 diantara kita bakalan tidur di sofa, 1 orang di ranjang dan elu yang di lantai." Ucap Brian.
__ADS_1
Mereka segera melakukan hompimpa dan pemenangnya akan dipersilahkan untuk berbaring di tempat yang paling mulia, yaitu ranjang.