
Siang hari yang teduh, Brian sudah rapih dan wangi menunggu kembali panggilan dari Sinta, kekasihnya. Kamarnya berantakan dan ia duduk di atas sofa panjang yang masih berada di sana.
Sebelumnya Ibu sudah berbicara bahwa tadi pagi dirinya selesai belanja ke mall ditemani oleh Sinta. Ibu juga sekalian membelanjai Sinta sebagai ucapan selamat atas hari jadinya dengan Brian.
Karena acara itu hanya bohongan, jadi Sinta dan Brian tidak saling mengharapkan hadiah atau ucapan apapun.
'Sinta mau ngapain ya ngajak gue ke rumahnya?'
Brian merasa gugup, berandal ini merasa malu menampakkan wujudnya di depan rumah kekasihnya. Tapi otaknya yang sudah tua mengharuskan dirinya untuk bersikap layaknya orang dewasa.
"Ekhem! Bu, perkenalkan nama saya Brian." Brian berdiri di depan cermin sambil mempraktekkan bagaimana caranya ia harus bertingkah.
"Ah, apaan sih? Emang ibunya Sinta belum tau nama gue?"
Memang, Brian tidak begitu akrab dengan ibunya Sinta. Jadi Brian merasa gugup karena baru pertama kali ia akan bertemu dengan orang tua Sinta di rumahnya.
"Mmm.. gini aja kali ya? Ibu gimana kabarnya? Sehat?" Brian mengulurkan tangannya di depan cermin seperti orang yang sedang bersalaman.
"Ahh! Kuno! Jelas-jelas ibunya Sinta suka keluar masuk rumah gitu aja."
Bingung harus berbicara apa, ia merasa belum siap dengan dirinya. Brian pun duduk di atas kasurnya dan pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
*tring!*
Terdengar sebuah notifikasi yang datang dari aplikasi chatnya. Brian segera membuka pesan itu dan yakin bahwa pesan itu datang dari Sinta.
"Hey junior! Besok malem kau ikut latih tanding di Buana Futsal oke. Kau tunggu saja infonya, sekarang aku akan masukkan nomormu ke klub futsal kita."
Bukan Sinta, ternyata itu pesan dari pemain futsal yang ia temui saat berada di lapangan. Rata-rata dari mereka adalah kalangan dari kelas 3 SMA, mereka tidak menyangka bahwa Brian masihlah seorang anak SMP.
"Hmm.. peralatan futsal aja gue belum punya." Keluh Brian lalu sebuah pesan grup tiba-tiba muncul.
"Aliens Futsal Club (AFC)" Nama grupnya yang terpampang jelas.
"Hah? Grup futsal alien? Emang muka gue kayak alien ya?" Brian langsung menyentuh-nyentuh wajahnya sambil bercermin.
"Nggak ah, tampan gini. Ini sih grup nya aja yang aneh."
__ADS_1
Brian melihat jumlah anggota pada grup itu. Lumayan, ada lebih dari 10 orang, tetapi sepertinya nomor pelatih tidak masuk ke dalam grup itu. Beberapa pesan lalu mulai bermunculan.
"Semuanya, nomor Brian sudah aku tambahkan. Ucapkan salam pada anggota baru kita!"
"Brian, besok hanya akan ada 5 pemain beserta lawan, dan kau akan dilatih menjadi tim inti. Kau ingin berada di posisi kiper atau apa?"
Pesan dari orang yang sebelumnya. Brian mendapat kesempatan untuk memilih. Yang jelas ia tak mau menjadi kiper, ia pikir kiper itu tidak banyak bergerak dan akan membuat waktu olahraganya sia-sia.
"Hai semuanya salam kenal."
"Mm... aku tidak terlalu tahu soal futsal, jika bisa jangan posisikan aku di bagian kiper."
Beda lawan beda bahasa, Brian harus berkata sopan agar bisa diterima baik oleh klub futsal itu. Sedangkan dengan ketiga sahabatnya, ia harus berbicara santai agar merasa lebih nyaman.
Permintaannya itu disetujui dan Brian mendapat posisi sebagai seorang flank. Soal jersey, Brian akan meminjam dahulu milik anggota lain. Soal sepatu, Brian harus beli sendiri, ia juga tak mungkin akan memakai sepatu biasa karena takut sepatunya akan rusak.
"Tok.. tok.. tok.."
"Brian, aku masuk."
Tiba-tiba saja Sinta datang tanpa menunggu jawaban yang keluar. Kedatangannya itu sontak membuat Brian melongo, "Hah? Sinta, bukankah kau bilang aku yang harus datang ke rumahmu?" Brian berjalan menuju sofa mewaspadai Sinta duduk di atas kasurnya.
"Hihh.. Sinta, kapan kau akan sadar?" Brian merasa ngeri, jika Sinta tetap saja agresif, maka dia juga akan sulit untuk mengelak.
"Sadar apa? Kau sadar tidak Brian? Aku tahu tadi pagi saat kau menelponku kau sedang bolos kan? Yuna sudah menceritakakannya kepadaku." Sinta menunjukkan wajah tak suka.
Sebelumnya, Sinta menelpon Yuna karena merasa ada yang aneh. Yuna pun langsung menjelaskannya panjang lebar mengenai kelakuan buruk Brian saat di sekolah. Tentunya terkecuali soal wanita, Yuna tak mau hubungan Sinta dan Brian menjadi rusak karenanya.
"I-iya, memangnya kenapa Sinta?" Brian merasa heran.
"Kenapa, kenapa, ya jelas itu kenapa sayangg... Pacarku ini harus baik dan rajin, bagaimana kalau nanti Ibu tidak mau merestuimu?"
'Mmm.. mungkin Sinta tidak begitu buruk, dia bisa membantuku untuk mengubah hidupku ini.'
"Jadi kau ingin..."
"A ku i ngin kau me nu ru ti ka ta-ka ta ku!" Ucap Sinta mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
"Mm, yah.." Brian merasa canggung.
"Pagi tadi kau juga bilang secara terang-terangan bahwa kau sudah sering menimun alkohol di belakangku."
Sebenarnya pagi tadi Sinta terkejut saat mendengarnya, tapi ia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Brian, apa kau sedang frustasi?" Sinta menjauhkan wajahnya dan seketika ia terlihat sedih.
"Ayo, remas tubuhku sesuka hatimu, aku tau seorang pria pasti membutuhkan ini. Aku tidak ingin membiarkan pikiranmu frustasi seperti itu." Nada suara Sinta berubah menjadi lemah lembut. Pandangannya yang melihat ke arah samping, membuat Brian merasa gemas. Tapi untung saja, sebuah meja menjaga jarak antara mereka.
"T-tidak Sinta! Bukan itu! Aku melakukan itu bukan karena frustasi. Mmm.. aku rasa aku melakukan itu hanya untuk bersenang-senang." Ucap Brian yang masih sadar.
"Kalau begitu, tinggalkan alkohol itu dan bersenang-senanglah denganku."
'Hahh.. Sinta pasti sedang memikirkan hal yang aneh-aneh.'
"Dengar Sinta, kita memang boleh berdekatan seperti ini. Tapi kita tidak boleh melewati batasnya." Brian yang sok alim itu memperingatkan.
"Hmm? Kenapa? Lagipula aku rela jika tubuhku ini dimiliki olehmu." Ucap Sinta membuat Brian terkejut.
'Ya ampun, Sinta... ternyata kau sama polosnya seperti mereka.'
"Aku tidak ingin membiarkanmu kotor terlebih dahulu sebelum datangnya hari pernikahan." Ucap Brian tegas.
"Hah? Anak SMP sepertimu bisa juga ya berlagak dewasa. Hahahaha..." Sinta melongo mendengarnya, ia tertawa lepas bermaksud mengejek Brian.
"Baiklah, baiklah, tapi kau ingat ini Brian. Aku tidak suka jika kau mabuk-mabukan lagi." Lanjut Sinta.
"Jadi aku harus berhenti?"
"Tentu saja, mabuk itu berbahaya dan lagi, bukankah peraturan di negara ini hanya memperbolehkan orang yang berusia 21 tahun untuk meminum alkohol?"
"Tapi Sinta, semalam kau juga meminum." Brian mencoba membalikkan fakta.
"Mmm yah, usiaku hampir 18 tahun. Di negaraku orang yang berusia 18 tahun sudah boleh meminum alkohol." Seperti orang yang tidak bersalah, Sinta mencoba untuk beralasan.
"Hmm.. kau kan sudah tinggal di Indonesia. Jadi seharusnya kau mengikuti peraturan negara ini."
__ADS_1
"Habisnya aku penasaran. Dan lagi cuacanya sangat dingin. Huekk, Rasanya tidak begitu enak. Tapi kalau kau sedang ingin minum, kau harus meminumnya bersamaku!" Ucap Sinta membuat Brian kebingungan.
'Sinta kenapa sih? Bukannya tadi dia ngelarang-larang? Tapi kok sekarang ngebolehin?'