
'Hah? Gue gak salah baca kan? Sinta apapaan bikin jaket kayak begitu? Apa ini kode dari Sinta?'
Brian melebarkan kedua bola matanya. Brodiran huruf berwarna biru muda itu masih terus ditatapnya. Desah Komunikasi Teknologi, Sinta memang mengambil jurusan terkait teknologi, tapi apa iya desah*n kini sudah menjadi hubungan suatu teknologi?
"Sinta, apa-apaan itu jaket kamu?" Brian pikir Sinta sengaja membuatnya sendiri. Ia yang sudah alim itu tak suka dengan apa yang Sinta kenakan.
"Hmh? Apwa?" Tanya Sinta heran sambil terus memasukkan tape ke dalam mulut.
Brian tidak menjawab, ia malah mendekatkan wajah mempertajam apa yang dilihatnya. Sinta lantas heran dan melirik ke arah bahunya sendiri.
"Eh, enggak, enggak! Lupakan!" Brian memundurkan kepalanya. Ternyata yang ia baca salah, yang tertera pada jaket Sinta adalah Desain Komunikasi Teknologi, entah karena tulisannya mepet jadi Brian keliru saat membacanya.
'Aduhh, ini otak gue kenapa? Ah nggak, nggak, gue lagi gak pengen dan mata gue masih sehat-sehat aja.'
Brian jadi seperti patung namun Sinta tidak memedulikannya, ia hanya sedikit tertawa lalu melanjutkan acara makannya. Sesekali ia mengernyit, merasakan rasa asam segar tape singkong di dalam lidah.
***
Di Kantor Imigrasi, tepat di luar musholla kecil.
"Sinta, kamu mau ikut atau tunggu di sini?" Brian selesai mengisi beberapa formulir, ia disuruh masuk ke ruangan untuk sesi selanjutnya.
"Aku di sini saja, di sini ada cermin."
Sinta senang menatap body dan wajah cantiknya. Di luar musholla itu ada toilet, dan sebuah cermin besar juga terpampang di hadapannya.
Brian melihat sekitar, masih banyak orang pulang pergi menuju musholla. Sinta pasti aman, ia pun berjalan ke ruangan setelah mewanti-wanti agar Sinta tidak pergi kemana-mana.
"Antrian D-064 dipersilahkan menuju foto 4."
Suara yang muncul di dalam ruangan, sedangkan nomor antrian Brian adalah D-075. Sudah hampir 15 menit Brian menunggu, namun gilirannya masihlah sangat jauh. Brian khawatir dengan Sinta, ia lantas pergi ke luar untuk menjemput Sinta.
"Sinta, kita tunggu di dalam ya, masih ngantri soalnya." Ajak Brian kepada Sinta.
"Aku tidak berkepentingan, memangnya boleh masuk?" Tanya Sinta.
"Ayok ikut aja, kali aja kamu penasaran sama yang ada di dalam, nyari-nyari pemandangan."
__ADS_1
Sinta pun menurut, ia masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi tunggu bersama Brian. Ruangannya ber AC dan nyaman, Sinta tak bosan karena ada Brian di sisinya.
Hingga akhirnya giliran Brian telah selesai, namun paspor belum ia dapatkan, masih ada tugas tambahan yang baru ia dapatkan. Tepat di area parkiran, seorang bapak-bapak gendut berseragam biru menghentikan pergerakan keduanya.
"Mau ke mana?" Tanya Bapak itu mendekati Brian yang hendak memutar balikkan motor.
"Mau pulang Pak." Jawab Brian.
"Bukan itu, kamu bikin paspor? Mau ke mana?"
"Ohh.. Iya Pak, mau ke Korea Pak."
Dengan tangan yang menempelkan telepon genggam di telinga, bapak itu berbicara pada sambungan lain. Tapi, kepalanya tak henti menelisik penampilan Brian dan Sinta.
"Mau apa kamu ke Korea?" Tanya bapak itu lagi.
"Ayah saya kerja di sana Pak, sekalian saya mau kuliah di sana." Jawab Brian.
"Ohh, udah bikin paspornya?"
"Baru ngisi formulir Pak, paspornya belum bisa diambil, nanti disuruh ke sini lagi minggu depan."
"Terus ini, siapanya kamu?" Ia menunjuk ke arah Sinta.
"Ini pacar saya Pak."
Brian menjawab terang-terangan. Mendengar perkataan Brian, Bapak itu melunglaikan badan layaknya seorang yang kegatelan.
"Em, Cie.. Cie.. Pacaran nih ye.. Huitwiww..." Dengan wajah yang menjijikan, bapak itu mesem-mesem sambil melenggang pergi.
'Orang aneh!'
Brian pun menyerahkan helm kepada Sinta dan lanjut menyalakan motor yang sedari tadi sudah ditumpanginya.
"Brian, tadi waktu aku di luar bapak itu juga nanya-nanya ke aku. Dia nanya aku orang mana, dateng ke sini sama siapa." Tutur Sinta di atas motor.
"Sok kenal banget sih bapak itu!" Brian sedikit kesal, ia merasa pacarnya telah digodai.
__ADS_1
Hari terlanjur petang, dan mereka tak mampir dulu ke mana-mana. Jauh sebelum membuat paspor, Brian sudah bicara baik-baik kepada Sinta, ia terikat janji untuk ikut menetap di luar negeri bersama ayahnya setelah lulus SMK.
Padahal Sinta sendiri sengaja tidak pindah ke luar kota karena tak ingin jauh dari pacarnya. Rasa kecewa tentunya muncul, namun Sinta juga tak bisa ikut campur.
Karena itu, waktu yang masih belum habis mereka usahakan untuk nikmati bersama-sama. Sinta sudah merasa sangat nyaman dengan Brian. Dulu, Brian yang ia anggap hanya bocah kencur ternyata memang sangat tulus mencintainya.
Ayah sudah mengabari akan menjemput kedua anggota keluarganya dalam kurun waktu 5 hari ke depan. Sebelum hal itu terjadi, Brian pergi menemui seseorang yang setahun lalu memang pernah ditemuinya.
"Minggu depan aku akan berangkat, jadi aku bisa percayain Sinta ke Kakak kan?" Brian terlihat sangat serius.
"Tanpa disuruh pun aku akan selalu menjaga Sinta. Walau tau Sinta memang menyukaimu, tapi kau percaya kan masih ada celah untukku?" Jawab Rendra.
"Sinta bukan milik siapa-siapa, dan aku tau bahwa Kakak bukanlah lelaki bajingan. Jika Sinta memang luluh, aku tidak akan menentang hubungan kalian. Takdir yang baru mungkin akan jauh lebih baik."
Jawaban Brian membuat Rendra merasa terpuji. Walau tidak begitu mengerti, Rendra percaya kepada Brian dan sudah lama keduanya sepakat untuk menjadi sejawat.
Flashback.
Setahun lalu, sebelum Sinta lulus kuliah.
Brian sengaja menemui Rendra, laki-laki yang dulu ia lihat selalu datang ke rumah Sinta sebelum ia dan Sinta resmi berpacaran.
Meskipun agak sedikit pangling, tapi Rendra masih mengenal orang yang berada di hadapannya. Tetangga Sinta, seorang bocah yang dulu dengan lantangnya ingin memacari Sinta. Rendra tahu sendiri karena Sinta sering curhat kepadanya.
Namun berangsur-angsur, Sinta yang tadinya dekat dengan dirinya perlahan memudar dan kian menjauh. Setelah diketahui alasannya, ternyata Sinta menerima cinta bocah tetangganya itu.
Rendra tidak mengerti, mengapa Sinta yang tadinya risih malah berujung menerima cinta bocah itu? Rendra tak tahu pasti apa alasannya, ia yang sekelas dengan Sinta itu hanya bisa mengawasi perkembangan Sinta setiap harinya.
Rendra khawatir, dirinya tahu sendiri bagaimana kelakuan anak zaman sekarang, apalagi di negara yang kurang moral. Tapi sepertinya Sinta bahagia dan baik-baik saja. Dari sana lah Rendra merasa tenang dan memutuskan untuk berhenti mendekati Sinta.
"Ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan, aku tau suatu saat Kakak akan pindah ke tempat lain. Tapi jika itu terjadi tolong jangan pernah tinggalkan tempat ini, aku ingin Kakak berada di sampingnya dan terus menggantikan posisiku untuk menjaganya." Ucap Brian kala pertemuannya.
Baru pertama bertemu ia sudah berbicara dan menuntut orang dengan seenaknya. Rendra yang mendengar perkataan Brian merasa heran setengah konyol, bocah yang berada di hadapannya ini mengatakan apa? Berbicara layaknya seorang peramal.
Kenapa juga ia yang merupakan pacar Sinta malah menyerahkan Sinta kepada orang lain? Bocah itu ternyata memang masihlah bocah. Sinta? Tentu Rendra masih tetap mencintai Sinta, tapi tak mungkin ia harus mengacaukan hubungan orang.
Rendra hanya menganggap remeh Brian. Dan pada akhirnya waktu membenarkan perkataan Brian. Rendra yang sengaja masuk ke perguruan yang sama dengan Sinta harus ikut orang tua ke negara lain. Dari sana ia kembali menemui Brian, namun Brian tidak menjawab rasa penasarannya sama sekali.
__ADS_1
"Memang saat ini aku yang menjadi kekasih Sinta, tapi semua orang masih berhak untuk mendekatinya."
Hubungan Brian dan Sinta sangatlah awet, hal itu membuat Rendra hampir menyerah. Tapi secercah harapan kembali muncul kala Brian mengatakan sesuatu yang memang benar. Bukannya Brian tak sayang kepada Sinta, suatu hal membuatnya bimbang menentukan jalan takdir yang benar.