Kosong

Kosong
Bukan Susu Nasional


__ADS_3

"Menginginkan apa?"


Brian dan Sinta yang sedang duduk bermesraan dan terpergok itu seketika terkejut dan langsung saling menjauh melepas pelukannya.


"A-ah, itu Bu Brian kemarin hp nya nyemplung ke danau." Ucap Sinta panik.


"Ohh.. ya udah, nanti besok beli lagi." Ucap Ibu sambil melanjutkan langkah kakinya ke dapur.


Ibu terlihat santai-santai saja, tapi Brian dan Sinta hanya bisa terduduk malu dan sama sekali tidak saling bertatapan. Saat itu mereka melihat Ibu sedang mengambil camilan di dalam kulkas.


"Kalian gak usah tegang gitu, dulu Ibu sama ayah juga sering mesra-mesra an, di depan umum lagi." Ucap Ibu sambil kembali, tapi Brian dan Sinta masih tidak berani untuk saling berdekatan.


"Ya udah Ibu masuk lagi,"


Tepat saat Ibu masuk ke kamarnya, mereka menarik nafas lega. Tak dikira, ternyata Ibu tidak marah saat melihat mereka berpelukan. Malahan sebaliknya, Ibu membiarkan anaknya yang sudah dewasa itu untuk bermesra-mesraan.


Tapi, Sinta masih merasa terkejut dengan kejadian tadi. Ia tak berani lagi mendekatkan dirinya kepada Brian di tempat itu. Meskipun begitu, hasratnya masih tetap ingin melakukannya.


'Huhh.. Brian! Kenapa dia sama sekali tidak tertarik padaku? Padahal aku sudah memakai pakaian terbuka seperti ini,'


Melihat situasi yang aman, Sinta kembali mendekati Brian dan kali ini dirinya lah yang memeluknya dari depan. Ia tak mau rencana hari ini gagal hanya karena terpergok oleh Ibu.


"Brian, ayolahh.." ucap Sinta dengan suara yang manja sambil terus menempelkan dadanya.


"S-sinta, ini sudah malam, biar aku antar kamu pulang ya?" Ucap Brian yang sedang merasakan setruman. Padahal dia mau lama-lama berada dalam posisi itu. Apalagi saat ini tangannya sudah gatal ingin mencabik-cabik tubuh Sinta.


"Brian, kau malah mengusirku? Ya sudah aku akan masuk ke kamarmu sekarang dan menunggumu di sana." Sinta melepas pelukannya dan bangkit.


"Jangan begitu Sinta, nanti aku laporkan sama Ibu loh." Ancam Brian bercanda.


"Gak papa, kalau kamu mau aku mati lompat dari jendela." Sinta meninggalkan Brian dan pergi menaiki anak tangga.


"Aduhh.. Sinta mau pulang gak sih? Ini tuh udah jam berapa?" Brian tak mau mengikuti Sinta.


Tapi, ia teringat akan kado-kado yang ada di kamarnya. Ia takut Sinta mencoba untuk membuka semua kadonya dan membuat Brian tak tahu mana isi kado yang berasal dari si gadis kurcaci. Lantas ia langsung berlari mengikuti Sinta dan meninggalkan kue ulang tahunnya di meja.


"Sinta, Sinta! Tunggu.." ucap Brian dengan suara yang pelan. Saat itu Sinta terlihat senang dan menunggu Brian untuk masuk bersama.

__ADS_1


"Klek," pintu terbuka, dan terlihat setumpukan kado tengah berada di atas kasurnya. Mereka segera menutup pintu dan berjalan menghampiri kado-kado itu.


"Ohh, kau dapat hadiah banyak ya? Pasti dari wanita semua kan?" Tanya Sinta sambil melihat-lihat kado itu.


"Ya," ucap Brian tanpa rasa ragu.


"Baiklah, jika ada yang bagus aku akan mengambilnya." Sinta membuka bungkusan kado pertama.


"Ah, Sinta, bukankah sebaiknya kau mengambil jaketmu dulu di bawah? Dan kue itu, tolong simpan di dalam kulkas ya." Titah Brian mencoba untuk menyingkirkan Sinta sejenak.


"Oh, benar juga. Nanti Ibu bisa curiga kalau aku memang masih belum pulang. Ya sudah aku ke bawah dulu. Awas ya, jangan buka kado-kado itu." Sinta keluar dari kamar.


Dengan cepat, Brian mengobrak-abrik tumpukkan kado itu dan mencari sesuatu yang ia inginkan. Brian mengambil kado sebesar kotak korek api yang bsrasal dari si gadis kurcaci. Lalu ia menyembunyikan kado itu di suatu tempat.


"Hahh.. melelahkan sekali." Sinta baru saja kembali dan langsung melanjutkan unboxing kado-kado itu.


"Whoah! Mengejutkan sekali, hahahaha..."


Banyak sekali selipan surat di dalam setiap kado. Sinta membaca surat itu sendirian. Tapi ia sama sekali tidak peduli. Hingga akhirnya suara langkah kaki menghentikan dirinya.


'Tentu saja lah, ini sudah malam dan mana mungkin aku harus berkata kalau Sinta akan tidur di kamarku.' Gumam Brian melihat Sinta lenyap.


"Klek," Ibu membukakan pintu dan melihat Brian yang saat itu sedang berpura-pura membuka bungkusan kado yang ia dapatkan.


"Oh, kau dapat kado banyak? Nak Sinta udah pulang?" Tanya Ibu.


"Iya Bu hehe.. udah kok dari tadi." Terpaksa Brian harus berbohong.


"Bagus kalau gitu, hoamm.. Ibu ngantuk, ya sudah, selamat malam." Ibu kembali menutup pintu.


Sinta yang sedang berada di kamar mandi pun akhirnya keluar saat merasa situasinya sudah aman. Dengan segera, Sinta mengunci pintu dan menyambar Brian yang sedang berada di atas kasur. Tubuh Brian terhempas dan membuat dirinya saat ini berada di bawah Sinta.


"Brian, ayo kita lakukan." Ucap Sinta dengan suara yang pelan.


"S-sinta, jangan, apa kau tidak mau pulang?" Brian merasa dag dig dug mengingat posisinya saat ini.


"Tidak, besok kan hari libur nasional. Aku akan tidur di sini sampai besok. Nah, sekarang mana benda itu?"

__ADS_1


"Benda apa?"


"Itu, yang aku berikan kepadamu."


"A-ah, kita tidak boleh melakukannya Sinta."


"Kenapa?"


"Um, ah, kita ini masih di bawah umur, jadi kita tidak boleh melakukannya."


"Hmm.. padahal aku ingin memberikan itu sebagai hadiah. Tapi ya sudahlah, jika kau tidak mau aku tidak akan memaksa."


"Eh?" Brian terkejut, dengan semudah itu Sinta membatalkannya. Tapi memang, dulu hal itu terjadi karena Brian sendiri juga menginginkannya.


"Nah, kalau begitu cepat turun Sinta, kita tidur sekarang." Brian merasa lega karena Sinta tidak memaksanya lagi. Tapi saat ini ia masih merasa tak tenang karena keberadaan Sinta di atasnya.


"Aku ingin tidur seperti ini, boleh kan?" Tanya Sinta.


"Ha? Mm.. ah, baiklah, setelah aku selesai mencuci muka." Brian rasa itu tidak apa-apa. Dirinya juga merasa senang saat Sinta berada di dekatnya.


Di dalam satu selimut, kedua pasangan itu tertidur dalam pelukan. Brian merasa senang sekaligus nyaman dengan keberadaan Sinta di dalam dekapannya. Tapi di sisi lain, Si Wahyu merasa tak karuan saat dirinya berada di dekat Sinta.


***


Esoknya, Brian terbangun dan mendapati Sinta sudah berpindah tidur di sampingnya. Ia langsung pergi mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.


"Oh, Brian, pagi-pagi kau sudah mandi? Mau kemana?" Tanya Sinta yang baru saja bangun.


"Ehehe.. gak kemana-mana kok, aku cuma gerah." Ucap Brian yang masih mengelap dirinya dengan handuk.


"Hmm.. jangan-jangan kau jijik karena sudah bersentuhan denganku kan?!" Tanya Sinta dengan wajah kesal.


"Padahal aku sama sekali tidak ingin membasuh tubuhku setelah ini. Tapi kau..."


"Sinta, bukan begitu, aku memang sudah terbiasa mandi jam segini," ucap Brian berbohong, padahal ia mandi karena ingin segera membersihkan celananya karena si Wahyu sedikit muntah.


Brian tak tahu harus bagaimana ia mengeluarkan Sinta dari kamarnya. Ia pun mencoba pergi ke bawah untuk melihat Ibu.

__ADS_1


__ADS_2