
'Bisa aja sih gue ngakalin cara biar Wita gak bisa dateng ke acara anniv gue.'
'Tapi itu terlalu beresiko deh kayaknya.'
"Yuna, kamu jangan slep slip deketin si Wendy, keluarin sikap biasa aja kayak ke temen. Wendy udah oke buat dateng ke acara, dia kayaknya bakalan ngajak Wita."
Terkirim.
Sinta:
"Brian! Aku jadi gak sabar >\< berasa kayak pengantin deh. Apa aku harus sewa gaun ya?"
'Lain kali gue gak usah ngadain acara ginian. Bisa-bisa Sinta malah ngajak nikah.'
Menunggu hari kamis tiba, Brian hanya duduk, baring, rebah, nyender di kamarnya saja. Tanpa kehadiran Sinta di rumahnya, Brian merasa bosan dan ingin saling berkirim pesan. Tapi Brian tahu bahwa Sinta sedang tidak boleh diganggu.
Beberapa hari, pesan itu hanya ia lihat, Brian tak ingin dirinya mengganggu Sinta yang sedang belajar. Dari jendela kamarnya, ia hanya bisa memandangi jendela kamar Sinta yang juga terbuka. Sore itu, suatu sosok tiba-tiba muncul di jendela kamar Sinta.
"Hah? Apaan tuh? Sinta?" Brian melihat sosok itu melambai-lambaikan tangannya.
Tanpa suara, tanpa bicara, sosok itu hanya terus melambai-lambaikan tangannya. Lalu sosok itu berbalik dan menghilang dari jendela kamar Sinta.
*tring!*
Sebuah pesan masuk pada aplikasi chat milik Brian.
Sinta:
"Brian cepat ke sini, aku membutuhkanmu! Aku tunggu di depan rumah."
Brian hendak membalas dan menolak, ia melihat dulu ke area depan rumahnya Sinta. Dan benar saja, sosok yang tadi ada di kamar Sinta sudah berada di depan. Brian tidak bisa menolak, pastinya itu adalah Sinta.
Terpaksa Brian harus datang menghampirinya. Ia merasa ragu dan takut jika ibunya Sinta tidak akan menyukai keberadaannya di sana.
Brian sampai di hadapan Sinta dan Sinta langsung mengetik pada ponselnya untuk mengirimkan sebuah pesan.
*tring!*
"Brian, ayo masuk."
"Mau apa?"
Brian mengirimkan balasan dan bertanya melalui ponselnya juga, ia sama sekali tidak berbicara.
"Ayo masuk, aku membutuhkan bantuanmu!" Lagi-lagi Sinta berbicara melalui pesan yang dikirimnya. Begitupun Brian.
"Memangnya boleh?"
__ADS_1
"Ya tentu saja! Tidak akan ada yang marah kok, aku sudah bilang."
Berhadapan dan saling mengirim pesan, mereka pun masuk ke dalam. Tak ada seorangpun yang terlihat kecuali Raffa yang sedang memainkan mobil remotnya. Brian tidak berbicara apapun, ia hanya mengikuti Sinta saja menuju ke lantai atas.
Brian duduk di sebuah sofa malas berwarna pink dengan model babi. Rasanya tidak nyaman, berasa seperti menjadi seorang wanita. Memasuki sebuah ruangan yang sepertinya itu adalah kamar mandi, Sinta kembali dengan wajahnya yang sudah bersih.
Brian mengetik sebuah pesan:
"Sinta, tadi kau pakai apa?"
"Hah?" Sinta akhirnya bersuara.
"Kenapa kau berbicara denganku melalui pesan?" Sinta keherananan sekaligus membuat Brian heran juga.
"Aku hanya mengikutimu, ku pikir kita tidak boleh berisik, jadi aku berbicara denganmu melalui pesan juga."
"Ahahaha... Brian.. Brian.. pacarku ini ya, jangan-jangan kau berpikiran mesum."
Masih memegang handuk wajah di tangannya, Sinta berjalan mendekati Brian, mendekatkan wajahnya sambil menatap Brian.
"Cup!"
Sinta memiringkan sedikit kepalanya dan mengecup lembut bibir Brian. Begitu wangi, tercium aroma lembut seorang wanita. Setelah mengecup, Sinta menjauh, berjalan dan duduk di depan meja rias.
"Tadi aku sedang pakai masker, memangnya kau gak tahu?" Ucap Sinta setelah menyemprotkan sesuatu ke wajahnya dan menepuk-nepuk wajahnya.
"Tau, tapi aku bingung kenapa kau sama sekali tidak berbicara."
"Memang kalau retak efeknya bakalan ilang ya?"
"Ya tidak sih, tapi kalau retak kan gak cantik keliatannya."
'Hmmm... pakai masker aja harus keliatan cantik, lagi pula nanti juga dibilas.'
Brian menganggap pacarnya itu aneh. Setiap hal yang Sinta lakukan, selalu saja aneh. Sinta itu orangnya ribet, tapi Brian tetap menyukainya.
Di sebuah kamar bernuansa minimalis dan elegan, Brian hanya dipersilahkan duduk di kursi malas yang terlihat sangat imut itu. Brian bangkit dari duduknya dan duduk mendekat di atas kasur Sinta.
"Kamu lagi pakai apa?" Tanya Brian melihat Sinta sangat sibuk dengan botol-botol yang ada di depannya.
"Ini skincare, aku harus tampil cantik nanti malam!" Sinta mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Hari ini adalah hari kamis, dan nanti malam acara akan segera dimulai.
"Padahal kamu sudah cantik," ucap Brian tidak ingin pacarnya repot begitu.
"Apa?" Sinta ingin mendengarnya lagi.
"Kamu cantik Sinta, kamu pacarku yang paling cantik!" Brian tersenyum menatap Sinta.
__ADS_1
"Hah? Pacarmu yang paling cantik? Memangnya kau punya pacar berapa gudang?" Tatapan tajam mata Sinta keluar.
'Salah lagi.' Keluh Brian.
"Ah, bukan itu maksudku Sinta. Maksudku kau itu pacarku, dan kau adalah orang yang paling cantik sedunia." Terpaksa Brian menjelaskan secara detail.
"Ooohh... bukan sejagat raya?" Sinta tersenyum sambil memalingkan wajahnya. Ia kembali menatap dirinya di cermin.
"Gak ada manusia selain di bumi Sinta."
"Kali aja sekarang lagi ada astronot yang datang ke bulan."
"Ah, iyalah, kau memang cantik sejagat raya."
Brian malas berbicara, dirinya selalu kalah jika di hadapan Sinta. Ia hanya memandangi Sinta yang tengah sibuk dengan berbagai skincarenya.
"Brian, aku harus pakai gaun apa?" Tanya Sinta.
"Ahaha... gak perlu pakai gaun, pakai baju santai yang biasa saja."
"Begitu ya?"
Selesai memakai ini itu ke wajahnya, Sinta membuka lemari baju nya. Memilah-milah baju dan memantaskan dirinya di depan cermin.
"Brian, kau mau pakai baju apa?"
"Aku baju hitam saja yang biasa." Yang Brian maksud adalah kaos.
"Hah? Kau harus pakai kemeja brian."
"Aku gak punya. Sinta, ini kan acara kecil-kecilan, jadi kita pakai pakaian yang biasa saja."
"Hmm.. baiklah, aku juga akan pakai pakaian hitam."
Sinta mengobrak-abrik baju-bajunya yang digantungkan di lemari. Tidak menemukan yang ia cari, Sinta menggeser pintu lemarinya. Brian terkejut, ternyata masih banyak pakaian yang menggantung di lemari Sinta.
"Oh, ini kenapa ada disini?" Sinta menemukan sesuatu di bawah pakaian-pakaiannya yang menggantung.
"Apa?" Tanya Brian sambil mengintip-intip.
"Je-jeeng!" Sinta menunjukkan habe miliknya yang berwarna hitam.
"Ini, barangkali kau ingin lihat. Punyaku D cup, tapi kalau kau sering meremasnya pasti jadi z cup." Sinta melemparkan habe nya kepada Brian yang sedang duduk di atas kasur.
"Hah?" Brian terkejut saat mendapatkan habe nya Sinta. Ia menerawang habe nya dibalik cahaya.
"Apa rasanya kalau kau tidak memakai benda ini?" Tanya Brian dengan polosnya.
__ADS_1
"Rasanya seperti akan jatuh. Kalau aku tidak memakai benda itu, tanganmu harus menjadi penopang lemakku sepanjang jalan." Ucap Sinta yang sedang memantaskan dirinya di cermin.
"Hmmm..." Brian hanya diam. Ia tak mau memancing-mancing nafsu Sinta. Apalagi dirinya sedang berada di rumah Sinta. Akan bahaya jika ibunya Sinta tahu.