Kosong

Kosong
Malam Jum'at Hangat


__ADS_3

Malam jumat, pukul 17.00 waktu Indonesia bagian barat, Brian sudah siap dan tengah berada di lantai atas. Tidak ada hiasan apapun, yang ada hanya meja panjang yang biasa dipakai untuk berpesta.


10 buah kursi, set tempat makan itu begitu mewah dan elegan. Berwarna putih dan menggunakan stainles steel emas yang mengkilap untuk setiap sisi dan kakinya.


Satu per satu, tamu yang diundang mulai berdatangan. Mereka langsung dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan. Brian melihat Yuna dan Mitha datang bersamaan.


'Emang Yuna akrab juga ya sama Mitha?' Gumam Brian merasa tidak percaya.


"Yan, pacar lu nya mana? Kok belum nongol juga?" Tanya Anang tak melihat keberadaan Sinta di sana.


"Dia lagi di kamar, gak tau lagi ngapain." Ucap Brian.


Semua tamu undangan sudah duduk di kursinya masing-masing. Beberapa orang masih nyaman melihat pemandangan minimalis ruangan itu. Lampu gantung yang berada tepat di atas meja membuat suasana semakin mewah.


"Sinta, kamu lagi ngapain? Ayo keluar, mereka udah dateng semua." Brian menjemput Sinta ke kamarnya. Ia terlihat sedang duduk di depan cermin.


"Aku lagi ngumpet. Biasanya kan kalo manten perempuan datengnya suka di akhir. Biar bikin tamu pada penasaran gitu." ucap Sinta.


Sinta tidak pernah menghadiri acara anniversary teman-temannya. Ia benci karena Brian juga tidak pernah mengadakan acara seperti itu. Karena Sinta baru 1 tahun tinggal di Indonesia, ia hanya bisa mengamati adat pernikahan di Indonesia.


"Aah, kita tidak sedang menikah Sinta. Ayo ikut aku."


Sinta berjalan di samping Brian dengan malu-malu. Seorang pria yang memakai celana jeans dan kaos hitam, dan seorang wanita yang memakai blus tani bercorak dengan celana hitam panjang.


(Blus tani: blus longgar yang tidak terlalu panjang, memiliki garis leher yang lebar dengan hiasan sulam di sekelilingnya. Terinspirasi dari busana petani Eropa.)


Sinta terlihat sangat anggun, pakaian serba hitam yang ia pakai membuat rambut pirangnya terlihat begitu menyala. Ia sengaja tidak menggunakan hak tinggi karena ingin terlihat sepantar dengan Brian.


Sedangkan Brian, tampang angkuhnya memang sudah menjadi bakat. Walaupun ia sedang tidak menyombongkan diri, tapi wajahnya itu tetap seperti berandal. Rambut gondrongnya yang berwarna kemerah-merahan memberikan kesan yang mendalam.


"Huuu! Calon penganten akhirnya dateng juga!" Sahut Anang ketika sepasang kekasih itu masih berjalan.

__ADS_1


'Buruan ngapa, gue udah laper!' Gumam Anang, tak tahan melihat hidangan menggoda di atas meja.


Dengan menyalakan lilin yang tertancap di atas kue, acara itu pun dimulai. Semua orang yang hadir hanya mendo'a kan mereka berdua agar tetap bisa selalu bersama. Jamuan yang tersedia sudah mulai mereka santap.


"Kok rasanya aneh?" Anang yang kelaparan dan memakan steak salmon, seketika kehilangan nafsu makannya.


"Aneh gimana?" Tanya Brian yang duduk di sampingnya. Brian tak ingin ribet, untuk acara itu, ia memesan makanan restoran melalui ponselnya. Sinta juga ikut membantu memilihkan makanan yang cocok untuk hidangan makan malam.


"Ini nih, coba lu rasain." Anang menggeser hidangannya.


Brian mencoba mencicipinya sedikit, ia takut kalau makanan restoran itu memang memiliki rasa yang tidak enak.


"Ah, nggak, ini enak kok."


Rasa ikannya gurih, dicampur dengan rasa manis yang creamy. Ikan salmon itu disajikan bersama dengan cream saus. Mungkin Anang tidak bersahabat dengan makanan itu, tapi lidah Brian memang sudah terbiasa.


Brian sering mendengar, beberapa orang memang tidak menyukai makanan dengan rasa campuran yang seperti itu. Brian pun menyisihkan makanan itu dan mempersilahkan Anang untuk menyantap hidangan lain.


Semua teman-teman yang hadir sudah mempersiapkan seragamnya untuk esok sekolah. Mereka membawa tas sekolahnya beserta buku pelajaran di dalamnya. Kecuali yang satu ini.


"Brian, maaf aku tidak bisa ikut menginap." Ucap Mitha.


Sebenarnya Mitha tidak diperbolehkan untuk keluar malam hari. Ibunya melarangnya karena tidak baik anak perempuan keluar malam-malam, apa lagi UAS sudah hampir tiba. Si ketua kelas yang rajin itu ternyata merupakan hasil didikan ibunya.


Karena Mitha memohon-mohon, dan sudah sengaja meminta Yuna untuk datang ke rumahnya, ayahnya yang tidak pernah mengatur-ngatur Mitha mencoba membujuk ibunya. Mitha pun diizinkan untuk pergi dengan batas waktu yang telah ditentukan.


"Tidak apa, kau mau pulang dengan siapa?" Brian merasa khawatir membiarkan seorang gadis pulang sendirian.


"Aku sudah berbagi lokasi dengan ayah, ayah bilang ia sudah berada di depan."


Mitha menuju gerbang depan diantarkan oleh Brian dan Sinta. Ayah Mitha sudah menunggu di luar gerbang bersama dengan motor matic miliknya. Mereka berlalu setelah usai berpamitan.

__ADS_1


Di bawah, Ibu yang tadinya sedang menonton TV, kini tengah berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Ibu melambai-lambaikan tangannya menyuruh Brian dan Sinta datang mendekatinya.


"Ayah, anak kita udah dewasa loh, sekarang hari jadi nya dia sama pacarnya. Namanya itu Sinta Yah, tetangga kita. Orangnya itu cantik, baik pula. Dia juga asalnya dari Australia loh Yah." Ucap Ibu pada telpon.


Sepertinya Ibu tengah berbicara dengan ayahnya Brian yang sedang merintis bisnisnya di luar negeri. Tepatnya di kota Sydney. Kota Sydney sendiri juga merupakan kota yang masih satu negara dengan kampung halaman Sinta, yaitu Bunbury. Kedua kota itu saling berlawanan, Bunbury berada di ujung barat Australia, sedangkan Sydney berada di ujung timur Australia.


"Sinta, ini ayahnya Brian katanya mau bicara sama kaamu." Ibu terlihat senang, ia menyerahkan ponselnya kepada Sinta.


"H-halo Ayah," Sinta merasa gugup, ia juga bingung mau memanggil ayah Brian dengan sebutan apa.


"Ini pacarnya Brian ya? Wahh.. sudah lama juga ya kalian berpacaran. Ayah jadi penasaran di kota mana kamu tinggal." Suara merdu dan besar keluar dari dalam ponsel, suara itu sama merdunya dengan suara Brian.


Di hadapan Ibu dan Brian, Sinta asyik mengobrol di dalam telpon. Ibu membiarkan Ayah dan Sinta untuk saling mengenal satu sama lain.


Setelah usai, Brian dan Sinta kembali ke lantai atas, sedangkan Ibu masih tinggal di sana dan masih berbicara dengan ponselnya.


Sebelumnya Ibu sudah mengizinkan teman-teman Brian untuk menginap. Soal kamar, masih ada 1 kamar kosong yang memang mereka persilahkan untuk tamu. Perempuan dan laki-laki bisa dipisahkan di kedua kamar itu.


"Lu pasti abis ngumpet dulu di semak-semak kan? Lama amat." Ucap Gilang yang masih duduk di meja.


"Ngapain di semak-semak? Mendingan kita langsung ke kamar." Brian menghiraukan soal semak-semak itu dan mengajak teman-temannya untuk beristirahat.


"Hah?" Sinta terkejut.


"Anjayy... yaudah sana." Ucap Anang.


Mereka salah pengertian, Brian sendiri juga salah karena tidak menjeda pekataannya. Yang mereka tafsirkan:


'Untuk apa main di semak-semak yang tidak nyaman? Lebih baik mereka berdua langsung main di dalam kamar yang ada kasurnya.'


"Bukan itu, gue gak lagi ngomongin semak-semak. Yang gue maksud, ini udah malem, daripada duduk di sini, mending kita langsung ke kamar. Buat cewek-cewek, ada tu kamar di sebelah situ." Di lantai atas yang luas itu, Brian menunjuk ke sebuah kamar yang letaknya berlawanan dengan kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2