Kosong

Kosong
Lanjutan


__ADS_3

Menjelang tengah malam, Brian baru pulang ke rumah. Tapi langkahnya terhenti di depan gerbang, kala melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya.


Di rumah Sinta nampak lebih banyak penerangan. Segerombolan orang terlihat keluar masuk dari pintu rumah itu, bendera kuning juga sudah menancap di tepi jalan.


Suasana langsung terasa berubah, Brian tak yakin dengan dugaannya, tapi saat itu jiwanya seakan tercabut kuat-kuat. Segera Brian berlari ke arah rumahnya Sinta.


Brian menerobos masuk pada kerumunan yang sedang berduka cita. Satu persatu ditatapnya, anggota keluarga Sinta yang masih utuh. Ayah, ibu, dan juga adiknya Sinta, mereka duduk dengan tangisan histeris menghadap jasad yang ada di depannya.


Tubuh Brian langsung lemas gemetar, Brian menghampiri jasad yang ditutup dengan kain batik itu. Perlahan Brian membuka sedikit kain penutup, ia melihat kain kafan yang sama sekali tidak menampakkan wajah siapa yang ada di baliknya.


Dengan kepala yang sulit untuk digerakkan, Brian menatap jasad itu dari ujung ke ujung. Kain putih itu hanya menampakkan bercak-bercak darah yang terlihat lebih banyak di bagian perut dan kepalanya.

__ADS_1


*sedikit mundur ke belakang


Setelah Brian meninggalkan Sinta di hotel sendirian, Sinta menangis meratapi nasib pedihnya. Ia terhuyung-huyung untuk kembali menemukan keberadaan Brian.


Sinta berjalan di tepi jalan, mencari Brian yang mungkin belum pergi terlalu jauh. Tapi tak disangka sebuah mobil melesat kencang dengan pintu yang langsung terbuka saat berdampingan dengan Sinta.


Tubuh Sinta terpental hebat ke arah dinding sebuah toko, sementara mobil itu melenggang dengan pintu kembali tertutup seolah tidak terjadi apa-apa.


Brian tidak percaya akan hal ini, Sinta yang baru saja ia campakkan kini memilih untuk berpulang. Anak Brian yang tak bersalah itu pun ikut pergi menemani ibunya.


Inikah yang diinginkan oleh Brian? Brian merasa sangat bersalah. Dirinya yang telah membunuh Sinta dan juga anaknya sampai sekejam ini.

__ADS_1


Kabar duka masih menyelimuti keluarga Sinta. Anak perempuan satu-satunya yang sudah dewasa itu tak mungkin bisa membuat keluarga lupa. Anak yang cantik, pandai, rajin, dan berpendidikan.


Berdampingan dengan hal itu tak henti-henti gosip beredar dimana-mana. Hasil otopsi menyatakan ada janin di perut Sinta, beberapa orang berpikir bahwa Sinta memang sengaja bunuh diri.


Nama keluarga besar itu kini menjadi tercemar, tetapi Brian yang merupakan dalangnya selamat dari gosip-gosip yang tidak mengenakkan.


Sejak kejadian itu, Brian jadi terlarut-larut, tapi ia mulai menyadari, dirinya yang saat itu mulai menginjak umur 23 tahun sudah seharusnya memperbaiki cara hidupnya.


Kepergian Sinta meninggalkan bekas di hati Brian. Ia berusaha melupakan Sinta, melupakan kejadian buruk yang pernah dialaminya.


Masa terulang kembali, dan Brian dipertemukan kembali dengan Sinta yang muda. Mungkin tuhan memberi kesempatan kepada Brian, untuk tidak menyiakan gadis sesempurna Sinta.

__ADS_1


Sekarang Brian berhasil menahan nafsu birahinya. Ia tak pernah menanam benih di rahim Sinta. Namun bisa saja jalan kematian kali ini berbeda. 2 bulan lagi, Brian akan kembali, ia tak mau kejadian ini terulang lagi.


__ADS_2