Kosong

Kosong
Kacau


__ADS_3

Di atas meja yang lumayan lebar, pelayan menghidangkan pesanan mereka, lengkap juga dengan 2 gelas minumannya.


'Selamat makan.' Ucap Yuna dalam hati.


Yuna memulainya dengan kepiting sambal ijo. Ia asyik memakan kepiting itu sambil menunduk. Tetapi ia merasakan aura tatapan dari arah depan, ia pikir saat ini Wendy tengah memperhatikannya.


"Aup, glek," Yuna menelan kasar makanan di mulutnya sambil terpejam. Ia tak berani menatap Wendy yang memang tengah memperhatikannya.


'Kenapa Wendy menatapku seperti itu? Apa dia sedang memikirkan sesuatu yang jahat?' Yuna merasa takut.


"A-ada apa Wendy?" Ucap Yuna sambil mengambil minuman.


"Kenapa kau memakan kepiting dengan cangkangnya?" Wendy merasa heran.


"Y-ya, karena ini adalah kepiting soka."


"Hah?" Wendy tidak mengerti tetapi ia lanjut memakan hidangannya sendiri.


"Mmm.. apa kau mau? Kita bisa saling bertukar makanan." Yuna menawarkan makanannya.


Wendy terdiam sejenak, itu membuat Yuna merasa tidak enak. Tapi setelah itu Wendy meng iya kan dan menyerahkan piringnya kepada Yuna.


'Padahal aku tidak meminta semuanya.' Gumam Yuna lalu ia menggeser makanan miliknya ke arah Wendy.


Baru saja Yuna akan mencubit daging ikannya, tiba-tiba Wendy berkata, "Jangan yang sebelah situ. Itu bekas aku."


Wendy takut Yuna merasa jijik. Sedangkan Yuna, ia menganggap Wendy itu jijik kepadanya dan tidak ingin tangannya itu menyentuh bagian miliknya.


"Mm.. ya."


Dengan perasaan canggung, Yuna kembali menyerahkan makanan milik Wendy. Ia tidak begitu menyukai ikan, apalagi yang hanya dibakar dan dikecapi saja.


"Kau mau mencoba ini?" Yuna menggeser piring berisi sate cumi ke arah Wendy.


Tetapi Wendy salah fokus, saat Yuna membungkuk dan menggeser piring itu, ia malah melihat ke arah buah dada Yuna yang tersendat di atas meja.


"Tidak, aku biasa melakukannya dengan Wita." Ucap Wendy dengan polosnya.


"E-eh?!" Yuna terkejut mendengarnya. Ia sadar bahwa buah dadanya terlihat sangat menonjol saat itu. Dengan segera dadanya menghindari untuk bersentuhan dengan meja.


"Mm, salah, salah, maksudku aku sudah kenyang." Ucap Wendy padahal itu jauh berbeda.


'Apa Wendy juga orang mesum seperti Brian?' Yuna merasa merinding.

__ADS_1


'Duh, kenapa otak gue jadi nyantol ke situ?' Wendy merasa sedikit malu.


Yuna selesai lebih awal daripada Wendy. Ia merasa tak tenang, segera ia mengirim pesan kepada Brian.


"Brian, kau di mana? Aku takut kalau Wendy akan berbuat macam-macam kepadaku."


Kontak Brian tidak terlihat aktif. Lalu Yuna menelponnya tetapi...


"Yuna maaf, aku dan Sinta sudah pulang ke rumah, dia tidak mau tinggal di keramaian." Ucap Brian pada telpon.


"Kak Sinta kenapa?" Tanya Yuna.


"Aku sedang bercinta dengan Brian." Terdengar suara Sinta.


"Sinta, jangan bicara yang tidak-tidak!" Terdengar suara Brian.


"Sasa juga sudah ku hubungi, tapi Anang dan pacarnya, aku tidak tahu mereka pergi ke mana. Kalau begitu, selamat menikmati kencannya Yuna! Dadah.."


Sinta mematikan telpon dan Yuna hanya bisa terdiam kebingungan. Sebelumnya hal ini tidak terdaftar pada rencana, Yuna pikir mereka akan asyik menikmati waktunya ramai-ramai di mall ini.


"Kenapa?" Tanya Wendy.


"Brian, dia sudah pulang."


"A-aku tidak tahu, aku mau pulang." Yuna segera bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan uang di atas meja dan pergi begitu saja.


"Loh? Hey!" Wendy tidak tahu Yuna kenapa, ia hendak mengejar Yuna tetapi ia masih belum membayar makanannya.


"Dua puluh tiga, empat puluh..." Wendy mengingat harga semua pesanan tadi dan menghitungnya.


"Bang, ini uangnya di atas meja!"


Uang yang diletakkan Yuna lebih dari cukup. Wendy pun segera pergi dan langsung mengejar Yuna.


"Hey, Yuna!" Wendy segera menggenggam tangan Yuna. Ia belum pergi terlalu jauh.


"A-ada apa?" Ucap Yuna terlihat ketakutan.


"Em itu.. aku.. kau kenapa?" Wendy membungkuk heran, melihat mata Yuna yang berkaca-kaca.


"A-aku takut kepadamu!" Ucap Yuna tanpa ragu.


'Hah? Apa karena gue salah ngomong tadi?' Gumam Wendy sambil melongo.

__ADS_1


Yuna menghempaskan tangan Wendy lalu ia kembali berlari menjauhi Wendy. Wendy merasa sangat bersalah, padahal Brian bilang Yuna lah yang mengusulkan untuk datang ke bioskop.


Tapi sekarang ia telah mengacaukan suasana. Wendy juga belum mengganti uang tiket begitupun makanannya yang tadi. Ia tak bisa pulang begitu saja tanpa membalas semua ini.


Di luar mall, Yuna termenung di bawah langit malam. Kenapa ia harus menghindar dari pilihannya sendiri? Bukankah sebelumnya ia sudah percaya bahwa Wendy itu bukanlah orang jahat? Dan lagi, teman-temannya sudah berusaha keras untuk membantunya.


'Aku harus melanjutkannya!' Tekad Yuna.


Memang, ini resiko jika berhubungan dengan lawan jenis. Tapi Yuna yakin bahwa ia akan bisa untuk mengatasinya.


"Yuna! Ini sudah malam!" Dari belakang, kembali Wendy mencekal tangan Yuna agar ia tidak pergi kemana-mana.


"Aku mau pulang dulu." Ucap Yuna merasa sudah agak baikan.


"Biar ku antar, aku merasa sangat bersalah. Dan lagi, ini uang untuk tiket dan makanannya." Wendy menyerahkan uang sebesar 200 ribu.


"Tidak usah, aku tidak mengharapkannya." Ucap Yuna dingin. Lalu Wendy pun kembali menyakui uangnya karena tidak mau berdebat saat ini.


"Kalau begitu biar ku antar. Tunggu di sini, jangan kemana-mana."


Wendy segera mengambil motornya. Yuna pun naik tetapi ia agak tak nyaman. Dress selutut nya menyingsing hingga ke paha. Ia berharap semoga Wendy tidak memperhatikannya.


Jalanan begitu dingin. Yuna yang memakai pakaian minim itu memeluk tubuhnya sendiri. Ia juga menjaga jarak agar buah dadanya tidak terantuk ke punggung Wendy.


'Rasanya seperti sedang bersama abang.' Gumam Yuna merasa malu, ia mulai merasa nyaman duduk di atas motor.


Yuna sering sekali diajak berkendara oleh kakaknya. Jika ia sedang bersama kakaknya, pasti ia sudah memeluknya.


Sampailah mereka di depan pintu gerbang rumah Yuna. Sebuah rumah megah yang begitu berbeda dengan tempat hunian Wendy.


"Lebih baik kau segera pergi. Aku akan masuk. Terimakasih tumpangannya." Yuna pergi memasuki gerbang.


'Tu cewek gak bakalan ngadu ke emaknya kan? Ah, ya udah sih ntar gue coba ngomong ke si Brian.'


Wendy segera pergi dari rumah itu. Sampai di rumah, Wendy langsung menelpon Brian. Ia berkata bahwa Yuna sudah pulang dan ia juga ingin meminta maaf kepada Yuna.


Brian yakin bahwa Wendy itu bukanlah orang jahat, jadi ia menyampaikan permintaan maafnya lalu kembali membujuk Yuna.


"Tenang saja Brian, tadi aku hanya syok saja." Ucap Yuna pada sebuah pesan.


"Aku kirim kontakmu ke Wendy bagaimana?" Tanya Brian.


"Sebaiknya tidak. Aku ingin Wendy sendiri yang memintanya kepadaku." Balas Yuna.

__ADS_1


Brian pun menyampaikan bahwa Yuna baik-baik saja. Sekarang Wendy sudah merasa tenang. Meskipun Yuna menolak uangnya tadi, tetapi ia merasa tak enak dan akan berniat menyerahkan kembali uangnya kepada Yuna.


__ADS_2