Kosong

Kosong
Bisa Dimaafkan


__ADS_3

Brian ditinggal sendirian dalam jangka waktu yang cukup lama. Tempat ini sudah diawasi CCTV sedari awal, tak akan aman jika ia terus berdiam di sini. Mau ikut ke sana tapi Brian tak punya jurus tokek, dan mau memanjat dinding untuk ke luar, sekarang ketinggiannya sudah menjadi 3 meter karena tak ada tembok tanaman.


Brian melipir ke belakang, berusaha mencari jalan keluar. Namun, bukannya jalan keluar yang ia temukan, ia dihadapkan langsung dengan seseorang yang kini tengah berdiri kaku memelototinya.


"S-siapa kamu?!" Ucap bapak yang tengah menggunting pohon tanaman hias. Ia terkejut melihat Brian, dirinya tahu di rumah ini tak ada laki-laki lain lagi selain ia dan security.


Brian masih berdiri di situ melihat apakah ada jalan yang bisa ia gunakan untuk kabur? Namun bapak itu berjalan enggan menghampirinya dan ia terlihat menodongkan gunting besarnya.


"Pak, Pak, saya temennya Yuna Pak!" Ucap Brian mengapungkan kedua tangannya di udara.


"Ohh.. Temennya Si Non, ada apa Den? Kok malah ke belakang?" Bapak itu menjadi tenang seolah tak berdosa sudah menodongkan guntingnya tadi.


Brian bingung harus menjawab apa, mana mungkin ia berkata jujur hendak mencari jalan keluar? Dan jika ia minta dipertemukan dengan Yuna, pasti ia akan tertangkap juga.


"Ini Pak, tadi Yuna nyuruh Bapak buat beli es cendol." Brian mengeluarkan uang di sakunya, tiba-tiba ide brilian muncul begitu saja.


"Ohh, tapi belinya di mana ya Den? Si Non kan gak suka jajanan kaki 5." Bapak itu langsung percaya.


"Bapak cari aja, lagian itu buat temen-temennya. 5 bungkus ya Pak."


"Oh, oke siap Den, Bapak berangkat sekarang."

__ADS_1


Mudah sekali mengelabuinya, bapak itu langsung pergi dan Brian pun bergerak cepat mencari jalan keluar.


Sampai di halaman depan, bapak tadi merasa heran, tumben Yuna mengajak teman laki-lakinya ke rumah? Dan.. katanya 5 bungkus, tapi di depan tidak terlihat satu pun kendaraan yang terparkir.


Bapak itu langsung berlari kembali ke belakang rumah, ia tidak menemukan Brian dimana-mana. Lantas, ia langsung masuk ke dalam memastikan keadaannya.


***


"Tok! Tok! Tok!"


"Yuna, buka pintunya!"


"Tapi lu bener kan bakal ngomong langsung? Sekarang!" Tanya Anang sebelum itu.


"Iya, cepat kalian sembunyi!" Yuna merasa panik, ia kemudian melihat keduanya sampai beres bersembunyi.


"Yuna! Buka pintunya!


" Tok! Tok! Tok!"


Pintu kembali diketuk dan Yuna langsung membukakannya. Nampak ibunya tengah berdiri bersama Pak Joyo si tukang kebun.

__ADS_1


"Kamu masih menangisinya? Ada siapa di dalam? Pak Joyo bilang ia melihat orang yang mengaku temanmu di luar."


'Anjir, udah ketahuan sempet ngobrol aja tu anak, mana pake kenalan dulu lagi.' gumam Anang di balik meja.


"Bu, aku ingin Ibu membebaskan Wendy. Aku cinta kepada Wendy, dan ibu tahu kan bagaimana aku diperlakukan baik olehnya? Ibu yakin kan dia itu orang yang baik?"


Tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya tadi, Yuna langsung menangis berkata jujur kepada ibunya. Sebelumnya, Anang dan Gilang lah yang sudah mendorong Yuna untuk berbicara langsung seperti ini.


"Sayang, di luar sana masih ada laki-laki lain. Sudah betul kau membalaskan dendam kakakmu. Kalau kau bersama Wendy, justru itu akan menyakiti hati kakakmu." Ibunya Yuna bicara baik-baik, cukup lama ia sudah tahu kalau anaknya ini berpacaran dengan Wendy.


"Tapi aku dan Wendy saling cinta, dia mencintaiku Bu, dan aku mencintainya. Apa aku harus menderita sendiri demi membuat Abang bahagia? Aku yakin Abang pasti akan menyetujuinya, dia sangat sayang kepadaku."


Tak biasanya Yuna berbicara fasih saat tengah menangis, pasti perasaannya ini sangat dalam, keinginannya ini sangatlah dalam. Cinta pertama dan satu-satunya, Ibu tak pernah lagi mendengar lelaki lain di kehidupan anak perempuannya ini.


"Hiks.. Kenapa kau baru mengakui perasaanmu? Ibu tidak bisa menjamin kalau Wendy akan bebas, apa kau masih akan tetap memperjuangkannya?"


Padahal, Yuna sebelumnya terlihat tegar dan yakin saat hendak melaporkan Wendy, tapi setelah itu, ia sering mengurung dirinya di kamar. Ibu sudah mengerti, dan melihat Yuna yang saat ini, tentu Ibu merasa iba.


"Aku akan tetap mencintai Wendy walau ia harus ditahan selamanya!" Yuna bertekad pada dirinya.


Sandi sudah menikah dan berpisah rumah, ia diminta datang untuk dimintai persetujuan. Sandi menatap wajah mereka yang terlihat panik, Anang, Gilang, dan Brian sekarang juga sudah turut di sana.

__ADS_1


__ADS_2