Kosong

Kosong
Balik Lagi


__ADS_3

Arsitek dari London sudah berhasil mereka jemput. Kini mereka tengah melaksanakan meeting pertama dalam acara makan siang. Ayahnya Brian mulai mengenalkan diri, berbicara mengenai mimpi dan aspirasi perusahaannya.


Dalam rapat ini, mereka akan membahas soal rancangan infrastuktur sebuah museum. Rencananya, sebuah museum besar akan didirikan di pusat negara.


"Museum ini harus dirancang dengan teknologi desain supaya menciptakan kehidupan yang lebih baik." Ucap ayahnya Brian di tengah pembicaraan.


"Ya, saya sendiri juga sudah melihat bagaimana perkembangan revolusi digital yang berawal dari ponsel kecil, namun bisa melakukan segala hal. Kita harus mengisi kekuatan penuh untuk sebuah ruangan." Tutur Garrick yang merupakan arsitek London itu.


Pembicaraan berlangsung panjang. Dalam proyek ini, Garrick bertujuan untuk memberikan sumbangannya. Ia adalah arsitek yang terkenal dalam rancangan internasional. Selain itu, ia merupakan perencana perkotaan, pelukis, dan juga pemahat.


"Baik kalau begitu, tapi Garrick, sebelum berpisah saya ingin menunjukkan bagian studio saya, saya sangat merekomendasikannya, bagaimana?"


Di akhir makan siang, ayahnya Brian menawarkan Garrick untuk melihat langsung bagaimana studio milik perusahaannya.


"Tidak, tidak, saya tidak berminat." Jawab Garrick membuat semua terkejut hebat.


"Saya tidak ingin sekedar melihat saja, tapi saya ingin berkontribusi di perusahaan anda." Lanjut Garrick mengubah ketegangan tadi menjadi tawa.


Semua nampak berbahagia, mereka langsung berjabat tangan. Melebihi harapan, Garrick kini telah menjadi bagian dari perusahaan. Brian ikut senang, penjemputannya ternyata membuahkan hasil yang sangat besar.


Sekarang Brian memang belum mendapat gelar, tapi ia sudah sangat bisa diandalkan. Brian sudah tak lagi merasa bahwa dirinya adalah beban, justru ia yakin, dirinya akan lebih sukses dari ayahnya.


***


Dengan setir di sebelah kanan, dan jalur sebelah kanan pula, Brian mengendarai mobil miliknya sendiri. Ia sudah berjanji kepada Elen, untuk mengabulkan apapun yang diinginkannya.


Sebenarnya Elen ingin jajan street food, karena selama ini asupan makannya selalu diatur dan sangat diperhatikan. Elen ingin makan daging sapi, ia bosan mendapat jatah daging ayam.


Demi keamanan dan kesejahteraan begitu juga sebagai bonus cuci mata untuk Brian, Angel Vione, yang merupakan perawat Elen, Brian ajak juga. Ia duduk di belakang bersama Elen. Hal itu membuat Brian merasa jadi seorang sopir.


(Eh, tapi dia emang sopir kan? Gimana sih? Tau ah).


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di jantung ibu kota, Pyongyang. Waktu yang pas mereka datang ke mari, sore hari sebelum matahari terbenam itu sudah terlihat banyak pedagang berbaris rapi di tepi jalan.

__ADS_1


Brian langsung memesankan Elen seporsi doner kebab mini. Mereka mencari tempat duduk dan Elen langsung menyantap kebab miliknya dengan sangat lahap.


Brian tidak memesan apapun untuk dirinya, ia tak enak karena tahu Angel tidak akan pernah jajan makanan pinggir janan. Angel adalah seorang muslim, dirinya sangat apik karena tak yakin makanan di sana terjamin halal.


"Whoaa.. Angel! Kau harus coba ini, ini sangat enakk!" Elen menyodorkan makanannya kepada Angel.


"Makanlah." Angel yang duduk dihadapannya itu hanya tersenyum.


"Angel tidak makan makanan yang seperti itu, lebih baik cepat kau habiskan, tapi kunyah baik-baik dan jangan meninggalkan sisa." Ucap Brian.


"Cerewet!" Ketus Elen kemudian lanjut menyantap kebab milknya.


Mini kebab itu sudah cukup untuk Elen, butuh waktu lama untuk Elen bisa menghabiskannya. Satu yang Elen ingat, ia harus mengunyah makanan itu sebanyak 33x kunyahan. Angel yang mengatakannya.


Brian yang tidak ada kerjaan itu pun memandang Angel yang duduk di hadapan Elen, ia sangat begitu manis, berseragam putih dan juga berbalut hijab yang baik.


Brian amat sangat bersyukur, untunglah di Negara Korea ini dirinya masih bisa menikmati kecantikan natural seorang wanita. Angel salah satu yang berbeda dari wanita-wanita yang sering ia jumpai di kampusnya.


Tidak bermake up, tidak oplas (mungkin), tidak memakai fashion-fashion gaul yang katanya kekinian. Brian lebih sering melihat Angel memakai pakaian polos, dan itu jauh lebih baik dari trend fashion ala anak Korea.


"Kalau kau jajan lagi, nanti kau akan gendut, apa kau mau ketahuan Ayah? Kalau Ayah tahu Kakak dan Angel mengizinkanmu makan makanan itu, nanti bisa-bisa Kakak dan Angel diusir lalu hidup bersama. Apa kau mau?" Ancam Brian langsung membuat Angel jadi tercengang.


"Eh, maksudnya diusir saja." Lanjut Brian meralat perkataannya.


Elen menggeleng dengan wajah tertekuk, ia tak mau Brian dan Angel yang ia sayang pergi meninggalkannya. Dan lagi dirinya juga sudah berjanji hanya membeli satu jajanan saja. Akhirnya Elen menurut, mereka kembali ke mobil menuju perjalanan pulang.


"Aiya iya am yor litel baterpley.."


"Aiya iya am yor litel baterpley.."


Di tengah perjalanan, ponsel Brian berdering menandakan masuknya sebuah panggilan. Brian pun mengambil ponsel yang ia simpan di dashbord. Kemudian, ia menggeser ikon hijaunya.


"Ada apa Lang? Tumben? Lu kangen ya sama gue?" Ucap Brian mengangkat telepon di seberang sana.

__ADS_1


Rupanya Gilang yang menelpon. Tidak biasanya ia menelpon, bahkan chattingan pun mereka jarang. Tentu karena mereka bukanlah pacar, dan Brian juga memang sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Ckitt..!!"


Tak berapa lama, Brian menginjak rem secara mendadak, membuat penumpang yang berada di belakang langsung terkejut, dan kendaraan di belakang ikut terkejut pula.


"Tinn!! Tinn!!"


"Ya! We momcho?!"


"Huaaa..."


Mobil di belakang protes dan langsung meneriaki Brian. Sementara Elena langsung menangis karena terkejut. Angel yang sebenarnya ikut terkejut langsung mencoba menenangkan Elena, untung keduanya baik-baik saja.


Melihat kondisi di belakang, Brian langsung melaju kembali dan menepikan mobilnya di tepi jalan. Angel tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Brian mengobrol di telepon dengan Bahasa Indonesia.


Kemudian Brian minta waktu sebentar untuk keluar. Angel penasaran namun rasa penasarannya hanya ia pendam, ia juga tak mau ikut campur, yang penting sekarang ia harus menenangkan suasana hati Elena.


"Sumpah Yan, gue gak boong, kalo boong ilang tu satu biji gue!" Ucap Gilang menjawab pertanyaan Brian.


Sebelumnya Gilang berbicara kepada Brian bahwa saat ini Wendy tengah ditahan dalam penjara, sontak Brian terkejut, namun lebih terkejutnya lagi hukuman mati akan jatuh kepada Wendy dalam waktu 2 hari lagi.


Bagaimana mungkin? Brian tidak bisa terima, hal ini tidak pernah terjadi di masa yang sebelumnya.


"Gue bingung kudu gimana Yan, gue gak bisa bantu apa-apa. Dan, gue ngabarin lu juga pasti kagak bakal ada yang berubah. Kayaknya ini emang udah nasibnya Si Wendy Yan." Nada bicara Gilang menjadi sendu.


Sekian menit, Brian pun kembali ke dalam mobil. Ia meminta maaf karena tak bisa mengantarkan Angel pulang. Padahal sebelumnya Angel bilang ia masih ada urusan pribadi, tapi akhirnya Angel memutuskan untuk menginap menemani Elen.


Pukul 8 malam, Brian langsung terbang ke Indonesia. Kali ini ia sendiri, ia pergi tanpa sepengetahuan Ayah karena Ayah tengah berada di luar negeri.


'Wen, lu udah pernah berkorban demi gue! Selama ini elu selalu sama gue, gue tau ini semua pasti ada yang salah.'


'Yuna! Cewek sialan!'

__ADS_1


Perjalanan terasa amat sangat diperlambat. Brian merasa cemas, ingin menguak kasus dan menemukan kebenarannya.


__ADS_2