
"Yan, lagi ngapain? Katanya lu mau ngajakin cewek-cewek mandi di kamar lu?"
Ketika Brian tengah berada di kamar para wanita, Wendy datang dan berdiri di lawang pintu. Terlihat Gilang juga ikut berdiri di sampingnya.
"Si Anang, tadi udah siap-siap mau ngumpet di WC. Eh lu nya malah lama, kasian tuh, kayaknya dia phobia sama bak mandi." Ucap Gilang.
"Mana ada woy! Gue gak takut sama yang begituan." Anang nyolot tapi sosoknya tak nampak karena terhalangi oleh 2 pria itu.
Saat itu, Wita bangkit dan berjalan menghampiri Wendy.
"Wen, kita balik sekarang." Langsung saja Wita menerobos kedua pria yang berada di lawang pintu itu dan pergi tanpa sepatah kata.
"Loh? Wen?" Gilang terkejut, begitupun Anang dan Brian.
"Tar gue kabarin lewat ponsel. Yaudah gue cabut Yan." Wendy segera pergi menyusul Wita.
Melihat kepergian Wendy sampai menghilang, Anang berbalik dan ikut berdiri di lawang pintu ia melihat Yuna yang masih duduk di atas ranjang. Melihat Yuna masih memakai pakaiannya yang kemarin, ia pikir Yuna masih belum bisa berjalan seperti semalam.
"Yuna, kau mau mandi kan? Mau aku gendong?" Anang menawarkan jasanya.
"Hahh!" Yuna segera melemparkan bantal tidurnya kepada Anang, tapi tidak kena.
"E-eh? Kenapa Yuna? Aku salah apa?" Anang merasa heran.
"Jangan coba-coba berbuat mesum kepadaku! Apa yang sudah kau lakukan kepadaku semalam?!" Yuna menarik selimutnya hingga menutupi bagian dadanya.
"H-hah?" Mendapat perkataan itu, Anang merasa tidak mengerti.
"Yuna, tenang, Anang tidak berbuat apa-apa kepadamu. Bukankah kamu sendiri yang meminta Anang untuk mengantarkanmu ke kamar? Aku juga ikut, aku juga melihat Anang tidak berbuat apa-apa kepadamu." Ucap Sinta padahal ia tidak melihat.
'Njir, kok ni cewek galak juga? Padahal semalem dia yang hampir ngegoda gue.' Gumam Anang.
"Yuna, kamu sadar gak apa yang kamu lakuin semalem?" Tanya Brian dihadapan semua orang.
"A-aku... aku ingat aku memaksa Anang untuk mengantarku ke kamar, dan aku.. aku sempat memarahi Wendy." Ucap Yuna, ragu. Ia menatap ke samping karena merasa malu.
"Ya, lalu kenapa kau melakukan itu?" Tanya Brian lagi.
"E-eh?! A-aku malu menceritakannya. Dan lagi.." Yuna melirik ke arah Sasa yang bukan merupakan anggota mak comblang.
__ADS_1
"Santai aja, Sasa juga bakalan ikut ngebantu kok. Iya kan?" Brian menoleh ke arah Sasa. Ia yakin Sasa juga akan ikut membantu, dia baik, dan juga dia adalah pacarnya Gilang.
"I-iya," Sasa mengangguk padahal ia tidak tahu apa-apa.
"Tapi aku malu jika harus berbicara terang-terangan kepada kalian." Yuna menunduk sambil berkata lirih.
"Kau mau kita melanjutkannya atau tidak?!" Brian mengancam dengan nada keras.
Semua orang langsung terkejut melihat Brian melontarkan nada yang tinggi kepada seorang wanita. Brian merasa kesal, ia berpikir kalau sejak awal Yuna itu memang mencintai Anang.
"A-aku mau!" Ucap Yuna, ia terlihat berkaca-kaca.
Semua orang hanya diam karena mereka juga mengira bahwa Yuna itu memang mempermainkan mereka.
"Kalau begitu cepat!" Ucap Brian.
"Y-ya.. Semalam aku merasa ingin sekali mendekati Wendy. Tapi aku sadar, makannya aku segera meminta Anang untuk mengantarkanku ke kamar sebelum kesadaranku hilang." Ucap Yuna lirih, ia tidak berani memandang wajah Brian.
Memang benar, akan bahaya jika Yuna langsung menyergap Wendy. Rencana mereka akan terbongkar begitu saja. Dan lagi, Wendy adalah orang yang selalu memilih, bukan dipilih.
Semuanya dapat menerima penjelasan Yuna dan percaya kembali kepada Yuna. Mereka paham dan mengerti, sementara Sasa yang tidak tahu apa-apa merasa kebingungan.
"Aku minta maaf Yuna, aku tidak tahu." Brian memohon sedalam-dalamnya.
Mendengar permintaan maaf dari Brian, Yuna mengangkat kepalanya dan menatap Brian dengan senyuman yang tulus.
"Tidak papa, aku senang kalian semua rela membantuku."
Permintaan maafnya diterima, dan Brian pun membalas senyuman Yuna. Saat itu, Yuna mengulurkan kembali selimutnya, ia merasa tidak enak duduk terus di atas kasur milik tuan rumah.
"Ah, Yuna, bajumu? Ku pikir kau sudah membersihkannya." Brian melihat noda merah yang terlihat jelas.
"Baju?" Yuna tidak menyadari, ia langsung melihat bajunya dari atas hingga ke bawah.
Dress selutut berwarna kuning itu memiliki noda merah pada bagian depan bawahnya. Yuna terkejut, ia lupa bahwa noda merah itu adalah tumpahan red wine. Lalu ia mengira bahwa dirinya sedang menstruasi.
"Kak Sinta, bagaimana ini?" Dengan perasaan malu, Yuna segera menutupi bagian roknya dengan selmut.
"Kita mandi di rumahku saja. Di sini banyak pria mesum. Sekalian aku akan membuat sarapan." Ajak Sinta.
__ADS_1
"Kau juga ikut Sasa." Lanjut Sinta.
"Hey, di bawah pasti sudah ada Ibu, bagaimana nanti kalau Ibu tahu soal itu?" Ucap Brian.
"Kau cuci saja baju itu secara manual, dan Lebih baik kau mandi di kamarku, aku dan yang lainya tidak akan masuk." Lanjut Brian.
"Tapi kau tidak memasang cctv kan?" Yuna mempertimbangkannya.
"Ide bagus tuh, Yuna, mau aku gendong?" Tawar Anang.
"Tidakk!" Yuna berteriak.
"Ayok Yuna biar ku antar." Ucap Sinta.
Yuna segera mengambil pakaian gantinya dan pergi menuju kamar Brian bersama Sasa dan Sinta.
"Kalau begitu aku ke rumah dulu ya, kunci pintu kamarnya dan juga kunci pintu WC nya." Sinta mewanti-wanti.
Lalu Sinta dan Sasa berbalik untuk pergi ke bawah, di lantai atas para pria terlihat masih berkeliaran. Sinta segera menuju pintu balkon dan berteriak.
"Awas ya jika diantara kalian ada yang berani masuk!" Segera Sinta mengajak Sasa untuk pergi ke rumahnya.
Baru saja turun dari anak tangga, Sinta melihat Ibu yang tengah berdiri di belakang meja dapur. Ibu terlihat sedang memasukkan telur pada sebuah mangkuk besar. Benar kata Brian, sepagi ini Ibu sudah sibuk di sana.
"Nak Sinta, kamu mau kemana?" Tanya Ibu menyadari kehadiran Sinta.
"Aku mau ke rumah Bu, bikin sarapan." Ucap Sinta.
"Ehh? Kok jauh-jauh pake ke rumah segala? Ini Ibu lagi mau nyiapin banyak nih." Ucap Ibu.
"Kalo gitu Sinta bantu Bu. Ayok," Sinta ikut dan mengajak Sasa juga.
Sedangkan di atas balkon:
"Lang, Lang, ini tempat gak bakalan rubuh apa?" Anang merasa gemetaran, ia tidak berani berdiri dan terus saja duduk di dekat pintu.
"Alah, masa lu yang tiap hari manjat dinding takut ketinggian?" Gilang berdiri tepat di belakang pagar.
"Tapi ini beda Lang." Anang memegang dinding karena takut jatuh.
__ADS_1
"Bro, gue haus nih belom minum. Gue ke bawah dulu ya." Brian meninggalkan teman-temannya itu dan pergi menuju lantai bawah.