Kosong

Kosong
Obrolan Aneh


__ADS_3

Saat brian hampir menginjakkan kaki di lantai bawah, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar obrolan antara Ibu dan kedua wanita yang tadi pamit untuk pergi keluar. Brian bersembunyi di balik dinding sambil terus mendengarkannya.


Di atas meja granit yang begitu lebar dan mewah, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sandwich sudah Ibu sediakan. Seperti sayur-sayuran, beberapa botol mayones dan saus.


"Kamu bisa ngocoknya gak? Jangan sampe muncrat ya." Ibu menyerahkan mangkuk yang sebelumnya sudah ia masukkan telur. Ibu tidak yakin jika remaja zaman sekarang masih tahu bagaimana caranya memasak.


"Jangan lupa susunya." Lanjut Ibu.


"Iya Bu, biar aku coba." Sinta mengambil mangkuk itu begitupun kocokannya.


"Yahh.. sosisnya gak ada, apa kita nyuruh Brian aja ya?" Ibu melihat isi kulkas, di dalamnya hanya tinggal beberapa potong sosis.


'Hah?! Sosis gue?!' Brian yang mendengarnya langsung terkejut.


"Gak usah Bu, gini juga enak kok." Ucap Sinta.


'Hahh..' Brian merasa lega, ia kembali melanjutkan ngupingnya.


Sementara Sinta mengocok telur, Sasa memotong-motong tomat yang sudah ia cuci sebelumnya. Ibu meletakkan beberapa helai roti di atas meja dan akan menyusun isiannya bersama Sasa.


Ibu mengambil botol mayones dan hendak membuka tutupnya. Sasa merasakan firasat buruk, ia melihat kejanggalan saat Ibu memegang botol mayones. Sementara tangan kiri Ibu membuka tutup mayones, tangan kanan Ibu menggenggam kuat botol mayones yang lembek itu.


"Crrtt!" Benar saja, mayonesnya keluar tapi tidak sampai muncrat.


"Ahh.." Sasa terpejam dan berteriak, padahal mayonesnya tidak kena kepadanya.


"Aduh, maaf ya, nggak muncrat ke wajah kamu kan?" Ibu bertanya seperti orang yang linglung. Padahal jelas-jelas mayonesnya tidak muncrat ke jauh.


"Ng-ngak kok Bu, Ibu lanjutin aja." Sasa merasa malu.


"Mmm.. Ibu suka yang kental gini, lebih enak kalo banyak." Ibu menuangkan banyak mayones ke salah satu roti yang mungkin itu adalah roti miliknya.


"Coba kamu jilat, enak gak? Ini Ibu yang ngocok sendiri loh." Ibu menyuruh Sasa mencoba mayones buatannya.


"Mmm.. enak Bu, warnanya juga putih." Ucap Sasa, biasanya ia melihat mayones yang berwarna kekuning-kuningan.


Setelah mengolesi roti dengan mayones, Sasa menyusun daging asap yang sebelumnya sudah Ibu hangatkan dan menimpanya dengan bahan-bahan yang lainnya.


"Yang rapih ya nyusunnya, biar enak dilihat." Ibu membiarkan Sasa dan hendak mengambil bahan lainnya.


Sedangkan yang didengar oleh Brian: "Yang rapih ya nyusu nya, biar enak dijilat."


Kwkwkw


"Itu timunnya belum kamu masukin." Ibu kembali menghampiri Sasa sambil membawa bungkus plastik berisi lembaran keju.


"Oh, iya Bu, aku ambil." Sasa mengambil timun yang berada di depannya lalu mencucinya.

__ADS_1


Sinta berjalan menghampiri Ibu sambil membawa telur yang sudah selesai ia goreng dan potong-potong.


"Wahh.. Sinta, kamu kok bisa? Mm.. kok enak gini? Ibu jadi pengen lagi." Ibu mencicipi telur goreng buatan Sinta dan mengambil satu potong lagi.


"Sinta udah biasa ngelakuin ini di rumah Bu." Ucap Sinta.


'Hah?'


"Haatchuww!"


Tak sengaja, Brian bersin karena hidungnya terasa gatal. Ia mengeluarkan keringat dingin, keberadaannya sudah diketahui dan dirinya harus segera menampakkan diri.


Langsung saja Brian berjalan dan berbelok ke arah kanan tanpa melihat dapur yang sedang ditempati oleh Ibu dan kedua wanita itu. Ia menghilang dibalik dinding dan tidak tahu harus kemana.


"Brian? Kamu lagi ngapain?" Tanya Ibu merasa aneh melihat Brian.


Berjalan di dekat meja, Brian langsung berjongkok dan membuka setiap laci untuk berpura-pura mencari sesuatu.


"I-ini Bu, lagi nyari album foto." Teriak Brian.


Tak lama, Anang dan Gilang turun ke bawah dan saat ini mereka tengah berada di atas tangga.


"Si Brian kemana sih, lama amat."


Terdengar obrolan mereka dari bawah, Brian yang menyadarinya pun langsung menengadah dan melihat kedua temannya yang sedang menuruni anak tangga.


Brian takut kedua temannya melihat kejadian tak senonoh antara Ibu dan kedua wanita itu. Segera Brian berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. Ia menyuruh kedua temannya untuk berputar arah dan kembali lagi ke atas.


"Yan! Lu lagi ngapain sih?" Teriak Gilang dari atas.


"Ini, lagi nyari album foto." Ucap Brian.


"Lah? Katanya lu mau ngambil minum?" Gilang merasa heran.


"I-iya sebentar."


Terpaksa Brian harus pergi ke dapur. Ia berjalan menunduk karena tak ingin melihat kejadian apa yang sedang terjadi di sana.


"Brian kamu kenapa?" Tanya Ibu.


"Gak kenapa-napa Bu," jawab Brian sambil mengambil gelas di atas rak.


"Yan," Gilang dan Anang ikut turun ke bawah.


Brian langsung terkejut, ia melihat ke ujung tangga dengan mata yang membelalak. Tapi seketika perasaannya berubah karena mendengar ucapan yang datang dari mulut Ibu.


"Eh, temen-temennya Brian. Kalian mau sarapan sekarang? Ayo duduk, sebentar lagi sarapannya siap kok." Ucap Ibu.

__ADS_1


'Sarapan apa?' Otak Brian masih setengah menjalar ke dunia surgawi.


Dengan ragu, Brian menolehkan kepalanya dan melihat ketiga wanita yang sedang berada di belakang meja dapur. Ia menatap dari atas ke bawah dan tidak melihat keanehan apapun yang sedang terjadi.


Sinta menyeringai menatap Brian, ia memang sudah merasakan obrolan aneh tadi dan ia tahu bahwa Brian sudah menguping topik yang tadi mereka dibicarakan.


"Hiii!" Brian merasa ngeri melihat tatapan Sinta.


'Apa yang sedang dipikirkan Sinta?!'


"Kamu kenapa sih Brian? Dari tadi Ibu lihat kamu.."


"Ng-nggak kok Bu, a-ayo, kita sarapan." Brian berjalan menuju meja makan dan mengajak kedua temannya yang masih berdiri di dekat tangga.


Sarapan sudah siap, semua sudah duduk di tempatnya dan Yuna pun juga baru sampai di bawah. Tapi wajah Yuna terlihat kebingungan, sepertinya ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.


'Mmh! Makanan apaan ini?! Kok roti dipakein telur sih?!


Anang merasakan gigitan pertama. Dari tampilannya, ia sudah merasa ragu untuk mencicipi, tapi ia merasa tidak enak jika harus menolak. Akhirnya ia menghabiskan roti sandwich itu dengan perasaan mual.


Setelah sarapan, mereka kembali ke atas dan mengambil tasnya masing-masing.


"Yan, masa sarapan gitu doang? Mana kenyang lah." Ucap Anang.


"Lu sih gak tau kandungannya." Jawab Brian.


"Kandungan siapa?" Anang merasa heran.


"Ahh.. udah lah, yang penting lu udah sarapan." Brian malas menjelaskan.


"Lah? Ini tasnya si Wendy kok gak dibawa?" Gilang mengambil tasnya dan melihat tas Wendy yang masih berada di sana.


"Lu yang bawa." Titah Brian.


"Beban.. beban.."


Gilang mengambil tas Wendy dan mereka pun keluar dari kamar Brian. Masih pukul setengah 6, mereka mampir ke kamar wanita dan melihat semuanya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Sasa, aku mau pinjem yang ini." Ucap Yuna di depan cermin.


"Kalian lagi ngapain?" Brian menghampiri Sasa dan Yuna yang sedang berada di depan cermin.


"E-eh?!! A-aku.." Yuna terkejut.


"Brian, kamu keluar, kita lagi sibuk," ucap Sinta yang sedang membereskan tempat tidur.


"Hmm.." Brian pun keluar dari kamar itu dan berjongkok di luar sambil menunggu mereka selesai.

__ADS_1


__ADS_2