
Sekitar pukul 5 sore hari, Ibu sudah terlihat berbicara dengan seseorang lewat telpon. Ya, itu adalah Ayah, ia baru saja selesai lembur pada pukul 9 malam menurut waktu Sydney.
Ayah adalah seorang arsitek, pekerjaannya itu mengharuskan dirinya untuk berkeliling dunia. Bukan untuk bermain-main, ia dibimbing oleh insinyur untuk mengamati dan mencari hal-hal baru mengenai inspirasi bangunan-bangunan yang ada di luaran sana.
Sekarang, Ayah tengah menetap di Australia. Ia sudah begitu ahli dan masih mengerjakan proyek pada suatu kontrak. Mungkin setelah ini ia akan berpindah lagi ke negara lain.
"Gimana? Ibu suka gak sama desainnya?" Ucap Ayah pada telpon.
"Suka Yah, Ayah beneran mau bikin rumah di sana?"
"Iya, tapi Ayah masih pertimbangin kita mau tinggal di negara mana. Ayah harus pilih tempat yang strategis juga buat pekerjaan Ayah."
Yang pastinya, bukan di negara Indonesia. Peluang untuk Ayah menjalankan bisnisnya diperkirakan sangat kecil, jika harus tinggal di negara Indonesia.
"Ibu sama Brian ngikut aja Yah. Iya kan Brian?" Ibu melirik ke arah Brian dengan wajah senang.
"Mm.. iya Yah." Brian yang sedang memegang ponsel berhenti sejenak sambil mendengarkan obrolan di telpon.
'Kalo gue pergi, terus Sinta gimana? Apa Ibu gak kepikiran?' Gumam Brian melihat ibunya yang terlihat sangat senang.
Brian kembali menatap ponselnya. Ia tengah berbalas pesan dengan Wendy untuk mengajaknya pergi ke bioskop besok malam. Tapi ia kembali terhentikan karena mendengar suara Ayahnya.
"Brian, di sana kamu mau lanjut ke SMA? Mending kamu lanjut ke SMK aja, biar banyak prakteknya. Nanti kan kalo kuliah kamu gampang. Kamu mau ngikutin jejak Ayah kan?"
"Iya Yah, Brian mau." Ucap Brian singkat, ia menerimanya begitu saja.
Usai telepon berakhir, Brian pun kembali ke kamarnya. Ia tak masalah jika dirinya masuk ke SMK. Tapi ia merasa ragu untuk pergi ke suatu negara yang entah di mana. Memangnya Sinta akan rela ditinggalkan olehnya? Meskipun masih bisa berkomunikasi lewat telpon, Brian juga merasa berat jika harus meninggalkan Sinta.
'Baru aja gue mau mulai. Argghh! Gak usah dipikirin lah! Lagian masih 3 tahun lagi!"
Tiba-tiba saja Brian merasa rindu kepada Sinta. Malam itu ia ingin sosok Sinta berada di dalam dekapannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah melihat foto-foto gadis pirang itu di dalam ponselnya. Betapa konyolnya dia, berani-berani memacari seorang gadis SMA.
***
Malam pun pergi, langit menunjukkan sinarnya yang remang-remang. Brian masih belum memberi tahu Sinta soal ajakan Yuna itu. Sinta sama sekali tidak aktif di ponselnya. Ya, mungkin dia memang sibuk untuk belajar. Sekarang Brian hanya berkutat sambil memandangi jendela Sinta di kamarnya.
Tak lama, jendela itu terbuka dan menampakkan sosok Sinta dengan rambut kusut yang acak-acakan. Sinta terlihat mengucek-ngucek matanya, lalu ia membelalak dan berjongkok untuk bersembunyi.
"Lucunya." Gumam Brian tersenyum melihat Sinta.
Hanya ada sebuah tangan yang melambai-lambai. Lalu setelah itu Sinta tidak kembali terlihat lagi.
__ADS_1
Brian sudah siap-siap dengan cepat. Hanya mandi, memakai seragam dan menata rambutnya. Ia kembali menatap jendela Sinta dengan perasaan sendu. Terlihat Sinta yang mondar-mandir ke sana ke mari.
Setelah siap untuk berangkat, Sinta pun muncul di jendela kamarnya dan menyapa Brian.
"Hai," ucap Sinta sambil tersenyum menunjukkan telapak tangannya.
Lalu Brian menunjuk-nunjuk ke arah bawah, menyuruh Sinta untuk segera ke bawah dan menemuinya. Sinta pun datang ke bawah, ke samping rumahnya. Saat ini ia tengah menyembunyikan perasaannya yang berdebar-debar.
"Ada apa Brian? Tumben sekali." Ucap Sinta tersenyum.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihatmu." Ucap Brian gugup.
"Jangan malu begitu, bilang saja kau rindu kepadaku. Hahaha.." Sinta merasa senang.
"Mm.. yah, itu sama saja." Brian langsung terpejam mendekap Sinta dan membuat Sinta sangat terkejut.
"B-Brian! Nanti ada orang yang melihat!" Sinta langsung melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku." Tiba-tiba Brian meneteskan air matanya.
Itu membuat Sinta heran, kenapa lelaki seperti Brian menangis begitu saja? Apa dia sedang ada masalah?
"Brian, kau tidak papa? Peluk aku kalau kau mau, aku tidak peduli jika orang lain melihat kita." Sinta merasa bersalah.
Brian pun kembali ke rumahnya dan duduk untuk memulai sarapan. Ia masih memasang wajah sendu, termenung di meja makan sambil memakan sarapannya.
"Kamu kenapa Brian? Mimpi buruk? Apa kamu keinget sama Nak Sinta?" Akhirnya Ibu ingat juga kepada Sinta.
"Gak kenapa-napa Bu." Brian sudah memutuskannya sendiri.
Lepas sarapan, Brian pun berpamitan dan pergi menuju ke sekolahnya. Di samping ia tidak melihat Sinta. Hanya ada sebuah mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.
'Wuh sial! Malah lupa buat bilangin itu ke Sinta!'
Di tengah lapang upacara, langkah Brian terhentikan. Ia baru sadar dari lamunannya sambil menepuk keras kepalanya.
"Bro! Lu mau kontes?" Teriak Gilang yang sedang duduk di depan kelas.
Brian tidak sadar kalau di depannya ada Gilang. Dengan wajah polos, Brian melirik-lirik ke sekitarnya. Ia memang biasa jalan ke tengah lapang, karena itu memang jalan pintasnya menuju kelas.
"Tch! Caper mulu tuh anak!" Dari belakang terdengar suara laki-laki yang pasti sedang membicarakan Brian.
__ADS_1
Brian masih terdiam di sana. Ia menoleh ke samping kiri dan melihat segerombolan laki-laki yang juga berjalan ke tengah lapang. Tetapi, satu diantara mereka tidak ada yang menoleh sedikitpun.
"Bro! Lu ngapain?" Teriak Gilang yang sedari tadi melihat Brian.
Lalu Brian pun berjalan santai menuju ke kelasnya. Ia ikut duduk di depan kelas melihat murid yang berdatangan dari arah gerbang.
"Lu tadi kenapa?" Tanya Gilang sendirian.
"Nggak, gue lagi keinget sesuatu aja. Eh iya, si Wendy katanya mau ikut."
"Sama si Wita juga? Kesel gue kalo nemuin cewek itu. Si Wendy juga ngapain sih kudu bawa-bawa cewek itu segala?"
"Gak tau sih, tapi dia bilang si Wita lagi gak ada di rumah."
"Lah emang kemana tu cewek?"
"Biasa, pergi sama temen-temannya. Nge BM gitu ke luar kota."
(Nge BM itu gak tau apa ya, tapi biasa dilakuin sama anak-anak jalanan yang ngakunya anak punk. Mungkin BM itu bajak mobil, atau berhentiin mobil. Mereka anak jalanan berhentiin mobil bak terbuka tuh, terus ngikut gitu aja ke mana mobil itu jalan).
"Hahaha.. gila anjir, emang, muka udah kayak anak jalanan. Pantes tu idupnya di jalanan." Gilang tertawa keras.
"Haha, iya, untung sih si Wendy masih sadar, dia gak ikut-ikutan sama ceweknya." Brian ikut tertawa.
"Padahal gue yakin kalo si Wita pergi sama temen lakiknya juga. Saraf yang mana sih yang kenain si Wendy? Heran gue."
"Ya udah lah biarin aja. Si Yuna udah dateng?"
"Udah, tuh lagi di kelas."
"Ntar gue bilangnya pas istirahat aja deh."
Istirahat pun tiba, dan seperti biasa hanya ada Yuna di dalam kelas. Ia mengeluarkan bekalnya, meskipun tahu bahwa 3 orang lelaki masih berada di dalam kelas.
"Yuna, maaf ganggu. Aku mau bilang kalo si Wendy udah setuju. Bayarnya mending pake CC aku dulu aja." Brian mengeluarkan kartu kreditnya.
"Gak usah, aku juga punya kartu kredit kok."
"Tapi ini ada diskon loh kalo mau nonton di bioskop."
"Punya aku juga."
__ADS_1
Mereka berselisih untuk menentukan kartu kredit. Lantas mereka melihat dulu diskon dan promo dari kartu kredit siapa yang paling menguntungkan. Milik Yuna, dan mereka pun memesan 8 tiket untuk jadwal tayang pukul 18.40.
Yuna terlihat sangat senang, mengetahui bahwa Wendy akan datang sendirian. Karena semua memiliki pasangan, ia yakin bahwa dirinya akan dipasangkan bersama Wendy.