
"Mending kita pindah tempat aja Nang, ke kantin, sekalian makan." Ajak Brian, ia sudah tahu sesuatu akan terjadi.
"Haha, takut tuh mereka, cuma modal badan gede mah gue juga gak takut. Mereka lahirnya taun berapa sih? Salah masuk angkatan kali." Ucap orang yang sama dari kumpulan tadi.
"Ppfftt! Lu iri kali gara-gara badan lu pendek!" Ucap temannya yang masih sekumpulan.
"Enak aja, mereka pasti udah kumisan, cuma kumisnya itu dicukur! Haha... udah tua tapi tingkah masih kayak bocah!"
Tiga orang yang sedang dikata-katai itu langsung panas telinga. Padahal badan mereka itu sudah mereka dapatkan berkat hasil kerja keras mereka sendiri. Anang tersulut emosi, ia bangkit dan menatap sangar ke arah mereka sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Nang, udah gak usah diladenin, mending kita pindah tempat aja." Brian menghentikan pergerakan Anang.
"Bocah-bocah kayak mereka emang kudu dikasih pelajaran Yan!"
"Haha.. tuh kan? Dia tu emang udah tua, masa manggil kita bocah? Rabun lu?" Nyinyir orang pertama lagi.
Segera Anang mendekati mereka dan...
"Buk!"
Tepat sasaran, Anang menjotos pipi orang yang dari tadi berkata tak sedap. Terlihat sudut bibir siswa itu terluka dan mengeluarkan darah.
"Ukh, apa paan sih lu?! Gitu aja emosi!" Siswa itu memegang sakit pipinya.
"Buk!"
Ia menarik kerah Anang dan balik meninju wajah Anang juga. Tetapi tinjuannya itu tidak terlalu keras. Karena tubuh Anang tidak membungkuk sedikitpun, ia yang lebih pendek dari Anang tidak begitu menumbuk keras wajah Anang.
"Nang! Udah! Lu gak inget kalo ada cctv di sini? Ntar lu kena masalah gimana?" Ucap Brian berusaha menghentikannya.
"Haha.. jadi kalian takut sama cctv?" Meski sudah merasa sakit, tapi siswa itu malah semakin pedas berkata.
"Bacot! Lu bisanya cuma ngomong doang? Nih gue kasih tau gimana rasanya! Lu penasaran kan?"
"Buk! Buk! Buk!"
__ADS_1
Anang kembali melancarkan serangan tangannya. Gilang hanya menyimak dengan senyuman sinis, sedangkan Brian, ia panik dan terus berusaha melerai Anang.
"Yan! Lu kenapa sih?!" Segera Brian menarik paksa Anang.
"Diem lu!" Anang menangkis tubuh Brian.
"Sekali lagi nih buat kalian, siapa lagi tadi yang ngomongun gue? Sini gue kasih pelajaran!"
"Ini nih Nang, gue juga pengen hajar." Gilang menarik seseorang diantara mereka.
"Buk!"
Gilang meninju satu orang siswa lain, dan, "Buk!" Diikuti satu tinjuan lagi oleh Anang.
"Ngadu, ngadu tuh kalian! Kayak bocah bayi, bisanya cuma ngadu doang!"
Anang pun pergi dari tempat itu bersama kawan-kawannya. Mereka masuk ke kelas dengan amarah yang masih bergejolak.
"Heran gue, iri aja sampe segitunya. Bocah kacung!" Gerutu Anang sambil berjongkok.
'Padahal lu sama aja kayak mereka Nang.'
Masalah soal itu tidak lagi ada yang memperpanjang. Mungkin mereka malu mengadu karena takut termakan omongannya sendiri. Cctv juga menyorot, tetapi tidak ada panggilan apapun dari pihak sekolah.
Sekarang para siswa sudah mendapatkan kartu UAS. Tertera nama beserta dengan nomor ruangannya. Semua kisi-kisi sudah tuntas dibagikan, dan sekarang mereka tengah bebenah merapikan dan membersihkan kelasnya yang juga akan dipakai sebagai ruang ulangan.
Murid laki-laki hanya menjungkitkan bangku, lalu mereka menyerahkan sisanya kepada para murid perempuan. Semua siswa pergi ke luar, mereka diselimuti debu-debu sekolah yang beterbangan.
"Kita maen bola aja yok, kalian gimana? Mau ikut gak?" Tanya salah seorang siswa kepada Brian, Anang dan Gilang.
"Oke."
Tanpa peduli dengan acara bebenah, mereka pun berjalan menuju lapang. Bola sudah berada di tangan, kelas mereka memang sudah mempunyai bola sendiri yang harganya cuma 5000 an.
Murid laki-laki pun menghabiskan waktunya di lapang belakang. Beberapa siswa dari kelas lain juga ikut bergabung dengan mereka. Permainan sepak bola itu tidak diatur berapa jumlah pemainnya, yang terpenting 2 kubu seimbang jumlah anggotanya.
__ADS_1
Rasanya Brian sedikit agak malu, mengingat tingkah lakunya yang dahulu sangat angkuh dan anti bergaul. Ia tahu Anang dan Gilang sedari dulu memang bersikap biasa saja, mereka tidak terlalu punya sesuatu yang bisa disombongkan.
Di pinggiran lapang terlihat masih banyak murid wanita berlalu lalang, membawa ember beserta lap pel nya. Ada juga yang tengah mengelap kaca, mereka terpaku pada ketiga pria yang tingginya mencolok itu.
Setelah seluruh area sekolah selesai dibersihkan, mereka langsung dipersilahkan untuk pulang. Masih pukul 10, mereka pulang lebih awal. Lalu Brian beserta Anang dan Gilang pergi menongkrong ke warung belakang sekolah.
"Lu kok gak bawa ponsel sih? Kalo bawa kan kita bisa nyuruh si Wendy buat dateng ke sini. Repot kalo kita mulu yang harus ke sana." Rutuk Anang.
"Gak usah sering-sering dateng juga kali. Kita kan baru aja ketemu." Ucap Gilang.
"Dia kan solid kita, ntar besok suruh si Wendy buat jemput gue Yan. Kita pergi ke base camp lagi, tapi lu yang bayarin ya, gue kan lagi ngumpulin duit."
Berhubung esok adalah hari libur, jadi mereka memutuskan untuk mempererat solidaritasnya di tempat yang tersembunyi dalam hutan itu.
Di rumah, Brian segera menghubungi Wendy karena Brian sendiri juga sudah bersedia menerima ajakan itu. Tapi, Wendy bilang dirinya tidak bisa ikut, alhasil rencana dibatalkan tetapi Brian tidak bisa menghubungi Anang dan Gilang.
Tibalah hari senin, ini adalah hari yang akan menjadi tantangan bagi Brian. Ia sudah mempelajari banyak materi sekolah meskipun agak tak karuan. Untungnya kisi-kisi sangat bisa mempermudah proses belajarnya.
Dahulu, ia sering mencontek atau mendapat bocoran kunci jawabannya. Tetapi kali ini tidak, ia ingin melihat sendiri bagaimana kemapuan otaknya dalam berpikir.
Di ruang 05, Brian duduk sebangku bersama adik kelasnya yang masih kelas 11. Perempuan, dia lumayan cantik, tetapi sepertinya ia sama sekali tidak tertarik kepada Brian. Brian sama sekali tidak ingat kepada wanita itu, tidak pernah terjadi hubungan spesial antara dirinya dengan wanita itu.
"Yan, lu yakin gak mau? Ntar keburu ada pengawas dateng!" Sebelumnya, Anang menawarkan sebuah kunci jawaban soal yang entah dari mana ia dapatkan.
"Iya, gue lagi pengen ngerjain sendiri." Ucap Brian.
Lembar soal beserta lembar jawaban pun dibagikan beruntun dari bangku bagian terdepan. Brian duduk di barisan ke dua, ia duduk di bagian kanan dan menempel rapat dengan dinding.
Pengawas menyerahkan lembar kehadiran, menyuruh siswa menandatangani dan menggulirkannya. Banyak yang menyelipkan kertas di sela map absen itu saat digulirkan, sementara sang pengawas terlihat asik bermain ponsel.
'Tu guru gimana sih? Kalo gitu kan banyak yang bakalan nyontek. Gue jadi ngerasa gak adil.'
Meskipun Brian dapat melihat orang lain sibuk menyontek, termasuk adik kelas sebangkunya, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya. Mau salah ataupun benar, ia harus tetap mengisi setiap soal. Yang terpenting semua terisi dan tidak terlihat kosong.
Tak disangka-sangka Brian selesai dengan cepat. Ia melihat orang lain masih saling bertatap-tatap. Hal aneh, mereka mengerling, tubuh mereka juga sepertinya kaku. Mereka hanya bisa menoleh, menggerakkan mulut tetapi tidak bersuara. Jari mereka juga terlihat bergerak berisyarat, pergerakan mereka seperti orang yang memiliki kelainan.
__ADS_1
Hal lain yang Brian lihat juga cukup mengerikan. Sebuah hal mistis yang sama sekali tidak dihiraukan oleh sang pengawas. Gulungan kertas beterbangan ke sana ke mari, sedangkan murid terlihat fokus menatap ke arah sang pengawas.
'Hadehh.. gue jadi greget ngeliatnya. Kenapa mereka gak ngerjain sendiri aja sih?' Gumam Brian lalu ia bersandar pada dinding yang berada tepat di sampingnya.