Kosong

Kosong
Murid Jenius


__ADS_3

Gilang sudah keluar dari sekolah yang sebelumnya. Ia sempat bekerja di kota selama 3 bulan, menjahit sebagai operator produksi di sebuah pabrik tekstil.


Saat ia pulang kampung, dirinya mendapat kabar dari ibunya bahwa ada sebuah SMK baru yang mana semua biayanya digratiskan.


Gilang yang sudah merasakan bagaimana repotnya mencari uang ingin kembali hidup enak menjadi seorang pelajar. Dan hari ini dirinya masuk kembali ke kelas 1 sebagai seorang murid baru.


Sebelumnya ia terkejut karena rata-rata guru yang mengajar di sini adalah guru yang ia kenal di sekolah sebelumnya. Dan dalam 1 kelas hanya diisi oleh 10 orang murid. Namun perlahan ia terbiasa dan hari ini adalah bagian guru kimia mengajar di depan kelas.


"Hitunglah jumlah MOL dari 10 gram Ca CO3."


Agar tidak bosan, Pak Guru mengadakan sebuah kuis dengan janji sebuah imbalan. Gilang belum tahu apa imbalannya, tapi ia berusaha untuk memecahkan jawabannya.


"0,1 Mol." Jawab Gilang dalam hitungan detik.


Jawaban Gilang ternyata benar, ia langsung ke depan mengambil sendiri hadiah yang dijanjikan oleh Pak Guru. Dengan terheran-heran, ia kembali duduk di atas kursi.


"Ini apaan Pak? Kertas doang." Gilang mengacungkan sebuah kertas bercetak tebal.


"Itu uang." Ucap Pak Guru.


Jelas-jelas ini adalah kertas, hanya kertas. Memang iya bercetakan angka 2000, tapi ini benar-benar hanyalah kertas. Gilang yang tadi bangga mengambil kertas itu, kini merasa tengah dibodohi.


"Kalo kamu nukerin itu ke kantin, kamu bisa ngambil jajanan yang harganya 2 ribu." Lanjut Pak Guru tersenyum dengan mata melirik ke samping.


"Hah? Emang bisa?" Gilang tidak percaya.


"Ya bisa, Bapak kan ketua kantin di sini. Kamu gak akan percaya sebelum kamu coba membuktikannya."


Melihat Pak Guru yang berbicara sambil sesekali cengengesan membuat Gilang merasa memang tengah dikerjai. Gilang hanya bisa menyakuinya, kuis kembali dilanjutkan dan semua pertanyaan begitu amat sangat cetek di kepala Gilang, ia merasa gemas dan gatal ingin menjawab.


"Diketahui masa atom relatif (Ar) H \= 1 ; 0 Bla.. Bla.. Bla.."


Pak Guru terus mengajukan pertanyaan dan 5 pertanyaan berhasil Gilang jawab secara beruntun. Imbalannya masihlah sama, yaitu kertas bercetak angka 2 ribu.


Gilang sudah lelah bolak balik mengambil hadiah yang belum tentu berharga itu, dan Pak Guru juga bosan melihat Gilang yang terus saja menjawab pertanyaannya. Akhirnya Pak Guru mengakhiri kuis, dan saat tiba jam istirahat, Gilang beramai-ramai datang ke koperasi mencoba untuk menukarkan kertas itu.


Tak disangka 5 buah roti seharga 2 ribuan berhasil ia dapatkan secara gratis. Dan di kantin itu ia tidak serakah untuk menyantapnya sendirian.


"Punya lu isinya apaan?" Tanya salah seorang temannya yang kebagian roti gratis.


"Anjing edan." Jawab Gilang.


"Anjrit, ditanya malah gak bener. Tukeran nih sama gue, punya gue isinya kelapa, suka gatel-gatel bool."

__ADS_1


"Gak sopan banget sih lu, orang lagi makan. Udah makan aja yang ada, lagian kenapa malah ngambil yang itu?" Ucap yang lain.


"Ya kirain rasa apel gitu, soalnya bungkusnya warna ijo."


Usai menyantap makanan gratis itu, mereka langsung cabut kembali menuju kelas.


"H-hei, Gilang ya?" Wanita dengan seragam olahraga menghentikan langkah Gilang saat hampir masuk ke kelas.


"Hm? Iya, ada apa?" Gilang melihat wanita yang tingginya hampir setara dengannya itu.


"Emm.. Boleh pinjam sepatumu? Ada pelajaran olahraga di jam selanjutnya. Kelas ku ada di atas, hanya 2 jam, nanti aku kembalikan ke tempat semula." Pinta wanita itu sambil melirik ke arah rak sepatu.


Tidak seperti di sekolah yang sebelumnya, di sini semua murid harus melepas sepatu dan menyimpannya di rak untuk dapat masuk ke kelas.


"Oh, iya boleh."


Gilang pun membungkuk perlahan sembari melihat sepatu yang dikenakan oleh wanita itu. Dari ukurannya, sepertinya sepatu Gilang terlalu besar jika dikenakan oleh wanita itu.


'Apa dia mau ngejual sepatu gue ya? Tapi masa sih? Sepatu bau, murah lagi.' batin Gilang lalu menyerahkan sepatu yang sudah dilepasnya.


"Makasih ya, aku janji nanti ku kembalikan."


Wanita itu lalu berlari pergi sambil membawa sepatu Gilang. Kemudian Gilang duduk di kelas, bergabung dengan teman-temannya yang sudah masuk duluan.


"Bukan, orang gak kenal juga."


Bell masuk pun berbunyi dan 2 jam kegiatan belajar telah selesai. Waktunya untuk pulang, Gilang melihat ke atas rak memastikan keberadaan sepatunya.


"Lah? Gak ada."


"Apaan Lang yang gak ada?"


"Sepatu gue, dipinjem sama cewek tadi."


"Yaudah susul ke kelasnya."


"Ya masa gue nyeker."


"Belum bubar kali. Gue tunggu di parkiran ya, sekalian mau beli bensin dulu."


Gilang pun duduk sendirian di atas tembok depan teras kelasnya. Masih agak dini memang, beberapa kelas ada yang masih belum bubar, Gilang dapat memantaunya jelas karena sekolah ini tidaklah luas. Hanya ada jurusan otomotif dan TKJ, Otomotif pun membahas soal motor, bukan soal mobil.


"H-hai, maaf ya menunggu lama." Wanita yang ditunggu pun akhirnya datang menyerahkan sepatu Gilang.

__ADS_1


"Iya gak papa." Gilang yang menerima sepatunya itu lantas memakainya.


"Makasih ya." Ucap wanita itu setelah Gilang selesai memakai sepatu.


"Iya sama-sama." Tanpa basa-basi, Gilang langsung pergi begitu saja.


'Kenapa dia cuek banget?' Wanita itu berdiam melihat kepergian Gilang.


Di tempat parkir, teman-temannya sudah menunggu untuk pulang beriringan.


"Kalo gini mah mending gue putus sekolah aja." Gilang duduk di atas jok motornya untuk mengobrol sejenak.


"E-eh! Bool naga! Bool naga!" Tapi ia melonjak saat pantatnya bersentuhan dengan jok motor yang sudah berjemur selama berjam-jam.


"Hahaha.. Kenapa sih Lang? Emangnya ada apa?" Tanya temannya yang sedari tadi sudah menunggu.


"Masa pulang jam 12? Ini mah kayak bukan sekolah." Gerutu Gilang mendudukkan kembali pantatnya perlahan.


Jam 12 siang adalah jadwal pulang setiap harinya. Di sekolah yang dulu, Gilang selalu pulang antara pukul 2 dan 3. Ia pikir di sini gurunya tak niat mengajar. Karena memang, sekolah ini gratis, lain dari yang lainnya.


"Ya enak gini lah Lang, sekolah gak banyak biaya, cuma sebentar, tau-tau dapet ijasah kayak yang lain."


Pemikiran Gilang berbeda, terlalu banyak waktu luang yang ia buang. Di kelas, Gilang memang terkenal pandai, tentu karena ini adalah kali keduanya ia mengikuti pembelajaran kelas 10.


Banyak juga wanita aneh yang mendekatinya di sini, hal itu membuat Gilang merasa risih. Setelah lama diputuskan oleh Sasa perlahan ia sadar bahwa dirinya belum pantas pacar-pacaran, motor pun masih motor mio butut berwarna pink.


***


1 tahun telah terlewati, dan hari ini Brian hendak menuju Kantor Imigrasi. Sinta ingin ikut, tapi ia tengah ada kelas pagi. Sebelum pukul 12 tiba, Brian sudah berada di parkiran kampus.


Sebelum pukul 12 juga Sinta selesai dengan kelasnya dan langsung meniti menaiki motor sport Brian. Pagi tadi ia tidak berkendara sendiri menuju kampus, dirinya diantarkan oleh Brian sendiri. Mereka pun langsung saja berangkat dengan tanpa melupakan atribut keselamatan.


"Brian, aku pengen peyeum bandung!"


Di jalan, Sinta melihat sebuah gedung yang terpampang aksara peyeum bandung di atasnya. Brian tak pernah mengabaikan keinginan Sinta, sudah banyak hal yang ia jabani demi membuat Sinta bahagia. Satu kantong kresek kecil pun Brian bawa dari dalam sana.


Kebetulan di sampingnya ada sebuah kedai, dan masih ada waktu 1 jam lagi sampai janji Brian tiba. Jarak Kantor Imigrasi dari kampus tidak begitu jauh, karena memang keduanya berada di pusat kota.


"Dingin ya kalo naik motor, aku pengen yang anget-anget Brian." Sinta baru saja duduk kemudian ia mengenakan jaket yang sedari tadi ditentengnya.


Brian langsung berteriak memesan makanan berkuah hangat, ia kemudian melihat Sinta tengah asyik menyantap tape di atas meja. Sinta sangat lucu berbalut jaket hitam yang terlihat kebesaran. Tapi...


'Desah Komunikasi Teknologi!' Brian terkejut membaca tulisan di bagian atas lengan jaket Sinta.

__ADS_1


__ADS_2