
"Iya juga si, bukan acara mudik. Tapi kamu ke sini ngabarin orang tua kamu dulu kan?" Tanya Anang masih mengobrol dengan Yuna.
"Tidak, ada perdebatan kecil, jadi aku jarang mengabarinya."
"Sore gini emang gak takut ada yang ngapa-ngapain kamu di jalan gitu? Mana sendirian lagi, mending aku yang anterin pulang."
"Ehehe.."
Yuna hanya tersenyum, sedangkan Wendy yang mendengar tawaran itu merasa tengah tersaingi. Dari luar, Wendy yang duduk di sebelah Yuna itu hanya terlihat diam-diam saja.
"Atauu.. Biar Si Wendy aja yang anterin?" Anang melirik ke arah Wendy yang kini tengah menyibak-nyibakkan rambut gondorngnya.
"Eee..."
Yuna menoleh ke arah Wendy, dan Wendy yang merasa tengah diperhatikan berhenti bergerak menyibakkan rambut miliknya. Tangannya langsung turun menyentuh pelipis sebelah kanan, ia berusaha menyembunyikan setengah wajahnya.
Melihat kelakuan Wendy, tentu Anang merasa kocak. Ia tahu pasti apa yang tengah Wendy rasakan. Berusaha menahan tawa, ia menyelipkan telunjuk di bibir sambil mengatup-ngatupkan kedua sisi bibirnya.
"1 ..."
"2 ..."
"Elah, lama banget. Udah Yuna, aku anterin sekarang aja." Anang sudah menunggu namun keduanya hanya diam saja. Ila pun langsung bangkit dari duduknya.
"Anterin ke mana? Terus itu motornya Yuna mau dikemanain?" Wendy membuka suara.
"Oh iya ya, gue lupa. Kirain tadi gak bawa motor hehe.. gak jadi deh anterin Yuna. Yaudah cepet yok, keburu malem ntar." Anang berjalan ke arah motornya sendiri.
'Cepet, cepet, dari tadi juga elu yang bikin lama.' gumam Wendy ikut keluar dari meja.
Anang mengambil sebuah botol di saku motornya. Ketiganya sibuk dengan motornya Yuna, tak menunggu waktu lama, motor Yuna kembali menyala tapi kali ini mengeluarkan kepulan asap pekat.
"I-ini kenapa? Tidak akan meledak kan?" Yuna ketakutan, melihat motornya ngebul.
"Nggak, itu mah udah biasa." Jawab Anang.
"Ini cuma buat sementara, sekarang mending kita bawa dulu motornya ke bengkel biar bisa langsung diservis." Saran Wendy.
"Mau pulang sekarang kan?" Lanjut Wendy menatap ke arah Yuna.
Yuna mengangguk, Wendy pun kembali menghampiri warung, meminta ponsel Yuna kepada Bu Ijem. Ketiganya segera beberes dan hendak langsung berangkat.
"Ini minumannya gak kamu bawa?" Wendy masih berada di dekat meja, ia mengambil botol minuman yang tadi sengaja diletakkannya.
"E, itu kan punya kamu?" Jawab Yuna, melihat Wendy mengarahkan botol itu kepadanya.
__ADS_1
"Nggak, ini, aku tadi sengaja beli buat kamu."
Wendy menyerahkan minuman itu kepada Yuna, dengan ragu, Yuna langsung mengantonginya ke dalam tas. Ketiganya pun menuju bengkel terdekat dan menitipkan motor Yuna untuk diservis.
Masih di depan bengkel, ketiganya kini tengah berunding, menentukan siapa yang akan mengantarkan Yuna sampai ke depan rumahnya.
"Mau dianterin sama siapa nih, Yuna?" Tanya Anang tersenyum mengangkat kedua alisnya.
"Mm.. Kalian tidak usah repot, aku akan menelpon Ibu saja." Yuna merasa tak enak karena keduanya sudah membantu sampai ke sini.
"Alah, gak usah sungkan gitu, kita kan temen."
Tralala..
Teman, Yuna diakunya sebagai teman. Yuna tidak mengira, dalam hati ia sedikit senang, padahal dulu dirinya merasa dikucilkan, tapi sekarang, Anang terlihat berkata tanpa halangan.
Dan pada akhirnya sengaja Anang membiarkan Wendy untuk mengantar pulang Yuna. Ia beralasan di malam minggu ini dirinya akan apel ke rumah Desi. Memang, diantara ketiganya dirinya lah yang memancarkan aura segar, seperti baru mandi dan setelannya juga sangat rapi.
Wendy pun melipat tas rombongnya dan menyimpannya di bagian depan. Kerupuk yang ia bawa hanya tinggal 1 pack, ia sama sekali tidak kerepotan.
"Gak papa aku bonceng kayak gini? Apa kamu gak malu?" Teriak Wendy saat di perjalanan. Dibonceng dengan motor yang hanya tinggal tulang, pastinya amat sangat memalukan.
"Hah?! Apa?!"
"Ah, nggak nggak, nanti aja!" Teriak Wendy tak karuan.
Saat Yuna bertanya tadi, tubuh Yuna terasa makin melekat dengannya. Cengkeraman sebelah tangan juga terasa semakin kuat karena Yuna yang menggunakan rok panjang itu duduk dengan posisi menyamping.
Wendy merasa risih. Memang, dalam keadaan seperti tadi ia dapat merasakan gumpalan aneh. Namun, ia yang sudah terik-terikan seharian ini tak ingat itu, ia lebih khawatir Yuna mencium bau tak sedap dari tubuhnya.
'Duhh.. Yuna gak nyium kotoran purba apa?'
Dari awal ia sudah khawatir, dan sampai sekarang ia yang kusut itu yakin pasti telah mencemari udara sekitar Yuna. Namun, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan membonceng Yuna.
"Terimakasih ya Wendy. Maaf sudah merepotkanmu, dan Anang juga." Ucap Yuna setelah sampai dan turun dari motor Wendy.
"Nggak kok. Eh Yuna, boleh minta nomor kamu?"
Tanpa basa-basi, Wendy langsung menyerahkan ponselnya. Namun, Yuna terlihat melongo dan diam saja. Bukan karena apa, Yuna sudah berjanji untuk tidak memiliki hubungan dengan Wendy lagi. Dan menerima bantuan tadi ia hanya terpaksa. Ya, karena itu hanya kebetulan dan ia tak bisa lari kemana-mana.
"Ehehe, gimana?" Tanya Wendy merasa canggung.
"Oh iya maaf." Yuna pun segera mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomor miliknya.
"Maaf aku masuk sekarang."
__ADS_1
Kemudian ia langsung memasuki gerbang dan meninggalkan Wendy yang masih di depan sana.
'Emang gak mungkin gue milikin dia. Ngaca deh Wen, ngaca!'
Malam itu, Wendy pulang dengan kecamuk malu. Sebelumnya ia sempat senang karena bisa dipertemukan dengan Yuna. Tapi sepertinya Yuna menjaga jarak, ia juga tak sekali pun tersenyum kepadanya.
Sekarang, Wendy bahkan tak tahu harus bagaimana menindaklanjuti nomor yang telah Yuna berikan.
*Flashback.
Wendy masih di kampung dan masih setia dengan pekerjaannya yang dulu, sementara Anang selalu pulang dan tinggal di kampung selama beberapa bulan. Sudah sering mereka menongkrong, dan kali ini mereka hanya berdua saja.
"Si Brian udah di negeri orang, Si Gilang masih sekolah, tinggal kita nih, mau jadi apa?" Tanya Anang kala obrolan itu.
"Sekarang si gue fokus kerja, gak ngurusin apa-apa lagi." Jawab Wendy.
"Kerja mulu, emang mau kawinin siapa sih?"
"Kawinin janda seberang yang punya anak 3."
"Tel*so! Lu serius?! Janda yang mana anjir?!"
Anang terkejut penasaran. Pasalnya, janda itu memiliki pesona yang berbeda. Menggugah gairah dan pastinya sudah berpengalaman dalam dunia perpacuan kuda.
"Percaya aja sih lu, gue mah gak lagi ngurusin cinta-cintaan. Udah capek, gak ada cewek yang bener."
Wendy memasang ekspresi jengah. Dari situ ia bercerita panjang, blak-blakan mengumumkan hal yang bahkan memalukan dirinya sendiri.
Manda juga tak luput diceritakannya, ia sekarang sudah menjadi mantan dan Wendy sendiri yang memutuskan Manda karena tahu bahwa wanita yang 2 tahun lebih tua darinya itu sudah bolong dan juga jebol.
"Lu sih, itu tu namanya Kar... Ma! Ada yang bener tapi di sia-sia in. Si Yuna kan dulu suka banget sama elu." Tak sadar, mulut Anang juga ikut jebol.
"Lu tau dari mana?" Tanya Wendy heran.
"Eh,"
Anang sudah tercemplung, terpaksa ia harus berkata jujur. Lagipula kejadian itu sudah lama dan sekarang Wendy tidak dengan siapa-siapa. Anang pikir, Wendy memang harus mengetahui ini, ia pasti tidak akan merasa marah.
"Katanya si, dia deketin Si Brian.. siso siso.. ceu, haw nian.."
Begitu sungguh Wendy menyimak legenda yang tengah diceritakan Anang. Walau sedari awal ia memang tak tahu, namun perasaan bersalah kepada Yuna muncul satu per satu.
Saran Anang, Wendy harus coba memilih tipe wanita yang kontras. Bukan yang tomboy-tomboy yang suka mabuk dan juga keluyuran.
Dari sana Wendy berusaha mencari kabar Yuna, sudah lama nomornya tak sekontak karena Wendy sering berganti ponsel dan kartu. Namun, dunia seakan tengah menyembunyikannya. Bahkan, semua sahabat dekatnya mengaku bahwa mereka tidak memiliki kontak Yuna
__ADS_1