Kosong

Kosong
Cerah


__ADS_3

"Huaa.. Kenapa kau pergi? 5 tahun lagi Brian, 5 tahun!"


Satu hari sebelum Brian berangkat, Sinta terus saja merengek dan menangis memeluk erat pergelangan Brian. Brian mengusap pucuk kepala Sinta, mencoba menenangkan wanita yang dicintainya.


"Aku akan berangkat besok sore, kita masih bisa bertemu lagi sebelum itu Sinta.." Begitu ucap Brian.


"Tidak! Aku ingin terus seperti ini sampai nanti kau pergi!"


Sinta tak mau lepas, ia yang menangis itu terus saja menggesek-gesekkan dadanya di lengan Brian. Makin ke sini dadanya Sinta semakin terlihat besar, gesekan yang mantap itu membuat otak Brian teracak-acak. Namun, ia membalas Sinta dengan pelukan ketenangan.


"Aku gak pergi jauh, kita masih bisa saling mengabari lewat ponsel. Nanti aku kirim merchandise yang kamu suka dari Korea." Brian ingat Sinta menyukai hal-hal berbau Korea.


"Sungguh? Yang asli? Yang didatangkan langsung dari Korea?" Mata Sinta langsung membulat.


"M!" Brian menganggukkan kepala dan membuat Sinta sedikit senang.


Ayah sudah berada di rumah, sebenarnya Sinta ingin menginap di hari terakhirnya namun ia tak enak karena ada ayahnya Brian. Sampai akhirnya Brian benar-benar sudah siap dan kala itu Sinta mengucapkan salam perpisahan.


"Brian.. Kita sudah janji untuk menjaga diri kita masing-masing. Kau berusahalah di sana, dan aku pasti tidak akan mengecewakanmu di sini."


Tepat di bandara, Sinta memeluk Brian untuk terakhir kalinya. Walau tindakannya dilihat oleh orang banyak termasuk kedua orang tua Brian, tapi perasaannya sangat tak bisa tertahankan.


Mereka pun berpisah dan dari sini Brian mulai merasa was-was. Banyak hal yang sangat ia khawatirkan, bukan tentang Sinta, melainkan tentang dirinya sendiri.


*tring!


*tring!


*tring!


"Aku mencintaimu Brian! Ingat itu, jangan lupakan aku! Aku mencintaimuuu!"


"Aku akan terus membacakan do'a di sepanjang perjalananmu!"


"Kabari aku kalau kau sudah sampai! Kalau tidak, aku akan datang sendiri menyusulmu!"

__ADS_1


Belum juga terbang, Brian sudah mendapatkan pesan singkat bertubi-tubi pada ponselnya. Sikap Sinta tak setegar saat bertemu tadi, ia memang lucu dan perhatian, namun hal itu tetap tak bisa menghilangkan kewas-wasan yang Brian rasakan.


*Masa sebelum reinkarnasi


Di kehidupan yang sebelumnya, menjelang keberangkatan Brian menuju tempat yang sama.


"Kamu di sekolah sebodoh ini?! Kamu pikir dengan ini kamu bisa pergi bersama Ayah?!"


Kacau, Ayah sudah datang menjemput keduanya namun Brian di sini menjadi tongkat penghambat. Ijasah, transkrip, mereka mendapatkan nilai yang tidak baik. Bahkan sertifikat bahasa yang menjadi kunci gerbang untuknya kuliah di luar negeri tidak nampak sama sekali.


Ibu tidak tahu menahu, setahunya Brian selalu aktif dan berkata bahwa semuanya sudah siap. Pikir Brian ia hanya perlu ikut saja, mau kuliah atau tidak, itu terserah dia, berprestasi atau tidak, itu sama saja.


Memangnya untuk apa Brian ke luar negeri?Bukankah seorang Brian sudah menjadi harapan ayahnya dulu?


Walau yang selama ini Brian pelajari adalah teknik otomotif, tapi hasil akhir merupakan bukti bagaimana kemampuan otaknya berpikir. Semua ilmu tak ada yang sia-sia, hanya Brian yang telah menyiakannya.


Waktu sudah tak bisa diulang, demi kelancaran, bermodal uang akhirnya Brian bisa mendapatkan nilai kebohongan. Tapi tidak semudah itu, Ayah kembali tanpa membawa keduanya pergi.


Ayah sangat kecewa, terutama kepada Ibu yang tidak becus mengurus satu anak saja. Sementara Ibu yang mendapat kejutan buruk itu jatuh sakit dan dengan terpaksa Brian belajar selama berbulan-bulan untuk mendapatkan sertifikat bahasa nya.


Ia baru tahu bahwa selama ini ayahnya hidup di dunia sultan. Walaupun tak pernah kekurangan, dirinya merasa tak adil mengingat keadaan rumah yang sebelumya ia tempati begitu jauh dari yang ini.


Luar negeri menarik perhatian Brian, ia ingin menikmatinya, namun ia langsung disibukkan dengan urusan lain. Mendaftar ke universitas, dan pada percobaan pertamanya ia tak diterima.


Berbagai bimbel dan les diberikan kepada Brian. Ayah sendiri ikut mengoreksi namun dengan sikap yang tidak menyenangkan. Berkali-kali Brian mencoba untuk daftar kembali tapi hasilnya selalu sama. Pindah ke negara lain dan mendaftar dengan jurusan yang berbeda pun ia tetaplah gagal.


Sesekali Brian yang memang berangkat sendiri itu lalai dan malah bersenang-senang. Ia memang tidak mengharapkan dirinya akan lolos dan diterima. Untuk apa kuliah? Ayahnya sudah sangat sukses, mau menjalankan bisnis apapun pasti Brian akan dipermudah dengan andil dari ayahnya.


Suatu saat pasti Ayah akan menyerah dan membiarkan Brian hidup tanpa tuntutan. Tetapi tidak, Ayah ingin Brian mandiri, ia adalah anak laki-laki, dan Ayah ingin Brian mengerti bahwa semua ini juga ia dapatkan dari titik nol.


Tak jarang, Ibu ikut terlibat pertengkaran antara keduanya. Hingga akhirnya, semua itu membuat Brian merasa sangat frustasi.


"Aku tau dari dulu Ayah memang tak sayang kepada aku dan Ibu! Selama ini Ayah egois! Menikmati kehidupan mewah ini sendirian, bersama mereka, dan yang pasti Ayah sudah berganti-ganti pasangan!"


Brian tak tahan lagi, ia berani melontarkan tuduhan kepada ayahnya sendiri. Ia pikir Ayah sudah menyembunyikan sesuatu, yaitu kekayaan yang ia miliki saat ini. Padahal dari dulu Ayah memang sudah membujuk keduanya untuk ikut, dan hasil Brian sendiri yang menolaknya.

__ADS_1


Perkataan lancang Brian sudah di luar batas. Anak bodoh, tak tahu diri, ia juga hampir membuat ayahnya terkena musibah. Tak sudi lagi menganggapnya anak, Ayah menyuruh Brian kembali ke negara asal, hidup tanpa bantuan dari siapa-siapa.


*Kembali ke masa kini


Kali ini Brian terbang membawa bekal nilai yang memuaskan beserta sertifikat bahasa yang nilainya hampir sempurna. Dirinya sudah diterima kuliah pada gelombang pendaftaran yang pertama. Semua berjalan lancar tak seperti kekhawatirannya. Ternyata dengan niat yang sungguh-sungguh, Brian bisa membalikkan takdir buruknya.


Korea sedang dingin-dinginnya, walau rasanya enggan enyah dari selimut tebal, Brian yang sudah menjadi mahasiswa itu bersiap pukul 8. Tanpa mengenal musim, ia berangkat menuju kampus menempuh waktu 10 menit.


Jurusan arsitektur ia pilih sesuai dengan keinginan ayahnya. Di semester pertama, ia diperkenalkan dengan material dan warna. Tangannya juga dibiasakan untuk menggambar desain.


Musim cepat berganti, kali ini Brian diajak oleh ayahnya untuk melihat proses pembangunan gedung pencakar langit. Ia turut ke lapangan dan untuk pertama kali dirinya melihat paku bumi yang ditancapkan.


'Ternyata bumi juga dipaku, kasian ya kamu bumi.' gumam Brian saat melihat besarnya massa yang ditekankan.


Di balik rasa kasihannya, ada sebuah rasa kekaguman yang menjulang. Bagaimana bisa instruksi ayahnya dipercaya oleh ribuan pekerja? Ini adalah proyek besar, dan ayahnya sendiri yang menjadi pemimpinnya, sungguh sangat luar biasa.


"Brian, mengenal setiap kultur dan detail itu penting. Kau harus bisa menebak selera. Bahkan, apa yang kau makan pun bisa membuat ide bangunan muncul di pikiranmu."


Siang yang cerah itu Ayah mengajak Brian menuju sebuah restoran, ia memesankan sendiri menu pilihan untuk anaknya.


'Hah? Apaan nih? Bentuknya kayak Si Wahyu!'


Menu yang dipesan sudah datang. Seperti batu, dengan bentuk lurus dan terdapat kulup, eh kuncup di ujungnya. Walau agak mirip dengan Si Wahyu, tapi yang berada di hadapannya ini jauh lebih pendek dan jelek dari Si Wahyu.


"Itu Es Krim Dolhareubang, simbol Pulau Jeju, bentuk manusia yang dipahat dari batu." Ayah berucap tatkala Brian melongo saja.


'Ohh.. Iya sih ada mukanya, ngeri lagi. Eh, tapi kenapa juga Ayah harus pesan yang ini? Emang Ayah gak aneh gitu sama bentuknya? Hmm.. Kalo primitifnya kayak gini sih tu pulau cocoknya dikasih nama Pulau Pe*u, bukan Pulau Jeju, ya kan?'


Tiruan Dolhareubang itu memiliki wajah yang tegas. (Kalo penasaran sama bentuknya cek gugel aja gaess hehe..) Ayah sangat banyak bercerita, ia tahu banyak dan membuat Brian terkagum-kagum.


Tak seperti dulu, Ayah sangat baik dan tidak pernah terlihat marah sekali pun. Ternyata memang semua berawal dari Brian sendiri. Brian senang telah membuat suatu perubahan yang berdampak besar terhadap kehidupannya. Dan ia bersyukur karena Ayah adalah guru terbaik yang saat ini ia miliki.


*tring!


Di sela-sela keakraban anak dan ayah itu, sebuah pesan dari Gilang muncul di ponsel Brian.

__ADS_1


"Yan, percaya gak percaya, Si Wendy sekarang pacaran sama Si Yuna!"


__ADS_2