Kosong

Kosong
Hari Pertama


__ADS_3

Jadwal pertama masuk sekolah. Kali ini ada sesuatu yang berbeda dengan penampilan Brian, ia memangkas rambutnya hingga hampir menjadi botak.


Seragam maupun atribut yang dijanjikan oleh sekolah masih belum ada. Semua masih dalam proses pengerjaan terlebih dahulu. Brian memakai seragam dan sepatu baru yang ia beli, jadi sekali lagi ia harus membeli yang sudah ia beli.


Brian berangkat menggunakan taksi, Pak Satpam lirik kanan lirik kiri, bolak-balik sana sini menyebrangkan anak murid sekolah ini.


Baru saja masuk gerbang, para siswa sudah disambut oleh untaian guru-guru sepanjang jalan. Guru wanita di sebelah kiri, sedangkan pria sebelah kanan. Alas ini memiliki jalur di kedua sisi, tidak ada yang boleh lewat melalui jalur tengah.


Jalur tengah khusus untuk kendaraan saja, padahal biasanya juga guru selalu lewat gerbang belakang dan memarkirkan kendaraannya di parkiran belakang pula. Kendaraan yang masuk ke depan paling hanya kendaraan milik tamu dan itupun jarang.


Satu per satu guru mereka salami. Tentunya guru wanita disalami oleh siswi, dan guru pria disalami oleh para siswa. Bukan hanya disalami saja, apabila ada sesuatu yang mencolok dan melanggar peraturan, maka anak itu akan dipisahkan.


Misalnya, terlihat seorang siswi yang bibirnya berwarna merah. Guru memastikan bibir merahnya itu benar alami ataukah imitasi. Di tempat itu pula ia akan disuruh mengelap bibirnya dengan tisu.


Tentu malu dilihat banyak orang jika terdapat bercak merah gincu di tisu itu. Jadi, tak akan ada yang berani berbuat hal yang melanggar seperti itu.


"Haha.. botak lu Yan?"


Saat tengah berjalan di koridor, tiba-tiba Gilang datang dan membuka peci yang dikenakan oleh Brian. Walau lebih dekat melalui gerbang belakang, tetapi Gilang berjalan melalui gerbang depan. Itu memang sudah termasuk dalam aturan.


"Iya, kenapa emang?" Jawab Brian santai. Walaupun kepalanya gundul ia tak malu meneruskan perjalanan.


"Tumben nih, pake peci segala lagi. Emangnya lu mau solat?"


"Ya buat nutupin aja."


Brian agak enggan memakai peci, tapi topi SMK pun ia tak beli. Toh nanti di sekolah ia akan mendapatkannya dan logonya juga khusus. Jadi untuk sementara ini ia hanya membeli peci.


Gilang terus berjalan mengikuti Brian, namun seketika Brian menghentikan langkahnya saat ia berada pada sebuah turunan anak tangga.


"Elu mau ke mana?" Tanya Brian heran.

__ADS_1


"Lah elu yang mau ke mana? Sok-sok an kayak udah tau jalan aja. Emang kelas kita ada di mana?" Gilang malah semakin heran.


"Kelas lu tuh ada di atas, bukan di sini." Tutur Brian yang sudah tahu.


"Lah? Gue kan sekelas sama elu. Kita TKR B kan?"


"Ahh udahlah.. naroh tas dulu." Brian malas menjelaskannya panjang lebar. Paling-paling mereka akan berdebat dan ini di tengah jalan, malu dilihat banyak orang.


Mereka berjalan menuju lantai bawah tanah. Di sana hanya ada kelas 10 TKR dari A sampai ke C. Dan 2 lagi sisanya berada di atas.


Bawah tanah itu lumayan gelap, bisa dibilang ngeri juga. Lampu terang malah membuat suasananya terasa mencekam, belum lagi ruangan-ruangan kosong beserta alat yang tidak tahu dipakai untuk apa.


Masuklah Brian ke dalam kelasnya. Ada bangku yang sepertinya kosong di depan sana. Brian menaruh tasnya di atas kursi, ia akan duduk di bangku urutan yang paling depan.


Gilang juga ikut menyimpan tasnya di sana. Ia pikir Brian sengaja menaruhnya di depan agar tidak memakan waktu lama. Jika ia tahu bahwa Brian memang sengaja ingin duduk di depan, pastinya itu akan ia anggap sebagai lelucon saja.


Sirine toa kembali dibunyikan, kali ini bukan acara tahajudan, itu tanda bahwa upacara bendera akan segera dilaksanakan. Brian dan Gilang sudah berada di lapangan, semua kelas sudah bersih tak ada lagi yang menyisakan murid. Tapi tiba-tiba..


Bagaimana tidak? Seorang guru main selonong di antara mereka yang tengah berbaris itu. Seperti banteng yang sedang menyeruduk, walaupun tahu ada murid yang jatuh ia tetap melanjutkan serudukannya.


Bukan sengaja, ia bertujuan untuk mengatur dan merenggangkan semua barisan. Jika ada yang salah posisi misalnya terlalu rapat, maka ia akan tertubruk seperti tadi.


Tepat pukul 07.00 gerbang sudah ditutup rapat. Para murid sudah tertata rapi di lapangan yang sangat luas. Mereka dibariskan menurut seragam yang digunakan.


Senin ini tidak semua memakai seragam abu, ada juga yang memakai baju praktek karena memang jadwalnya praktek.


Tepat di belakang para murid yang berbaris rapi itu merupakan dataran tinggi. Di sana ada beberapa guru dan anggota OSIS yang ikut upacara sekalian juga mengawasi.


Semuanya hening kecuali yang bertugas menjadi pelaksana. Sedikit saja ada yang berbicara maupun menoleh, guru maupun OSIS yang ada di belakang tak sungkan untuk mendatanginya.


Sikap berdiri juga harus tetap tegap, tangan harus dikepalkan di kedua sisi. Sekalian upacara itu menguliti pernak pernik semua siswa dan siswi.

__ADS_1


Gelang ataupun apa yang dianggap menggangu langsung kena dan mereka tidak bisa mengelaknya. Aturan di sini sangatlah ketat, tidak seperti SMP yang sebelumnya.


Bahkan kuku pun tak boleh ada yang dicat atau diwarna. Walau pakai cap halal tapi sekolah tidak terima. Semua harus bersih dan serempak, tapi wajah mereka tidak diwajibkan berupa sama.


Amanat kali ini tentunya merupakan penegasan kembali peraraturan dan tata tertib di sekolah. Sebelumnya mereka sudah diperingati sewaktu masih menjadi tamu, tapi masih ada siswa siswi yang mungkin sama sekali belum mengerti.


Murid kelas 10 terlihat acakadut karena memang masih baru. Sekolah membiarkan untuk memberinya waktu bebenah diri. Mereka harus tampil sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sekolah ini.


Upacara selesai, dan Gilang masih menganggap dirinya itu satu kelas dengan Brian. Gilang adalah TKR D, sedangkan Brian adalah TKR B. Ia ngotot bahwa yang ia dengar itu bukanlah D, tetapi B.


"Lu mau duduk di sini?" Tanya Gilang saat melihat Brian duduk di bangku depan.


"Iya, di belakang suka suntuk."


"Belakang aja lah Bro, gue males di sini, ntar apa-apa yang pertama dipanggil guru lagi."


"Udahlah duduk aja dulu, lagian elu bakalan pindah. Kalo gak pindah ntar besok gue temenin lu deh di bangku belakang."


Gilang pun duduk namun tak mengerti apa maksudnya Brian. Dimulailah pembelajaran pertama yang dimasuki oleh sang wali kelas. Cantik, ia adalah seorang guru Bahasa Inggris. Namanya Ibu Vika, usianya masih muda dan saat ini ia masih belum menikah.


'Widihh.. mantep nih, mana montok lagi.' Gumam Gilang melihat jelas penampilan Bu Vika di bangku yang paling depan itu.


"Bu mau gak jadi pacarku?" Tanya seorang siswa di ujung sana.


"Ibu aslinya orang mana?"


"Bu, satu ditambah satu sama dengan berapa?"


Seisi kelas seketika menjadi ramai. Mereka sungguh tak tahu diri, berani menggoda wanita yang memiliki kedudukan tinggi. Padahal mereka itu hanya seorang siswa yang bahkan masihlah kacung, belum mengenal apa itu dunia SMK.


"Anak-anak, sudah diam. Sekarang kita absen terlebih dahulu." Ibu Vika ingin fokus kepada tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2