
Hari Senin. Sekarang akan diadakan kegiatan upacara bendera. Kali ini Brian tidak ingin keluar untuk pergi meninggalkan kewajibannya. Ia juga mengajak Anang dan Gilang untuk mengikuti upacara. Mereka bertiga berbaris di barisan kelasnya pada kelompok laki-laki.
Pagi itu para guru mengecek setiap sudut ruangan kelas agar tidak menyisakan satu pun muridnya yang ingin menghindar dari kegiatan upacara. Beberapa orang berhasil mereka bawa. Sebagian ada yang diantar ke UKS dan sebagian ada yang dimasukkan ke dalam barisan.
Usai semuanya berbaris rapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh beberapa polisi yang ikut berbaris, dan satu orang diantaranya menempati posisi sebagai pembina upacara.
Heran, ada apa ini sebenarnya? Padahal tadi pagi tidak terlihat adanya tanda-tanda keberadaan mereka. Tapi pastinya, aparat pemerintah yang bertugas untuk menjaga keamanan itu datang dengan suatu keperluan.
Tentunya, para siswa yang bermasalah pasti merasa takut dihakimi, termasuk Brian dan kedua temannya. Mereka tahu bahwa selama ini mereka sudah berprilaku tidak baik.
Dalam amanatnya, Pak Polisi berbicara mengenai kendaraan. Mulai dari aturan dan syarat-syarat tentang kendaraan maupun penggunanya. Ia juga menyampaikan kepada siapa yang datang ke sekolah ini memakai kendaraan bermotor, maka pihak polisi akan mengambilnya. Selesai upacara nanti, semua siswa dan siswi yang merasa menggunakan motor ke sekolahnya, harus datang ke parkiran dengan membawa kunci motornya.
Amanat ditutup, tidak ada yang dibahas lagi selain soal kendaraan tadi. Berakhirnya amanat itu membuat Brian dan 2 temannya merasa lega. Mereka pikir, masalah mereka tidak akan ikut dihakimi juga.
Setelah kaki terasa semakin pegal, akhirnya upacara pun selesai. Tidak ada pengumuman lagi yang ingin disampaikan, mereka hanya kembali mengingatkan siswa dan siswi yang menggunakan motornya untuk segera datang ke parkiran.
Ya, tentunya bukan parkiran khusus murid, tapi lahan luas yang berada di depan sebuah warung. Mereka biasa menitipkan kendaraannya di sana dan membayar biaya parkirnya.
Brian dan 2 lainnya itu tidak membawa motor. Mereka masuk ke dalam ruangan kelas dengan tenang. Tak menunggu lama, seorang guru datang ke dalam kelas, tetapi ia bukan guru yang harusnya datang pada jam pelajaran pertama.
Guru perempuan, yang merupakan guru pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas mereka. Ia berkata bahwa dua jam ini dirinya akan menggantikan pembelajaran dengan pemeriksaan. Semua langsung berkeringat dingin, mereka akan digeledah satu per satu bahkan bersama dengan isi tas dan bangkunya.
Semua murid diharuskan untuk berdiri, dan ibu guru pun meminta dua orang perwakilan dari siswa dan siswi yang ia percayai. Satu per satu tubuh mereka dijamah. Tentunya, lelaki oleh perwakilan lelaki, dan perempuan oleh perwakilan perempuan.
__ADS_1
Tidak boleh ada yang terlihat bergerak, maupun mengelak. Ibu Walas (Wali kelas) sangat memperhatikan setiap sudut, celah, dan sisi. Semua barang-barang yang dianggap terlarang ia ambil tanpa bicara. Setelah semuanya selesai, ia pun kembali duduk di belakang mejanya.
"Apa ini semua? Apa ada guru yang menyuruh kalian untuk membawanya hari ini?" Ucap Ibu Walas dengan tegas.
"Tidak Bu." Semuanya terlihat ketakutan
Di atas meja guru, terlihat beberapa tumpukan ponsel. Tidak hanya ponsel, bahkan bedak, lipstik, dan benda-benda lain yang seharusnya tidak dibawa ke sekolah telah disita. Dari seorang murid laki-laki, ia juga mendapatkan satu strip obat terlarang yang sudah dibuka. Bukan dari Brian, Gilang, maupun Anang, tetapi itu dari siswa lain.
"Lalu? Untuk apa kalian membawa barang-barang ini?"
Mendengar pertanyaan dari Ibu Walas, tiba-tiba seorang murid yang ponselnya disita mengangkat tangan kanannya.
"Tapi Bu, itu saya gunakan untuk menghubungi ayah saya. Setiap hari, saya selalu dijemput oleh ayah saya." Ucap seorang murid perempuan.
"Orang gunung Bu."
"Oh, ya sudah, ambil ponselmu. Jangan pergunakan di waktu jam pelajaran." Ibu Walas memberikan keringanan.
"Terkecuali yang tidak memiliki alasan penting, kalian tidak boleh membawa ponsel kalian ke sekolah! Jika kalian ingin mengambil kembali ponsel ini, bawa orang tua kalian untuk mengambilnya sendiri kepada Ibu. Ibu akan menyita semua ponsel ini." Lanjut Ibu Walas.
Semua benda yang ada di atas meja dimasukkan ke dalam tasnya secara terpisah. Benda-benda selain ponsel katanya akan ia serahkan kepada pengurus osis untuk dihancurkan. Kemudian, sisa-sisa waktu itu ia pergunakan untuk menceramahi anak muridnya.
Sedangkan di parkiran:
__ADS_1
Para polisi mengecek satu per satu motor yang digunakan oleh para siswa dan siswi. Mereka mencopot semua stiker yang dirasa sangat mengganggu. Banyak motor dengan spesifikasi yang tidak sesuai standar. Mulai dari tidak memasang plat nomor, spion dihilangkan, dan ada beberapa motor modifikasi.
Tiap motor dinyalakan, dicek suara knalpotnya memenuhi standar atau tidak. Ada beberapa dari mereka yang mengganti knalpotnya dengan knalpot racing yang bising, tentunya hal itu sangat tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Sementara, kendaraan dengan spesifikasi yang bagus, mereka loloskan dan biarkan untuk dibawa pulang.
Tapi itu bukan berarti hari esok mereka boleh membawanya lagi. Hanya motor modifikasi dan motor yang tidak memasang plat nomor lah yang akan mereka tahan. Mereka diharuskan membawa surat-suratnya agar motor itu bisa diambil kembali dan tidak dikira barang curian.
Di situ, mereka mendapat peringatan akan bahaya berkendara bagi anak di bawah umur dan belum memiliki SIM. Pastinya para siswa dan siswi merasa apes, tapi itu memanglah suatu pelanggaran.
Usai menyelesaikan masalah itu, para polisi beralih menemui pihak sekolah. Rupanya, di sana mereka sedang menindaklanjuti kasus yang telah terjadi kepada Risa. Dan ternyata, sang guru sejarah juga ikut mengadu tentang ketidak tegasan aturan di sekolah ini. Ia tak tahan dengan guru-guru yang tidak acuh karena sudah lalai dan nyaman tanpa kompensasi. Satu jam, dua jam, yang terpenting mereka datang ke kelas dan memberi tugas.
Memang, seorang guru honorer tidak bisa dibilang gajinya sangat cukup. Mereka digaji per jam dengan nilai yang tidak memuaskan. Mungkin hal itu juga yang membuat mereka malas untuk mengeluarkan energinya.
Kini, berita tentang siwa siswi yang berbuat mesum itu sudah tersebar kemana-mana. Bukan hanya mempermalukan nama sekolah, tempat tinggal, dan juga keluarga. Perbuatan mesum itu, mereka lakukan di belakang gedung dinas sebuah desa.
Risa yang merupakan akar kejadiannya, dinyatakan memiliki gangguan secara psikologi. Karena masih di bawah umur, ia
membutuhkan penanganan untuk memulihkan psikologisnya.
"Gue gak nyangka Yan, kalo si Risa emang stres, padahal dia kan cantik."
"Hmm.. gue kira sih udah dari dulu dia kayak gitu. Tapi sekarang, mungkin udah kena stadium akut."
Dari banyaknya pelanggaran yang terjadi di sekolah, Brian beserta Anang dan Gilang, tidak sedikitpun mendapat penindakan. Pihak sekolah tidak ada yang tahu, tidak ada yang melaporkan dan mereka juga tidak menemukan barang bukti.
__ADS_1
Sementara, di kelas 7 terdapat seorang siswa yang berani-berani membawa satu botol minuman keras di dalam tasnya. Minuman itu dibuang dan ia harus diskors selama beberapa hari. Mungkin, setelah pembersihan itu, pihak sekolah akan bergerak lebih tegas dalam mendidik anak muridnya.