Kosong

Kosong
Broken Angel


__ADS_3

Di rumah, Wendy masih merasakan sedikit mual pada fase hangover nya. Ia sempat memuntahkan isi perut karena memang sewaktu di basecamp ia kembali mengeluarkan satu botol minuman lagi.


Kakaknya lantas memarahinya, ia sudah biasa melihat adiknya itu pulang setelah mabuk-mabukan bersama teman-temannya.


"Lu kalo minum gak usah kebanyakan dong! Ngabisin duit aja!" Bentak kakaknya Wendy, ia sama sekali tidak khawatir dengan kondisi Wendy saat ini.


Wendy tengah berbaring di atas kursi, mengistirahatkan badannya yang sudah merasakan pegal di bagian pundak dan bahu. Rasa sakit kepala juga baru ia rasakan. Efek alkohol itu menetralisir kepekaan fungsi sarafnya, sehingga sewaktu di basecamp, ia tidak merasakan apa-apa. Dalam posisi apapun tubuhnya merasakan perasaan yang tidak begitu jauh berbeda.


"Gue lagi kesel. Gak tau juga tadi gue ngomong apa ke si Brian." Wendy tengah merenungkan, tetapi ia malas untuk mengingatnya lagi.


Kilas balik sewaktu di basecamp:


"Haha.. lembek anjir, gue bisa tembus dinding!" Anang kelihatannya sedang senang, ia tertawa sambil memeluk-meluk dinding. Padahal dinding itu sama sekali tidak lunak dan tidak tertembus seperti yang dikatakannya.


Sedangkan Gilang, ia tidak terlihat banyak bicara dan hanya menyahut ketika ada yang bersuara saja. Tetapi Wendy, dia terus saja menenggak minumannya. Niat hatinya datang ke sini sebenarnya hanya ingin melepas segala kekesalannya.


Baru kemarin, Wendy datang ke rumahnya Wita. Ia yang sudah berkeliaran entah dari mana itu ternyata baru saja pulang. Tapi, saat Wendy datang ke sana ia terlihat sibuk bersama kawan jalanannya.


Mereka berpenampilan lusuh, memakai pakaian ala-ala anak punk dengan celana yang lututnya bolong. Wendy sama sekali tidak tertarik dengan penampilan seperti itu, ia memang merasa jijik, tetapi jika itu sudah melekat pada diri Wita ya mau bagaimana lagi? Perlahan tapi pasti, sekarang Wendy sudah bisa menerimanya.


Namun, apa yang terjadi? Wendy mendengar sendiri kalau Wita itu sebenarnya sudah merasa bosan berpacaran dengannya. Sontak Wendy merasa tidak percaya, ia hanya memutar balik tubuhnya sambil merenungi perkataan itu sendirian.


Wanita itu sudah lama ia kenal, pertama kali mereka bertemu ia sudah berjanji untuk tidak meninggalkannya. Semua berawal dari kisah ayahnya, yang dahulu mengakhiri hidupnya karena ditinggal pergi oleh istrinya.


Wendy tidak bisa berkata apa, keluarganya hancur dan yang tersisa hanyalah kakak laki-lakinya. Rasa benci terhadap wanita memang sempat membabi buta, ia menyesal karena telah dikandung dan lahir dari rahim seorang wanita.


Namun, suatu waktu ia bermimpi. Ayahnya datang dan memeluk erat kedua anaknya. Ia berkata untuk tidak sekalipun mereka membenci wanita. Semua wanita itu tidak sama, diantara mereka ada yang memiliki hati selembut sutra.

__ADS_1


Entah itu nyata atau hanya bunga tidur saja, tapi dari situ Wendy bisa berpikir kalau memang hal itu ada benarnya juga. Ia tahu bahwa setiap orang memang berbeda, memiliki sifat dan tingkah yang berbeda pula.


Maka, dari sana lah Wendy yang tadinya sangat membenci wanita mulai melunak dan justru sangat menyayangi wanita. Ia akan terus menjaganya hingga tak lagi terjadi hal yang sama seperti kedua orang tuanya.


Setelah mendengar Wita yang berkata seperti itu, langsunglah pikirannya kemana-mana. Ia sama sekali tidak menceritakannya kepada teman-temannya karena memang ia sudah tahu pasti apa saran dari teman-temannya.


Putus, ya, itu lah yang akan mereka katakan. Karena itu Wendy hanya bisa berkutat dan meminjam kebahagiaan sementara dari botol-botol minuman keras.


Ketika mabuk ia banyak meracau tidak jelas. Entah berbicara soal Wita atau apa, tetapi setelah itu ia mendekati Gilang yang tengah terdiam dan menganggapnya sebagai Brian.


"Yan, lu sengaja kan ngedeketin gue sama si Yuna?" Ucap Wendy sembari mendongak ke arah Gilang.


Brian yang masih sadar menyerap jelas perkataan Wendy, ia tidak mabuk terlalu berat karena takut efeknya akan terus terbawa hingga sampai ke rumah.


Setelah itu, Wendy kembali menjauh dan menenggak kembali minumannya. Brian hanya duduk menyudahi minumannya. Ia membiarkan Wendy karena setelah itu Wendy meracau tak jelas lagi.


Meskipun menjijikan hanya bisa tidur setelah mabuk ringan, tapi Brian juga merasa bosan melihat pemandangan mereka yang bertingkah aneh. Andai saja ia membawa ponselnya, pasti sudah ia rekam dan perlihatkan saat mereka sudah sadar nanti.


Setelah lama di sana mereka mulai sadar diri, tapi perasaan pusing dan pandangan yang kabur masih agak terasa.


"Bro! Ceritain lah gimana elu waktu sama si Yuna. Ngesex kan?" Anang berbicara sembrono sambil menepuk pundak Wendy. Ia masih merasa penasaran dengan cerita aslinya meskipun Brian sudah sempat menceritakannya.


"Gue?" Tanya Wendy.


"Iya, elu."


Beberapa saat Wendy termangu, entah ia mendengar atau tidak tetapi hal itu membuat Anang bosan menunggu.

__ADS_1


"Woy! Lu denger gak sih?!" Ucap Anang ngegas. Wendy terlihat seperti orang yang linglung, tak lama kemudian ia pun menjawab.


"Hhh.. bapak gue juga udah tau." Ucap Wendy merasa nyambung dan benar. Ia sudah terkulai lemah dan malas untuk menjawab.


"Lah?" Anang heran, apa maksudnya Wendy membawa-bawa nama ayahnya? Padahal ayah Wendy itu sudah lama meninggal.


Mengingat ayahnya Wendy, Anang tidak berani untuk bertanya lagi. Ia pikir Wendy memang sedang teringat kepada ayahnya, jadi ia hanya mencoba untuk kembali mengistirahatkan pikirannya yang sudah mulai baikan.


Beberapa jam lamanya mereka tinggal di sana, semua sudah sadar, tetapi mereka masih menunggu kesadaran Wendy yang harus mengendarai motornya. Tapi tiba-tiba...


"Huekkk!"


Saat menunggu, Wendy malah muntah di tempat. Sepertinya akan bahaya jika ia yang mengendarai motornya. Lantas Brian berkata bahwa dirinya lah yang akan mengambil alih kemudi.


"Yan, emang lu bisa?" Ucap Gilang merasa khawatir dengan nyawanya.


"Bisa, tenang aja. Buruan naik." Brian memang sudah bisa mengendarai motor, tapi keahlian itu ia dapatkan saat sudah berada di kelas 12.


"Ah, lu jangan becanda, ntar kita malah nyungseb lagi." Anang merasa tidak percaya.


Lalu Brian pun menyalakan motornya, menarik gas dan melaju dengan kecepatan normal. Sungguh benar-benar nyata, ia masih bisa mengendarai motor dengan lancar, rasanya Brian masih berada di dalam mimpi saja.


Sontak semua langsung terkejut tidak percaya. Yang mereka tahu Brian itu sama sekali tidak bisa berkendara, karena mereka tahu bahwa ibunya itu sangat protektif kepadanya.


Langsung saja mereka membawa Wendy yang tubuhnya masih lemah itu. Pakaiannya terkena sedikit muntahan, tetapi untungnya Wendy melepas jaketnya sebelum minum. Jadi jaket itu dipakaikan kembali agar mereka tidak merasa terkontaminasi.


Semua sampah sudah dikemas, dimasukkan kembali ke dalam ranselnya Wendy. Biarlah itu menjadi oleh-oleh untuk ia bawa pulang ke rumahnya, Wendy memang suka mengoleksi botol-botol minumannya.

__ADS_1


Sementara, muntahannya itu dibiarkan begitu saja. Mereka merasa jijik dan Wendy juga tidak bisa membersihkannya seorang diri. Setelah menyerahkan Wendy kepada kakaknya, mereka pun bubar menuju ke rumahnya masing-masing.


__ADS_2